Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.
Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.
Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.
Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Jleb.
Mata cangkul besi hitam itu menancap dalam ke tanah liat yang mengeras.
Srrk.
Dengan satu tarikan napas panjang, Lin Ye mengayunkan gagang kayunya ke belakang. Bongkahan tanah yang dipenuhi akar rumput liar terangkat dan terbalik dengan mudah. Lin Ye menatap tanah yang baru saja dia gali dengan rasa tidak percaya. Tanah ini sudah mati dan mengeras seperti batu bata selama belasan tahun, tetapi cangkul di tangannya membelahnya seolah-olah itu hanya gundukan pasir pantai.
"Ini benar-benar benda ajaib," ucap Lin Ye sambil mengamati mata cangkul yang masih mengkilap tanpa ada goresan sedikit pun. "Jika aku menggunakan cangkul biasa, tanganku pasti sudah melepuh hanya untuk menggali sedalam sepuluh sentimeter."
Lin Ye kembali mengangkat cangkulnya. Dia mulai bekerja membersihkan area lahan tepat di bawah bayangan daun zamrud pohon raksasa itu. Langit perlahan berubah warna menjadi jingga gelap. Matahari mulai terbenam di balik perbukitan Desa Qingshui, mengubah udara yang tadinya gerah menjadi dingin dan lembab.
Trak. Trak. Trak.
Suara cangkul yang menghantam tanah terdengar berirama memecah keheningan senja. Lin Ye bekerja tanpa henti. Kemeja kerjanya yang tadinya rapi kini basah oleh keringat dan kotor oleh noda lumpur. Meski peluh bercucuran dari dahi dan lehernya, dia sama sekali tidak merasa kelelahan yang berarti. Energi hangat yang mengalir dari gagang cangkul kayu itu terus menjaga staminanya tetap stabil.
"Kalau saja aku punya benda ini saat harus lembur menyusun laporan keuangan di kantor, aku mungkin tidak akan pernah merasa stres," batin Lin Ye sambil tersenyum sinis mengingat masa lalunya. "Tapi bekerja dengan tanah jauh lebih nyaman daripada bekerja dengan angka-angka palsu milik atasan."
Satu jam berlalu. Matahari telah sepenuhnya tenggelam. Kegelapan menyelimuti ladang, hanya diterangi oleh cahaya bulan sabit dan pendaran cahaya hijau redup dari daun-daun pohon raksasa di atasnya.
"Selesai," kata Lin Ye sambil menancapkan cangkulnya ke tanah dan mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju.
Di depannya, sebuah petak tanah berukuran dua kali dua meter telah bersih dari tumbuhan liar dan semak berduri. Tanahnya sudah digemburkan dan diratakan. Bau khas tanah basah yang segar menguar di udara, menandakan bahwa tanah itu siap untuk ditanami.
Lin Ye merogoh saku celananya dan mengeluarkan kantong kain kecil berwarna cokelat. Dia membuka tali pengikatnya dan melihat ke dalam. Ada lima butir biji yang bentuknya mirip biji sawi, namun ukurannya sedikit lebih besar dan memancarkan cahaya hijau yang sangat tipis.
"Baiklah, sistem. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Hanya menanamnya seperti biasa?" tanya Lin Ye kepada udara kosong.
Sring.
Layar hijau tembus pandang kembali muncul tepat di depan wajahnya, merespons pertanyaan Lin Ye.
"Buat lima lubang, tanam dengan jarak yang sama di area yang sudah dibersihkan. Masukkan satu bibit ke dalam masing-masing lubang, lalu tutup kembali dengan tanah yang gembur."
Lin Ye mengangguk paham. "Terdengar cukup mudah."
Dia berlutut di atas tanah yang gembur. Menggunakan jari telunjuknya, dia membuat lima lubang kecil dengan jarak sekitar tiga puluh sentimeter antara satu lubang dengan lubang lainnya. Dia mengambil biji kubis energi itu satu per satu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam lubang. Terakhir, dia menutup lubang itu dengan sapuan tanah tipis.
"Langkah selanjutnya pasti menyiramnya dengan air," gumam Lin Ye. "Sistem, apakah ada aturan khusus untuk air siramannya?"
Layar hijau kembali menampilkan teks baru.
"Untuk tahap awal, air tanah biasa atau air sumur sudah cukup untuk memicu proses pertumbuhan bibit. Pastikan tanah di sekitarnya basah agar kelembabannya terjaga."
"Air sumur, ya," kata Lin Ye sambil berdiri dan membersihkan lutut celananya dari tanah. Dia menoleh ke arah sisi kiri rumah kakeknya. Di sana terdapat sebuah sumur tua dengan dinding batu bata melingkar dan atap kayu kecil yang sudah miring.
Lin Ye berjalan mendekati sumur itu dalam kegelapan. Dia bisa mendengar suara katak yang mulai bersahutan di kejauhan. Sesampainya di bibir sumur, dia melihat sebuah ember kayu tua yang terikat pada tali tambang kasar masih tersangkut di katrol katrol besinya.
Krek. Krek. Krek.
Lin Ye memutar tuas katrol itu. Suara logam berkarat yang bergesekan terdengar sangat nyaring dan memekakkan telinga di tengah malam yang sunyi. Tali tambang perlahan turun ke dalam lubang sumur yang gelap gulita.
Byur.
Terdengar suara ember menghantam air jauh di bawah sana. Lin Ye tersenyum lega. "Syukurlah, sumur ini belum sepenuhnya kering."
Dia kembali memutar tuas katrol ke arah sebaliknya, menarik ember kayu itu ke atas. Tarikannya terasa cukup berat. Saat ember itu sampai di bibir sumur, senyum Lin Ye sedikit memudar.
Air di dalam ember itu hanya terisi setengah. Warnanya sedikit keruh kecokelatan dan ada beberapa daun kering yang mengambang di permukaannya.
"Airnya kotor dan debitnya sangat sedikit," kata Lin Ye sambil mengamati air tersebut. "Tapi ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Setidaknya cukup untuk menyiram lima lubang bibit malam ini. Besok aku harus mencari cara membersihkan dasar sumur ini."
Lin Ye membawa ember kayu yang lumayan berat itu kembali ke area bawah pohon raksasa.
Srek. Srek. Srek.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering terdengar dari arah batas pagar sebelah kiri.
Lin Ye langsung menghentikan langkahnya dan menaruh ember itu di tanah. Dia menoleh ke arah pagar pembatas yang memisahkan ladangnya dengan ladang jagung milik Zhao He. Di balik kegelapan, dia melihat sorot cahaya senter yang bergerak acak menembus sela-sela batang jagung yang tinggi.
"Siapa di sana?" teriak Lin Ye dengan suara keras dan tegas.
Sorot senter itu langsung berhenti bergerak. Cahayanya kemudian menyorot lurus ke arah wajah Lin Ye, membuatnya menyipitkan mata karena silau.
"Jangan berteriak malam-malam, anak kota! Kamu mau membangunkan hantu di bukit belakang?" Suara kasar dan berat yang sangat familiar terdengar dari balik pagar.
Zhao He muncul dari balik rimbunnya tanaman jagung. Dia menempelkan wajahnya pada pagar kayu yang membatasi tanah mereka, menyorotkan senternya ke wajah Lin Ye, lalu menurunkan arah cahayanya untuk melihat apa yang sedang Lin Ye lakukan.
"Ternyata benar dugaanku," kata Zhao He dengan nada mencemooh yang kental. "Aku mendengar suara berisik dari arah katrol sumur tuamu. Aku pikir ada rayap besi yang sedang mencari besi tua. Ternyata itu kamu."
"Ini kan tanah saya sendiri. Apa anehnya jika saya mengambil air dari sumur saya sendiri di malam hari?" jawab Lin Ye sambil melipat kedua tangannya di dada.
Zhao He tertawa sinis. Tawanya terdengar kering. "Aneh? Tentu saja aneh. Tidak ada orang waras di desa ini yang bekerja mencangkul tanah dan menimba air pukul delapan malam. Kamu pikir kamu bisa membersihkan seluruh tumbuhan liar di tanah seluas ini dalam semalam? Jangan memaksakan diri, anak muda. Punggungmu bisa patah besok pagi."
Cahaya senter Zhao He perlahan menyapu area di sekitar kaki Lin Ye. Tiba-tiba, cahayanya berhenti tepat di area petak tanah berukuran dua kali dua meter yang sudah bersih dan rapi. Zhao He terdiam. Mata tuanya menyipit, mencoba memastikan apa yang dia lihat.