Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Teratai Di Atas Abu
Bab 33 — Bentrokan di Lorong Gelap
Malam mulai merayap, langit Kota Langit Utara dihiasi ribuan bintang yang berkelap-kelip. Setelah kejadian di Balai Seribu Roh, suasana hati Lian Hua masih berat, namun ia tahu ia tak boleh larut dalam amarah atau kekhawatiran. Ia berjalan menyusuri jalan-jalan sepi di bagian utara kota, berniat kembali ke penginapan sekte. Di lorong sempit yang diapit tembok batu tinggi, cahaya bulan hanya menembus tipis, membuat tempat itu remang dan sunyi.
Tiba-tiba, suara cicitan marah dan tawa mengejek terdengar dari ujung lorong. Lian Hua mengeratkan langkahnya, menyelinap di balik bayangan dinding, dan pemandangan di hadapannya membuat darahnya mendidih seketika.
Di sana, di bawah sebatang lampu minyak yang nyalaannya hampir padam, berdiri Gu Qing Cheng. Ia memeluk erat bungkusan barang-barang kebutuhan sekte, punggungnya menempel tegang ke dinding batu. Wajahnya pucat, matanya menatap tajam namun penuh ketakutan ke arah tiga orang pemuda yang mengepungnya. Pakaian mereka berwarna merah-hitam, di dada terlukis awan berputar—tanda khas Sekte Guntur Hitam, salah satu dari empat kekuatan besar yang juga ikut turnamen.
Pemuda di depan, yang tampak menjadi pemimpin, tertawa keras sambil melangkah maju perlahan. Wajahnya angkuh, matanya berbinar nafsu dan penghinaan. Ia adalah Lin Feng, murid inti Sekte Guntur Hitam, terkenal dengan kelicikan dan kekejamannya.
"Sudah kubilang, Nona Cantik," ucap Lin Feng dengan nada menggoda, tangannya berusaha menyentuh pipi Gu Qing Cheng. "Di kota ini, orang lemah tak berhak berjalan sendirian. Ikutlah bersamaku. Aku akan menjagamu, dan kau takkan perlu lagi membawa beban berat sendirian."
"Singkirkan tanganmu!" seru Gu Qing Cheng tegas, mundur selangkah hingga tersudut. "Aku murid Sekte Gunung Awan Putih. Jika kau berani menyakiti aku, sekteku takkan membiarkan kalian lolos begitu saja!"
Lin Feng dan kedua temannya tertawa makin keras.
"Sekte Gunung Awan Putih? Hah! Di sini, nama kalian tak ada artinya. Turnamen belum dimulai, dan kami hanya 'berkenalan' saja. Lagipula... siapa yang akan tahu kalau sesuatu terjadi di lorong gelap ini?"
Ia mengisyaratkan tangan, dan kedua temannya melangkah maju hendak menangkap lengan gadis itu. Gu Qing Cheng hendak bergerak, namun tenaganya jauh tertinggal dibandingkan mereka. Ia menutup mata, bersiap melawan sekuat tenaga meski tahu peluangnya kecil.
Namun sebelum tangan kotor itu menyentuhnya, sebuah sosok melesat turun dari atas dinding, mendarat di antara mereka dengan hentakan ringan namun kokoh bagai gunung.
Duk!
"Beraninya kalian."
Suara itu rendah, dingin, dan berisi ancaman yang membuat ketiga pemuda itu tertegun seketika. Gu Qing Cheng membuka mata, dan saat melihat sosok di depannya, napasnya lega seolah beban berat terangkat dari bahu.
"Lian Hua..." bisiknya pelan.
Lian Hua berdiri tegak, punggungnya menghadap ke arah Gu Qing Cheng, melindunginya sepenuhnya. Ia tak membawa senjata lain selain pedang kayunya, namun hawa yang memancar dari tubuhnya berubah drastis. Dingin, tajam, dan penuh tekanan yang membuat udara di lorong itu menjadi berat.
"Siapa kau?" seru Lin Feng, marah karena diganggu. "Anak kecil dari sekte mana yang berani mencampuri urusan kami? Apakah kau sudah bosan hidup?"
"Aku orang yang tak suka melihat laki-laki mengganggu perempuan yang tak berdaya," jawab Lian Hua tenang, namun matanya menyipit tajam. "Dan kalian... sudah melanggar batas. Mundur sekarang, atau kalian akan menyesal seumur hidup."
Lin Feng menyeringai, lalu memberi isyarat. "Baiklah. Karena kau ingin jadi pahlawan, kami akan memberimu pelajaran berharga. Tangkap dia, dan bawa juga gadis itu!"
Kedua bawahannya melesat maju serentak, pukulan berat beraliran tenaga guntur menghantam udara, berniat merobek daging dan tulang lawan. Serangan itu cepat dan ganas, ciri khas Sekte Guntur Hitam yang mengandalkan kekuatan kasar dan dahsyat.
Namun di mata Lian Hua, gerakan mereka terasa lambat dan kasar, penuh celah di sana-sini.
Ia tak mundur selangkah pun. Tubuhnya bergerak sedikit ke samping, menghindari satu pukulan dengan jarak sehelai rambut. Tangannya bergerak cepat, telapak tangan menghantam siku penyerang pertama, membuatnya meringis kesakitan dan terpelanting mundur. Saat serangan kedua datang, Lian Hua memutar pinggangnya, memanfaatkan momentum lawan, lalu mendorong bahu pemuda itu hingga ia bertabrakan dengan temannya sendiri.
Hanya dalam sekejap, kedua penyerang itu sudah jatuh terguling sambil mengerang kesakitan.
Lin Feng terkejut hebat. Ia tahu kemampuan bawahannya, mereka setara murid inti biasa. Namun anak muda di hadapannya ini mengalahkan mereka seolah menepis lalat.
"Kau punya sedikit keahlian ya," desis Lin Feng, matanya merah menahan marah. Ia melangkah maju, tenaga dalamnya meledak keluar, diselimuti cahaya ungu gelap yang berdenyut seperti petir. "Tapi melawanku, kau sedang menggali kuburanmu sendiri! Aku adalah murid kesayangan ketua sekte, kekuatanku sudah menyentuh puncak Inti Roh Tingkat Kedua!"
Ia menerjang maju, tinjunya berubah menjadi bayangan ungu, membawa hawa kejut yang kuat hingga dinding batu di sekitarnya bergetar. Teknik Guntur Menghancurkan Gunung, andalan Sekte Guntur Hitam, yang mampu meremukkan batu karang tebal sekalipun.
Lian Hua mengerutkan kening. Kekuatan lawan ini memang jauh di atas murid-murid yang ia temui di sekte dulu. Tekniknya kasar namun sangat ampuh. Jika dulu ia mungkin akan kesulitan, tapi sekarang... dengan Seni Teratai Langit yang telah menembus tingkat kedua, dan pemahamannya akan aliran kekuatan, ia melihat serangan itu bukan lagi sesuatu yang menakutkan.
"Kekuatan kasar memang hebat," gumam Lian Hua pelan, tangannya bergerak mencengkeram gagang pedang kayu. "Tapi kalau hanya itu, kau takkan bisa melukaiku."
Ia melangkah maju menyambut serangan itu. Di tengah lorong remang itu, cahaya putih dan hitam tipis mulai memancar dari tubuhnya. Di belakang punggungnya, samar-samar terlihat bayangan kelopak bunga yang berputar lembut, seolah bunga teratai sedang menari di tengah badai.
Pedang kayunya bergerak sederhana, namun setiap ayunannya membawa keseimbangan alam. Ia tak melawan kekuatan dengan kekuatan, melainkan membelokkan, menepis, dan menetralkan tenaga guntur itu seolah membelokkan aliran air.
Suara benturan terus terdengar, disertai suara retakan batu. Lin Feng makin kaget dan panik. Semakin keras ia menyerang, semakin ia merasa tenaganya hilang terserap ke dalam kedalaman yang tak berdasar. Lawannya bergerak ringan dan luwes, seolah teratai yang mengapung di atas ombak besar, tak tergoyahkan sedikit pun.
"Tak mungkin! Siapa kau sebenarnya?!" teriak Lin Feng putus asa, mengerahkan seluruh tenaga sisa untuk satu pukulan terakhir yang mematikan.
Saat tinju itu hampir menyentuh dada Lian Hua, pemuda itu tiba-tiba bergerak. Pedang kayunya menghantam lengan lawan dengan sudut yang sangat tepat.
Prak!
Suara tulang yang patah terdengar nyaring. Lin Feng meraung kesakitan, tubuhnya terlempar mundur, jatuh terguling ke tanah sambil memegangi lengannya yang bengkok tak beraturan. Keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat pasi. Ia menatap Lian Hua dengan mata penuh ketakutan, seolah melihat makhluk yang jauh lebih tinggi darinya.
"Pergi," ucap Lian Hua dingin, pedang kayunya menunjuk ke arah mereka. "Dan ingatlah pelajaran ini. Kekuatan bukan untuk mengintimidasi yang lemah, tapi untuk melindungi yang tak berdaya. Lain kali kalian berbuat begitu, takkan hanya lengan yang patah, tapi nyawa kalian."
Ketiga pemuda itu berlari tertatih-tatih pergi dari lorong itu, tak berani menoleh lagi.
Keheningan kembali menyelimuti tempat itu. Lian Hua memutar balik badan, menatap Gu Qing Cheng yang masih berdiri kaku. Gadis itu menatapnya dengan pandangan sulit diartikan—campuran rasa hormat, kekaguman, dan sesuatu yang lebih dalam.
"Terima kasih, Lian Hua," ucapnya pelan, suaranya bergetar. "Kau... semakin kuat dan hebat dari hari ke hari."
Lian Hua tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Tidak perlu berterima kasih. Kita satu sekte. Mari kembali, jalanan di luar sudah mulai ramai lagi."
Namun mereka tak tahu, di ujung lorong yang gelap, ada beberapa orang yang menyaksikan seluruh pertarungan itu. Mereka adalah pendekar kelana dan pedagang yang lewat, yang tertegun melihat kehebatan gerakan Lian Hua, serta bayangan bunga teratai yang samar namun agung itu.
Berita itu menyebar cepat bagai api di padang rumput kering. Hanya dalam waktu satu malam, kisah tentang pemuda misterius dari Sekte Gunung Awan Putih yang mengalahkan murid Sekte Guntur Hitam dengan mudah, yang bertarung seolah dikelilingi aura bunga teratai indah, terdengar ke segala penjuru Kota Langit Utara.
Orang-orang mulai berbisik-bisik, memberi julukan baru yang indah namun penuh wibawa: Pendekar Teratai.
Di kediaman sekte-sekte besar, nama itu mulai dibahas. Di telinga pengintai Menara Darah Hitam, nama itu sampai membawa berita yang makin mengerikan. Dan di telinga Su Yan, gadis bertopeng merah itu tersenyum tipis sambil bergumam pelan:
"Teratai akhirnya mekar... dan namanya kini terukir di hati semua orang. Kau baru saja mengambil langkah besar, Lian Hua. Tapi ingatlah... semakin terang cahayamu, semakin banyak pula yang ingin memadamkannya."
Mulai malam itu, di Kota Langit Utara, tak ada lagi yang memandang rendah pada pemuda berjubah biru tua dengan pedang kayu di punggungnya. Pendekar Teratai... nama itu kini menjadi legenda kecil yang baru saja lahir, dan menjadi awal dari ketenaran yang kelak akan mengguncang seluruh benua.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍