Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: MALAM DI PUNCAK GUNUNG
Malam itu, langit tampak aneh dan mendung tebal. Tidak ada satu pun bintang yang terlihat, seakan langit sendiri sedang menahan napas menyaksikan pertarungan besar yang akan terjadi.
Mereka bertiga sudah siap di halaman rumah. Pakaian yang mereka kenakan bukan pakaian biasa, melainkan pakaian adat berwarna putih bersih untuk Raga dan Mbah Joyo, serta jubah hitam panjang untuk Eyang Sastro.
Di punggung Raga, ia membawa tongkat kayu yang diikatkan bendera putih sakti tulisan mantra. Di pinggang kirinya terselip Keris Pusaka lama, dan di kanannya terselip Keris Berluk 9 peninggalan Eyang Noto yang baru saja diambil dari peti. Gelang akar bahar melingkar kuat di pergelangan tangannya, dan manik kristal bening kembali bersinar hangat di jarinya.
"Sudah siap segalanya?" tanya Eyang Sastro terakhir kali.
"Sudah, Eyang," jawab Raga dan Mbah Joyo serentak.
"Baik. Ingat pesanku. Jangan takut, tapi jangan sombong. Hormat itu penting. Kanjeng Raden sangat menghargai sopan santun meskipun dia kejam."
Mereka pun berangkat. Kali ini tidak menggunakan mobil. Jalan menuju puncak gunung tidak bisa dilalui kendaraan. Mereka harus berjalan kaki menempuh jalur setapak yang curam, berbatu, dan sangat gelap.
Namun, perjalanan kali ini terasa berbeda. Tidak ada makhluk yang mengganggu, tidak ada suara aneh. Hanya suara angin yang berdesir pelan. Seolah alam sedang memberi jalan kehormatan bagi mereka yang berani menantang rajanya.
Butuh waktu hampir dua jam berjalan kaki dengan langkah cepat. Akhirnya, mereka sampai di dataran paling tinggi di wilayah itu.
Di sana, terdapat sebuah area dataran luas yang datar, dikelilingi oleh batu-batu besar yang tersusun alami seperti pilar-pilar raksasa. Di tengahnya terdapat sebuah bangunan candi kecil yang runtuh, peninggalan zaman dahulu yang sudah tidak dikenali lagi asal-usulnya. Itu adalah Punden Sepi, tempat paling suci dan paling angker di seluruh gunung itu.
Saat kaki mereka menginjak area itu, suhu udara turun drastis. Dinginnya menusuk tulang, namun tidak ada yang mengeluh.
"Kita sampai..." bisik Mbah Joyo sambil mengatur napas. Wajahnya tampak tegang memandang kegelapan di sekitar.
Eyang Sastro menatap sekeliling. "Tempat ini netral, Joyo. Tidak ada yang berhak menguasai sepenuhnya. Di sinilah hukum alam berlaku mutlak. Siapa yang lebih benar, dia yang akan menang."
Mereka bertiga berjalan ke tengah area, tepat di depan candi runtuh itu.
Eyang Sastro memberi isyarat. "Raga, pasang bendera putih di tiang batu itu."
Raga segera menancapkan tongkat bendera di tempat yang ditentukan. Bendera putih itu berkembang kencang tertiup angin meski tidak ada tulisan yang terlihat oleh mata biasa, namun bagi makhluk gaib, tulisan mantra di atasnya bersinar terang menandakan kedatangan utusan yang membawa niat baik dan hukum adat.
"Sudah terpasang, Eyang."
"Bagus. Sekarang, nyalakan api unggun dari kayu cendana dan kemenyan."
Raga segera menyalakan api. Api itu menyala besar, berwarna biru keemasan, dan mengeluarkan aroma wangi yang sangat harum menyebar ke segala arah, menembus kabut tebal yang mulai turun.
Seketika, angin berhenti.
Suasana menjadi hening total. Hening yang mencekam.
Eyang Sastro berdiri tegak di tengah, diapit oleh Raga dan Mbah Joyo.
"Kanjeng Raden Tumenggung... Hamba Sastro bersama keturunan Noto hadir sesuai janji... Kami siap menerima ujian dan keputusan Kanjeng..." seru Eyang Sastro lantang suaranya mampu menembus kegelapan malam.
Beberapa saat hening. Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba...
DRRRRRRR!!!
Tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat! Kabut putih tebal di sekitar mereka berputar kencang membentuk pusaran angin!
Dari balik kabut itu, muncul cahaya-cahaya merah menyala. Bukan satu, bukan sepuluh, tapi ratusan! Itu adalah mata para pengawal yang datang berjajar rapi membentuk barisan kehormatan namun juga mengintimidasi.
Dan dari arah paling belakang, terdengar suara langkah kaki yang berat dan mantap.
DUG... DUG... DUG...
Setiap langkah membuat jantung berdegup kencang.
Perlahan, sosok raksasa itu muncul dari kabut.
Kanjeng Raden Tumenggung.
Penampilannya malam ini jauh lebih gagah dan mengerikan daripada pertemuan tadi malam. Ia mengenakan baju zirah besi hitam yang berkilauan, mahkota kepalanya tampak lebih runcing dan memancarkan aura darah. Di tangannya, tombak panjang itu tergenggam erat, ujungnya berdenyut merah gelap.
Di sebelah kirinya, berdiri sosok lain yang tidak kalah mencolok.
Itu Nyi Blorong.
Malam ini ia tidak tampak marah atau histeris. Wajahnya kembali cantik dan tenang, namun terlihat sangat sedih dan pucat. Ia mengenakan kebaya hitam, bukan putih lagi. Matanya menatap lurus ke depan, tidak berani menatap suaminya, dan sesekali melirik ke arah Raga dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sang Raja berhenti tepat di hadapan mereka. Jaraknya hanya sekitar lima meter. Aura panas dan dingin bercampur menjadi satu, membuat udara terasa berat seperti timah.
"HMMMM..."
Sang Raja mengeluarkan suara gumaman rendah dari tenggorokannya. Matanya yang merah menyala menyapu pandang ke arah Eyang Sastro, lalu ke Mbah Joyo, dan akhirnya berhenti lama di wajah Raga.
Ia menatap benda-benda yang dibawa Raga, melihat keris ganda di pinggang, melihat gelang, dan melihat bendera putih yang berkibar.
"Rapi sekali penampilan kalian..." suaranya bergema dingin. "Seperti benar-benar datang untuk perang, bukan main-main."
"Kami menghormati Kanjeng dan menghormati tempat ini," jawab Eyang Sastro sopan. "Karena itu kami datang membawa bukti dan hukum, bukan hanya membawa nyali."
Sang Raja menyeringai sedikit. "Bicaramu manis sekali, orang tua. Baiklah... karena kalian sudah datang tepat waktu dan bersikap sopan... aku akan mendengarkan apa yang mau kalian katakan sebelum kita mulai menghancurkan satu sama lain."
Sang Raja lalu melambaikan tangannya. "BUKA SAKSI LANGIT DAN BUMI! MULAILAH TURNAMEN AGUNG!"
TRANGGG!!!
Tiba-tiba, langit di atas kepala mereka terbuka! Bukan awan, tapi tampak hamparan bintang-bintang dan cahaya kosmik yang luar biasa indah namun menakutkan. Mereka seakan sedang berdiri bukan di bumi, tapi di tengah ruang angkasa!
Seluruh pohon dan bebatuan di sekitar mereka bersinar samar, menjadi saksi hidup pertarungan ini.
"Pertama..." kata Sang Raja. "Kalian bilang ingin memutus ikatan karena tidak adil. Tunjukkan buktinya. Baca perjanjian aslinya di hadapanku."
Eyang Sastro mengangguk. Ia mengambil Kitab Lontar peninggalan Eyang Noto, lalu membacanya dengan lantang dan jelas, menerjemahkan isi perjanjian lama itu satu per satu.
Sang Raja mendengarkan dengan seksama. Nyi Blorong di sampingnya juga mendengarkan sambil menunduk.
Setelah Eyang Sastro selesai membaca bagian klausul pemutusan ikatan, Sang Raja mengangguk pelan.
"Benar... itu tulisan tanganku dan cap jariku juga ada di situ... Aku tidak menyangkalnya."
"Kalau begitu Kanjeng..." Eyang Sastro menyela. "Maka keputusan sidang adat di Punden Berdiri kemarin malam itu sah dan benar secara hukum. Tidak ada pelanggaran, hanya penegakan aturan."
Suasana menjadi tegang. Nyi Blorong menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat.
Sang Raja diam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa kecil.
"HAH... kalian memang pintar mencari celah... Jadi kalian pikir dengan selembar kertas ini kalian bebas?"
"Bukan bebas sembarangan, Kanjeng. Tapi bebas untuk hidup sesuai kodrat masing-masing," jawab Raga memberanikan diri bicara. "Hamba manusia, ingin berkeluarga dan beribadah. Nyi Blorong penguasa hutan, ingin yang terbaik untuk wilayahnya. Kalau dipaksakan, kedua belah pihak akan rugi."
Sang Raja menatap Raga tajam. Tatapan itu membuat Raga merasa kecil sekali.
"Kau tahu tidak, anak manusia... Berapa banyak pangeran, berapa banyak pendekar sakti yang ingin sekali menjadi suami istri denganku dan Nyi Blorong demi kekuatan abadi? Dan kau... kau menolaknya dengan mudah?"
"Hamba tidak butuh kekuatan abadi, Kanjeng. Hamba butuh kedamaian hati," jawab Raga tegas.
Wajah Sang Raja seketika berubah murka!
"DAMAI?! KAU BERANI BICARA DAMAI DI DEPAN PEMIMPIN PERANG?!!"
Ia menghentakkan tombaknya ke tanah!
BRUUUUDDDD!!!
Ledakan dahsyat terjadi! Tanah terbelah! Api unggun biru mereka hampir padam!
"NAMA KAMI DIPERMALUKAN! ISTRIKU DITOLAK OLEH MANUSIA! ITU LUKA YANG TIDAK BISA SEMBUH HANYA DENGAN KATA-KATA MANIS!!!"
Nyi Blorong segera memegang lengan suaminya. "Kanjeng... tenang Kanjeng..."
"DIAM!!! KAU YANG MEMULAI MASALAH INI!!!" bentak Sang Raja padanya. Nyi Blorong langsung mundur ketakutan.
Sang Raja menatap mereka lagi dengan mata membelalak merah.
"Oke! Aku akui hukumnya ada! Tapi hukum tanpa hukuman itu sampah! Kalian ingin putus? Boleh! TAPI KALIAN HARUS BAYAR GANTI RUGI!"
"Berapapun hamba mau bayar, Kanjeng! Asalkan wajar!" seru Mbah Joyo cepat.
"TIDAK ADA YANG WAJAR! INI HARGA DIRI RAJA!!!" raung Sang Raja. "AKU INGIN TIGA HAL! JIKA KALIAN BISA BERIKAN, AKU LEPAS RAGA DAN TANDA TANGANI SURAT PERDAMAIAN INI! TAPI JIKA KALIAN GAGAL... RAGA JADI BUDAKKU, DAN DESA ITU AKU RATAKAN!"
"Apa itu Kanjeng? Sebutkan!" kata Eyang Sastro siap.
Sang Raja mengangkat jarinya satu per satu.
"PERTAMA! Aku ingin Harta Karun Tersembunyi yang disimpan Eyang Noto dulu! Bukan emas biasa! Tapi Batu Intan Meteorit yang jatuh dari langit ratusan tahun lalu! Itu untuk oleh-olehku!"
Mbah Joyo terbelalak. "Batu meteor itu kan disimpan di dasar sumur tua! Berbahaya sekali ambilnya!"
"KEDUA!" Sang Raja tidak peduli. "Aku ingin Kepala Harimau Hitam yang hidup! Bukan yang mati! Aku ingin jadikan alas kaki saat aku naik panggung nanti!"
Raga melongo. Harimau hitam itu kan makhluk buas yang tinggal di gua paling dalam!
"DAN YANG KETIGA... PALING PENTING!!!"
Suara Sang Raja meninggi, penuh ancaman dan tantangan.
"AKU INGIN KALIAN BERANI MENERIMA TANTANGAN DUEL TARUHAN NYAWA! TIGA LAWAN TIGA! AKU, NYI BLORONG, DAN SATU JENDERALKU... MELAWAN KALIAN TIGA! SIAPKAH KALIAN MATI MALAM INI?!!"
Raga, Mbah Joyo, dan Eyang Sastro saling pandang. Wajah mereka pucat. Tantangan itu gila! Minta batu meteor, minta harimau hidup, dan minta duel sampai mati!
Eyang Sastro menelan ludah. Ia tahu ini ujian terberat. Jika dia bilang tidak, mereka kalah. Jika dia bilang iya, mereka mungkin mati.
Tapi Eyang Sastro adalah pendekar sejati. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
"SIAP KANJENG!!! KAMI TERIMA SEMUA TANTANGAN ITU!!!" teriak Eyang Sastro berani.
"HAH?! Serius Eyang?!" Raga dan Mbah Joyo hampir pingsan.
Sang Raja tersenyum lebar, tampak puas sekali.
"BAGUS!!! MAKA PERMAINAN DIMULAI!!! WAKTU KALIAN HANYA SATU MALAM INI! CARI BATUNYA, BUNUH HARIMAUNYA, LALU KEMBALI KE SINI UNTUK MATI!!! HAHAHAHA!!!"
WUSSS!!!
Seketika itu juga, kabut tebal turun menutupi seluruh pandangan! Saat kabut hilang, Sang Raja dan pasukannya sudah tidak ada. Hanya tersisa mereka bertiga yang berdiri terpaku di puncak gunung dengan tugas mustahil di depan mata.
"Ya Allah... ini namanya minta dibunuh..." gumam Mbah Joyo lemas.
Eyang Sastro menghela napas panjang lalu menepuk bahu Raga dan Mbah Joyo.
"Ayo Nak, ayo Kek... Kita tidak punya waktu. Kita harus turun sekarang juga. Kejar waktunya. Kalau kita bisa dapatkan benda-benda itu... berarti takdir memang memihak kita. Kalau tidak... ya sudah, kita terima saja nasib kita."
Mereka pun berlari turun dari puncak gunung, memulai misi gila yang hampir mustahil dilakukan manusia biasa.