NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LINGKARAN EGO YANG SAMA

Suasana di meja makan rumah Mira pagi itu terasa sangat berat. Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela seolah tidak mampu mengusir mendung yang menggelayuti keluarga itu. Ibu Mira berkali-kali menoleh ke arah kamar putri bungsunya yang pintunya masih tertutup rapat sejak semalam.

"Apa Ibu perlu bangunkan Mira? Ini sudah siang, nanti dia telat ke kantor," bisik Ibunya dengan nada khawatir, tangannya ragu-ragu memegang nampan berisi sarapan.

Danang, yang sedang duduk di kursi meja makan sambil menyesap kopi hitamnya, langsung menggeleng tegas. Matanya yang tajam menatap ke arah pintu kamar adiknya dengan sorot yang lebih lunak dari biasanya.

"Biar saja, Bu. Biarkan dia tidur dulu," ucap Danang pelan namun berwibawa. "Danang sudah kabari kantornya tadi pagi. Damira izin sakit hari ini."

Ibu Mira menghela napas panjang, lalu duduk di samping Danang. "Sakitnya bukan di badan, Nang. Ibu takut dia kepikiran terus."

"Justru itu, Bu," sahut Danang sambil meletakkan cangkirnya. "Dia butuh waktu untuk menangis sepuasnya tanpa harus pura-pura kuat di depan rekan kerjanya. Semalam itu puncak lukanya. Biarkan dia bangun saat dia sudah merasa siap untuk menghadapi dunia lagi. Danang nggak mau ada orang di kantor yang bertanya macam-macam dan malah bikin dia makin hancur."

Danang tahu betul, adiknya adalah tipe orang yang akan memaksakan diri jika tidak "dipaksa" untuk istirahat. Dengan menghubungi kantor Mira, Danang setidaknya sudah memberikan satu hari ruang bagi Mira untuk berduka di tempat paling aman, yaitu rumah mereka sendiri.

Di dalam kamar yang remang-remang, Mira sebenarnya sudah terbangun, namun ia enggan membuka mata. Ia mendengar percakapan kakaknya dan ibunya di luar. Air mata kembali merembes di sudut matanya yang masih bengkak. Ia merasa sangat bersyukur memiliki tembok pelindung seperti Danang, namun di saat yang sama, ia tersadar bahwa mulai hari ini, statusnya sudah benar-benar berubah: ia adalah seseorang yang harus belajar hidup kembali dari nol, tanpa bayangan Nayaka.

Siang itu, matahari bersinar cukup terik, namun suasana hati Damira masih terasa seperti musim dingin yang kelabu. Ia merasa sesak jika terus berdiam diri di kamar yang penuh dengan kenangan masa lalu. Dengan langkah yang masih sedikit berat, ia berpamitan kepada ayahnya.

"Ayah, aku mau ke kafe sebentar. Aku cuma butuh ketenangan," ucapnya pelan.

Ayahnya, yang sedang membaca koran di teras, menatap putri bungsunya dengan tatapan teduh. Ia tahu putrinya sedang berusaha keras untuk bangkit. "Hati-hati, Nak. Jangan pulang terlalu sore."

Sesampainya di kafe, aroma kopi yang kuat sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Setelah memesan minuman, Damira mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan untuk mencari tempat duduk yang tenang. Matanya kemudian tertuju pada sesosok pria yang duduk di sudut dekat jendela—pria yang sama dengan yang ia temui di parkiran masjid kemarin.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Damira merogoh tasnya dan menemukan sapu tangan berwarna gelap yang sudah ia cuci dan setrika tadi malam. Ia melangkah mendekati meja pria itu.

"Ini... terima kasih," ucap Damira sambil menyodorkan sapu tangan tersebut.

Pria itu mendongak, matanya yang semula tampak melamun kini beralih menatap Damira. Ia mengenali gadis yang kemarin menangis sesenggukan itu. Pria itu menerima sapu tangannya dan memberikan senyum tipis yang hangat, senyum yang seolah mengerti segala beban di pundak Damira.

"Sama-sama," jawabnya dengan suara rendah yang menenangkan. "Kamu sudah terlihat cukup baik dari kemarin. Lebih segar."

Ia kemudian menarik kursi di hadapannya, mengisyaratkan Damira untuk duduk. "Mau minum? Aku nggak keberatan kalau kita satu meja. Kadang berbagi meja dengan orang asing itu lebih tenang daripada duduk sendirian dengan pikiran sendiri."

Damira ragu sejenak, namun melihat sorot mata pria itu yang tulus dan tidak menuntut apa-apa, ia akhirnya mengangguk dan duduk. Ada kenyamanan aneh yang ia rasakan; duduk bersama seseorang yang juga memahami rasa sakit, tanpa perlu menjelaskan apa pun.

Damira tertegun sejenak mendengar perkataan pria itu. Ia menarik kursi perlahan dan duduk di hadapannya, merasakan kelegaan kecil karena tidak perlu berpura-pura tegar di depan orang asing yang ternyata mengerti situasinya.

"Aku Satyaka," ucap pria itu memperkenalkan diri tanpa melepaskan senyum ramahnya. "Dan kamu, wanita yang cukup berani untuk datang ke 'pemakaman' harapannya sendiri."

Damira sedikit tersentak mendengar kejujuran pria bernama Satyaka itu. "Bagaimana kamu tahu?"

Satyaka menyesap kopinya perlahan, matanya menatap jalanan di balik kaca kafe. "Karena aku juga ada di sana untuk alasan yang sama. Menyaksikan akhir dari cerita yang aku tulis bertahun-tahun."

Ia kembali menatap Damira, kali ini dengan tatapan yang lebih dalam. "Kemarin kita sama-sama hancur. Tapi hari ini, kita berdua sama-sama ada di sini, masih bernapas. Itu artinya kita sudah menang satu langkah dari rasa sakit itu."

Damira terdiam, meresapi setiap kata dari pria di hadapannya. Untuk pertama kalinya sejak undangan itu datang, ia merasa tidak sendirian dalam kegelapan ini. Duduk bersama Satyaka terasa seperti menemukan rekan seperjuangan di tengah medan perang yang melelahkan.

"Terima kasih, Satyaka. Untuk sapu tangannya, dan untuk ini," ucap Damira sambil menunjuk ke arah meja mereka, menghargai kehadiran pria itu yang memberikan ketenangan tanpa perlu banyak bertanya.

Damira menunduk, memainkan sedotan di dalam gelasnya yang mulai berembun. Dadanya kembali terasa sesak saat teringat momen di kantor tempo hari.

"Aku sama dia sudah selesai, tapi dapat undangan di hari kedua putus... rasanya sakit banget," ucap Damira lirih. Suaranya bergetar, "Sepuluh tahun terasa nggak ada harganya sama sekali dalam hitungan hari."

Satyaka terdiam sejenak, menatap Damira dengan sorot mata yang penuh empati, namun ada kepahitan yang lebih dalam di sana. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menghela napas panjang.

"Setidaknya bagi kamu, ini sudah benar-benar selesai, Damira," sahut Satyaka pelan. "Ada titik terang di mana kamu tahu kamu harus berhenti melangkah."

Damira mendongak, bingung dengan maksud perkataan pria di hadapannya.

"Maksud kamu?"

Satyaka menatap lurus ke arah Damira, sebuah senyum getir menghiasi wajahnya. "Aku dan Azzura... kami masih sepasang kekasih sampai sekarang. Dia nggak mau lepasin aku. Dia menikah dengan pria itu karena terpaksa, tapi dia tetap memegang janji kami. Dia nggak mau mengakhiri apa pun denganku."

Damira tersentak hingga matanya membulat. Ia teringat wajah Azzura yang tegar di masjid kemarin, juga wajah Nayaka yang menangis hancur. Ia tidak menyangka bahwa di balik pernikahan megah itu, ada belenggu yang jauh lebih rumit.

"Jadi... kalian belum putus?" tanya Damira nyaris tak percaya.

"Secara perasaan, belum sama sekali," jawab Satyaka. "Dan itu yang membuatku lebih tersiksa. Aku harus melihat wanita yang masih berstatus 'kekasihku' hidup satu atap dengan pria lain. Kamu sedang belajar melupakan, Damira. Sedangkan aku? Aku dipaksa untuk bertahan di tengah situasi yang mustahil. Jadi, meski sakit, setidaknya kamu punya kesempatan untuk benar-benar pergi."

Damira terdiam seribu bahasa. Ia mengira dunianya adalah yang paling hancur, namun melihat Satyaka, ia menyadari bahwa ada jenis luka lain yang lebih kejam: luka yang dipaksa tetap hidup tanpa tahu kapan akan berakhir. Di kafe yang tenang itu, dua orang asing ini menyadari bahwa takdir sedang memainkan lelucon yang sangat pahit bagi mereka berempat.

Damira menggelengkan kepalanya pelan, ada rasa tidak percaya sekaligus marah yang bercampur aduk di dadanya. Ia membayangkan Azzura yang bersanding dengan Nayaka namun tetap menggenggam Satyaka dalam ketidakpastian yang menyiksa.

"Dia egois," ucap Damira dengan nada tajam. "Bagaimana bisa dia membiarkan dua pria sekaligus terjebak dalam luka? Dia tidak membiarkan Nayaka memulai hidup baru, dan dia juga tidak membiarkanmu pergi."

Satyaka menatap cangkir kopinya yang sudah dingin, lalu terkekeh getir. Ia tidak membela diri, tidak juga menyalahkan siapa pun.

"Bukan cuma dia, Damira," sahut Satyaka pelan, matanya beralih menatap Damira dengan kejujuran yang menyakitkan. "Kita juga egois. Kita berempat sebenarnya sama saja. Kita masih memelihara perasaan yang sama di saat kenyataan sudah memaksa kita untuk berhenti. Kita masih saling mencari, masih saling menangisi, padahal seharusnya kita semua merelakan."

Satyaka terdiam sejenak, membiarkan kebisingan kafe mengisi kekosongan di antara mereka sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.

"Nayaka yang menikahi Azzura secara raga, tapi menangisi kamu di depan Allah. Dan Azzura yang mencium tangan Nayaka sebagai suaminya, sambil tetap menggenggam tanganku dan menolak untuk melepaskanku," Satyaka menatap Damira dalam. "Kita berempat terjebak dalam lingkaran yang sama. Hanya saja, kadarnya berbeda."

Damira terpaku. Kata-kata Satyaka seperti cermin yang dipaksa di hadapan wajahnya. Bayangan Nayaka yang menyebut namanya di masjid kemarin kembali muncul, bersanding dengan fakta bahwa Azzura juga sedang menyakiti Satyaka dengan cara yang sama.

"Sekarang pertanyaannya," lanjut Satyaka. "Siapa di antara kita yang lebih dulu punya keberanian untuk benar-benar pergi tanpa menoleh lagi? Karena jika tidak ada yang memulai, kita semua akan mati perlahan dalam sandiwara ini."

Damira terdiam seribu bahasa. Ia baru menyadari bahwa merelakan bukan sekadar tentang berhenti bertemu, tapi tentang memutus ikatan tak terlihat yang membuat mereka berempat terus-menerus saling melukai dalam diam. Di meja kecil itu, Damira merasa Satyaka bukan lagi orang asing, melainkan kawan yang sedang sama-sama mencari pintu keluar dari labirin rasa sakit yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!