NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.4k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28 Pembalasan Nandini

"Maaf, Gus Yasa. Tadi Mbak Dini sudah tidur. Jadi perlu waktu, untuk dibangunkan." Santaka dan Nandini duduk di dekat Abyasa. Tangan mereka masih saling menggenggam.

Nandini melipat bibir. Kepalanya tertunduk. Ia meremas genggaman tangannya dan sang suami. Inginnya ia menegakkan kepala dan membentak Ahsan yang membuat suaminya belum ke kamar hingga selarut ini.

"Mbak Dini, pasti Gus Taka sudah cerita sekilas tentang kenapa Mbak Dini diminta ke sini." Abyasa menatap karpet merah yang mereka duduki.

Nandini menganggukkan kepala. "Nggih, Gus Yasa." Ia berusaha menekan suaranya.

Ahsan menatap Nandini lalu menunduk lagi. Santaka melihatnya. Harusnya ia rekam kelakuan sepupunya itu. Sebagai bukti, matanya kurang dijaga. Koreksi, tak dijaga.

"Jadi... Gus Taka merasa kalau Gus Ahsan sudah melampaui batas dengan sering ngajak Mbak Dini berinteraksi, berdua saja. Apa itu benar?" Abyasa menipiskan bibirnya.

Nandini menghela napas. Ia menoleh ke arah sang suami. "Iya, Gus Yasa. Gus Ahsan beberapa kali ngehampirin Dini waktu Dini manasin mobil Gus Taka. Ngajak ngobrol."

Nandini melipat bibirnya. Ahsan melihatnya, ia ikut melipat bibir.

"Terus respon Mbak Dini bagaimana?" kejar Abyasa.

"Ndak gimana-gimana, Gus Yasa. Selayaknya saja, ditanya, Dini jawab. Tapi ndak pernah Dini yang memulai."

Santaka mengelus tangan istrinya. Ia menatap tajam Ahsan. Yang ditatap, menatap balik. Kilatan listrik seperti mengalir di antara kedua pasang mata mereka.

"Tolong diperjelas, selayaknya Mbak Dini itu seperti apa?" Abyasa menatap Santaka.

Dahi Nandini mengerut. Apa standarku rendah banget? Sampai ditanya seperti itu.

Santaka kembali mengelus punggung tangan Nandini dengan ibu jarinya. Ia beri tekanan sedikit. Nandini menekan balik jari besar itu. Cara unik mereka saling menguatkan.

"Jadi... Dini jawab salam Gus Ahsan. Ditanya sedang apa, ya Dini jawab, apa adanya. Sudah, semacam itu. Dini ndak pernah bertanya balik. Dini tahu itu ndak baik.

Lagipula ndak lama keadaan berduanya, Gus Taka biasanya datang. Setelah itu, Gus Ahsan pergi." Nandini menatap Abyasa sekilas kemudian kembali menunduk.

Mansur mengelus janggutnya. Ia tersenyum tipis. Lega, menantu awamnya sudah banyak menyesuaikan diri.

"Menurut pengakuan Gus Ahsan, Mbak Dini pernah bantu benerin motor Gus Ahsan. Apa benar?" cecar Abyasa.

Santaka menahan napas. Berharap Ahsan besar mulut saja.

Nandini terdiam. "Iya, betul itu Gus Yasa, Dini memang pernah bantu ngecek motor Gus Ahsan."

Bahu Santaka melunglai. Ia menipiskan bibir. Dalam hati ia mempertanyakan kenapa istrinya tak menceritakan hal seperti itu padanya.

Ahsan melihat gestur Santaka. Senyum miring tercetak di bibirnya. Ternyata Nandini lebih suka suaminya tak tahu mengenai aktivitas mereka tempo hari.

Mansur menegakkan tubuhnya. Mahmud menatap anaknya.

"Coba dijelaskan kronologisnya, Mbak." Abyasa melirik sekilas adik iparnya.

Nandini merasa genggaman suaminya melemah. Ia tak mau kehilangan pegangan. Ia kencangkan lagi genggaman tangan mereka.

Santaka menoleh ke arah istrinya. Ia berusaha mengeluarkan senyum manis untuk sang istri, namun ia tegang menunggu jawaban lanjutan Nandini.

"Jadi... Gus Ahsan nelpon Dini, ka..."

"Telpon Mbak Dini? Jadi Gus Ahsan tau nomor Mbak Dini?" tukas Abyasa.

Santaka merapatkan bibirnya. Ia tak menyangka sang sepupu menyimpan nomor ponsel istrinya. Dan lagi, Nandini tak bercerita itu padanya.

"Tolong jangan dulu berpikiran jelek, Gus Yasa. Gus Ahsan tau nomor Dini, sebelum Dini nikah sama Gus Taka. Dulu itu adalah hal yang lumrah, pelanggan bengkel simpen nomor Dini.

Kadang kan motor mereka tinggal, mereka minta dikabarin kalau udah selesai diservis. Atau misal mau nanya tentang motor. Sebatas itu saja.

Dulu Dini pun ndak pernah ada kontak sama Gus Ahsan, selain urusan motor. Hubungan kami profesional, murni urusan bengkel. Bahkan Dini baru tau kalau Gus Ahsan itu gus, sebelum nikah sama Gus Taka."

Santaka kembali mengelus tangan sang istri. Hatinya tenang mendengar klarifikasi sang istri, walau penjelasan itu belum selesai.

"Oh seperti itu...." Abyasa menganggukkan kepalanya. "Teruskan ceritanya, Mbak Dini. Setelah Gus Ahsan telpon bagaimana."

"Gus Ahsan bilang sama Dini, kalau motornya mbrebet-mbrebet, minta dicek sama Dini. Dini sudah nolak. Dini bilang bawa saja ke bengkel Bapak. Gus Ahsan nolak...."

Santaka menatap tajam Ahsan. Sepupunya itu memalingkan wajah. Rahangnya mengetat. Padahal Ahsan sudah bisa menduga hal ini terjadi. Tetap saja ia kesal. Biarlah, yang penting ia sudah meniup sedikit bibit retak di antara pasutri itu.

"Gus Ahsan maksa. Dini sudah menolak, ndak cuma sekali...." Nandini tersenyum sinis. Ia menceritakan apa adanya.

"Tapi kan ujung-ujungnya, akhirnya Mbak Dini bantu juga." Mahmud memotong ucapan Nandini. Wajah pria paruh baya itu keruh.

"Sudahlah Yasa, ini sudah sangat larut. Sudah hampir setengah tiga. Mau sampai kapan kita sidang, Mas? Intinya Taka itu cuma paranoid, ketakutan. Wong istrinya memang nanggepin Ahsan. Sudahlah islah saja. Jangan membesar-besarkan masalah."

Nandini merengut. Apa sih bapaknya si Ahsan? Bener-bener seenaknya ambil kesimpulan. Nanggepin apaan?

"Maaf Paklik, sudah jelas, istri Taka ndak nanggepin Gus Ahsan." Santaka menatap Mahmud sejenak, kemudian menunduk. Andai ia bisa terang-terangan melawan.

Nandini menatap suaminya. Aaa suamiku, kamu memang terbaik....

"Iya... Definisinya perlu kita seragamkan. Maksudnya nanggepin sebagai temen. Jadi Ahsan memang anggap Mbak Dini sebagai teman, dan itu ndak boleh. Salah.

Tetap saja, walaupun Mbak Dini itu seperti laki-laki, hobinya mesin, tetep bukan mahrom. Ingat itu, Gus Ahsan." Mahmud menatap tajam putra bungsunya.

Santaka menggelengkan kepalanya. Mahmud benar-benar berhasil membelokkan inti masalah. Lisannya betul-betul lihai. Licin.

"Mas Yasa, Abi ambil alih. Taka, sampeyan sudah cukup, ndak ada lagi yang perlu dijelaskan?" Mansur memandang Santaka.

Suami Nandini itu tercenung. "Taka minta Gus Ahsan, menjaga batasan. Jaga pandangan dan jangan lagi deketin Mbak Dini, apalagi kalau Mbak Dini lagi sendirian."

Nandini memberanikan diri mengelus lengan suaminya. Toh, ini bukan bentuk bermesraan yang vulgar. Ahsan menatap adegan itu. Iri merajai hati.

"Abi setuju. Bagaimana pun syariat yang kita jadikan patokan. Tolong Gus Ahsan untuk menjaga hal itu." Mansur menganggukkan kepala.

"Setuju. Sampeyan setuju kan, San?" Mahmud mendelik ke arah anaknya. Ahsan mengangguk. Wajahnya datar.

"Wis, Paklik mau istirahat. Nanti pagi sudah mau jalan lagi. Muka Paklik boleh awet muda, stamina ya ndak bohong. " Mahmud berdiri. Santaka menahan geram mendengar kesombongan Mahmud.

Nandini melirik ke arah Mahmud. Dhih, pede banget bapaknya si Ahsan. Kayaknya NPD deh. Untung mertuaku Abi.

"Mas, aku pamit tidur dulu. Ahsan, ayo." Mansur menganggukkan kepala kepada adiknya. Mahmud berjalan tegak. Langkahnya diekori oleh Ahsan.

"Taka, antar istri sampeyan, lalu kita ke kamar Abi. Ada yang mau Abi sampaikan. Mas Yasa ikut juga." Mansur bangkit dan berjalan menuju kamarnya.

Santaka menggenggam tangan Nandini. Ia kesal sang ayah masih ada agenda lagi. Ia sudah sangat lelah. Tak sabar juga melihat tanktop Nandini lagi. Astagfirullah, maaf Abi.

Nandini melepaskan tautan wajahnya dengan sang suami. Santaka kembali melakukan aksi colongan. "Mas, ditunggu Abi itu."

"Oh iya... Adek kalau ngantuk banget, tidur saja ya. Kasian belum tidur." Santaka mengelus bibir Nandini yang semakin tebal saja. Akibat ulahnya. Nandini mengangguk.

Santaka keluar dan menuju kamar sang ayah. Nandini perlahan juga ikut keluar kamar. Ada yang perlu ia lakukan.

Santaka kembali ke kamar hampir setengah empat. Sebentar lagi Subuh. Ia lihat istrinya sudah terlelap. Ternyata Nandini kelelahan. Wajar.

Santaka pun sangat mengantuk, tapi tanktop itu memanggil-manggil dirinya. Ia menggigit bibir. Tangannya mengelus pinggang istrinya. Nandini bergeming.

Akhirnya rasa sayang Santaka pada Nandini kembali mengalahkan egonya. Ia tersenyum dan mengecup sekilas bibir sang istri. Matanya yang lelah turut menutup.

Nandini terkejut mendengar gedoran pintu. "Mbak Dini, Mbak Dini...." Sarah, siapa lagi?

Dengan langkah terhuyung, Nandini menghampiri pintu. Ia terkesiap mengingat baju tidur yang ia kenakan. Ia pakai mukenanya. "Ya, Ning Sarah."

"Mbak, kok belum bangun sih? Saya tau habis ada sidang tengah malem, tapi sebentar lagi kan Paklik Mahmud mau jalan. Ayo cepetan. Bangunin juga Gus Taka." Sarah langsung membalikkan badan, menuju ruang dalam.

Nandini buru-buru melepas mukena dan mandi. Santaka terkejut melihat jam dinding. Pukul 5. Ia belum salat Subuh sementara kamar mandi masih dipakai sang istri. Ia bergegas ke masjid.

Dari masjid, Santaka tidak bisa langsung kembali ke kamar. Danendra mengajaknya bicara mengenai sidang tengah malam tadi. Ketika Santaka kembali ke kamar, Nandini sudah raib.

Sesuai dugaan Santaka, istrinya ada di ruang dalam, bersama penghuni Ndalem yang lain. Mereka sedang bersiap sarapan sebagai bentuk jamuan sebelum Mahmud meninggalkan Ndalem.

Nandini terlihat menipiskan bibir mendengar perkataan Mahmud. "Nah, ini suaminya datang."

Santaka mengerutkan alis. Mahmud mencebik. "Paklik, bilang sama Mbak Dini supaya sabar ngadepin sampeyan yang ndak mau dakwah di pondok. Gus yang agak laen memang sampeyan."

Suasana canggung terasa di ruangan itu. Hanya tawa dan suara Mahmud yang terdengar mendominasi.

Santaka mengatur napasnya. Ia tak mau kehilangan kendali.

"Anakku sebentar lagi balik ke Al Fatih. Jangan kamu ngenyek lagi, Mud. Keponakan sendiri kamu ejek terus," tegas Mansur. Santaka tersenyum kepada sang ayah. Mansur membalas tersenyum, tipis.

Supir Mahmud tiba-tiba datang tergopoh-gopoh. "Nyuwun pangapunten, Yai. Tiga ban mobil Yai, kempes."

Mata Mahmud membelalak. "Gimana bisa?"

Santaka menoleh ke arah sang istri. Nandini mengedipkan sebelah matanya sambil senyum-senyum.

Santaka menganga. Jangan-jangan ini ulah istri montirnya? Ia bertanya dengan kode mengangkat alis dan melirik ke arah Mahmud. Nandini tersenyum sambil menganggukkan kepala.

1
Nanik Arifin
jangan jatuh hati ma Syifa, Boy. sama Fiona aj. Syifa muna. Ning tapi suka munafik, bungkusnya doang yg baik. 11, 12, ma Gus Ahsan. cocok deh.
Inna Kurnia: kita jodohin aja apa ya, Syifa ama Ahsan 🤔🤔😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Biasanya klo orang ngomongnya ceplas ceplos itu emang lebih baik daripada yg terlihat kalem diem tapi menghanyutkan...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
Inna Kurnia: kita liat ya Kaaaak 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
ya Ampunnn jangan canda yg aneh² ya Boy, Ucapan sama dg Doa.. hati² dalam berucap gemblung 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: hahaha
total 7 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄 bahasane dikitik kitik bikin geliii membayangkannn 🤣🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: kakak mau dikitik 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketik kata dikitik aja aku terkikikk geliii loh inii ngakakkk 🤣
total 2 replies
Nanik Arifin
kau tunggu jandanya Dini ya Boy....🤭🤭
Inna Kurnia: ada aja yaaa kelakuan orang ya, Kak 🤭
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Maasyaallaah.. Gus Taka Super Duper Sabaar... semangaaat Gus💪💪💪
Inna Kurnia: iya, Kak Jaojatun. kan sabar nama tengah Gus Taka 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Taka dan Dini memang bener² harus waspada yaa sama sepasang sejoli resek itu (Ahsan n Syifa), mereka merencanakan sesuatu yg sedikit ehem tapiii smg ada salah 1 dari Ning Sarah atau Ning Husna juga menyadari kejanggalan dan berpihak pada Taka dan Dini 🫠
Aisyah Virendra: hhuuuh
total 2 replies
Nadia Zalfa
syafakillah kak
Inna Kurnia: aaamiin ya Allah, jazaakillahu khoyr Kak Nadia ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
Syafakillah waa fii amanillah kakak sayang.. semoga dunia nyata kita baik² aja dan ga ada problem apapun, sehat² selalu.. kutunggu up nyaa bolak balik, tapi yasudahlah.. kesehatan itu lebih utama, segera membaik kakak 🤝😇🥰
Aisyah Virendra: Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🥰
total 3 replies
Aisyah Virendra
Diiiiihhhh...ngapain lagi si Ahsan beluuuttt datang kekamar orang, yg sakit juga Nandini bulan Santaka, anehhh bgt.. Ustadz gajeee 😂🤣 lelepinn neeeehhh 🫳
Inna Kurnia: 🤭😂😂🤭😂
total 5 replies
Aisyah Virendra
marah.. tertatih, pelaku eh merasa korban 😂🤣 Nandini gemblung 🤣🤣🤣 mlm itu Santaka menang berkali lipat banyak dan dini ya ampunnn pasti malu banget setelahnya 😂😂 ky nya ntar jadi kembar 4 ehh 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣 subuhhhh
total 5 replies
Aisyah Virendra
gaskuy lagiiii 🤣🤣🤣🤣
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
Inna Kurnia: hahaha, saa-bar 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Inna Kurnia: hissss 😂😂😂😂
total 4 replies
Aisyah Virendra
Nandini salah ambil jamu, jamunya Taka diminumnya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mengandung perangsang herbal ini mah, duh bisa² ntar langsung hamil baby twins 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: gasss 😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
ko sur ? harusnya mud kan yaa 🤔🤔🤔
Inna Kurnia: typo, wkwkwk
total 1 replies
Aisyah Virendra
minta traktir banyak² yaa Din, jangan lupaaa alu dikasih jugaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Nanik Arifin
Dini salah minum jamu ?
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭
Inna Kurnia: pantengin bab besok ya Kak Naniiik 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Gus Agam... ini sepeeti sosok pria yg kalau mencintai bisa sedalam dan sesetia ituu.. tapi skrg kondisinya berbeda, jadi lelaki yg tak punya perinsip hidup dalam berkomitmen. sudah punya pasangan masing² masih juga tak tahu diri ko malah tahu bakso 😂🤣🤣
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🏻🙏🏻
total 13 replies
Aisyah Virendra
huhhhh akhirnya nongol juga..
Inna Kurnia: sip, insyaa Allah malem ❤️❤️😘
total 3 replies
Nanik Arifin
baby blues ini Ning Rini. harusnya Gus Agam berperan agar baby blues g berlanjut, kasihan bayinya
Inna Kurnia: betul bgt Kak Nanik, ning rini depresi abis lahiran ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!