Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
POV Ghani
Melihatnya sedih itu adalah hal terakhir yang aku inginkan. Kebahagiannya tentu saja menjadi nyawaku.Tapi kenyataan sering kali jauh dari apa yang seolah kita harapkan. Biarkan dia sedih, biarkan dia menangis, biarkan dia membenci diriku. Itu lebih baik.
Aku sadar, aku telah melakukan kesalahan fatal, yaitu mengenalnya. Bagi dunia gelap, pasangan bisa menjadi sebuah aset bagi musuh. Mereka bisa menggunakan nyawa orang yang dicintai untuk memaksanya melakukan hal yang mereka inginkan. Dan mereka secepat itu menemukan Ghea.
Mike. Itulah satu-satunya nama yang kupikirkan yang membocorkan identitas Ghea pada Marko. Kecil kemungkinan Marko menyelidikiku sampai sejauh ini jika bukan karena bantuan Mike. Akan sulit bagi Marko untuk sampai kesini sendirian.
Ghea sedang mengubur sesuatu disana. Aku cukup hanya berdiri disini, memperhatikannya dari jauh untuk memastikan bahwa dia selamat. Tak ada monokular, tak ada binokular. Aku ingin menjaganya dari bayangan, aku tak ingin terlihat untuk memastikan keberlangsungan hidupnya.
Aku menghampiri tempat dia mengubur yang entah apa isinya, dan sialnya aku ingin tahu, karena aku merasa tak pernah memberikan sesuatu yang istimewa untuknya setelah dia beranjak pergi. Akupun memastikan dia tak akan kembali kesini dan memastikan jalan menuju tempat pemberhentian bus aman untuknya, aku menggali kembali pasir yang yang baru saja ditimbun.
Ponsel, batu, dan inhaler. Rasa hangat mengerjap hatiku. Tanpa kusadari ternyata dia menyimpan semua hal yang berkaitan denganku. Walaupun kali ini aku yakin dia akan benar-benar melupakanku, tetapi mengetahui bahwa ternyata selama ini dia menyambut cintaku sedemikian dalam hingga membuatku terasa hangat, aku tidak mencintai dia sendirian, kami saling cinta, cinta yang dalam. Dia tak akan menyimpan seonggok batu dan sebuah inhaler jika dia tak mencintaiku dengan segenap jiwanya. Kencangnya terpaan angin dan panasnya sang mentari tak mampu mengusir rasa hangat di hatiku. Aku mengambil barang itu dan kumasukkan ke dalam kantong plastik dan selanjutnya aku menyusul Ghea ke tempat pemberhentian bus.
Aku tahu Ghea berencana untuk melanjutkan studinya di Universitas Majapahit di Yogyakarta. Saat Ghea sakit Malam itu, di ruang tunggu rumah sakit yang terasa sunyi, Ghea sedang berada di ruang HCU, meninggalkanku sendiri dalam kesepian, aku hanya berteman dengan tasnya yang ada dalam genggamanku. Saat itu aku ingin tahu kehidupan seperti apa yang dijalani Ghea. Siapa keluarganya, siapa kawannya, bagaimana lingkungannya, bagaimana cara dia berinteraksi dengan orang lain membuatku ingin tahu.
Beberapa kali aku sebenarnya memperhatikan bagaimana jari Ghea melukis deretan angka di layar ponselnya, cukup mudah untuk tahu karena jarinya menunjukkan gerakan berulang. Malam itu di bawah cahaya lampu rumah sakit aku mengamati layar ponselnya, aku hanya perlu memastikan apa yang sering kulihat dan goresan minyak tipis diatas layarnya.
121212
Cocok. Layar itu terbuka.
Saat itu aku membuka aplikasi pesan. Ada beberapa orang yang mengirimkan pesan padanya. Dengan jelas, kubuka pesan dari seseorang yang bernama 'Ibu'. Sepertinya ibunya.
"Sayang, kemarin ibu sudah daftar ulang kuliahmu. Pakai uang Ibu, uangmu ditabung saja, okay. Masuk kuliah 4 bulan lagi, di kampus Kaliurang. Jika kamu ingin kos, kamu cari sendiri ya?"
Kampus Kaliurang hanya milik Universitas Majapahit saja yang ada. Dari pesan itu aku tahu jika hari ini Ghea pergi, selain pergi dariku, dia juga pergi untuk menggapai mimpinya. Dan sayangnya, dia berusaha menggapai mimpinya tanpa aku. Tapi aku sadar, itu yang terbaik untuknya.
Aku tidak membuang waktu. Aku membuka aplikasi WhatsApp, menavigasi menu dengan kecepatan superjet, lalu memilih Linked Devices. Aku kemudian menyiapkan ponselku sendiri di saku jaket, kusetel untuk mengakses situs desktop. Aku memindai kode QR itu dengan cepat. Tersambung.
Dalam hitungan detik, seluruh isi pesan Ghea berpindah ke ponselku. Ini bukan tentang kecemburuan atau rasa tidak percaya. Aku sadar ini adalah hal ilegal, tapi ini adalah tindakan preventif yang aku pikirkan. Saat itu aku perlu tahu siapa yang berani memicu emosi Ghea, atau tempat mana yang mereka datangi tanpa sepengetahuanku hingga membuat paru-parunya sesak. Walau aku saat itu sempat syok karena ternyata menurut riwayat pesannya dia baru saja dari rumah nenekku. Entah apa yang dilakukan Ghea disana, yang aku tahu aku sakit jika Ghea sakit. Mulai saat itu, aku ingin tahu semua kegiatannya, agar dia terhindar dari semua hal yang membahayakan nyawanya.
Dengan ketelitian yang merupakan keahlianku, aku menyembunyikan notifikasi "WhatsApp Web aktif" di pengaturan sistem ponsel Ghea, memastikan tidak ada ikon peringatan yang akan muncul di layar saat Ghea sadar nanti. Aku menghapus semua jejak aktivitasku dari recent apps.
Aku kemudian menghubungkan ponsel Ghea ke sebuah perangkat kecil seukuran jempol melalui port pengisi daya. Di layar laptop tipis milikku, baris-baris kode mulai mengalir deras. Aku menyuntikkan backdoor tingkat kernel yang kuberi nama Aegis. Program ini tidak akan muncul di daftar aplikasi. Ia bekerja di ruang hampa sistem operasi, menyamar sebagai proses latar belakang sistem Android. Aku mengaktifkan akses GPS permanen dan memodifikasi modul audio agar mikrofon bisa aktif tanpa memicu lampu indikator.
Selesai. Dengan ini aku memantau pesan, lokasi, dan menyadap mikrofonnya. Maafkan aku Ghe. Jika kamu tahu aku melakukan ini, mungkin kamu tak akan pernah percaya padaku, kamu akan membenciku, kamu akan merasa bahwa kamu kehilangan privasimu.
Aku memasukkan kembali ponsel itu di posisi semula, di dalam tas tangan Ghea, seolah tidak pernah tersentuh. Sejak saat itu, dunia Ghea berada dalam genggamanku.
Aku segera membuka ponselku segera setelah kemarin mengantar Ghea kembali ke rumahnya setelah pulang dari pulau Karang itu. Aku mendengarkan percakapan Ghea melalui aplikasi pelacak yang kutanam di ponselnya untuk pertama kalinya setelah pulang dari Rusia, karena aku ingin tahu bagaimana keadaan Ghea. Sejujurnya melihatnya menghirup inhaler yang ketiga kalinya saat di pulau Karang itu sungguh menghancurkanku. Aku takut jika dia terlalu sedih dan penyakitnya kambuh kembali.
Namun yang kudengar justru mengejutkanku.
"Aku akan pulang besok, Wati." kudengar suara Ghea.
"Kenapa mendadak sekali? Bukankah masih minggu depan?." terdengar suara teman Ghea.
"Sampaikan saja aku melanjutkan studi tetapi tidak tahu dimana. Termasuk Ghani. Aku mungkin juga akan mengganti nomor ponselku."
Dari sini aku akhirnya tahu jika Ghea akan pergi dari Tora-Tora dan memang akan melanjutkan studinya. Aku segera memblokir Ghea dari situs penerbangan karena akan sangat berbahaya. Anak buah Marko akan sangat mudah untuk melacak Ghea apabila namanya masuk ke sistem manifes pesawat.
Aku tidak perlu meretas server maskapai. Aku hanya melakukan local bypass, dan menyuntikkan kode ke ponsel Ghea (lewat spyware yang sudah ada) agar aplikasi tersebut menampilkan pesan: "SYSTEM ERROR: FLIGHTS UNAVAILABLE. Saat dia mengakses situs penjualan tiket akan selalu muncul pesan tersebut, dan pada akhirnya dia akan melakukan perjalanan menggunakan bus.
Kini aku hanya bisa menatap Ghea dari jauh. Ponsel itu ada dalam genggamanku. Tugasku kini hanya memastikan dia aman dalam bayangan, tak peduli apapun yang terjadi. Ini adalah awal untukku. Selamat jalan, Ghea. Kamu mungkin membenciku, tapi di duniaku, kebencianmu adalah harga yang murah untuk nyawamu.
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/