Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Buhul Kematian
Keheningan yang mencekam kembali menguasai Ruang VVIP Anggrek 01 begitu pintu kayu ek itu tertutup rapat di belakang Bara. Di bawah kolong ranjang rumah sakit, Luna masih menahan napasnya, kedua tangannya membekap mulutnya sendiri kuat-kuat. Jantungnya bergemuruh liar menghantam tulang rusuk, memompa adrenalin yang bercampur dengan rasa horor yang pekat.
Di atasnya, mesin ventilator terus berdesis dan berbunyi klik dengan ritme yang monoton. Namun, di dunia yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa, kekacauan sedang meledak.
Luna merangkak keluar dari kolong ranjang dengan sisa-sisa tenaga, lututnya gemetar hebat hingga ia nyaris terjatuh saat mencoba berdiri. Debu tipis menempel di seragam minimarketnya, tetapi ia tidak memedulikannya. Matanya langsung tertuju pada Nando.
Pria yang biasanya memancarkan arogansi dan kepercayaan diri absolut itu kini berlutut di lantai marmer, tepat di samping ranjang tempat tubuh fisiknya terbaring kaku. Pendar biru di sekujur tubuh astral Nando berkedip tak beraturan, mencerminkan badai emosi yang mengamuk di dalam jiwanya. Kedua tangannya yang tembus pandang mencengkeram kepalanya sendiri. Mulutnya terbuka lebar, melepaskan jeritan keputusasaan dan kemarahan yang luar biasa, namun tidak ada satu pun suara yang terdengar di alam manusia. Ruangan itu kedap oleh jeritan gaib Nando.
"Bara... Bara!" Nando memukul lantai marmer dengan tinjunya, namun tinjunya hanya menembus lantai tanpa menghasilkan bunyi apa pun. "Dia saudaraku! Kami merintis NaturaGlow dari sebuah garasi kecil! Dia yang meminjamkan uang saat aku nyaris bangkrut di tahun pertama! Kenapa?! Kenapa dia melakukan ini padaku?!"
Melihat pria itu hancur, hati Luna mencelos. Ia bisa merasakan gelombang kesedihan yang dipancarkan Nando. Pengkhianatan dari orang terdekat selalu lebih menyakitkan daripada tusukan pisau dari musuh. Luna melangkah mendekat perlahan, menurunkan maskernya, membiarkan Nando melihat raut simpati di wajahnya.
"Nando..." panggil Luna lirih. Suaranya serak. Ia ingin menyentuh bahu pria itu, menenangkannya layaknya sesama manusia, tetapi ia sadar tangannya hanya akan menembus udara dingin. "Nando, tenangkan dirimu. Emosi negatifmu bisa memancing entitas lain mendekat. Kau harus fokus."
Nando mengangkat wajahnya. Mata yang biasanya menatap rendah orang lain itu kini dipenuhi kilatan air mata yang tidak bisa jatuh. "Fokus?! Sahabatku sendiri baru saja meletakkan sesuatu... sesuatu yang menjijikkan di bawah kepalaku untuk memastikan aku mati! Bagaimana aku bisa fokus?!"
"Dengan membiarkanku mengambil benda itu," potong Luna tegas. Sisi rasionalitasnya yang terasah oleh belasan tahun hidup berdampingan dengan teror mistis mengambil alih. "Kita tidak punya banyak waktu. Penjaga di depan bisa masuk kapan saja untuk mengecek ruangan."
Luna membalikkan badannya menghadap ranjang. Ia menatap ke arah tempat terakhir kali ia melihat tangan Bara menyelipkan sesuatu. Tepat di bawah bantal kepala tubuh fisik Nando.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Luna menyelusupkan jemarinya ke bawah kasur tebal tersebut. Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang kasar dan lembap. Segera setelah kulitnya bersentuhan dengan benda itu, sebuah sengatan dingin yang luar biasa menyengat tangannya, seperti memegang bongkahan es kering yang membakar kulit.
Luna menggigit bibirnya, menahan rintihan sakit, dan menarik benda itu keluar.
Itu adalah sebuah buhul santet. Benda itu berukuran sekepal tangan bayi, dibungkus dengan kain kafan yang sudah menguning dan dipenuhi bercak kecokelatan yang tampak—dan berbau—seperti darah kering. Kain itu diikat di tiga bagian menggunakan benang hitam legam, menyerupai bentuk pocong mini. Bau menyengat seketika menguar memenuhi ruangan steril itu; kombinasi antara bau kemenyan yang dibakar, bunga melati yang membusuk, dan aroma anyir daging bangkai.
"Astaga, bau apa ini?!" Nando melompat mundur, hidungnya berkerut jijik. Meskipun ia roh, indra penciuman astralnya tampaknya merespons energi negatif yang dipancarkan benda tersebut. "Apa itu, Luna? Singkirkan benda menjijikkan itu dariku!"
"Ini buhul," jawab Luna, suaranya bergetar. Ia menatap benda di tangannya dengan ngeri. Urat-urat di punggung tangannya tiba-tiba terasa menegang. "Ini adalah media yang digunakan dukun ilmu hitam untuk mengikat targetnya. Selama benda ini ada di dekat tubuhmu, energi kehidupanmu akan terus disedot. Itulah wujud dari sulur-sulur hitam yang mengikat tubuhmu tadi."
Luna melirik ke arah tubuh fisik Nando. Benar saja, begitu buhul itu dijauhkan dari ranjang, sulur-sulur hitam pekat yang melilit leher dan dada Nando tampak sedikit mengendur, meski belum sepenuhnya menghilang.
Namun, bahaya belum usai.
Tiba-tiba, lampu di ruangan VVIP itu berkedip hebat. Bzzzt... Bzzzt... Suara dengungan listrik terdengar nyaring. Suhu di dalam ruangan merosot tajam. Kaca jendela yang berbatasan dengan pemandangan kota Jakarta mendadak tertutup embun es.
Dari dalam buhul yang dipegang Luna, asap hitam pekat mulai mengepul keluar. Asap itu bergulung-gulung jatuh ke lantai marmer, perlahan membentuk sebuah sosok yang mengerikan. Sesosok makhluk tinggi besar, bertelanjang dada dengan kulit bersisik hitam, memegang sebuah rantai berkarat. Mata makhluk itu menyala merah terang di tengah wajahnya yang tidak memiliki fitur hidung atau mulut.
Makhluk itu menoleh perlahan ke arah Luna. Tatapannya menembus langsung ke dasar jiwa Luna, membekukan darah di pembuluhnya.
Mata merah itu. Energi ini. Bau anyir darah ini.
Napas Luna tercekat di tenggorokan. Ingatannya tersedot paksa ke lima belas tahun yang lalu. Malam di mana ia bersembunyi di dalam lemari pakaian. Malam di mana ayah dan ibunya terkapar bersimbah darah. Makhluk yang berdiri menatapnya saat ini... memiliki energi yang sama persis dengan entitas gaib yang membantai orang tuanya.
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Luna, kakinya melangkah mundur secara refleks hingga punggungnya menabrak dinding dingin. Matanya terbelalak, dipenuhi teror murni yang membuat lututnya kehilangan kekuatan. Ia merosot turun ke lantai, buhul itu terlepas dari tangannya dan jatuh menggelinding.
Makhluk hitam itu mengangkat rantai berkaratnya tinggi-tinggi. Suara desisan mengerikan keluar dari ketiadaan, bersiap menghantamkan rantai itu ke arah Luna yang tak berdaya.
"LUNA!"
Sebuah kilatan cahaya biru terang tiba-tiba melesat memotong ruangan.
Nando, dengan raut wajah mengeras penuh determinasi, menerjang maju. Pria itu berdiri tepat di depan Luna, merentangkan kedua tangannya sebagai perisai. Pendar biru di sekitar tubuh Nando meledak terang benderang, menciptakan sebuah kubah energi murni yang memancarkan kehangatan luar biasa. Aroma citrus yang segar dan maskulin seketika menyapu bersih bau busuk kemenyan dan darah.
Rantai berkarat yang diayunkan makhluk itu menghantam kubah energi biru Nando.
BLAAARRR!
Sebuah ledakan energi tanpa suara terjadi. Gelombang kejutnya membuat tirai-tirai jendela berkibar hebat, meskipun tidak ada kaca yang pecah. Makhluk hitam bermata merah itu menjerit kesakitan—suara yang terdengar seperti gesekan logam berkarat di telinga Luna. Tubuh makhluk itu terbakar oleh cahaya biru Nando, meleleh menjadi asap hitam yang langsung tersedot kembali ke dalam buhul kecil di lantai.
Lampu ruangan berhenti berkedip dan menyala terang kembali. Suhu ruangan kembali normal.
Nando terhuyung mundur, napasnya tersengal-sengal meskipun ia tidak memiliki paru-paru yang berfungsi. Pendar birunya meredup drastis, nyaris transparan, seolah energinya baru saja terkuras habis. Ia menoleh ke belakang, menatap Luna yang masih meringkuk di lantai dengan wajah sepucat kertas.
"Kau... kau tidak apa-apa?" tanya Nando pelan. Suaranya terdengar jauh lebih lemah dari biasanya. Arogansinya hilang tanpa sisa, digantikan oleh kekhawatiran yang tulus.
Luna menatap punggung Nando yang lebar. Pria yang tadi merengek karena harus naik TransJakarta itu baru saja mempertaruhkan eksistensinya untuk melindungi nyawa Luna. Jika energi Nando hancur, rohnya bisa musnah sebelum sempat kembali ke tubuhnya.
Luna menelan ludah, memaksa dirinya untuk bangkit. Ia mengabaikan rasa gemetar di kakinya. Ia mengambil selembar tisu tebal dari meja nakas, lalu dengan cepat membungkus buhul mengerikan itu tanpa menyentuhnya secara langsung dengan kulitnya, dan memasukkannya ke dalam bagian paling dalam tas selempangnya.
"Kita harus pergi dari sini sekarang," ucap Luna cepat, suaranya kembali menemukan ketegasannya. "Makhluk itu sudah kembali ke dalam buhulnya karena tertekan energimu, tapi ini tidak akan bertahan lama. Dan penjaga di luar pasti mendengar sesuatu."
Benar saja, gagang pintu ruangan itu mulai bergerak.
"Sial, ayo keluar!" Nando meraih tangan Luna. Tentu saja, ia tidak bisa memegangnya, tangannya hanya menembus pergelangan tangan gadis itu, namun gestur itu cukup untuk menyadarkan Luna.
Saat pintu kayu ek itu terbuka oleh dua penjaga berjas hitam, Luna sudah lebih dulu melesat keluar dari balik tirai, berlari menunduk melewati mereka sebelum mereka menyadari apa yang terjadi.
"Hei! Siapa kau?! Berhenti!" teriak salah satu penjaga.
Luna tidak menoleh. Ia berlari secepat kilat menyusuri lorong berkarpet tebal, menerobos pintu darurat, dan menuruni tangga darurat lantai delapan dengan kecepatan penuh. Nando melayang terbang di sampingnya, mengikuti ritme pelarian mereka dalam keheningan yang tegang.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
Semangat Thor. 😃