NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Oleh-oleh Perang, Pisau Damaskus, dan Teh Cinta yang Mematikan

​[Gerbang Desa - Menuju Kediaman Jenderal]

[Waktu: 15.00 Sore]

​Rombongan pasukan berkuda Jenderal Arga memasuki desa dengan gagah. Bendera Harimau Hitam berkibar. Warga desa berbaris di pinggir jalan menyambut pahlawan mereka.

​Namun, sorakan mereka terdengar aneh.

​"Hidup Jenderal Arga! Hidup Nyonya Tantri!"

"Terima kasih Nyonya Tantri! Anak saya sembuh!"

"Panjang umur Dewi Penyelamat!"

​Arga menarik tali kekang kudanya, berhenti di depan Kepala Desa yang membungkuk hormat.

"Kepala Desa," suara Arga berat. "Apa maksud semua ini? Siapa yang kalian sebut Dewi Penyelamat? Istriku?"

​"Benar, Gusti Jenderal!" jawab Kepala Desa berapi-api. "Nyonya Tantri turun tangan langsung saat wabah menyerang! Beliau memberi kami Sup Ajaib dan Air Kehidupan! Beliau tidak takut kotor, beliau menyentuh rakyat jelata! Beliau adalah malaikat!"

​Arga terdiam. Dia menoleh ke Letnan Wira.

Wira mengangkat bahu, sama bingungnya. "Sepertinya... Nyonya Tantri melakukan sesuatu yang luar biasa saat kita pergi, Jenderal."

​Arga memacu kudanya lagi. Hatinya berkecamuk.

Tantri yang dia kenal jijik pada debu. Tantri yang dia kenal akan menutup hidung jika melewati pasar.

Siapa sebenarnya wanita yang kini menempati tubuh istrinya itu?

​[Dapur Utama Kediaman Jenderal]

​Aku sedang sibuk memilah hadiah dari warga.

Ada tiga keranjang telur ayam kampung, dua ikat petai (yes!), sekeranjang mangga muda, dan lima ekor ayam hidup yang berisik sekali.

​"Mbok, ayamnya masukin kandang. Mangga mudanya kita bikin Rujak Serut nanti sore," perintahku.

​"Siap, Nyonya!"

​Tiba-tiba, suasana dapur hening seketika. Hawa dingin yang familiar menusuk tengkukku.

Ayam-ayam berhenti berkokok.

Aku berbalik pelan.

​Di ambang pintu, berdiri Jenderal Arga.

Dia masih memakai zirah perangnya yang berdebu. Wajahnya lelah, ada goresan baru di pelipisnya, dan janggut tipis tumbuh di dagunya menambah kesan maskulin.

Matanya menatapku lekat. Intens.

​"Selamat datang kembali, Jenderal," sapaku, mengelap tangan basahku ke celemek (kebiasaan Chef). "Maaf berantakan. Rakyatmu terlalu murah hati."

​Arga melangkah masuk. Dia tidak peduli pada tumpukan sayur. Dia berjalan lurus ke arahku.

Dia berhenti satu langkah di depanku. Tingginya membuatku harus mendongak.

​"Wira bilang kau memimpin massa yang mengamuk," kata Arga pelan. "Kau memberikan obat pada warga desa. Kau menyelamatkan reputasi keluarga ini."

​"Aku cuma nggak mau mati terpanggang di dalam rumah, Arga," jawabku jujur. "Itu insting bertahan hidup. Bukan aksi heroik."

​Sudut bibir Arga terangkat sedikit. Sangat sedikit, tapi itu senyum tulus pertama yang kulihat.

"Apapun alasanmu... Terima kasih."

​Jantungku berdesir aneh. Sial, dia ganteng banget kalau lagi mode lembut begini.

​Arga merogoh tas pinggang kulitnya. Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain beludru panjang.

"Ini untukmu."

​Aku menerimanya. Berat.

Aku membuka kain itu.

Mataku terbelalak.

Sebuah pisau dapur (Chef Knife) sepanjang 20 cm. Bilahnya terbuat dari baja Damaskus dengan pola gelombang air yang indah dan misterius. Gagangnya dari kayu eboni hitam yang dipoles halus, pas sekali di genggamanku.

Tajam? Jangan tanya. Aku menyentuh sedikit ujungnya, dan rasanya bisa membelah angin.

​"Ini... baja Damaskus?" suaraku bergetar haru. "Ini mahal sekali, Arga! Di duniaku... maksudku, di pasar, ini harganya selangit!"

​"Kau bilang pisaumu tumpul," kata Arga, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal (salah tingkah). "Seorang prajurit butuh senjata yang layak. Gunakan itu untuk... yah, masak rendang lagi."

​Aku menatap pisau itu, lalu menatap Arga. Tanpa sadar, aku tersenyum lebar sekali. Senyum Kirana yang asli.

"Terima kasih! Ini hadiah terbaik yang pernah kuterima! Aku janji bakal masakin kamu enak tiap hari!"

​Arga terpaku melihat senyum itu. Senyum yang cerah, tulus, tanpa topeng. Jantung Jenderal Besar itu berdetak satu tempo lebih cepat.

​"Ehem. Baguslah kalau kau su—"

​"JENDERAL!"

​Momen manis itu hancur berkeping-keping.

Dari arah pintu, Laras berlari masuk dan langsung menubruk tubuh Arga, memeluknya erat-erat sambil menangis.

​"Jenderal! Akhirnya kau pulang! Laras takut sekali! Kak Tantri... Kak Tantri jahat! Dia membiarkan orang-orang jahat menyerang rumah saat Jenderal pergi!"

​Laras menangis di dada Arga, melirikku dengan tatapan penuh kemenangan. Minggir kau.

​Arga terlihat kaku dipeluk begitu, tapi dia tidak mendorong Laras. Bagaimanapun, Laras adalah tanggung jawabnya.

"Sudah, Laras. Aku sudah dengar ceritanya. Tantri justru menyelesaikan masalah itu."

​Laras mendongak, matanya basah. "Tapi Jenderal belum dengar versi Laras! Dia kasar! Dia mencuri ikan Laras! Dia... ah, sudahlah. Jenderal pasti lelah. Ayo ke paviliun Laras. Laras sudah siapkan air mandi hangat dan makan malam spesial untuk merayakan kemenangan."

​Laras menarik tangan Arga.

Arga menatapku sekilas, seolah minta tolong atau minta izin? Entahlah.

​Aku hanya mengangkat bahu, kembali sibuk mengelus pisau baruku. "Pergilah, Jenderal. Mandi sana, kamu bau keringat kuda."

​Arga menghela napas, lalu membiarkan dirinya ditarik Laras keluar dari dapur.

​[Paviliun Teratai Putih - Malam Hari]

​Kamar Laras diterangi puluhan lilin aromaterapi. Wangi mawar dan melati yang menyengat memenuhi ruangan.

Di meja, terhidang berbagai makanan mewah (katering dari restoran mahal di kota, karena Laras nggak bisa masak).

Dan di tengah meja, ada satu teko perak berisi anggur hangat.

​Arga duduk di kursi setelah mandi. Dia merasa segar, tapi pikirannya masih tertuju pada pisau Damaskus dan senyum Tantri di dapur tadi.

​"Minumlah, Jenderal," Laras menuangkan anggur ke gelas emas. "Ini anggur ginseng terbaik. Bagus untuk stamina."

​Arga menerima gelas itu. Dia memang haus.

Dia meminumnya dalam sekali teguk.

Rasanya manis, hangat, dan... ada sedikit rasa aneh di ujung lidah. Pahit getir.

​"Terima kasih, Laras," kata Arga.

​"Makanlah, Jenderal," Laras duduk di pangkuan Arga (agresif sekali malam ini). Dia menyuapkan potongan daging.

​Arga makan sedikit. Tapi kemudian...

Sesuatu terjadi.

Tubuhnya mulai terasa panas.

Bukan panas biasa. Tapi panas yang menjalar dari perut ke dada, lalu ke bawah. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Keringat dingin mulai keluar.

Pandangannya sedikit kabur. Dan aroma tubuh Laras tiba-tiba tercium sangat kuat, memancing insting purbanya.

​Arga memegang kepalanya yang pening.

Obat?

Sebagai prajurit veteran, Arga tahu rasanya dibius atau diracun. Tapi ini beda. Ini Racun Gairah.

​Arga menatap Laras. Wajah gadis itu terlihat memerah, matanya sayu menggoda, tangannya mulai meraba dada bidang Arga di balik jubah tidur.

​"Jenderal..." bisik Laras di telinganya. "Malam ini dingin. Biar Laras hangatkan... Kita berikan pewaris untuk keluarga ini..."

​Arga menggeram. Rahangnya mengeras.

Dia marah.

Dia benci dimanipulasi. Dia benci obat-obatan yang mengendalikan pikirannya.

Dan yang paling dia benci: Laras, gadis yang dia anggap adik polos, ternyata menggunakan cara rendahan seperti pelacur untuk menjebaknya.

​"Minggir," geram Arga, suaranya serak menahan gairah yang meledak-ledak.

​"Jenderal? Kenapa? Laras istri Jenderal juga..."

​Arga mendorong Laras—agak kasar—hingga Laras terjatuh ke kasur empuk.

Arga bangkit berdiri, terhuyung-huyung. Napasnya memburu.

Dia harus keluar. Dia butuh udara dingin. Dia butuh air.

​"Jenderal! Jangan pergi! Obat itu kuat sekali! Kau akan menderita kalau tidak disalurkan!" teriak Laras panik.

​Arga tidak peduli. Dia berjalan sempoyongan keluar paviliun, menabrak pintu.

​[Dapur Utama - Pada Saat yang Sama]

​Aku sedang sendirian di dapur, menguji ketajaman pisau Damaskus dengan memotong-motong mangga muda untuk Rujak.

Srek. Srek. Halus sekali irisannya.

​Tiba-tiba, aku mendengar suara aneh di jendela samping dapur.

Krek.

Jendela terbuka.

Sesosok pria melompat masuk dengan gerakan ringan. Jubah biru, kipas lipat.

Pangeran Panji.

​Aku kaget setengah mati, reflek mengacungkan pisau baruku.

"Maling?!"

​"Woah! Santai, Nona Manis! Ini aku!" Panji mengangkat kedua tangan sambil nyengir.

​"Pangeran Panji?!" Aku menurunkan pisau. "Ngapain malam-malam masuk lewat jendela?! Anda Pangeran atau Kucing Garong?"

​"Aku dengar Jenderal Arga pulang bawa hadiah pisau," Panji mendekat, matanya berbinar melihat mangga muda. "Dan aku kangen masakanmu. Siang ini aku makan sate kambing lagi, rasanya kayak karet ban."

​"Keluar, Pangeran! Kalau ada yang lihat, saya bisa dituduh selingkuh!" usirku panik.

​"Tenang, penjaga sedang sibuk di depan. Cuma sebentar. Buatkan aku rujak itu, lalu aku pergi," Panji duduk santai di meja dapur, mengambil potongan mangga.

​Tepat saat itu...

Pintu dapur didobrak dari luar.

​BRAAAK!

​Bukan penjaga.

Tapi Arga.

​Jenderal itu berdiri di ambang pintu, napasnya memburu hebat, wajahnya merah padam, matanya berkabut gairah dan amarah. Keringat membasahi jubah tidurnya yang terbuka di bagian dada.

​Dia melihatku.

Lalu dia melihat Pangeran Panji yang duduk santai di meja dapurku.

​Suasana membeku.

​Panji kaget. "Kak Arga? Uh... ini tidak seperti yang kau pikirkan..."

​Arga tidak mendengar. Obat di tubuhnya membuat logikanya tumpul. Yang dia lihat hanya istrinya berduaan dengan laki-laki lain di tengah malam.

Rasa cemburu yang asing bercampur dengan efek afrodisiak menciptakan badai di kepalanya.

​Arga menggeram rendah, seperti harimau yang daerah kekuasaannya diganggu.

Dia melangkah masuk, mengabaikan Panji, dan berjalan lurus ke arahku.

​"Arga? Kamu kenapa?" tanyaku cemas melihat kondisinya yang aneh.

​Arga mencengkeram pergelangan tanganku, menarikku mendekat hingga tubuhku menempel padanya. Panas tubuhnya luar biasa. Dia demam?

​"Keluar," desis Arga pada Panji, matanya merah menyala menatap adiknya itu. "Keluar sebelum kupatahkan lehermu, Panji."

​Panji, yang sadar situasi ini sangat berbahaya (dan sadar Arga sedang 'tidak normal'), langsung melompat keluar jendela lagi.

"Oke! Bye! Rujaknya besok aja!"

​Panji kabur. Pengecut.

​Kini tinggal aku dan Arga yang sedang 'konslet'.

​"Arga... badanmu panas banget..." aku mencoba menyentuh dahinya.

​Arga menangkap tanganku, menempelkannya ke pipinya yang membara. Dia menatapku dengan tatapan lapar—jauh lebih lapar daripada saat dia makan Nasi Goreng.

​"Laras memberiku racun..." bisik Arga serak, napasnya menerpa wajahku. Bau anggur dan ginseng tercium kuat. "Tapi aku tidak mau dia. Baunya bikin aku mual."

​Dia menelusupkan wajahnya ke ceruk leherku, menghirup aroma tubuhku dalam-dalam.

"Kau... kau bau bawang goreng. Bau sambal. Bau asap."

​Aku merinding. "Itu pujian atau hinaan?!"

​"Itu... bau rumah," gumam Arga.

​Dan sebelum aku sempat protes, Arga mengangkat tubuhku ke atas meja dapur (di antara potongan mangga dan pisau Damaskus), mengunci gerakanku, dan menempelkan keningnya ke keningku.

​"Obati aku, Tantri," pintanya putus asa. "Atau aku akan meledak."

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
udah ngaku aja daripada disuruh makan ceker mercon yg isinya potongan jari2 sendiri 🙈🙀
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tambahin irisan kol dan daun bawang 😆😆
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak main main, 5 liter minyak jelantah 🤣🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
kAlau kirana bangun ,tantri kembali kesetelan awal donk🤣,kecuali tersisa memori dan sedikit keahlian kirana agar tantri hidupnya tak sengsara dengan kehilangan keahliannya.
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
refresh tenaga dlu ya tantrii
musuh baru akan segera datang
🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Bebek timbung = bebek betutu, hhmmm yummy....
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yoo jadikan si cakar ayam bulan2an, yg kepleset minyak, kesiram air, kena tepung, kejepit pintu 🥳🥳🥳
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: panjangin listnya /Determined//Determined//Scream//Scream//Scream/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
eeh kirain namanya Pembunuh Bayaran Cakar Ayam 🤣🤣
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta lama sulit terganti kan ya Diah
sampai segala cara di pake buat merebut arga
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mantan jenderal kembali
seperti apa kisah cinta mu jenderal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
🤣🤣🤣 tidur dulu biar bangun udah fresh, siap atur strategi hadapi ibu suri 🥳
Ai Emy Ningrum: turing#turumiring😴😴😴😴😴💤💤💤💤💤
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
Diah ngajak warrr 🤼‍♀️ siapkan amunisi Tantri 🥁🥁🥁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!