Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Popok Terakhir & Air Mata Pagi
“Assalamualaikum...” suara wanita itu terdengar lagi, sedikit lebih keras kali ini, menembus ketipisan kayu pintu.
Aku tersentak dari lamunan. Dengan susah payah, aku menggeser tubuhku dari kasur. Kaki kananku yang kaku menyeret lantai semen yang dingin. “Wa’alaikumsalam,” jawabku parau. “Silakan masuk, pintunya tidak dikunci.”
Pintu terbuka perlahan. Bukan kurir, bukan juga petugas bank. Di ambang pintu berdiri Bu Siti, tetangga sebelah rumah yang jarang sekali aku ajak bicara. Di tangannya tergenggam sebuah rantang makanan yang masih mengepul hangat, dan sebuah kantong plastik berisi beberapa bungkus popok bayi.
Hati aku mencelos. Malu. Sangat malu. Seorang kepala keluarga, seorang ayah, ketahuan oleh tetangga bahwa dapurnya dingin dan lemari anaknya kosong. Aku menunduk, tidak berani menatap mata beliau.
“Pak Rudini,” sapa Bu Siti lembut, seolah membaca isi hatiku. “Saya lihat asap dapur Bapak tidak menyala sejak kemarin. Dan tadi pagi saya dengar Balqis menangis kelaparan. Saya bawa sedikit nasi goreng dan telur dadar. Juga... ini ada sisa popok anak saya yang dulu, masih baru, belum dibuka. Mudah-mudahan muat untuk Balqis.”
Air mataku langsung mendesak keluar. Tenggorokan terasa tercekat. Aku hanya bisa mengangguk-angguk lemah, menerima uluran tangan itu dengan tangan kiri yang gemetar.
“Terima kasih, Bu... Terima kasih banyak,” suaraku pecah. “Saya... saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Ibu.”
Bu Siti tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. “Jangan bicara soal balasan, Pak. Kita tetangga. Kalau ada yang kurang, seharusnya saling bantu. Yang penting Bapak sehat dan Balqis kenyang. Saya duluan ya, Pak.”
Setelah Bu Siti pergi, aku menutup pintu dan bersandar di sana. Rantang nasi di tangan terasa sangat berat, namun hatinya terasa sangat ringan. Aroma nasi goreng membangkitkan nyawa yang sempat padam. Aku membawa rantang itu ke kasur.
“Balqis, Nak, lihat! Kita punya makan siang istimewa!” seruku lirih.
Balqis bertepuk tangan girang. Aku menyuapkan nasi yang sudah kuhaluskan. Anak itu melahapnya dengan lahap, seolah itu adalah hidangan raja. Aku juga makan beberapa suap, meski setiap kunyahan terasa bercampur rasa haru dan syukur yang mendalam.
Namun, setelah perut kenyang, realita kembali menampar.
Aku melirik ke tumpukan popok di sudut kamar. Popok kotor menumpuk. Dan popok bersih? Hanya ada satu lembar pemberian Bu Siti tadi. Satu-satunya pertahanan Balqis dari basah dan ruam.
“Ya Allah,” gumamku cemas. “Jika popok ini habis dan kotor, besok Balqis pakai apa?”
Waktu menunjukkan sore hari. Balqis tiba-tiba rewel, wajahnya memerah. Tanda dia butuh diganti popoknya. Tidak ada pilihan lain. Aku harus memandikannya dan mengganti popok itu sekarang juga, sebelum popok terakhir ini terpakai sia-sia.
Aku menghela napas panjang, mengumpulkan sisa tenaga. “Maafkan Ayah, Nak. Kita mandi hemat air saja ya.”
Proses memandikan Balqis dengan tangan separuh lumpuh adalah siksaan tersendiri. Tangan kananku tergantung lemas, tak bisa menggenggam waslap. Aku harus menjepit waslap di antara leher dan bahuku, lalu menggosokkannya ke tubuh mungil Balqis dengan gerakan canggung. Air dingin memercik, membuatku menggigil, tapi Balqis justru tertawa geli melihat ayahnya yang bergerak aneh.
Tawa itu... tawa polos di tengah kesulitan, justru meruntuhkan bendungan air mataku.
Saat hendak mengoleskan bedak dan salep ruam, tanganku gemetar hebat. Tabung salep terjatuh berkali-kali. Aku harus menekuk punggungku yang sakit untuk mengambilnya. Napasku tersengal-sengal. Keringat dingin mengucur deras di pelipis.
“Ayah minta maaf, Balqis,” isakku pelan di tengah usaha yang gagal itu. “Ayah ingin jadi ayah yang kuat. Ayah ingin bisa melakukan semuanya dengan cepat untukmu. Tapi Ayah... Ayah hanya beban.”
Air mataku jatuh, menetes tepat di pipi Balqis yang sedang tertawa.
Balqis tiba-tiba berhenti tertawa. Ia menatapku dengan mata bulatnya yang penuh cinta. Tangan mungilnya terulur, mengusap air mata di pipiku yang kasar.
“Papa... jangan nangis,” bisiknya polos. “Papa bagus. Papa sayang Balqis.”
Kalimat sederhana itu menghantam dadaku lebih keras daripada penyakit stroke yang melumpuhkanku. Aku memeluk Balqis erat-erat, membenamkan wajah di rambut halusnya yang berbau sabun.
“Iya, Nak. Papa sayang Balqis. Sangat sayang,” jawabku sambil terisak. “Karena Balqis, Papa akan terus berjuang. Meski tangan ini lumpuh, meski kaki ini kaku, Papa tidak akan menyerah.”
Sore itu, di atas kasur tipis dengan dinding berlumut, aku belajar satu hal: Kekuatan seorang ayah bukan terletak pada otot yang kekar atau tangan yang gesit. Tapi pada hati yang tidak pernah berhenti mencintai anaknya, meski dunia sedang runtuh di sekelilingnya.
Popok terakhir sudah terpasang rapi di tubuh Balqis. Besok? Entahlah. Tapi hari ini, kami berhasil. Kami bertahan. Dan itu sudah cukup untuk menjadi alasan bersyukur.
Aku menatap langit-langit kamar yang retak. “Terima kasih, Ya Allah. Untuk nasi Bu Siti, untuk popok ini, dan untuk senyum Balqis yang menyembuhkan luka Ayah.”
Malam semakin larut. HP-ku masih tergeletak diam. Belum ada WA dari Ibu. Tapi malam ini, tidurku mungkin akan lebih nyenyak. Karena aku tahu, aku tidak sendirian. Ada Balqis, ada tetangga baik, dan ada Tuhan yang selalu mendengar doa ayah yang putus asa.