NovelToon NovelToon
Di Balik Senyum Anak Pertama

Di Balik Senyum Anak Pertama

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurhikmatul Jannah

"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.

Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.

Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum di Balik Kelapaan

POV Zhira

Angin malam kota besar terasa lebih dingin daripada di desa. Aku duduk bersila di atas kasur tipis kamarku, memeluk lutut erat-erat. Perutku berbunyi nyaring, tanda bahwa ia meminta makan. Tapi apa daya, dompetku sudah menyatu dengan alasnya sejak tiga hari yang lalu.

Uang yang seharusnya buat makan dan beli fotokopi tugas, sudah kutinggalkan separuhnya di mesin ATM tadi sore. Kukirim semua untuk Ibu Zainal dan kebutuhan Rara serta Bimo.

"Sudah lah, Zhira. Tahan sedikit saja. Besok uang saku beasiswa pasti cair," bisikku menyemangati diri sendiri. Aku mengambil segelas air putih dingin dari dispenser, meminumnya hingga tandas. Air putih ini harus cukup buat mengganjal perut sampai pagi.

Di luar kamar, terdengar suara tawa Dinda dan teman-teman lain yang sedang makan malam bersama. Mereka membahas makanan enak, rencana jalan-jalan ke mall, atau hal-hal seru lainnya.

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. Dunia mereka begitu berwarna, sementara duniaku masih kelabu meski sudah berada di tempat baru.

Pagi harinya, saat matahari baru mulai menampakkan diri, aku sudah bangun dan berkemas. Hari ini ada kelas penting dengan dosen yang sangat disiplin. Aku tidak boleh terlambat.

Dengan seragam beasiswa yang sudah kusetrika sebaik mungkin, aku berjalan menuju kampus. Sepatuku sudah tidak bocor lagi—ini sepatu baru yang kubeli dengan sangat hemat beberapa bulan lalu—tapi tetap saja, rasanya aku harus berjalan hati-hati agar tidak cepat rusak.

"Eh Zhira! Tungguin!"

Suara Dinda memanggil dari belakang. Dia berlari kecil menyusulku.

"Mau ke kelas kan? Yuk bareng! Eh, tapi kamu kok pucat sih pagi-pagi gini? Kurang tidur ya?" tanyanya sambil menatap wajahku khawatir.

Aku buru-buru menyunggingkan senyum terbaikku, senyum yang sudah kuterapkan bertahun-tahun untuk menutupi kesedihan.

"Nggak kok, Din. Aku sehat-sehat aja. Cuma mungkin kurang minum aja," jawabku berbohong.

"Yakin? Wajahmu pucat banget lho. Atau... kamu belum sarapan?" Dinda sepertinya bisa menebak sesuatu. Dia menatap mataku lekat-lekat.

Aku terdiam. Tidak bisa menjawab ya, dan tidak enak juga kalau bilang tidak. Akhirnya aku hanya mengangguk pelan, menunduk malu.

"Ya ampun, Zhira! Kenapa nggak bilang sih! Kita kan temen!" Dinda langsung merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah roti gulung cokelat dan susu kotak. "Nah, makan ini! Aku masih punya cadangan kok, tadi beli dua!"

"Nggak usah Din, aku nggak laper kok..."

"Ah jangan bohong deh! Perutmu bunyi tadi kedengeran sama aku! Ayo makan, nanti pingsan lho di kelas. Dosennya galak lho kalau ada yang pingsan karena nggak makan," candanya sambil menyodorkan makanan itu ke tanganku.

Tanganku gemetar menerima roti itu. Bau cokelatnya tercium sangat harum, membuat air liurku langsung mengucur. Tapi ada rasa malu yang luar biasa besar di hati. Selama ini aku terbiasa menanggung semuanya sendiri, terbiasa tidak berharap pada siapa pun. Tapi kali ini, ada orang yang peduli tanpa diminta.

"Makasih ya, Din..." suaraku bergetar.

"Iya sama-sama! Makan yang habis ya!" Dinda tersenyum lebar, senyum tulus tanpa ada rasa pamrih sama sekali.

Saat gigitan pertama roti itu masuk ke mulutku, rasanya seperti makanan paling enak di dunia. Manis, lembut, dan hangat. Tapi entah kenapa, air mataku justru ingin jatuh.

Kenapa kebaikan semudah ini justru datang dari orang asing, sementara dari orang yang sedarah denganku rasanya begitu sulit didapat?

 

Di kelas, aku berusaha fokus mendengarkan dosen. Tapi rasa lelah dan kurang gizi membuat kepalaku sedikit pusing. Aku mencoba menahan semuanya, mencoba terlihat kuat seperti biasa.

Selesai kuliah, aku tidak langsung pulang. Aku pergi ke bagian administrasi kampus. Aku harus menanyakan kapan uang saku bulanan cair. Aku benar-benar sudah tidak punya bekal lagi.

"Maaf Mbak, untuk bulan ini pencairannya agak terlambat karena ada perubahan sistem. Kemungkinan baru cair minggu depan," jawab petugas admin dengan santai.

Deg!

Jantungku serasa berhenti berdetak. Minggu depan? Itu artinya aku harus bertahan hidup tanpa uang sepeser pun selama tujuh hari lagi.

"Be-benar Mbak? Nggak bisa lebih cepat?" tanyaku dengan suara parau.

"Maaf ya Dek, itu sudah aturan. Sabar ya," jawabnya singkat lalu kembali sibuk dengan komputernya.

Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Dunia seakan berputar. Apa yang harus kulakukan sekarang? Meminta lagi pada Ibu? Mustahil, yang ada aku malah dimarahi karena tidak bisa mengatur uang. Meminjam pada teman? Aku sudah terlalu banyak hutang budi pada Dinda.

Aku duduk di bangku taman kampus yang sepi. Menatap langit yang biru cerah, tapi hatiku mendung sekali.

"Tuhan... kenapa jalaniku selalu sesulit ini?" bisikku lirih. "Aku sudah berusaha baik, aku sudah berusaha tidak merepotkan, aku sudah berusaha mengalah... tapi kenapa ujiannya tidak pernah habis?"

Angin berhembus kencang, menerbangkan daun kering di depanku. Aku memeluk tubuhku yang terasa dingin meski siang hari terik.

Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalaku. Aku harus cari kerja. Aku tidak bisa terus begini. Aku harus punya penghasilan sendiri selain dari beasiswa ini.

Ya! Aku harus kerja paruh waktu. Entah itu jadi pelayan toko, cuci piring, atau apa saja yang penting halal. Aku harus bertahan. Aku tidak boleh menyerah di tengah jalan.

Aku mengusap air mata yang mulai menetes. Wajahku ditegakkan kembali.

"Lihat saja Bu, Ayah... Zhira akan bertahan. Zhira akan lulus. Zhira akan jadi orang sukses, meski harus makan nasi garam atau minum air putih setiap hari. Zhira janji," ucapku tegas pada angin.

Perjuanganku ternyata belum berakhir. Ini baru permulaan dari ujian yang jauh lebih berat. Dan aku siap menghadapinya, sendirian jika harus.

POV End

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 

Gimana Bab 10-nya? Masih sedih tapi makin kuat ya Zhiranya 💪.

Rencananya di Bab selanjutnya, Zhira mulai cari kerja part-time ya? Biar ceritanya makin seru! Lanjut Bab 11 sekarang? 😊

1
Mona
Bagus banget Thor, kalimat dan alurnya menarik dan membuat tertarik, keren 👍👍👍👍👍
Nurhikmatul Jannah
ya kak terimah kasih ya😍,iya kak nanti tak mampir
haniswity
ceritanya seruuu ,banyak banget plott twist nya suka banget ,walaupun pemula tapi cerita hebat banget 👋
Nurhikmatul Jannah: Terimah kasih sudah mampir
total 1 replies
haniswity
cerita nya bagus bangett,ngene banget banyak juga plot twist ny💪,semngat
Nurhikmatul Jannah: terimah kasih sudah mampir😍
total 1 replies
Nurhikmatul Jannah
bagus.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!