NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Titik Terang

"Jahat banget sampai aku tidak bisa mengatakannya."

"Kalau laki-laki tadi bagaimana? Kenapa kamu sampai ketakutan begitu melihatnya. Padahal kalau aku lihat, sepertinya dia orang baik." Alvaro balik bertanya. "Aku sempat berpikir kamu pucat begitu karena melihat darah."

"Aku bukannya takut dengan Cahyo. Meski aku merasa ada yang aneh dengan laki-laki itu tapi aku sama sekali tidak takut padanya."

"Lalu kenapa tadi sampai pucat gemetaran begitu?"

Zivanna menatap Alvaro dengan tatapan pesimis. "Kalau aku beri tahu, aku yakin pasti kamu akan menganggap aku konyol. Aku sendiri saja menganggap alasanku konyol apalagi orang lain."

"Katakan dulu, baru aku bisa menilai apakah itu konyol atau tidak."

Zivanna tampak berpikir. Baru kemudian mulai bercerita. "Aku takut pada jaket yang Cahyo pakai. Ketika gadis di dalam mimpiku diper***a di perkebunan tebu, pelakunya memakai jaket yang sama persis dengan yang tadi Cahyo pakai."

Alvaro mengernyit. "Kamu yakin? Bisa saja salah kan?"

"Aku memimpikan kejadian itu sampai beberapa kali. Dan satu-satunya yang aku ingat dari pelakunya adalah jaket yang dia kenakan. Bagaimana aku tidak yakin?" Suara Zivanna terdengar pelan. Gadis itu seperti tidak yakin orang akan mengerti dengan yang dia katakan.

"Kamu bisa bayangkan, Al? Aku bermimpi melihat pelecehan atau kalau tidak, aku sendiri yang menjadi korban pelecehan, sampai berulang-ulang. Apakah aku tidak boleh ketakutan?" Air mata Zivanna mulai mengembang.

"Katakan aku harus bagaimana? Aku takut jika mimpi itu menjadi kenyataan. Bagaimana jika aku ... Aku... " Zivanna tidak melanjutkan kata-katanya. Air matanya berlinang.

Alvaro tidak tega lalu merengkuh Zivanna ke dalam pelukannya. "Itu tidak akan terjadi. Itu hanya mimpi. Tidak usah takut," katanya.

"Bantu aku, Al ... Bantu aku memecahkan masalah ini. Aku lelah. Aku ingin tidur nyenyak tanpa ketakutan. Aku ingin hidupku kembali seperti semula."

Cerita Zivanna memang tidak masuk akal, dan benar sedikit konyol. Tapi Alvaro juga percaya itu bukan khayalan atau halusinasi. ketakutan di wajah gadis itu dan tangisannya yang menyayat hati bukanlah akting atau sesuatu yang dibuat-buat. Dia bisa melihat jika Zivanna benar-benar tersiksa.

Alvaro melerai pelukannya. Dia menatap gadis yang terlihat putus asa itu lekat-lekat. "Aku ingin sekali membantumu. Tapi bagaimana caranya jika aku tidak tahu masalahnya?" Ibu jari Alvaro mengusap pipi Zivanna.

Baru berapa hari mereka saling mengenal tetapi Alvaro sudah merasa dekat. Entah karena rasa kasihan yang menariknya atau karena dia telah jatuh cinta pada gadis rapuh ini. Yang jelas Alvaro ingin selalu mendampingi gadis itu, menghadapi masalahnya bersama-sama dan menyembuhkannya.

"Ceritakan padaku semuanya, Zi. Jangan setengah-setengah. Kamu percaya aku, kan?"

Zivanna terdiam selama beberapa saat. Lalu setelah lebih tenang dia mulai bercerita, dari pertama mimpi itu datang hingga sekarang.

"Itu memang hanya sebuah mimpi. Aku tahu aku salah jika menganggap itu nyata. Tapi aku tidak bisa mengabaikan mimpi itu begitu saja. Nyatanya semua yang ada di mimpiku benar."

"Aku tahu semua jalan di desa ini bahkan sampai kecamatan. Aku tahu rumah bibi gorengan dan kebiasaan bibi es dawet mengantar mertuanya ke rumah sakit. Aku tahu di belakang rumah Tante Ida ada sumur."

"Aku bahkan tahu kamu sering membeli dagangan Ayu dan membagi-bagikannya kepada rekan-rekanmu. Aku benar, kan?"

Alvaro tidak bisa berkata-kata. Ini melawan semua ilmu yang sudah dipelajarinya.

"Setelah semua itu, menurutmu apakah aku masih bisa mengabaikan mimpi itu?"

Alvaro masih terdiam belum bisa menerima informasi ini sepenuhnya.

"Jadi gadis yang ada di dalam mimpimu itu Ayu, si penjual jajanan?"

Zivanna mengangguk. "Awalnya aku juga tidak tahu siapa gadis itu. Sampai akhirnya aku tinggal di sini. Aku mendengar cerita-cerita yang kemudian aku cocokkan dengan mimpi-mimpiku. Dari situ aku mengambil kesimpulan jika gadis itu adalah Ayu. Tapi aku juga tidak yakin karena aku belum pernah melihat wajahnya secara langsung."

"Jika benar itu dia, lalu apa hubungannya denganku? Kami belum pernah bertemu. Kami juga tidak saling mengenal. Kenapa dia selalu muncul di mimpiku?"

Alvaro kembali terdiam. Dia memutar otaknya yang biasanya pintar tetapi kali ini terasa buntu, tidak bisa menemukan jawaban.

"Loh, sudah pulang?" Rani tiba-tiba masuk dan memecah kebuntuan otak Alvaro. Perempuan itu baru kembali setelah selesai membagi-bagikan bingkisan tanda terima kasih untuk orang-orang yang membantu mencari Zivanna semalam. "Itu di luar kenapa ada motornya Cahyo? Apa dia datang?"

"Tadi dipinjam buat ke puskesmas," jawab Zivanna.

"Non Ziva sakit lagi?!" Rani mengerutkan dahi melihat Zivanna yang tidak terlihat sakit.

"Ini, Mak... " Zivanna menunjukkan kakinya.

"Ya ampun.... Ini kenapa lagi?!!" Rani segera mendekat. "Kalau nenek tahu, pasti hipertensinya kumat lagi!"

"Cuma nginjek beling, Mak. Ini nggak parah. Al saja yang lebay membalut lukanya sampai kayak patah tulang begini," terang Zivanna santai. "Memangnya Nenek dimana?"

"Oh... Ya sudah kalau nggak parah. Nenek di gudang mengawasi muatan beras yang akan di kirim ke luar kota malan nanti."

"Karena sudah ada Bi Rani aku pulang ya, Zi?" Alvaro buka suara.

Sebenarnya Zivanna tidak rela, tetapi dia mengangguk saja. Dia sudah mulai merasa nyaman dengan laki-laki yang tadinya hanya dia anggap sebagai orang asing ini. Sekarang dia menjadi teman curhat yang setia menemaninya dan mungkin sebentar lagi akan menjadi dokter pribadinya.

"Ya sudah, hati-hati," jawab Zivanna. "Eh... Tapi kamu tahu jalan pulangnya, kan?" tanyanya kemudian. Dia ingat kemarin Alvaro mengantarnya sampai ke rumah karena dia yang mengarahkan jalannya. Sekarang kalau sendirian apakah dia akan sampai kecamatan?

"Gampang. Nanti aku bisa tanya sama orang," jawab Alvaro tenang.

Kalau boleh sombong, Alvaro sangat terkenal di seluruh kecamatan. Hampir semua orang yang pernah berobat ke puskesmas mengenalnya. Karena itu dia dijuluki sebagai dokter tampan kesayangan semua orang terutama ibu-ibu dan gadis muda. Begitu dia bertanya kepada seseorang pasti orang itu akan dengan senang hati membantunya.

"Apa perlu aku minta Pak Budi mengantarmu pulang?"

"Nggak perlu. Pak Budi juga lagi sibuk, kan?"

Zivanna dan Rani mengangguk bersamaan. Alvaro pergi setelah berpamitan pada Zivanna dan Rani.

* * *

Tepat tengah hari Alvaro sampai di rumahnya, itupun setelah dia dua kali bertanya arah kepada orang di pinggir jalan.

Setelah selesai membersihkan tubuhnya dia membuka buku ilmu kesehatan anak. Tetapi setelah berkali-kali membolak-balik halaman, tidak ada secuil pun yang masuk ke otaknya. Pikirkan terus tertuju pada Zivanna dan apa yang gadis itu ceritakan.

Jika Zivanna mulai bermimpi setelah operasi mata, apakah mungkin mimpi itu ada hubungannya dengan...

Alvaro merasa menemukan titik terang. Dia segera menghubungi Zivanna. Sayangnya, gadis itu tidak menjawab panggilannya.

Alvaro tidak sabar. Dia menyambar kunci motor lalu segera pergi ke rumah Minah untuk menemui Zivanna. Sekarang dia sudah tahu jalannya, yakin tidak akan tersesat.

1
Ma Em
Suci mau balas pada Bu Minah karena sdh pecat Bu Ida coba saja kalau berani , pasti Zivana langsung bertindak dan akan membalaskan dendam Ayu pada Bu Ida dan Suci .
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!