NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Empat minggu sejak ekskavator pertama kali menggali tanah di pusat kota. Empat minggu yang mengubah lahan kosong itu menjadi lubang raksasa dengan dinding beton bertulang yang mulai menjulang.

Arka berdiri di tepi lubang, menatap ke bawah. Kedalaman sudah mencapai dua belas meter. Besok, pemasangan dinding baja akan dimulai. Hadi memperkirakan struktur dasar bunker akan selesai dalam enam minggu. Setelah itu, bangunan hotel tiga lantai di atasnya hanya butuh waktu tiga minggu.

Tepat waktu. Tepat sebelum es datang.

“Mas Arka, saya sudah kirim tagihan tahap kedua,” kata Hadi sambil menunjukkan tablet di tangannya. “Material baja impor dari Korea sudah sampai di pelabuhan. Besok pagi kami kirim ke sini.”

Arka melihat angka di layar. Dua setengah miliar. Dia mengangguk.

“Saya transfer hari ini.”

Hadi tersenyum. “Mas ini paling cepat bayarnya. Klien lain biasanya minggu-mingguan.”

“Saya tidak suka utang,” jawab Arka.

Itu tidak sepenuhnya benar. Dia masih punya utang ke bank dari pinjaman aset. Tapi utang itu akan lunas dalam hitungan bulan, setelah saham dan komoditas memberinya keuntungan berlipat.

Dari lahan, Arka tidak langsung pulang. Dia memutar motor ke arah timur, menuju kawasan industri kecil di pinggiran Jakarta. Ada yang harus dia urus. Bukan soal konstruksi. Soal orang.

Dua minggu lalu, dia mulai mencari. Bukan pekerja konstruksi biasa, tapi orang-orang dengan kemampuan yang akan berguna saat es datang. Mekanik yang bisa memperbaiki genset. Mantan tentara yang paham taktik dan senjata. Perawat yang bisa menangani luka tanpa rumah sakit.

Dia tidak bisa merekrut sembarangan. Tidak bisa pasang iklan. Semua harus dilakukan dengan hati-hati, dengan alasan yang masuk akal, dengan orang yang tidak akan bertanya terlalu banyak.

Pertemuannya hari ini adalah dengan seorang mekanik. Namanya Umar, sekitar tiga puluh tahun, dulu bekerja di bengkel resmi mobil listrik. Sekarang dia menganggur karena bengkel tutup.

Arka mendapat informasi dari kenalan tidak resmi. Umar tinggal di kontrakan kecil di belakang pasar. Rumahnya sederhana, pintu besi berkarat, dinding cat biru mengelupas.

Dia mengetuk tiga kali.

Pintu terbuka. Umar berdiri di ambang, tubuhnya kurus, wajahnya lelah. Kaos oblong yang dipakai sudah lusuh.

“Mas Arka?” tanyanya.

“Iya. Telepon saya kemarin.”

Umar mengangguk. Dia mempersilakan Arka masuk.

Di dalam, ruangan sempit dengan sofa tua dan televisi tabung di pojok. Seorang wanita muda duduk di sudut dengan bayi di pangkuannya. Istrinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” Umar duduk di kursi plastik, tangannya menggenggam erat.

Arka tidak bertele-tele. “Saya butuh mekanik. Gaji tiga kali lipat dari pasar. Kontrak setahun.”

Mata Umar membulat. “Setahun? Kerja apa?”

“Merawat genset, panel surya, dan kendaraan listrik. Di tempat saya.”

“Tempat Mas di mana?”

“Di pusat kota. Hotel kecil yang sedang saya bangun.”

Umar terdiam. Tentu dia aneh. Siapa yang membangun hotel di pusat kota lalu merekrut mekanik dengan gaji selangit?

“Mas ini... punya bisnis apa sebenarnya?”

Arka mengeluarkan amplop dari saku. Meletakkannya di meja. “Uang muka tiga bulan. Kalau Mas Umar tertarik, datang ke alamat ini minggu depan.”

Dia berdiri. Sebelum melangkah keluar, dia menoleh.

“Satu syarat. Mas Umar tidak boleh cerita ke siapa pun tentang pekerjaan ini. Termasuk keluarga.”

Umar menatap amplop itu. Tangannya gemetar saat membukanya. Di dalam, uang tunai cukup untuk membayar kontrakan setahun dan makan keluarganya berbulan-bulan.

“Saya... ini...”

“Minggu depan,” kata Arka. Dia keluar, menutup pintu.

Dari rumah Umar, Arka pergi ke tempat lain. Kali ini ke arah selatan, ke perumahan sederhana di pinggiran. Rumahnya lebih rapi dari kontrakan Umar, tapi tetap terlihat pas-pasan.

Di sini tinggal seorang perawat bernama Dewi. Dia lulusan akademi keperawatan, bekerja di klinik dekat rumah, tapi klinik itu tutup dua bulan lalu karena sepinya pasien. Sekarang dia hanya membantu praktik mantan rekannya sesekali.

Arka mendapat kontaknya dari teman kuliah dulu. Dia sudah menghubungi via telepon, dan Dewi setuju untuk bertemu.

Pintu dibuka oleh wanita muda dengan kerudung merah muda, wajah lelah seperti orang yang baru saja menidurkan anak.

“Mas Arka?”

“Iya. Dewi?”

“Iya. Mari masuk.”

Ruang tamu sederhana dengan kursi plastik dan kipas angin. Seorang anak laki-laki sekitar tiga tahun bermain di lantai dengan mobil-mobilan.

Arka langsung ke tujuan. “Saya butuh perawat. Gaji dua kali lipat dari klinik swasta. Kontrak setahun.”

Dewi mengerjap. “Kontrak setahun? Di mana?”

“Hotel di pusat kota. Saya perlu staf medis untuk tamu-tamu tertentu.”

“Tamu? Hotel butuh perawat?”

Arka sudah menyiapkan jawaban. “Hotel saya punya fasilitas kesehatan untuk tamu yang butuh perawatan jangka panjang. Saya sedang cari perawat berpengalaman.”

Dewi terdiam. Matanya menatap Arka dengan seksama. “Ini... tidak ilegal kan?”

“Legal. Saya punya izin usaha.”

Dewi menatap anaknya yang sedang asyik bermain. Lalu menatap Arka lagi.

“Kapan mulai?”

“Minggu depan. Saya akan kirim alamat.”

Arka meninggalkan amplop di meja. Dewi hanya sempat melihat isinya sebelum Arka sudah di luar pintu.

Malam itu, Arka duduk di balkon kos-kosan. Di tangannya, ponsel menampilkan pesan dari Hadi.

“Mas, tim baja datang besok jam 8. Mohon hadir untuk pengecekan material.”

Dia membalas.

“Ok.”

Lalu dia membuka daftar di buku catatan. Dua nama sudah dicoret. Umar, mekanik. Dewi, perawat. Masih ada lima nama lain. Mantan tentara, tukang las, ahli hidroponik, ahli listrik, dan satu lagi: pengamanan.

Merekrut mantan tentara akan paling sulit. Orang-orang seperti itu biasanya punya jaringan sendiri. Tapi Arka punya keuntungan: dia tahu siapa yang bisa diandalkan dan siapa yang tidak. Di kehidupan pertama, dia bertemu beberapa mantan TNI yang tetap menjaga kemanusiaan meskipun dunia hancur. Salah satunya masih ada di Jakarta.

Dia menulis nama di buku: Pratama. Eks Kopassus. Tinggal di Ciputat.

Besok, setelah mengecek material baja, dia akan ke Ciputat.

Ponsel bergetar lagi. Hadi.

“Mas, satu lagi. Saya dapat info dari teman, ada preman yang mulai tanya-tanya soal proyek Mas. Mereka mungkin mau minta jatah.”

Arka membaca pesan itu dua kali.

“Siapa?”

“Geng Dedi, yang biasa jaga parkir di kawasan Sudirman. Mereka dengar Mas punya proyek besar, mau minta perlindungan.”

Arka tersenyum kecil. Perlindungan. Kata yang lucu.

“Biarkan mereka datang. Saya akan urus.”

Dia mematikan ponsel, menatap langit. Jakarta masih sama. Masih macet, masih bising, masih korup. Tapi dia tidak lagi menjadi korban. Dia tidak akan pernah menjadi korban lagi.

Angin malam berhembus. Lebih kencang dari biasanya. Lebih dingin.

Arka menarik napas. Empat minggu sudah berlalu. Bunker mulai berdiri. Pasukan mulai terkumpul. Uang mulai mengalir.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!