Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.
Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.
Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tik. Tik. Tik.
Suara rintik hujan yang menabrak jendela kaca Kafein Nusantara menambah hawa dingin sore itu. Kafe sedang tidak terlalu ramai karena jam pulang kantor belum tiba. Di luar, lalu lintas Sudirman mulai merayap pelan.
Bayu berdiri di balik kaca, menyeruput kopi hitamnya sambil menatap ke seberang jalan. Matanya yang tajam mengunci sebuah mobil minibus hitam berpintu geser yang sudah terparkir di sana sejak dua jam yang lalu. Kaca mobil itu gelap, tapi insting militer yang kini tertanam di saraf Bayu bisa merasakan tatapan mengintai dari dalam sana.
"Mereka sudah mulai bergerak. Baskoro sepertinya benar-benar kehabisan kesabaran," batin Bayu tenang.
Sistem di ponselnya tidak berhenti memberikan peringatan merah sejak pagi. Niat membunuh itu sudah mengelilinginya. Ia tidak takut pada preman bayaran, tapi ada satu variabel yang membuatnya sedikit khawatir.
Tari sedang berdiri di depan mesin kasir, menghitung struk penjualan hari ini sambil bersenandung pelan. Wanita itu tidak tahu menahu soal bahaya maut yang sedang mengincar mereka. Bagi musuh seperti Baskoro, orang terdekat adalah kelemahan yang paling mudah untuk diserang.
Bayu berjalan kembali ke mejanya dan membuka aplikasi Toko Ajaib. Ia menelusuri kategori Perlindungan Khusus.
[Gelang Kayu Penolak Bahaya]
[Deskripsi: Sebuah gelang kayu gaharu biasa di mata manusia, namun memancarkan perisai kinetik mikro saat pemakainya terancam bahaya fisik fatal. Dapat menahan benturan peluru, senjata tajam, atau tabrakan mobil sebanyak satu kali. Sistem juga akan mengirimkan titik koordinat lokasi pemakai secara langsung ke perangkat pengguna.]
[Harga: 500 Koin Sistem]
Bayu menekan tombol beli. Saldo koinnya berkurang, dan sebuah gelang kayu berwarna cokelat gelap dengan wangi gaharu yang menenangkan muncul di telapak tangannya.
Ia berjalan menghampiri Tari dan meletakkan gelang itu di atas mesin kasir.
"Apaan nih, Bay? Gelang dukun?" tanya Tari heran, mengangkat gelang kayu itu.
"Ini suvenir dari kampung gue, Tar. Gelang kesehatan. Wanginya bisa bikin lo lebih rileks ngurusin kafe yang makin ramai ini," jawab Bayu dengan senyum santai. "Pakai terus ya. Gue perhatiin lo belakangan ini agak pucat, kurang tidur kan mikirin akuisisi Delta Sekuritas kemarin?"
Tari mendengus pelan, tapi ia tetap memakai gelang itu di pergelangan tangan kirinya. Wangi gaharu itu memang langsung membuat pikirannya terasa lebih jernih.
"Thanks, Bos. Perhatian amat lo. Untung gue nggak gampang baper," goda Tari. "Lagian siapa yang nggak kurang tidur? Kita baru aja ngambil alih perusahaan sekuritas, dan sekarang lo suruh tim buat ngacak-ngacak buku besar mereka. Lo lagi nyari apa sih sebenarnya?"
"Nyari tali buat gantung musuh kita," jawab Bayu pelan. "Malam ini lo pulang lebih awal aja, Tar. Biar Pak Slamet yang tutup kafe. Gue udah pesanin taksi premium buat lo, sopirnya orang yang gue percaya. Langsung pulang ke apartemen lo ya..., kunci pintu, jangan keluar lagi sampai besok pagi."
Tari mengerutkan kening, menyadari ada nada serius di balik perintah Bayu. "Ada masalah, Bay?"
"Nggak ada. Cuma firasat gue akan ada badai malam ini. Udah, nurut aja."
Tari akhirnya mengangguk. Tiga puluh menit kemudian, taksi yang dipesan Bayu tiba. Tari pulang dengan aman, membawa perisai kinetik di tangannya tanpa ia sadari.
Bayu menghela napas lega. Satu kelemahannya sudah diamankan. Sekarang, saatnya ia mengurus para tikus yang sedari tadi mengintainya di luar sana.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam saat Bayu melangkah keluar dari Kafein Nusantara. Hujan sudah berhenti, menyisakan udara malam yang lembap dan dingin. Alih-alih memesan taksi atau berjalan ke arah jalan raya utama yang ramai, Bayu sengaja berbelok ke arah sebuah gang lebar di belakang kompleks perkantoran yang sedang dalam tahap konstruksi.
Tempat itu sepi, minim penerangan, dan dipenuhi oleh tumpukan material beton serta alat berat yang ditinggalkan pekerjanya. Tempat yang sangat sempurna untuk sebuah penyergapan.
Bayu berjalan dengan langkah lambat yang diatur sedemikian rupa, tangannya masuk ke dalam saku jaket. Dari sudut matanya, ia melihat sorot lampu mobil menyala dari arah belakang. Minibus hitam yang sejak sore terparkir di seberang kafe kini mengikutinya perlahan.
Sret.
Sebuah mobil SUV hitam lainnya tiba-tiba melaju dari arah depan, memblokir jalan keluar gang. Minibus di belakang Bayu ikut berhenti, menutup jalur mundurnya. Ia terjepit di tengah jalanan yang diapit oleh pagar seng proyek konstruksi.
Pintu-pintu mobil terbuka serentak.
Sebelas orang pria berbadan tegap keluar dari dalam kendaraan. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Kilapan besi dari parang, pipa baja, dan rantai terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang.
Dari pintu depan SUV, Anton Bison melangkah keluar. Ia masih memakai jaket kulit hitamnya. Perutnya tidak lagi dibalut perban, namun cara berjalannya sedikit kaku, sisa dari pukulan telak Bayu tempo hari.
"Malam yang indah buat jalan-jalan sendirian, ya, Tuan Direktur?" sapa Anton dengan senyum bengis. Ia mengeluarkan sebilah pisau berburu melengkung dari balik jaketnya.
Bayu berhenti melangkah. Ia menatap sebelas orang bersenjata itu dengan pandangan datar.
"Gue udah peringatin lo waktu di kafe, Ton. Kalau bos lo ngirim orang lagi, gue bakal pastiin dia cacat seumur hidup. Ternyata lo dan bos lo emang keras kepala," ucap Bayu tenang.
Anton meludah ke aspal. "Jangan banyak bacot, bocah. Waktu di kafe lo menang karena gue lengah. Sekarang lo dikepung sama pasukan elit gue. Semuanya bawa senjata tajam. Lo mau pakai bela diri apa buat nangkis parang? Tangan kosong lo bakal putus malam ini. Bos Baskoro pesen, bawa anak ini hidup-hidup, tapi nggak masalah kalau kakinya patah dua-duanya."
Para preman itu mulai menyempitkan barisan, berjalan maju mengelilingi Bayu bagaikan kawanan serigala kelaparan yang menemukan mangsa.