NovelToon NovelToon
Ramalan Cinta Yang Terkunci

Ramalan Cinta Yang Terkunci

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Jasmine Oke

Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~

Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.

▪︎Objek Utama:

- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.

- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).

- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.

.
.
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Sang Penguasa Bayangan

Bab ini yang sangat dinanti-nantikan! Di bab ini, pertemuan emosional dan pengungkapan kebenaran akhirnya terjadi.

▪︎▪︎▪︎

RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Bab 9: Sang Penguasa Bayangan

Perjalanan mendaki gunung terasa lebih panjang dan melelahkan daripada yang mereka bayangkan. Udara semakin tipis dan dingin, menusuk tulang. Namun rasa lelah itu tertutup oleh adrenalin dan ketegangan yang memuncak.

Di puncak gunung, menjulang sebuah benteng kuno yang megah namun menyeramkan. Dindingnya terbuat dari batu vulkanik hitam, dan di sekelilingnya berkabut tebal yang tidak pernah hilang. Itu adalah Benteng Kegelapan, markas utama Sekte Pembelah Takdir.

Gerbang utama benteng itu terbuka lebar seolah menyambut kedatangan mereka. Tidak ada penjaga di luar, seolah tempat ini ditinggalkan. Tapi Elara dan Kael tahu, itu hanyalah ilusi. Mata-mata ada di mana-mana.

"Berhati-hatilah," bisik Kael, tangannya siap mencabut pedang di pinggangnya. "Jangan lepas tanganku."

Mereka melangkah masuk melewati lorong panjang yang remang-remang. Di ujung lorong, terdapat sebuah ruang tahta yang sangat luas. Cahaya hanya datang dari api unggun besar yang menyala di sudut ruangan, memantulkan bayangan-bayangan aneh di dinding.

Dan di singgasana tertinggi di sana, duduk seorang pria.

Pria itu mengenakan jubah panjang berwarna ungu gelap yang disulam benang emas. Wajahnya tampan namun tertutup jenggot dan kumis yang terawat rapi. Matanya tajam, dan ada garis-garis kebijaksanaan namun juga kekerasan di sana. Saat melihat Elara, mata pria itu berkilat, menyiratkan emosi yang terpendam lama.

Itu \*\*Darian\*\*, ayah Elara.

Elara berhenti di tengah ruangan. Kakinya terasa berat. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut, marah, dan rindu yang aneh. Ini pertama kalinya ia melihat wajah ayahnya secara langsung.

"Jadi... ini dia," suara Darian bergema di ruangan itu. Suaranya berat dan berwibawa. "Kau benar-benar datang, putriku."

"Ayah..." kata Elara pelan, suaranya bergetar. "Kenapa? Kenapa semua ini terjadi? Kenapa kau membiarkanku hidup jauh darimu? Kenapa kau menjadi pemimpin sekte yang ditakuti semua orang?"

Darian turun perlahan dari singgasananya, melangkah mendekat. Kael segera menarik Elara ke belakang tubuhnya, siap siaga.

"Jangan mendekat," peringat Kael dingin. "Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya."

Darian tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kau pasti Kael Voss. Juru Pisah Takdir yang legendaris. Aku mengenal orang tuamu dulu. Mereka orang baik, sayang sekali mereka harus mati muda karena memihak Dewan yang bodoh itu."

"Jangan bahas orang tuaku!" bentak Kael. "Jawab pertanyaan Elara! Kenapa kau meninggalkannya? Kenapa kau memasang segel itu padanya?"

Darian berhenti beberapa meter dari mereka. Ia menatap Elara dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Aku melakukannya untuk melindungimu, Elara. Dunia sihir itu kejam. Kekuatan yang kau miliki... kekuatan \*Cinta Sejati\* atau \*Ikatan Abadi\*, itu adalah kekuatan tertinggi. Banyak pihak yang ingin memanfaatkannya, termasuk Dewan Sihir yang munafik itu."

"Lalu kenapa membunuh orang lain? Kenapa memutus takdir orang lain?" tanya Elara, air matanya mulai jatuh. "Apa yang kau cari sebenarnya?"

"Aku mencari kebebasan!" seru Darian tiba-tiba, suaranya meninggi. "Aku lelah melihat orang-orang menderita karena takdir yang ditentukan sejak lahir! Aku lelah melihat perpisahan, air mata, dan penderitaan yang disebabkan oleh benang-benang takdir itu! Aku ingin menciptakan dunia baru di mana setiap orang bebas mencintai siapa saja yang mereka mau, tanpa ditentukan oleh ramalan atau sihir!"

"Dan caranya adalah dengan menghancurkan segalanya?!" balas Elara tak kalah keras. "Itu salah, Ayah! Cinta itu bukan tentang bebas tanpa aturan. Cinta itu tentang pilihan! Dan takdir... takdir itu bukan penjara, itu jalan yang membimbing kita menuju kebahagiaan!"

Elara maju selangkah, keluar dari perlindungan Kael.

"Lihatlah kami! Aku dan Kael! Kami berasal dari dua dunia yang berbeda! Sihir kami bertolak belakang! Tapi takdir yang mempertemukan kami! Dan karena takdir itu, aku merasa hidup! Aku merasa utuh! Kau salah paham, Ayah! Kau membenci sesuatu yang indah!"

Wajah Darian berubah gelap. Tatapannya berubah menjadi dingin dan keras.

"Jadi... kau memilih memihak mereka? Memihak aturan yang usang itu?"

"Aku memihak kebenaran," jawab Elara tegas. "Dan aku meminta Ayah untuk berhenti. Tutup sekte ini. Mari kita pulang bersama. Kita bisa memperbaiki segalanya."

Darian tertawa pelan, tawa yang terdengar menyedihkan. "Terlambat, putriku. Semuanya sudah terlambat. Aku sudah berjanji pada pengikutku. Dan aku sudah menyiapkan sesuatu yang besar."

Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Karena kau tidak mau bergabung denganku secara sukarela... maka aku akan mengambil kekuatanmu paksa. Segel di hatimu sudah terbuka, dan energimu sekarang sangat murni. Dengan menyerap energimu, aku bisa menghancurkan semua benang takdir di dunia ini sekaligus!"

"JANGAN!" teriak Elara.

"Dasar gila!" Kael segera menyerang. Ia melesat cepat, pedangnya menghunuskan cahaya hitam.

Namun Darian sudah siap. Ia melambaikan tangannya, dan sebuah dinding energi hitam muncul memantulkan serangan Kael. Kael terpental mundur hingga menabrak dinding.

"Kael!" teriak Elara panik.

"Tenanglah, putriku. Ini tidak akan sakit," bisik Darian sambil mendekati Elara. Matanya kini bersinar merah menyala, dikendalikan oleh ambisi dan kegilaan.

Darian mengulurkan tangannya ke arah dada Elara. "Berikan padaku... kekuatanmu..."

Elara merasa tubuhnya ditarik oleh gaya magnet yang kuat. Energi di dalam tubuhnya terasa mau disedot keluar. Ia merasa lemas dan pusing.

Tiba-tiba, sebuah tangan dingin menggenggam tangannya erat-erat.

"Kau tidak akan menyentuhnya!"

Kael bangkit kembali. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tapi ia tidak menyerah. Ia berdiri di samping Elara, dan kali ini, ia tidak bertarung sendirian.

"Elara, ingat! Kita adalah satu!" teriak Kael.

Elara mengangguk cepat. Ia menutup matanya, membiarkan semua rasa takut hilang. Ia menghubungkan jiwanya dengan Kael. Cahaya perak dan asap hitam menyatu deras di antara mereka berdua, membentuk bola energi raksasa yang berwarna ungu keemasan.

"Gabungan Sihir... TAKDIR YANG TAK TERPUASKAN!" teriak mereka serempak.

Ledakan energi dahsyat meledak di ruangan itu, mendorong Darian hingga terhempas keras ke singgasananya. Pria itu terkejut, ia tidak menyangka kekuatan gabungan mereka sekuat ini.

"Mustahil..." desis Darian, napasnya memburu. "Bagaimana mungkin dua kekuatan yang bertolak belakang bisa sekuat ini?"

"Karena cinta, Ayah," kata Elara lembut namun tegas. "Cinta yang bisa menyatukan apa pun."

Situasi kini membalik. Darian terdesak. Namun di saat kritis itu, wajah pria itu tiba-tiba berubah menjadi ketakutan yang luar biasa. Bukan karena takut pada anak dan menantunya, tapi karena sesuatu yang terjadi pada dirinya sendiri.

Tubuh Darian mulai bersinar merah menyala. Ia memegang kepalanya keras-keras.

"Agh... apa yang terjadi...? Energiku... tidak terkendali..."

"Ah!" Elara menyadari sesuatu. "Ayah mencoba menyerap sebagian energiku tadi! Tapi tubuh Ayah tidak kuat menampung energi cinta murni! Tubuh Ayah akan meledak!"

Energi merah itu semakin besar, mengelilingi tubuh Darian seperti bola api yang siap meledak kapan saja. Ruangan mulai bergetar, batu-batu di langit-langit berjatuhan. Benteng ini akan hancur!

 

\*\*(Bersambung ke Bab 10...)\*\*

Waduh, situasi makin genting nih! Ayahnya mau meledak karena kekuatannya sendiri! 😱

Gimana nasib Darian? Bisa diselamatkan nggak ya? Lanjut ke Bab 10 (Bab klimaks) yuk!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!