NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perebutan Kekuasaan Pertama

​Pintu mobil Rolls-Royce berkelir hitam legam itu terbuka perlahan, menyemburkan hawa dingin AC yang kontras dengan teriknya aspal Jakarta. Dari dalamnya, sepasang sepatu pantofel mengkilap menyentuh bumi dengan gerakan pelan terukur. Satya Wijaya berdiri tegak, membiarkan angin menerpa seragam putih abu-abu yang dipesan khusus. Ia mengenakan kacamata hitam yang menutupi sepasang matanya yang terpejam. Aura yang terpancar dari tubuhnya mengintimidasi udara sekitar.

​Tangannya menggenggam tongkat kayu hitam dengan kepala perak berbentuk naga. Ia tidak menggunakan tongkat itu untuk meraba jalan, ia memegangnya seperti seorang jenderal menggenggam pedang komando. Dagu mendongak, tangan kiri di saku celana, Satya melangkah masuk ke gerbang SMA Global Nusantara—sekolah paling elit di ibu kota, tempat berkumpul anak-anak yang mempunyai kekuasaan.

​Langkah kakinya menciptakan irama yang mengintimidasi. Para siswa laki-laki yang tadinya sedang tertawa di koridor mendadak bungkam, bulu kuduk mereka meremang tanpa alasan yang jelas. Sementara para siswi hanya bisa menahan napas, terpesona sekaligus ngeri melihat sosok pemuda buta berwajah tampan.

​Di belakangnya, Alexa melangkah dengan keanggunan seorang ratu yang haus darah. Matanya yang dingin memindai setiap sudut sekolah seolah sedang menilai harga nyawa orang-orang di sana.

​Di depan kantor kepala sekolah, Pak Rudi dan jajaran staf pengajar sudah berbaris layaknya pelayan. Keringat dingin mengucur di pelipis sang Kepala Sekolah saat ia membungkuk hingga pinggangnya terasa pegal.

​"Selamat datang, Nyonya Alexa... dan Tuan Muda Satya," suara Pak Rudi bergetar, hampir tak terdengar.

​Alexa maju satu langkah, aromanya yang tajam menguasai udara. Ia menatap Pak Rudi seolah pria itu hanyalah serangga yang mengganggu pemandangan. "Saya tidak suka basa-basi," desis Alexa, suaranya tenang namun mengandung ancaman kematian. "Entah kegilaan apa yang membuat anak saya ingin sekolah di sini. Tapi camkan ini: jika ada satu saja guru atau murid yang menghina kekurangan anak saya, saya pastikan ia tidak akan pernah bisa menatap matahari lagi. Selamanya."

​Pak Rudi menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu itu bukan gertakan. Keluarga Wijaya punya kuasa untuk menghapus sebuah nama dari akta kelahiran hanya dalam semalam. "B-baik, Nyonya. Saya jamin... keamanan Tuan Satya adalah prioritas mutlak kami."

​Satya, yang sedari tadi diam dengan senyum tipis yang misterius, tiba-tiba memutar kepalanya ke arah koridor kanan. "Biarkan saya berkeliling sendiri," ucapnya dingin. Tanpa menunggu persetujuan, ia melangkah pergi, membiarkan tongkat peraknya mengetuk lantai marmer dengan bunyi yang ganjil. Tuk. Tuk. Tuk.

​Satya berhenti tepat di depan pintu Kelas XII-1. Dari dalam, suara riuh rendah teriakan dan tawa kasar terdengar memekakkan telinga. Ia mendorong pintu kayu jati itu tanpa permisi.

​Suasana kelas yang tadinya kacau mendadak sunyi sesaat, lalu pecah oleh tawa mengejek. Di barisan belakang, seorang siswa berambut gondrong bernama Reno sedang duduk dengan kaki di atas meja. Ia menunjuk Satya dengan dagunya.

"Dul, target nyasar."

​Adul, siswa bertubuh raksasa yang dikenal sebagai algojo kelas, bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekati Satya, otot-otot lengannya tampak menonjol di balik seragam yang ketat.

​"Woi, buta! Lu nggak punya mata atau nggak punya otak?" bentak Adul tepat di depan wajah Satya. "Ini kelas senior, Lu masuk nggak ada sopan-sopannya. Lu pikir ini panti asuhan?"

​Adul mengulurkan tangannya yang besar, berniat mencengkeram kerah baju Satya untuk mengangkatnya tinggi-tinggi. Namun, saat telapak tangannya hampir menyentuh kerah seragam Satya, pemuda buta itu seolah-olah luruh menjadi bayangan.

​Wush!

​Adul menerjang angin. Tubuhnya yang besar terhuyung ke depan karena kehilangan keseimbangan. Seisi kelas meledak dalam tawa, menertawakan kebodohan sang algojo yang gagal menangkap orang buta.

​"Bangsat!" maki Adul, wajahnya memerah padam. Ia memutar tubuhnya dan melayangkan tinju bertenaga penuh ke arah pelipis Satya.

​Lagi-lagi, Satya hanya menggeser kepalanya beberapa milimeter. Gerakannya sangat minim, sangat tenang, seolah ia sudah tahu ke mana arah angin pukulan itu sebelum Adul mengayunkannya. Adul mengamuk, ia memukul berkali-kali–kiri, kanan, atas–namun Satya seperti bayangan yang tak bisa disentuh.

​Tiba-tiba, sebuah suara plak kecil terdengar. Bukan pukulan keras, hanya sentuhan dua jari Satya yang mendarat di ulu hati Adul. Namun efeknya mematikan. Adul mendadak terhenti, matanya melotot, napasnya seolah dicabut paksa dari paru-paru. Ia tersungkur, mencium lantai marmer dengan tubuh bergetar hebat.

​Satya tidak mempedulikan Adul yang meregang sakit. Ia melangkah maju, lurus menuju meja Reno si rambut gondrong.

​"Sekarang," Satya berbicara dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Reno berdiri, "lu jadi bawahan gua."

​Reno tertegun. Harga dirinya sebagai penguasa kelas tercoreng di depan teman-temannya. Mukanya memerah, urat-urat di lehernya menegang, tapi ia bangun dengan santai.

"Jago juga lu." Reno merapikan kerahnya. "Lapangan." Melangkah cepat menuju lapangan.

Satya tersenyum, mengikuti Reno dengan langkah perlahan.

Reno berdiri di atas lapangan basket, seragamnya ia lepas, tangannya terkepal dengan wajah yang mengarah ke langit dengan mata terpejam. Kepalanya turun, matanya terbuka dengan tatapan tajam.

Satya tersenyum tipis, "Penguasa sekolah ini sudah terlalu lama tidak ganti."

Reno tertawa terbahak-bahak, "Sepertinya, lu bukan orang sembarangan... berarti gua nggak usah nahan, ya." Ia langsung membungkuk rendah, kedua kakinya melebar.

Seluruh siswa berlarian menuju lapangan. "Ekstrakulikuler!" teriak seorang siswa kelas sebelas.

lapangan dikelilingi ratusan siswa, "Reno... Reno... Reno." Sorakan penyemangat menggema memenuhi langit.

Reno tersenyum tipis, kakinya menghentak.

WUUUSH

Satya mengangkat tongkatnya perlahan, wajahnya datar. Perebutan penguasa sekolah pun dimulai.

Alexa memandang dari depan kantor, menatap nanar ke arah lapangan, "Entah iblis mana yang kulahirkan?" rintihnya.

Para guru hanya menunduk, keringat dingin mengalir di pelipis mereka. Mereka menghela napas, pemandangan ini menelan wibawa mereka sebagai pendidik, mereka bertahan bukan hanya karena uang, tapi sesuatu yang mengancam nyawa dan keluarga mereka.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!