NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa yang Salah

Aroma sup ayam masakan Nadia bener-bener memenuhi seisi ruang makan. Suasananya hangat, tipikal rumah tangga normal yang selama ini gue idam-idamkan. Nadia duduk di depan gue, sibuk numpahin kuah hangat ke mangkok gue sambil terus ngomel kecil tentang kerjaan kantornya yang numpuk.

Gue ngeliatin dia, nyoba buat fokus 100% ke cewek di depan gue ini. Nadia itu cantik, tulus, dan dunianya lurus. Dia adalah alasan kenapa gue masih mau bertahan hidup sebagai manusia, bukan sebagai monster naga yang haus darah.

"Ka, kamu dengerin aku nggak sih?" Nadia mengerucutkan bibirnya, megang sendok sambil natep gue curiga. "Melamun terus dari tadi. Supnya keburu dingin tahu."

"Eh? Iya, denger kok, Nad. Soal klien yang rewel kemarin, kan?" jawab gue cepat, nyoba buat serapi mungkin menyembunyikan pikiran gue yang sebenarnya lagi traveling ke mana-mana.

"Tuh, kan! Salah! Aku lagi cerita soal kucing tetangga yang masuk ke garasi kita tadi pagi!" Nadia mendengus kesal, tapi sejurus kemudian dia malah ketawa pelan. "Kamu beneran capek banget ya? Habis makan langsung tidur, ya. Jangan begadang lagi."

Gue cuma bisa senyum canggung sambil mulai menyuap sup ayam itu. Rasanya enak banget, tapi entah kenapa, tenggorokan gue mendadak terasa kering. Setiap kali gue ngeliat gerakan tangan Nadia yang lagi benerin rambutnya, otak gue malah otomatis muter ulang kejadian di atas atap ruko tadi pagi.

Gerakan tangan Hana yang kaku tapi lembut pas ngusap luka di pipi gue...

Plak! Gue nepok jidat gue sendiri agak keras, bikin Nadia kaget.

"Eh, kenapa, Ka? Ada nyamuk?" tanya Nadia bingung.

"Enggak, gapapa Nad. Tiba-tiba pusing dikit," dalih gue sambil meringis.

Gue ngerasa bersalah setengah mati. Gue di sini lagi makan bareng pacar gue yang super perhatian, tapi kenapa bayangan si assassin judes itu malah nggak mau ilang dari kepala gue? Ini jelas salah. Hana itu rekan kerja, partner tempur, dan dia mantannya Kian—sahabat gue sendiri yang udah gugur. Nggak seharusnya gue punya perasaan atau getaran aneh kayak gini ke dia.

Tiba-tiba, HP gue yang ada di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang nggak gue simpen, tapi gue tahu betul ini nomor rahasia milik siapa. Gue ngelirik layarnya sekilas.

Hana: 'Luka lu udah diobatin? Jangan lupa diminum obatnya. Leo bilang energi naga lu agak gak stabil tadi pagi. Jangan mati dulu, urusan kita belum kelar.'

Pesan itu singkat, ketikan khas Hana yang sinis dan gengsian. Tapi bagi gue yang lagi perang batin, pesan itu rasanya kayak dapet lemparan bensin di tengah kobaran api. Gue buru-buru matiin layar HP sebelum Nadia sempet ngeliat.

"Siapa, Ka? Dari kantor?" tanya Nadia sambil minum air putihnya.

Gue nengok ke arah Nadia, nyoba buat senyum senatural mungkin meskipun dalam hati gue lagi ketar-ketir parah. "Bukan, dari Leo. Biasa, nanyain soal laporan ruko yang rusak tadi pagi."

"Oh, dari Leo..." Nadia cuma manggut-manggut. Dia langsung berdiri, beres-beres mangkok kosong di meja. "Ya udah, kamu santai aja dulu di sofa. Aku mau sekalian masukin baju kotor kamu ke mesin cuci."

Deg. Jantung gue serasa copot. Baju kotor? Celana yang gue pake tadi pagi masih ngegantung di kamar mandi! Dan di dalem kantong celana itu... masih ada sapu tangan kotak-kotak milik Hana yang ada bekas darahnya, plus kain putih-merah dari Klan Kera.

"Eh, Nad! Biar gue—eh, biar aku aja yang cuci!" gue langsung berdiri buru-buru, hampir ngegulingin kursi makan.

Nadia nengok, dahinya berkerut heran natep gue yang mendadak panik. "Kok kamu yang nyuci? Biasanya juga aku. Kamu duduk aja, Arka. Muka kamu pucet gitu."

"Enggak, gapapa, aku lagi pengen gerak aja!" gue langsung melesat ke kamar mandi lantai bawah kayak kilat naga.

Tapi terlambat. Nadia ternyata udah jalan duluan lewat pintu samping dan udah megang celana jins gue. Tangan lembutnya langsung meraba kantong depan.

SRAK.

Nadia menarik sepotong sapu tangan kain berwarna biru tua. Dia merhatiin benda itu dengan detail. Di sudut kainnya, ada bordiran inisial kecil: H.A. — Hana Asadel. Dan yang paling bikin mati kutu, ada noda merah darah yang udah mengering di sana.

Suasana rumah yang tadinya anget mendadak berubah sedingin es di kutub utara. Nadia natep sapu tangan itu, terus beralih natep gue yang berdiri kaku di pintu kamar mandi.

"Ini... punya siapa, Ka?" suara Nadia pelan, tapi nadanya nusuk banget sampai ke tulang. "Ini inisial Hana, kan? Kenapa ada bekas darah di sini? Dan kenapa sapu tangan dia bisa ada di kantong celana kamu?"

Gue nelan ludah. Tenggorokan gue rasanya kayak kesumbat beton. Di satu sisi, gue gak mungkin cerita kalau tadi pagi gue habis perang lawan robot halusinasi V.E.N.O.M di apartemen Hana dan dia yang ngobatin luka gue. Nadia gak boleh terlibat dunia gelap ini lagi. Tapi di sisi lain, kalau gue bohong, situasinya malah keliatan kayak gue beneran selingkuh.

"Nad, itu... tadi pagi pas aku ke tempat Leo, Hana emang lagi di sana. Terus aku gak sengaja keserempet ranting, dia minjemin itu buat ngelap darahnya," gue nyoba nyusun alesan paling logis dengan suara se-stabil mungkin.

Nadia nunduk, nengkram sapu tangan itu erat-erat sampai jarinya memutih. "Kamu selalu bilang 'urusan Leo', 'urusan ruko'. Tapi kenapa setiap ada masalah, selalu ada Hana di sekitar kamu, Ka? Aku ini... sebenernya dianggap apa sih di hidup kamu?"

Satu tetes air mata Nadia jatuh ke lantai. Gue melangkah maju mau meluk dia, tapi Nadia langsung mundur selangkah, nolak disentuh. Perang batin gue resmi pecah. Gue bisa ngelawan ratusan zirah baja V.E.N.O.M, tapi liat air mata Nadia karena ketidakpastian gue... ini bener-bener bikin gue ngerasa jadi cowok paling pecundang di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!