Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Frekuensi Anti-galau
Fajar menyingsing dengan warna yang salah. Alih-alih semburat jingga yang hangat, langit di atas Candra Kirana justru tertutup oleh kabut tebal berwarna kelabu mutiara yang tampak tidak bergerak. Lautan yang tadinya berombak mendadak menjadi tenang, sedatar permukaan cermin, namun sangat pekat.
"Bang, liat kompasnya! Itu jarumnya kenapa jadi muter-muter kayak gasing?" seru Alesia sambil menunjuk kompas perak di tangan Magnus.
Magnus mengernyit, ia mengguncang kompas itu berkali-kali. "Medan magnet di sini kacau. Kita sudah memasuki wilayah 'Kabut Keabadian'. Di sinilah logika navigasi Orizon berakhir."
"Gusti... hamba merasa... sangat mengantuk," bisik Lily yang berdiri di dekat tiang layar. Matanya tampak sayu, tubuhnya terhuyung-huyung seolah-olah ditarik oleh gravitasi yang tidak terlihat.
Bukan hanya Lily, para awak kapal yang tersisa pun mulai meletakkan tali tambang mereka. Wajah-wajah mereka tampak kosong, dengan senyum tipis yang aneh terukir di bibir mereka. Dari kejauhan, di balik kabut, mulai terdengar suara sayup-sayup—sebuah nyanyian tanpa kata yang sangat merdu, mendayu-dayu, dan seolah-olah membelai telinga siapa pun yang mendengarnya.
"Suara apa itu?" tanya Magnus, suaranya mulai terdengar berat. Ia memegang kepalanya, berusaha tetap fokus. "Indah sekali..."
"Bang! Sadar, Bang! Itu bukan konser gratisan!" Alesia menepuk pipi Magnus dengan cukup keras. Plak!
"Aduh! Siti, kenapa kau memukulku?" Magnus mengerjap, namun matanya kembali terlihat kabur saat nyanyian itu meninggi.
Alesia menyadari ada yang tidak beres. Ia segera menutup telinganya. "Ini mah fiks sirene atau hipnotis laut! Jenderal Kael! Kael, jangan bengong!"
Kael yang biasanya sigap kini justru sedang berjalan perlahan menuju pinggiran kapal, hendak melompat ke laut dengan wajah penuh kedamaian.
"Waduh, berabe nih! Kalau semua pada teler, siapa yang megang kemudi?" Alesia berpikir keras. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya kalah oleh frekuensi nyanyian gaib yang seolah-olah meresap langsung ke tulang belakang.
Alesia kemudian teringat sesuatu. Di dunianya dulu, cara melawan frekuensi tertentu adalah dengan menciptakan frekuensi tandingan yang lebih kasar atau tidak harmonis. Ia melihat ke arah dapur kapal dan teringat stok peralatan masak yang ia bawa.
"Lily! Maafin gue ya!" Alesia berlari ke arah Lily, mengambil dua buah tutup panci besar berbahan kuningan dari tas logistiknya.
CRAAANGGG! CRAAANGGG!
Alesia memukulkan kedua tutup panci itu tepat di depan telinga Lily.
"ASTAGA! GUSTI! KUPING HAMBA!" Lily langsung tersentak jatuh, kesadarannya kembali seratus persen karena kaget dan sakit telinga.
"Bagus! Lu bangun juga akhirnya! Sini, bantuin gue!" Alesia menyerahkan satu tutup panci dan sebuah sendok besar kepada Lily. "Pukul ini sekeras mungkin! Jangan biarin ada kesunyian! Musik mereka itu mellow, kita harus kasih mereka 'Heavy Metal'!"
"Apa itu Hebi Metel, Gusti?" tanya Lily bingung.
"Udah, kaga usah nanya! Pokoknya bikin berisik! Pukul kuali, pukul ember, teriak-teriak sekalian kalau perlu!" perintah Alesia.
Alesia sendiri berlari ke arah Magnus yang sudah hampir melompati pagar kapal. Ia menarik kerah baju Magnus dan berteriak tepat di telinganya.
"BANG MAGNUS! BANGUN! NASI LIWETNYA GOSONG!"
Magnus tersentak, ia terjatuh ke geladak. "Hah? Gosong? Di mana?!"
"Kagak gosong, Bang! Cuma biar lu bangun aja!" Alesia segera mengambil ember besi dan mulai memukul-mukulnya dengan gagang Golok Seliwa. TENG! TENG! TENG!
Suara gaduh yang diciptakan Alesia dan Lily mulai memecah suasana mistis di kapal. Satu per satu awak kapal tersentak bangun dengan ekspresi bingung dan sakit kepala. Jenderal Kael yang sudah satu kaki di atas pagar berhasil ditarik oleh dua pengawal Mawar.
"Lapor, Yang Mulia... hamba... hamba melihat seorang wanita cantik di bawah air tadi," gumam Kael dengan wajah pucat setelah sadar sepenuhnya.
"Itu bukan wanita, Jenderal! Itu maut pake baju daster!" sahut Alesia sambil terus memukul embernya. "Ayo semuanya! Jangan berhenti berisik! Nyanyi apa kek! Lagu potong bebek angsa atau apa yang penting kenceng!"
Magnus berdiri, ia mencabut pedangnya dan memukulkannya ke tiang layar utama, menciptakan denting logam yang nyaring. "Semuanya! Teriakkan yel-yel tempur Orizon! Sekarang!"
Maka, di tengah kabut yang mematikan itu, terjadilah pemandangan paling konyol namun menyelamatkan nyawa. Pasukan paling elit di Orizon berteriak-teriak tidak jelas, memukul peralatan dapur, dan menyanyi dengan nada sumbang untuk melawan hipnotis laut.
Nyanyian merdu dari balik kabut perlahan-lahan berubah menjadi pekikan marah yang melengking, sebelum akhirnya hilang sama sekali. Bersamaan dengan hilangnya suara itu, kabut di depan mereka tersingkap perlahan, menyingkap sebuah siluet daratan yang tidak ada di peta mana pun.
"Liat! Itu pulaunya!" tunjuk Alesia.
Sebuah pulau dengan tebing-tebing kristal yang memantulkan cahaya redup muncul di depan mata mereka. Di puncaknya, terdapat sebuah bangunan kuno yang strukturnya mirip dengan Cermin Kebenaran.
"Pulau Tanpa Nama," bisik Magnus. Ia menatap Alesia dengan rasa tidak percaya. "Kau menyelamatkan kita lagi dengan... tutup panci."
Alesia mengelap keringat di dahinya, nafasnya terengah. "Hehe, itulah gunanya ilmu 'Emak-Emak Komplek', Bang. Kalau udah teriak atau berisik, setan pun minder. Gimana? Masih mau meragukan kekuatan peralatan dapur gue?"
Magnus tertawa kecil, ia merangkul pundak Alesia. "Aku tidak akan pernah meragukan apa pun yang kau lakukan lagi, Siti. Tanpamu, kita semua sudah menjadi santapan penghuni laut semalam."
"Gusti," Lily mendekat dengan wajah memelas sambil memegang telinganya. "Apakah nanti di pulau itu kita harus berisik lagi? Kuping hamba rasanya sudah berdenging."
"Semoga aja kaga, Ly. Tapi mending lu simpen itu tutup panci di pinggang, buat jaga-jaga kalau ada hantu yang pengen denger konser kita lagi," canda Alesia.
Kael maju ke depan buritan. "Yang Mulia, kita tidak bisa merapat dengan kapal besar ini. Tebing-tebing kristal di bawah air terlalu tajam. Kita harus menggunakan sekoci."
Magnus mengangguk. "Siapkan sekoci terkecil. Aku, Permaisuri, Kael, dan Lily yang akan turun. Sisanya, jaga kapal dengan waspada. Ingat, Bram masih ada di luar sana bersama kelompoknya. Jangan biarkan Candra Kirana lepas dari pengawasan."
Saat mereka bersiap menurunkan sekoci, Alesia menatap ke arah pulau kristal itu. Perasaannya campur aduk. Ada sesuatu yang menariknya di sana, sebuah koneksi yang sangat kuat.
"Bang Magnus," panggil Alesia saat mereka sudah duduk di dalam sekoci.
"Ya?"
"Kalau nanti di pulau itu gue nemu jalan pulang... dan ternyata jalan itu cuma bisa dilewati satu orang... lu gimana?" tanya Alesia pelan, suaranya hampir hilang ditelan bunyi dayung.
Magnus terhenti sejenak, ia menatap mata Alesia dalam-dalam. "Aku akan melepaskanmu jika itu yang kau inginkan, Siti. Tapi aku akan menghabiskan sisa hidupku mencari cara untuk membangun jembatan menuju dunia yang kau sebut Depok itu."
Alesia tersenyum getir, matanya berkaca-kaca. "Duh, Bang... jangan bikin gue baper di atas sekoci napa. Nanti sekocinya miring karena air mata gue."
Magnus menggenggam tangan Alesia erat saat sekoci mereka menabrak pasir pantai kristal yang berkilauan. Mereka telah sampai. Kebenaran di balik transmigrasi Alesia, dan rahasia yang terkunci di dalam Cermin Kebenaran, kini hanya sejauh langkah kaki.
semangat kak up nya😍😍
semangat up nya😍
kocaghh...
permaisuri tekocak, terbetawi, Terplot twist karena goloknya, dan tentu karena panggilan nya pada raja jadi Abang /Facepalm//Facepalm/