"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Siapa Bos yang Sebenarnya?
Andra melangkah keluar dari mal dengan penampilan yang benar-benar baru. Di tangannya kini melingkar sebuah jam tangan mewah seharga tiga puluh juta rupiah yang baru saja ia beli untuk menggenapi syarat kenaikan level sistem. Ia tidak lagi menaiki motor tuanya yang butut; sebagai gantinya, ia memanggil layanan taksi eksekutif dengan mobil Alphard hitam untuk mengantarnya ke gudang logistik tempatnya bekerja.
Di dalam mobil yang nyaman itu, Andra menatap panel sistemnya dengan kepuasan yang mendalam.
[Progres Misi Level 2: Rp 85.000.000 / Rp 100.000.000] [Sisa waktu: 21 jam 45 menit]
"Hanya kurang lima belas juta lagi," gumam Andra. Senyum dingin tersungging di bibirnya saat mobil memasuki kawasan industri yang berdebu, tempat gudang "Cepat Kirim" berada.
Begitu turun dari Alphard, kehadiran mobil mewah itu langsung menarik perhatian para kurir lain yang sedang sibuk menyortir barang. Mereka semua tertegun melihat seorang pria turun dengan setelan jas mahal. Namun, ketika pria itu melepas kacamata hitamnya, seluruh gudang menjadi sunyi senyap.
"An-Andra?" celetuk salah satu rekan kerjanya, seorang pria tua bernama Pak Jaka. "Itu benar kamu? Kamu menang lotre?"
Andra hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan kepada Pak Jaka, satu-satunya orang yang selalu baik padanya. Namun, suasana hangat itu langsung hancur saat sebuah suara melengking keluar dari kantor utama.
"Andra! Berani-beraninya kamu datang terlambat dan bergaya seperti orang kaya!" Pak Salim, sang pemilik gudang, berjalan keluar dengan perut buncitnya yang bergoyang. "Dari mana kamu sewa baju itu, hah? Pakai uang operasional kantor? Cepat masuk dan mulai angkut barang, atau saya pastikan kamu tidak akan dapat referensi kerja di mana pun!"
Andra berdiri tegak, menatap Pak Salim langsung ke matanya. Tidak ada lagi rasa takut atau bungkukan hormat yang biasa ia berikan. "Pak Salim, saya datang ke sini bukan untuk bekerja. Saya datang untuk mengundurkan diri."
Pak Salim tertawa terbahak-bahak hingga wajahnya memerah. "Mengundurkan diri? Tanpa gaji bulan ini, kamu akan makan batu! Kamu pikir siapa yang mau menampung kurir pemalas sepertimu?"
Andra tidak membalas makian itu. Ia justru mengeluarkan ponsel titanium terbarunya dan melakukan sebuah panggilan. "Halo, apakah ini agen properti kawasan industri? Saya ingin membeli seluruh kontrak sewa dan aset gudang Cepat Kirim di blok C. Ya, sekarang juga. Saya akan bayar tunai di depan beserta denda penaltinya."
Para kurir di sana saling berbisik, sementara Pak Salim makin merah padam. "Jangan membual! Kamu pikir gudang ini murah? Nilai aset dan kontraknya mencapai dua ratus juta rupiah! Kamu bahkan tidak punya dua ratus ribu di dompetmu!"
"Benarkah?" Andra melirik jam tangannya. "Sistem, gunakan saldo untuk membayar akuisisi gudang ini."
[Ding! Transaksi Akuisisi Aset Berhasil!] [Biaya: Rp 250.000.000 (Termasuk bonus untuk pemilik lama agar segera pergi)] [Selamat! Inang telah menyelesaikan misi pengeluaran Level 2!] [Sistem Naik ke Level 2: Menghasilkan Rp 5.000 setiap detik!]
Tiba-tiba, ponsel Pak Salim berdering keras. Ia mengangkatnya dengan kasar, namun dalam hitungan detik, wajahnya yang sombong berubah menjadi pucat pasi. Tubuhnya mulai gemetar.
"Ya... Ya, Pak? Apa? Kontrak saya dibatalkan secara sepihak? Seseorang sudah membeli seluruh gedung ini?" Pak Salim menatap Andra dengan mata yang hampir keluar. "Kamu... kamu benar-benar membelinya?"
Andra melangkah mendekat, memberikan tekanan intimidasi yang luar biasa. "Pak Salim, mulai detik ini, gudang ini bukan lagi milikmu. Silakan kemas barang-barang pribadimu dan pergi dalam lima menit. Jika tidak, saya akan meminta sekuriti untuk menyeretmu keluar sebagai penyusup."
"Tapi... tapi Andra, kita bisa bicarakan ini..." suara Pak Salim mendadak mengecil, hampir seperti memohon.
"Waktumu tinggal empat menit lima puluh detik," potong Andra tanpa ampun.
Ia kemudian berbalik menatap rekan-rekan kurirnya yang masih mematung. "Semuanya, dengarkan saya! Mulai hari ini, gaji kalian naik tiga kali lipat! Dan Pak Jaka, Anda adalah manajer operasional yang baru di sini."
Sorak-sorai pecah di dalam gudang yang pengap itu. Pak Jaka sampai menitikkan air mata, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Andra menatap langit-langit gudang. Level 2 memberikan lima ribu rupiah per detik. Artinya, dalam satu jam ia kini menghasilkan delapan belas juta rupiah.
"Ini baru permulaan," bisik Andra pada dirinya sendiri. "Siska, Erwin... setelah ini, giliran kalian yang akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya di bawah kakiku."