NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:170.3k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Jleb.

Mata cangkul besi hitam itu menancap dalam ke tanah liat yang mengeras.

Srrk.

Dengan satu tarikan napas panjang, Lin Ye mengayunkan gagang kayunya ke belakang. Bongkahan tanah yang dipenuhi akar rumput liar terangkat dan terbalik dengan mudah. Lin Ye menatap tanah yang baru saja dia gali dengan rasa tidak percaya. Tanah ini sudah mati dan mengeras seperti batu bata selama belasan tahun, tetapi cangkul di tangannya membelahnya seolah-olah itu hanya gundukan pasir pantai.

"Ini benar-benar benda ajaib," ucap Lin Ye sambil mengamati mata cangkul yang masih mengkilap tanpa ada goresan sedikit pun. "Jika aku menggunakan cangkul biasa, tanganku pasti sudah melepuh hanya untuk menggali sedalam sepuluh sentimeter."

Lin Ye kembali mengangkat cangkulnya. Dia mulai bekerja membersihkan area lahan tepat di bawah bayangan daun zamrud pohon raksasa itu. Langit perlahan berubah warna menjadi jingga gelap. Matahari mulai terbenam di balik perbukitan Desa Qingshui, mengubah udara yang tadinya gerah menjadi dingin dan lembab.

Trak. Trak. Trak.

Suara cangkul yang menghantam tanah terdengar berirama memecah keheningan senja. Lin Ye bekerja tanpa henti. Kemeja kerjanya yang tadinya rapi kini basah oleh keringat dan kotor oleh noda lumpur. Meski peluh bercucuran dari dahi dan lehernya, dia sama sekali tidak merasa kelelahan yang berarti. Energi hangat yang mengalir dari gagang cangkul kayu itu terus menjaga staminanya tetap stabil.

"Kalau saja aku punya benda ini saat harus lembur menyusun laporan keuangan di kantor, aku mungkin tidak akan pernah merasa stres," batin Lin Ye sambil tersenyum sinis mengingat masa lalunya. "Tapi bekerja dengan tanah jauh lebih nyaman daripada bekerja dengan angka-angka palsu milik atasan."

Satu jam berlalu. Matahari telah sepenuhnya tenggelam. Kegelapan menyelimuti ladang, hanya diterangi oleh cahaya bulan sabit dan pendaran cahaya hijau redup dari daun-daun pohon raksasa di atasnya.

"Selesai," kata Lin Ye sambil menancapkan cangkulnya ke tanah dan mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju.

Di depannya, sebuah petak tanah berukuran dua kali dua meter telah bersih dari tumbuhan liar dan semak berduri. Tanahnya sudah digemburkan dan diratakan. Bau khas tanah basah yang segar menguar di udara, menandakan bahwa tanah itu siap untuk ditanami.

Lin Ye merogoh saku celananya dan mengeluarkan kantong kain kecil berwarna cokelat. Dia membuka tali pengikatnya dan melihat ke dalam. Ada lima butir biji yang bentuknya mirip biji sawi, namun ukurannya sedikit lebih besar dan memancarkan cahaya hijau yang sangat tipis.

"Baiklah, sistem. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Hanya menanamnya seperti biasa?" tanya Lin Ye kepada udara kosong.

Sring.

Layar hijau tembus pandang kembali muncul tepat di depan wajahnya, merespons pertanyaan Lin Ye.

"Buat lima lubang, tanam dengan jarak yang sama di area yang sudah dibersihkan. Masukkan satu bibit ke dalam masing-masing lubang, lalu tutup kembali dengan tanah yang gembur."

Lin Ye mengangguk paham. "Terdengar cukup mudah."

Dia berlutut di atas tanah yang gembur. Menggunakan jari telunjuknya, dia membuat lima lubang kecil dengan jarak sekitar tiga puluh sentimeter antara satu lubang dengan lubang lainnya. Dia mengambil biji kubis energi itu satu per satu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam lubang. Terakhir, dia menutup lubang itu dengan sapuan tanah tipis.

"Langkah selanjutnya pasti menyiramnya dengan air," gumam Lin Ye. "Sistem, apakah ada aturan khusus untuk air siramannya?"

Layar hijau kembali menampilkan teks baru.

"Untuk tahap awal, air tanah biasa atau air sumur sudah cukup untuk memicu proses pertumbuhan bibit. Pastikan tanah di sekitarnya basah agar kelembabannya terjaga."

"Air sumur, ya," kata Lin Ye sambil berdiri dan membersihkan lutut celananya dari tanah. Dia menoleh ke arah sisi kiri rumah kakeknya. Di sana terdapat sebuah sumur tua dengan dinding batu bata melingkar dan atap kayu kecil yang sudah miring.

Lin Ye berjalan mendekati sumur itu dalam kegelapan. Dia bisa mendengar suara katak yang mulai bersahutan di kejauhan. Sesampainya di bibir sumur, dia melihat sebuah ember kayu tua yang terikat pada tali tambang kasar masih tersangkut di katrol katrol besinya.

Krek. Krek. Krek.

Lin Ye memutar tuas katrol itu. Suara logam berkarat yang bergesekan terdengar sangat nyaring dan memekakkan telinga di tengah malam yang sunyi. Tali tambang perlahan turun ke dalam lubang sumur yang gelap gulita.

Byur.

Terdengar suara ember menghantam air jauh di bawah sana. Lin Ye tersenyum lega. "Syukurlah, sumur ini belum sepenuhnya kering."

Dia kembali memutar tuas katrol ke arah sebaliknya, menarik ember kayu itu ke atas. Tarikannya terasa cukup berat. Saat ember itu sampai di bibir sumur, senyum Lin Ye sedikit memudar.

Air di dalam ember itu hanya terisi setengah. Warnanya sedikit keruh kecokelatan dan ada beberapa daun kering yang mengambang di permukaannya.

"Airnya kotor dan debitnya sangat sedikit," kata Lin Ye sambil mengamati air tersebut. "Tapi ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Setidaknya cukup untuk menyiram lima lubang bibit malam ini. Besok aku harus mencari cara membersihkan dasar sumur ini."

Lin Ye membawa ember kayu yang lumayan berat itu kembali ke area bawah pohon raksasa.

Srek. Srek. Srek.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering terdengar dari arah batas pagar sebelah kiri.

Lin Ye langsung menghentikan langkahnya dan menaruh ember itu di tanah. Dia menoleh ke arah pagar pembatas yang memisahkan ladangnya dengan ladang jagung milik Zhao He. Di balik kegelapan, dia melihat sorot cahaya senter yang bergerak acak menembus sela-sela batang jagung yang tinggi.

"Siapa di sana?" teriak Lin Ye dengan suara keras dan tegas.

Sorot senter itu langsung berhenti bergerak. Cahayanya kemudian menyorot lurus ke arah wajah Lin Ye, membuatnya menyipitkan mata karena silau.

"Jangan berteriak malam-malam, anak kota! Kamu mau membangunkan hantu di bukit belakang?" Suara kasar dan berat yang sangat familiar terdengar dari balik pagar.

Zhao He muncul dari balik rimbunnya tanaman jagung. Dia menempelkan wajahnya pada pagar kayu yang membatasi tanah mereka, menyorotkan senternya ke wajah Lin Ye, lalu menurunkan arah cahayanya untuk melihat apa yang sedang Lin Ye lakukan.

"Ternyata benar dugaanku," kata Zhao He dengan nada mencemooh yang kental. "Aku mendengar suara berisik dari arah katrol sumur tuamu. Aku pikir ada rayap besi yang sedang mencari besi tua. Ternyata itu kamu."

"Ini kan tanah saya sendiri. Apa anehnya jika saya mengambil air dari sumur saya sendiri di malam hari?" jawab Lin Ye sambil melipat kedua tangannya di dada.

Zhao He tertawa sinis. Tawanya terdengar kering. "Aneh? Tentu saja aneh. Tidak ada orang waras di desa ini yang bekerja mencangkul tanah dan menimba air pukul delapan malam. Kamu pikir kamu bisa membersihkan seluruh tumbuhan liar di tanah seluas ini dalam semalam? Jangan memaksakan diri, anak muda. Punggungmu bisa patah besok pagi."

Cahaya senter Zhao He perlahan menyapu area di sekitar kaki Lin Ye. Tiba-tiba, cahayanya berhenti tepat di area petak tanah berukuran dua kali dua meter yang sudah bersih dan rapi. Zhao He terdiam. Mata tuanya menyipit, mencoba memastikan apa yang dia lihat.

1
Jeffie Firmansyah
keren semangat suka cerita nya
Jeffie Firmansyah
terimakasih Thor saya sdh baca hingga selesai, ceritanya bagus , dengan genre yg berbeda, pada novel 2 , yg lain... sehat selalu Thor 💪💪💪💪
Yui: terimakasih banyak kak sudah membaca sampai selesai, maaf klo banyak kesalahan dalam penulisannya, dan mungkin bisa baca juga novel author yang lain😊😊😊
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
tanamannya gak jelas.... cm panen sekali bubar ganti lg...
Memyr 67
𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇 𝗓𝖺𝗆𝗋𝗎𝖽𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗍𝗎 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗃𝖺. 𝗅𝗂𝗇 𝗒𝖾 𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗍𝖾𝗆 𝖻𝖾𝗋𝖼𝗈𝖼𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗇𝖺𝗆𝗇𝗒𝖺, 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍, 𝖽𝗂𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺.
Memyr 67
𝖽𝗂 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗎? 𝗈𝗐 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝗇𝗒𝖺𝗆𝗉𝖾 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝗍𝗈𝖻𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 🤣🤣🤣
Memyr 67
𝖽𝗂 𝖼𝗁𝗂𝗇𝖺, 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗇𝖺𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗎𝗉 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗒𝖺? 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖽𝖺𝗀𝗂𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀, 𝖻𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗎𝗉.
Memyr 67
𝗌𝖺𝗐𝗂 𝖼𝖺𝗆𝗉𝗎𝗋 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇? 𝖺𝗉𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝖺𝗎𝗇 𝗌𝖺𝗐𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗌𝖾𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇 𝗃𝗂𝗇 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝖽𝗂𝗋𝗂, 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗍𝗎𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺, 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄, 𝗀𝖾𝗅𝖺𝗀𝖺𝗉𝖺𝗇, 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝗌𝖾𝗄𝖾𝗅𝗂𝗆𝗉𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗇𝗎𝗌𝗂𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝗉𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗉𝗂𝗍. 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗋𝖾𝗆𝖾𝗁𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝗎𝗂𝗍 𝗋𝖺𝗍𝗎𝗌𝖺𝗇 𝗋𝗂𝖻𝗎 𝗒𝗎𝖺𝗇, 𝖽𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂.
Memyr 67
𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗉𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍. 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇, 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖺𝗇𝗀𝗀𝗈𝗍𝖺 𝖽𝖾𝗐𝖺𝗇 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇.
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄 𝗒𝖺? 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗋𝗈𝖻𝗈𝗁 𝗀𝗂𝗍𝗎, 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗉𝖾𝗆𝗂𝗆𝗉𝗂𝗇 𝖽𝗎𝗇𝗂𝖺 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗁. 𝗅𝗈𝗅
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄? 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗌𝖺𝗃𝖺, 𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗎𝖽𝗂𝗄. 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝗎𝖺𝗁, 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝗈𝗍𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝖺𝖼𝖺 𝖺𝗃𝖺, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗂𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗇𝖺𝗉𝖺𝗌
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇
Memyr 67
𝖻𝗎𝖺𝗒𝖺 𝖻𝗎𝗇𝗍𝗎𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗄𝖺𝗍𝗂 𝗍𝖺𝗋𝗀𝖾𝗍
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗆𝖺𝗍𝖺 𝖺𝗂𝗋 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖻𝗈𝗍𝗈𝗅?
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!