Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Tolong Aku
Bab 27
Sejak matahari terbenam, Diah tidak tenang menunggu kedatangan anak buah Argo membawa Cahaya. Bahkan ia sudah menunggu di pendopo dengan desain modern. Ditemani Mbok Sinah, sesekali ia berdiri lalu duduk begitu terus.
“Ndoro, duduklah. Mereka sudah dekat.”
“Aku tidak sabar mbok. Cahaya, dia … bukan hanya rindu, tapi aku khawatir.”
Mbok Sinah beranjak mengambil syal Diah yang terjatuh di sofa, menyampirkan pada bahu majikannya itu. Sudah lewat jam sembilan malam, angin malam sudah berhembus dan tidak sehat di tubuh. Beruntung Wira sedang ada tamu, Aditia Waskita dan juga perwakilan dari keluarga besarnya. KAlau Wira tidak sibuk, Diah pasti dimarahi masih muncul di luar rumah di jam malam begini. Terdengar orang berbincang dan deru mesin kendaraan.
“Sepertinya tamu Tuan sudah pulang, ndoro baiknya masuk.”
“Sebentar lagi, mbok. Hatiku merasa kalau Cahaya sudah ada di kota ini, sudah dekat.”
Mobil keluar dari area samping di mana ruang pertemuan dan ruang terima tamu Wira, juga area parkir. Sedangkan kendaraan pribadi penghuni rumah itu akan melewati pendopo dan masuk ke garasi tidak jauh dari pendopo. Diah yakin mobil yang membawa Cahaya akan melewati pendopo itu yang langsung mengarah ke bagian dalam rumah.
“Apa yang kamu lakukan Diah?”
Bukan hanya Diah yang menoleh, mbok Sinah pun menoleh dan menunduk meninggalkan tempat itu.
“Aku menunggu Cahaya.”
“Masuk, ini sudah malam.”
“Sebentar lagi,” sahut Diah, tanpa menatap suaminya.
“Kamu, mulai membangkang. Tidak lagi patuh, lupa kalau aku masih suami kamu … Diah.”
“Aku ingat mas, tidak akan sedikitpun lupa,” sahut Diah lalu duduk di sofa tunggal, pandangannya ke arah gerbang. “Jangan hentikan rindu seorang ibu pada putrinya. Kalau tidak patuh dengan suamiku, mungkin sejak lama aku sudah menyusul Andin dan Cahaya.”
“Mulai berani, kamu. Masuk!” teriak Wira.
“Sebentar lagi, mas.” Diah menjawab dengan tutur kata lembut, seperti biasa. Namun, tidak menatap suaminya.
“Kamu ….”
Gerbang terbuka dan masuklah dua mobil beriringan, Diah langsung berdiri. Wira menghela nafas lalu duduk. Salah satu mobil menuju arah pendopo dan berhenti.
“Cahaya,” ucap Diah.
Salah seorang pria keluar dan menggeser pintu kabin tengah. Diah menutup mulutnya melihat Cahaya. Perlahan gadis itu keluar berpegangan pada pria tadi.
“Cahaya,” panggil Diah menghampiri.
Aya mengernyitkan dahinya.“I-bu,” ucapnya lirih. “Ibu.”
Diah memeluknya lalu menangkup wajah dan memindai tubuh Aya. “Kamu sakit, nduk?”
“Seharian ini, mbak Cahaya tidak mau makan dan minum,” seru salah satu pria.”
“Kalau perlu biar yang pulang jenazahku saja.”
“Sayang, jangan bicara seperti itu. Tidak baik, pamali.”
“Biar romo pu4s, bu. Aku heran, ibu kok ya masih betah tinggal sama Romo.”
“Kita masuk. Makan ya, lalu istirahat. Malam ini Ibu tidur sama kamu.” Diah memapah Aya yang tampak lemas dan wajah kusut. Masih menggunakan setelan rumahan, kaos dan celana pendek serta sandal jepit. Penampilan saat ia diculik tadi pagi.
“Tidak punya adab, aku ini masih Romo kamu, Cahaya,” pekik Wira saat Diah memapahnya melewati pendopo dan Aya tidak menyapa.
“Iyakah, aku lupa punya Romo. Karena yang aku tahu, orangtua akan selalu melindungi anaknya bukan menyakiti.”
“Kamu ….”
“Sudah, mas. Tidak lihat anakmu lemas begini, sebentar lagi pasti dia pingsan. Kita bicara besok saja. Ayo, nduk.”
***
“Sudah bu, aku mual.” Aya menolak suapan bubur dari Diah. Seharian ini menolak makan, akhirnya diberikan makanan yang halus. Nyatanya hanya sanggup beberapa suap. Pikiran Aya kalut, terkejut atas apa yang baru saja dia hadapi.
Sudah membersihkan diri dan berganti piyama bersandar pada headboard. Mbok Yem menyodorkan cangkir teh, disesapnya hingga tandas.
“Mau makan sesuatu?”
Aya menggeleng lalu berbaring miring menarik selimut. Diah yang duduk di tepi ranjang mengusap kepalanya.
“Si mbok sudah siapkan cemilan, takut nanti malam ndoro ayu lapar.” Mbok Yem, wanita yang mengasuh Aya dari kecil, sangat tahu apa yang disukai gadis itu.
“Makasih mbok.” Di meja sofa ada sepiring buah, botol air mineral, susu kotak serta dua kantong snack. “Ibu temani Romo, nanti dia marah.”
“Tidak, ibu tidur di sini, temani kamu.”
Aya beranjak duduk mengingat ia meninggalkan ponselnya saat bersama Andin, alhasil tidak bisa berkomunikasi baik dengan Andin ataupun Edward.
“Ponsel ibu mana? Hubungi mbak Andin, kasih tahu kalau aku sudah di sini. Mintakan juga nomor om Edward.”
“Ponsel ibu di ….”
“Diah, Mbok Yem, keluar!”
Wira sudah berada di tengah pintu, entah kapan dia datang. Tidak ada yang menyadari. Apa mungkin sejenis makhluk astral. Mbok Yem menunduk saat meninggalkan kamar apalagi saat melewati Wira.
“Mas, aku temani Aya. Dia kurang sehat.”
“Penyakit dibuat sendiri. Suruh siapa menolak makan dan tidak minum,” seru Wira.
“Bagaimana aku bisa makan, Romo perlakukan aku seperti menjemput penjahat. Aku lebih baik menganut paham jelangkung, tidak perlu dijemput dan diantar.”
“Ngeyel dan pembangkang. Kita lihat saja, apa bibirmu itu masih bisa bicara kasar dan sarkas. Diah, keluar!”
“Mas ….”
“Bu, aku lelah. Ibu keluar saja, Romo lebih butuh ibu. Mana tahu ditemani, lebih jinak.”
“Cahaya!”
Aya kembali berbaring dan menarik selimut menutupi tubuhnya sampai kepala.
“Istirahat sayang, ada apa-apa panggil Mbok Yem.” Aya hanya berdeham.
Terdengar langkah kaki menjauh lalu pintu di tutup dan mengunci dari luar. Suara Romo dan Ibu berdebat. Aya beranjak dari ranjang menuju pintu kamar. Ternyata terkunci.
“Buka, romo, kenapa dikunci,” teriak Aya mengetuk dari dalam.
“Cukup kemarin kamu kabur, sekarang tidak akan bisa kabur lagi.”
“Mas, buka. Jangan begini.”
“Romo,” pekik Aya lalu menatap sekeliling kamar. Kamarnya memang luas, lengkap dengan area sekat mirip walk in closet. Sofa, meja belajar dan meja rias. Aya menuju jendela, menyingkap tirai. Mendapati jendela itu sudah ditutup dengan papan dari luar, ternyata Wira sudah merencanakan dan serius mengurungnya.
“Om Edward, tolong aku.”
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣