Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6
Harlan dan Alisa pun kembali berpisah. Tanpa banyak kata, keduanya melangkah ke arah kamar yang berbeda. Harlan menuju kamarnya, begitu pula Alisa.
Di ruang masing-masing, mereka berganti pakaian, mempersiapkan diri untuk rangkaian acara berikutnya.
Waktu berjalan perlahan, seakan memberi jeda bagi dua hati yang masih asing itu untuk menata perasaan mereka masing-masing.
Dua jam pun berlalu…
Harlan kini telah kembali siap dengan setelan tuksedonya yang rapi dan elegan. Penampilannya terlihat semakin terlihat tegas dan berwibawa.
Seorang petugas WO kemudian menghampirinya, mempersilahkan Harlan untuk berpindah tempat, memasuki kamar sang mempelai wanita.
Dengan langkah mantap, Harlan berjalan menuju pintu kamar di samping kamarnya. Tangannya terangkat perlahan, lalu mengetuk pintu itu dengan pelan.
Tidak lama, pintu itu pun terbuka. Menampilkan salah seorang petugas WO yang tengah membantu persiapan sang mempelai wanita.
“Silakan masuk, Mas Harlan.” ucapnya ramah, sembari mempersilakan Harlan masuk.
Tanpa banyak kata, Harlan melangkah masuk. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Harlan menghentikan langkahnya begitu saja.
Pria itu membeku, terdiam terpaku di tempat. Pandangannya lurus, tertuju ke depan, kepada sosok wanita yang kini berdiri anggun di hadapannya.
Dia adalah Alisa. Wanita yang beberapa jam yang lalu sudah sah menjadi istrinya. Saat ini, wanita itu terlihat begitu cantik dan anggun.
Dalam balutan gaun pengantin model mermaid yang pas membingkai lekuk tubuhnya hingga lutut, lalu melebar anggun ke bawah dengan ekor panjang yang menyapu lantai.
Dengan rambut yang ditata dalam sanggul rapi, dengan sentuhan tekstur lembut. Beberapa helai dibiarkan jatuh di sisi wajah, memberi kesan natural yang justru memperkuat pesonanya.
Wajahnya yang biasanya tampak tegang kini terlihat lebih santai dengan senyum lembut di setiap perbincangan yang ia lakukan dengan tim MUA yang bertugas mempercantik penampilannya hari ini.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari itu dimulai, Harlan benar-benar melihatnya. Bukan sekadar wanita yang baru saja menjadi istrinya.
Tapi seorang wanita… yang begitu mempesona hingga membuat dunia di sekitarnya seakan berhenti berputar. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pesona seorang Alisa Husna Wibisono.
***
Harlan masih berdiri di tempat, sementara Alisa, yang semula tengah berbincang ringan dengan tim MUA, perlahan menyadari kehadiran pria itu.
Percakapan pun terhenti. Satu per satu tatapan di dalam ruangan beralih ke arah Harlan… lalu kembali pada Alisa.
Dan disitulah, untuk kedua kalinya du hari itu, tatapan mereka bertemu.
Melihat sosok Harlan sudah berada di dalam kamarnya, Alisa sempat terdiam. Senyum kecil yang tadi terlukis di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan raut canggung yang sulit ia sembunyikan.
Jemarinya tanpa sadar saling bertaut, mencerminkan kegugupan yang kembali menyelinap.
Sementara itu, Harlan masih terpaku. Berdiri membeku di tempatnya. Pandanganya masih tertuju kepada Aliya.
Namun kali ini, bukan hanya karena pesona Aliya yang cukup menarik perhatiannya… melainkan karena ada sesuatu yang perlahan masuk, menyelinap kedalam hatinya. Ada getaran asing yang baru pertama kali ia rasakan.
Perlahan, Harlan menarik nafas, mencoba mengendalikan dirinya. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Aliya.
“Sudah siap?” tanya dengan suara yang dingin dan datar, seperti biasanya. Namun entah mengapa, kali ini terasa sedikit lebih lembut.
Alisa memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap Harlan, meski hanya sekilas karena Aliya kembali menundukkan kepala.
“Sudah.” jawabnya pelan.
Harlan mengangguk pelan. Sampai, seorang petugas WO bertepuk tangan pelan, mencairkan suasana yang terasa kaku dan canggung.
“Berhubung acara resepsi akan segera dimulai. Mohon kepada Mas Harlan dan Mbak Alisa untuk bersiap.”
Keduanya mengangguk. Harlan sedikit menggeser posisinya, lalu tanpa banyak kata, ia mengulurkan tangannya ke arah Alisa.
Aliya terdiam, terpaku. Tatapannya kini tertuju pada tangan Harlan… lalu kembali naik menatap wajah Harlan, sekilas.
Ada keraguan sebelum akhirnya, Aliya pun menerima uluran tangan itu.
Dan… disaat jemari mereka bertautan, entah mengapa, Aliya merasa ada kehangatan yang perlahan mulai masuk dan menyelimuti hatinya.
“Bismillah.” ucap Alisa lirih, hampir tak terdengar saat keduanya keluar dari dalam kamar.
Harlan tak menjawab. Namun untuk pertama kalinya, genggaman pria itu terasa sedikit lebih kuat.
Seolah tanpa kata, ia juga mengamini langkah yang akan mereka jalani… bersama.
Langkah mereka beriringan menyusuri lorong panjang menuju ruang resepsi. Suara riuh tamu undangan dan musik yang mengalun merdu pun mulai terdengar jelas, seiring langkah mereka yang perlahan mulai mendekat.
Rasa gugup kembali dirasakan oleh Alisa. Hingga tanpa sadar, ia menggenggam tangan Harlan sedikit lebih erat, demi berusaha menenangkan detak jantungnya yang kembali berdebar tak menentu.
Gaun panjangnya sedikit diangkat oleh tangan satunya, agar tidak menghambat langkahnya.
Sementara Harlan… pria itu tetap berjalan tegap di sampingnya. Wajahnya masih terlihat datar, namun sorot matanya tak lagi sedingin sebelumnya.
Sesekali, tanpa sadar, ia melirik ke arah wanita di sampingnya.
Seolah memastikan… jika Alisa baik-baik saja.
Sesampainya di depan pintu utama ruang resepsi, langkah mereka terhenti. Dua orang petugas WO berdiri di sisi kanan dan kiri pintu, siap membuka jalan bagi keduanya untuk memasuki ruangan acara.
“Sudah siap, Mas? Mbak?” tanya salah satu dari mereka dengan senyum ramah.
Alisa menarik nafas dalam-dalam. Matanya sempat terpejam sejenak, seolah mengumpulkan keberanian.
Harlan menoleh sedikit ke arahnya.
Untuk pertama kalinya… ia benar-benar memperhatikan kegugupan itu.
Dan entah dorongan dari mana, ibu jari Harlan bergerak pelan, mengusap punggung tangan Alisa dengan lembut.
Alisa sempat tersentak kecil. Wanita itu menoleh, menatap Harlan dengan tatapan tak percaya. Namun detik kemudian, Alisa pun tersenyum lembut.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja.” ucap Harlan menenangkan.
Masih dengan nada yang datar… tapi kali ini, terasa lebih hangat. Alisa tidak menjawab. Namun, ia mengangguk pelan.
Sampai akhirnya… Pintu pun terbuka. Seketika itu juga, cahaya lampu yang terang menyambut kedatangan keduanya. Disusul dengan suara musik yang mengalun lembut dan tepuk tangan para tamu yang hadir sore itu.
Langkah mereka kembali bergerak. Pelan… namun pasti. Senyum mulai terlukis di wajah Alisa, meski masih terselip rasa gugup. Ia mencoba menyapa para tamu dengan anggukan kecil dan senyuman ramah.
Di sisi lain, Harlan tetap dengan pembawaannya yang tenang dan berwibawa. Kali ini, Harlan tidak melepaskan genggaman tangan Alisa.
Bahkan… tanpa sadar, ia justru semakin mengeratkannya. Seolah ingin mengatakan, bahwa ia tidak akan membiarkan wanita itu berjalan sendiri.
Di atas pelaminan, keduanya akhirnya berdiri berdampingan. Para tamu mulai bergantian naik untuk memberikan ucapan selamat.
Satu per satu tangan dijabat, satu per satu senyum dibalas. Namun di tengah semua itu… ada momen kecil yang hanya mereka berdua yang menyadarinya.
Saat jeda sejenak tanpa tamu, Alisa menghela nafas pelan, bahunya sedikit turun, menandakan kelelahan yang mulai terasa. Dan lagi-lagi… Harlan menyadari hal itu.
“Capek?” tanyanya singkat.
Alisa menoleh, sedikit terkejut. Namun setelahnya, ia mencoba mengendalikan suasana hati yang kembali dibuat tak karuan.
“Sedikit,” jawab Alisa jujur, dengan senyum tipis.
Harlan mengangguk pelan.
Lalu, tanpa banyak kata, ia sedikit mendekatkan posisinya. Cukup dekat…
hingga bahu mereka hampir bersentuhan.
“Bertahan sedikit lagi, ya. Acaranya sebentar lagi selesai.” ucapnya.
Kali ini, suaranya benar-benar terdengar lebih lembut dan lebih hangat. Membuat Alisa terdiam. Namun, perlahan… senyum di wajahnya berubah.
Bukan lagi sekedar senyum formalitas untuk para tamu. Tapi senyuman yang tulus yang datang dari lubuk hati yang terdalam.