seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. PELAJARAN PERTAMA DAN URAT MALU YANG PUTUS-2
Coba dong sekali-kali liat ke sini, biar kita semangat belajarnya!" seru Ayini dengan nada centil yang dibuat-buat.
Seketika, seluruh aula menjadi riuh. Para santri putra di balik satir mulai berbisik-bisik, sementara para pengurus santriwati menatap Ayini dengan pandangan maut.
"Astagfirullah alazim... Ayini, diam!" bisik Layila, wajahnya memerah karena malu.
Gus Alvaro terdiam selama beberapa detik. Jemarinya yang memegang pinggiran kitab tampak sedikit mengencang. Ia tetap tidak mengangkat wajahnya.
"Tujuan kita di sini adalah menuntut ilmu, bukan menuntut pandangan mata. Jika saudari merasa tidak semangat belajar karena saya tidak melihat ke arah saudari, maka niat saudari perlu diperbaiki," ucap Alvaro dingin.
Nadanya sangat dewasa, datar, dan tidak goyah sedikit pun.
Ayini mendengus. "Dih, serius banget sih. Orang cuma nanya. Lagian ya Gus, kalau Gus nggak liat orangnya, gimana Gus tahu kalau muridnya lagi dengerin atau malah lagi main HP?"
Alvaro akhirnya mengangkat wajahnya sedikit, namun ia mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding di bagian belakang aula, tetap menghindari kontak mata langsung dengan Ayini.
"Seorang guru tahu mana murid yang mencari ilmu dengan hati, dan mana yang hanya mencari perhatian dengan lisan yang kasar. Kita lanjutkan..."
Ayini merasa tertusuk. "Lisan yang kasar katanya? Wah, nantangin nih," batin Ayini kesal.
Sepanjang sisa pelajaran, Ayini terus berusaha membuat kegaduhan kecil.
Mulai dari menjatuhkan pulpen dengan keras, berbisik dengan suara yang sengaja dikencangkan, hingga mengeluarkan komentar-komentar pedas setiap kali Alvaro menyelesaikan satu paragraf.
Kevin, yang duduk di barisan santri putra, hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tahu betul sepupunya itu sedang memulai "perang".
Kevin sendiri sebenarnya ingin protes karena bosan, tapi melihat wibawa Gus Alvaro, ia merasa agak segan.
Setelah satu jam berlalu, Alvaro menutup kitabnya. "Sekian untuk hari ini. Kerjakan rangkuman dari pasal pertama. Wassalamualaikum."
Alvaro berdiri dengan cepat dan segera melangkah keluar. Namun, saat ia sudah berada di luar aula, di sebuah lorong sepi menuju kantor ustadz, langkahnya mendadak terhenti. Ia berdiri di balik pilar kayu besar.
Dari kejauhan, ia mendengar suara Ayini yang sedang dimarahi oleh pengurus santriwati.
"Ayini! Kamu tahu apa kesalahanmu tadi? Kamu sangat tidak sopan kepada Gus Alvaro!" bentak ustadzah senior.
"Duh, Ustadzah, tenang aja kali. Gus-nya aja nggak marah. Dia kan 'Gus Kulkas', nggak punya perasaan. Palingan dia juga suka saya perhatiin," jawab Ayini dengan nada santai yang bar-bar.
Di balik pilar, tanpa ada yang melihat, sudut bibir Gus Alvaro sedikit berkedut.
Sebuah senyum tipis—sangat tipis—muncul di wajah datarnya selama tidak lebih dari dua detik.
"Gadis yang aneh," gumam Alvaro sangat lirih.
Ia segera menghapus ekspresi itu, kembali ke wajah "jalan tol"-nya, dan melanjutkan langkahnya.
Ia tahu, keberadaan Ayini akan menjadi ujian kesabaran terbesar baginya selama di pesantren ini.
Sifat Ayini yang susah diatur benar-benar diuji pada sore hari itu. Ia tertangkap basah oleh keamanan pondok sedang memanjat pagar belakang hanya karena ingin melihat penjual pentol di luar gerbang. Padahal, santriwati dilarang keras keluar tanpa izin tertulis dari pengurus.
"Turun kamu, Ayini!" teriak Ustadzah Maimunah.
Ayini turun dengan santai dari pagar. "Astagfirullah alazim, Ustadzah kagetin aja. Ini lho, saya cuma mau beli pentol. Di dalem kateringnya sayur bening terus, saya kan butuh asupan micin biar pinter."