NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Tok-tok,

Ruby yang baru keluar dari kamar mandi buru-buru mengenakan kaosnya. Dari nada ketukan itu saja ia sudah tahu siapa yang datang. Dan benar saja, Kimi.

"Uby~"

Belum sempat Ruby bicara, Kimi sudah menabraknya sedikit sebelum nyelonong masuk.

"Makin-makin aja ya," gumam Ruby, separuh jengkel melihat kimi yang langsung rebahan di kasurnya seperti tuan rumah.

"Aku kan mau main. Soalnya kamu main sama Anela mulu, aku jadi kesepian," ujarnya dengan nada manja.

Ruby mendengus, duduk di karpet sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

"kesepian? Buat orang yang baru heboh di bawah, itu aktingnya palsu banget."

"Oh, yang tadi?" Kimi menatapnya polos. "Tapi serius, kamu tuh kalau disindir kenapa gak pernah bales sih, By?"

"Emang gw harus bales apa?"

"Ya apa gitu. Bilang udah punya pacar kek, atau 'kalian bukan tipeku'. Pokoknya bales aja."

Ruby menyisir rambutnya dengan santai. "Gw gak suka ribut."

Kimi mengangguk-angguk kecil. Yah, Ruby memang begitu. Tampak tenang, tapi kalau bicara bisa menohok diam-diam. Mana jutek pula.

"Tipe kamu yang kayak gimana sih, By? kayak Anela ya?"

"Yang jelas cewek, "

Kimi mendengus. Ruby sulit sekali di interogasi. Tapi mendadak ia teringat sesuatu, Ia duduk tegak, tampak bersemangat. "Eh, By! Aku punya tempat rahasia."

Ruby menoleh malas. "Di mana?"

"Kepo ya? Pokoknya tempatnya tersembunyi banget. Dijamin gak ada yang lewat."

"Oke, terus?"

"Kapan-kapan kita ke sana yuk."

Ruby menyipit curiga. kata 'tersembunyi' itu terdengar mencurigakan. "Mau ngapain?"

"Ya ngapain kek."

"Ogah. gw lebih suka di kamar."

Kimi langsung rebahan lagi, kali ini lebih dramatis, seperti pemeran utama yang gagal dapat adegan romantis.

"Yaelah, By. Masa ngobrolnya di kamar kamu mulu, bosen tau. Lagian hubungan kita ini kayak hubungan rahasia. Lebih ngenes dari pacaran tanpa restu. kita butuh ruang buat bebas tanpa takut ketauan."

Ruby menatapnya datar. "Lo ngomong apa sih?"

Kimi menoleh pelan, menatap Ruby lekat-lekat. Nah, ini momen yang pas buat mancing soal Anela, tapi harus hati-hati.

"Kamu takut ketauan Anela ya?"

"Kenapa harus takut?" Ruby menjawab santai.

"Ya kali aja takut disalah pahamin, terus kamu diputusin."

Ruby menaruh handuk di pangkuan, lalu tertawa kecil. "Ngaco lo."

"Tuh kan, gak mau ngaku. kalian pacaran sejak kapan sih?"

"Kim, jangan kep0 sama urusan orang."

"Tapi aku mau tau."

Ruby menatapnya, kali ini agak dingin, "Buat apa lo tau?"

Kimi menelan ludah. Suasana mendadak menegang, tapi ia sudah keburu nekat.

"Kita kan teman, By. Hal kayak gini gak perlu dirahasiain lah, Aku cuma takut Anela cemburu-"

"Emang lo mau ngapain sampai takut dia cemburu?"

Kimi mendengus kesal. "Maksudku, takut kelepasan aja. Kayak waktu itu pas aku refleks meluk kamu. Anela pasti cemburu kan?"

Ruby diam, Ia mengalihkan pandangan, mengambil buku dari samping bantal yang Kimi tiduri, lalu membukanya begitu saja.

"Tuh, sekarang aku dicuekin," keluh Kimi sambil manyun.

"Gw males ngomongin itu."

"Kenapa?"

"Jangan berisik. Mau gw usir?"

Kimi menghela napas panjang. teran dia, kenapa Ruby begitu sulit jujur? Padahal ia hanya ingin bicara, bukan membuka sidang percintaan.

"Uby," panggil Kimi pelan. "Aku jangan dicuekin dong."

Ruby menutup bukunya dengan wajah kesal. "Kenapa lagi sih?"

Kimi mengulurkan tangan. "Pegang tangan."

Ruby mendesah berat, lalu menyerahkan tangannya tanpa banyak protes. Terserat, asal kimi berhenti merengek. Ia melihat Kimi kembali rebahan, kali ini sambil mengusa-usap tangannya. Ruby hanya bisa menggeleng.

Benar-benar bocah. Saking gak ada mainan, tangan gw pun dimainin, batinnya.

Namun lama-kelamaan, gesekan ringan itu menimbulkan sensasi aneh di dada Ruby. Ada sesuatu yang menggelitik saat kimi memainkan jari di telapak tangannya.

"Oke, udah. Kok malah keterusan," ucap Ruby cepat-cepat, menarik tangannya dari genggaman Kimi.

Belum sempat fokus kembali ke buku, Kimi sudah mengganggu lagi.

"Uby, main game yuk."

"Lo udah mandi sore?"

"Udah dong. Sebelum ke sini aku udah mandi, udah pakai lotion, pakai minyak telon, makan kue, jalan-jalan bentar-"

"Iya-iya, gw percaya."

"kenapa nanya gitu sih? Emang aku bau ya?" Kimi refleks mengendus bajunya sendiri. "Wangi kok."

"Iya, terserah lo aja."

"Beneran wangi, Uby. Nih, kamu endus sendiri coba."

Kimi bergeser sampai setengah tubuhnya nyaris condong ke bawah kasur. Ruby langsung mundur. Ngeri sendiri. Bukan karena Kimi, tapi karena dirinya sendiri.

"Gw udah bilang percaya kan?"

"Tapi muka kamu kayak belum tuh. Aku kan totalitas, harus kasih bukti."

"Gak perlu," sahut Ruby cepat.

Heran dia. Semakin lama, Kimi makin ada saja tingkahnya. Mungkin dia lupa siapa Ruby, dan apa alasannya selama ini tidak berbaur dengan yang lain.

~

Malam ini Kimi akhirnya sadar: Dua belas bulan tak pernah kehabisan ide untuk membuat suasana di tempat ini lebih semarak. Mungkin karena mereka ingin membunuh kebosanan, karena di tempat ini nyaris tak ada hiburan. Yah, kecuali acara malam Minggu, itupun kalau kegiatan itu bisa dibilang hiburan.

Kali ini mereka mencetuskan kegiatan baru: "Malam Ramah Tamah".

Bedanya, ini bukan ramah tamah antarsesama, tapi ramah tamah dengan makhluk tak kasat mata. Maklum, malam Jumat. Dan pencetusnya siapa lagi kalau bukan Agus, si paling paham urusan perdemitan.

Clarissa ikut hadir, karena setiap kegiatan mandiri peserta harus lewat izinnya. Ia bahkan mengajak serta Pak Guntur, katanya untuk 'menangkal' agar tidak ada yang kesurupan.

Jahat sih, tapi ya sudahlah.

Ruby dan Anela juga terpaksa ikut, karena acara ini melibatkan pembimbing. Kimi yang tadi memanggil keduanya sempat berpura-pura panik, tampil seperti penakut yang dipaksa ikut uji nyali. Padahal kalau disuruh jalan malam-malam lewat kuburan, Kimi sih santai saja.

"Fokus kegiatan malam ini adalah melatih keberanian menghadapi rasa takut," kata Clarissa membuka acara dengan nada resmi. "Tujuannya agar kalian terbiasa, kalau suatu hari harus lembur sendirian di kantor."

"Jadi kita. ngapain nih, Bu? Jalan sendirian di hutan?" tanya Agus dengan semangat yang mencurigakan.

"Ya jangan. Repot kalau ada yang nyasar," jawab Clarissa tenang. "Konsepnya mirip seperti game voucher waktu itu. Kalian akan berkeliling area pelatihan tanpa listrik. Bedanya, kali ini tidak ada benda yang perlu dicari, dan semua lampu akan dimatikan,"

Semua langsung melongo. Dalam benak mereka muncul pikiran yang sama: Klasik. Tidak seru. Membosankan.

Kecuali lima orang: Septi, Febi, Desi, Mei, dan, Apri yang sudah menelan ludah bahkan sebelum lampu padam.

"Bu, bentar deh. Cuma jalan doang nih?" tanya Janu, terdengar jelas nada bosannya.

Clarissa tersenyum tipis. "Ini di tengah hutan, Janu. Jam sepuluh malam. Semua listrik dimatikan. Coba bayangin, masih berani bilang cuma jalan doang?"

Suasana langsung hening. Beberapa peserta mulai menelan ludah, sebagian lainnya pura-pura cuek tapi matanya sudah waspada. Dalam bayangan mereka, kegiatan ini bakal jalan di luar pagar, di antara pohon bambu, ditemani suara jangkrik dan aroma mistis tengah malam.

Tapi begitu lampu benar-benar padam, suasananya berubah total. Gelap. Gelap yang pekat, sampi wajah sendiri pun nyaris tak terlihat. Bulan di langit hanya tampak seperti goresan tipis, mirip alis gagal cukur.

"Oke," suara Clarissa terdengar samar di tengah kegelapan, "Semua boleh jalan. Mau sendiri, mau berkelompok, terserah. Malam ini bebas."

Dan begitulah, kebebasan yang disambut dengan ketakutan. Para penakut otomatis saling merapat, membentuk kelompok bertahan hidup. Dan akhirnya terbentuklah empat tim:

Kelompok berani (Janu cs), kelompok realistis (Ruby dan Anela), kelompok panik (Septi dan gengnya), dan kelompok campuran "penakut, pawang demit, dan masih bingung faedah acara ini", alias Kimi.

Kimi ingin sekali menempel ke Ruby, tapi sayangnya tangan Febi sudah lebih dulu meremas tangannya, nyaris tak bisa dilepas.

"Tenang, Feb. kita masih hidup kok," bisik Kimi lirih.

"Kamu takut juga gak, Kim?" tanya Febi pelan, suaranya bergetar.

"Takut dong. Takut banget," balas Kimi tanpa ekspresi.

Kelompok Janu berangkat lebih dulu. Setelah jeda beberapa menit, menyusul kelompok penakut, lalu Ruby, dan terakhir Kimi bersama Febi, Juni, dan Agus.

Baru juga berjalan belasan meter, suara teriakan sudah memecah suasana dari depan.

"Gila, beneran diker jain dong timnya si Septi," Juni cekikikan.

"Jerit-jerit gini sebenernya bahaya loh," kata Agus, si pakar mistis dengan nada sok serius. "Kalau mereka keganggu, bisa kesurupan massal."

"Lah, malah pengen liat gw," timpal Juni santai.

"Jangan ngomong gitu, Jun!" sergah Febi cepat, suaranya naik satu oktaf.

Kimi menoleh, merasa genggaman tangan Febi makin kuat. Suara-suara aneh terus bersahutan dari arah lain, entah jeritan, tawa, atau mungkin kucing kawin. Yang Jelas semuanya bercampur.

Lama-lama acara jalan-jalan dalam gelap ini lumayan membuat kimi bosan, Sampai akhirnya saat melewati rumah pembimbing, pandangannya menangkap dua sosok yang ia yakini Ruby dan Anela sedang belok ke arah klinik. Radar kepo kimi langsung aktif.

Mereka ngapain ke sana? batinnya curiga.

Kegiatan ini memang tanpa rute. Semua bebas memilih arah. Dan bagi Kimi, kebebasan itu berarti kesempatan emas.

"Eh, Feb," katanya pelan, "aku kebelet pipis. Ke toilet dulu ya."

"Toilet mana?" tanya Febi, ogah ditinggal.

"Yang deket kantin.,"

"Di belakang dong!" seru Febi panik.

"Tenang, nanti aku nyusul. Aku bawa senter kok," jawab Kimi sambil mengangkat senternya.

"Bener gak perlu ditemenin?" tanya Juni.

"Enggak. Selagi masih ada suara, aku sih gak apa- apa,"

"kalau ada yang manggil nama lo, jangan dijawab," kata Agus serius.

Kimi mengangguk, lalu kabur sebelum ada yang sempat menahan. Sebenarnya dulu kimi termasuk penakut. Tapi waktu kecil, abangnya pernah bilang begini:

Abang: "kamu sama hantu cakepan siapa, dek?"

Kimi: "Cakepan aku, bang."

Abang: "Nah, berarti hantu kalau ketemu kamu bukan mau nakut-nakutin, malah minder."

Berbekal ucapan itulah, sampai sekarang Kimi masih memegang teguh prinsip itu: Seorang kimi lebih cantik dari hantu.

Dengan kata lain, dia aman.

Begitu jauh dari kelompok, Kimi berbelok lewat sisi belakang kampus. Bukan karena sengaja, tapi karena klinik memang terletak di sebelah, dan lewat belakang artinya bebas dari pantauan siapa pun. Tidak ada kelompok yang mau lewat sini, katanya ini lokasi paling seram se-area.

Saat asyik berjalan, langkahnya tiba-tiba melambat. Sayup-sayup telinganya menangkap suara. Pelan, berirama, antara desahan dan rintihan.

Kimi refleks mematikan senter sambil menahan napas. Matanya celingukan, telinganya tajam mencari sumber suara. Ia sempat berpikir itu bukan suara manusia, tapi semakin dekat langkahnya, semakin jelas kalau itu memang... manusia.

Tak salah lagi, suara itu berasal dari ruang rahasia yang ia temukan sore tadi. Ia berhenti tepat di depan pintu, mencondongkan tubuh perlahan, lalu membelalak.

Perasaannya campur aduk antara syok, bingung, dan ingin menjerit: Itu... itu suara Bu Salma! Sama siapa?!

Kimi mundur satu langkah dengan napas tercekat. Tapi sebelum sempat berpikir lebih jauh, terdengar suara:

"Iyah.. di situ, Jul.. ahh.. cepetin lagi... "

Jul?! Di sini cuma ada satu orang bernama Jul! Apa mungkin-

"Ohh... Juli... kamu pinter, sayang"

Kimi langsung menutup mulut dengan tangan. Matanya. membesar, napasnya nyaris tertahan.

Di kepalanya cuma ada satu kata yang berputar keras:

SERIUS?!

.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!