Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Langkah Syahira terasa lebih ringan dari sebelumnya saat kembali ke tempat duduknya. Tidak seperti kemarin yang seperti berat dan seperti penuh beban berton ton pada pundaknya apalagi otaknya yang ia rasakan saat itu.
Ia perlahan duduk tapi tangannya masih juga gemetar dan kali ini bukan karena takut. Calysta menyenggol tangannya pelan. "Gilaaa Sya,..elo lancar banget tadi" Syahira langsung menoleh "apaan sih,..masih banyak yang salah tau nggak"
"Lancar dari mananya"
"Tapi elo enggak berhenti"
Deg. ucapannya begitu sama persis seperti yang dikatakan Bilal dan ayahnya kemarin.
"Oiya Sya, kantin yok"
"Boleh, gue denger ada ada seblak yang lagi viral ya dijual dikantin sini?"
"Bukan seblak kali, minuman yang ada bobanya itu loh tapi dia ada rasa baru nah itu yang lagi viral" Syahira mengangguk.
"Mau nyoba?"
"Boleh, yuk"
"Ok gas pas istirahat nanti"
"Hmm"
"Assalamualaikum Ukhti!" sapa seseorang yang menggeser kursi didepan barusan mejanya Syahira. Syahira yang sedang tiduran miring diatas tasnya pun langsung menoleh ke arah didepannya.
"Waalaikumsalam, siapa ya?"
"Hai,..Syahira Zahra ya"
"Iya"
"Kenalin aku Haikal,.duduk di pojok belakang sana"
Syahira mengangguk seraya tersenyum dan menerima juluran tangan Haikal keduanya berjabat tangan meski tidak sampai bersentuhan karena kedua tangannya sama sama saling mengatup.satu sama lain.
"Syahira, salam.kenal kalo gitu"
"Tadi aku liat kamu baca hafalan keren banget"
"Makasih, tapi masih belajar"
"Tapi kamu lancar banget enggak sampai terputus ditengah jalan keren"
***
Lagi lagi pujian itu seolah membuatnya terbang melayang, namun membuat Syahira malah semakin bersemangat untuk mempelajarinya lebih dalam lagi.
Kata kata yang terus terngiang cukup membuatnya termotivasi, satu persatu sudah mulai keluar kelas, bel berbunyi tanda istirahat.
Bilal merapikan bukunya, dan tatapannya menyapu area ruangan dan berhenti disatu titik yaitu Syahira adik iparnya.
Menatap sebentar dari kejauhan namun ia langsung mengalihkan pandangan. "Ini tidak boleh Ya Allah,"
bisiknya.
gegas ia langsung bangkit berdiri dan melangkah secepat kilat ke arah ruangannya tanpa melihat kiri kanan dengan wajah datarnya.
Namun ia kembali goyah, saat melihat Syahira didekati mahasiswa lain. Yang mencoba berkenalan dengannya tiba tiba saja ia melihat ke arah jendela ruangannya reflek tangannya mengepal dengan eratnya.
Kembali ia mengalihkan pandangannya lagi, "Ya Allah astaghfirullah apa yang saya lakukan, dia adik iparku sendiri"
"Ini salah" ucapnya pada dirinya sendiri. Debaran jantungnya tak berhenti acapkali ia harus berhadapan dengan Syahira apalagi melihat kegigihan Syahira dalam menghafal ayat yang panjang hingga bisa menuntaskannya dengan baik.
Bilal merasa kagum pada adik iparnya, namun teringat akan hubungannya dengan Feryal yang masih belum ada titik temu, ia menjadi bingung dibuatnya.
Disisi lain ia masih sangat mencintai Feryal namun disisi lainnya ia merasa ada kekaguman pada adik iparnya.
Begitu sulit dirinya untuk mengubah gaya hidup Feryal yang begitu bertabrakan dengannya. Yang awalnya ia pikir Feryal akan mudah ia perbaiki namun pada kenyataan tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan.
Perbedaan mereka yang terlalu jauh, bahkan prinsip hidup yang begitu berbeda membuat rumah tangganya menjadi goyah.
Acapkali dirinya ingin berkomunikasi, Feryal tidak banyak berkata apapun, ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarganya.
Sementara dirinya disibukkan dengan berbagai aktivitas, yang membuat jarak mereka semakin jauh, hingga ia pulang dari universitas terkemuka Al Jazeera pun ia begitu sulit untuk menghubungi Feryal istrinya.
Waktu cepat berlalu, kegiatan kuliah hari itu lebih cepat dari biasanya. Semua sudah pada keluar satu persatu.
Saat Bilal melangkah keluar kelas secara kebetulan Syahira pun mau keluar kelas juga, dan keduanya hampir saja bertubrukan.
"Silahkan pak duluan aja"
"Kamu duluan aja Ra"
"Bapak aja"
"Yasudah saya dulu, oiya Ra, hari ini mau saya antar sekalian, saya mau sekalian juga silaturahmi sama Abi"
"Ciyee, sama Abi apa sama kak Fey nih?"
Deg
"Kayaknya enggak bisa deh kalo bareng, soalnya Syara mau pergi sama Calysta"
"Oh oke kalo gitu"
**
Di tempat lain, sirkuit
Prok prok prok! suara riuh tepukan tangan disirkuit begitu ramainya. "Feryal,.go,..go,..go Feryal"
Lesatan motor dengan begitu cepatnya, motor miring ke kiri,..lalu miring ke kanan..lalu menyalip motor lainnya.
Gerakan yang gesit dan atraksi yang super keren melompat dengan cantiknya. Kembali motor itu berada diudara dan mendarat dengan epicnya.
"Gilaaa,..keren banget Fey"
Hingga garis finish pun ia lewati dengan secepat kilat dan sorakan riuh semakin menggema memuji namanya sang ratu sirkuit itulah julukan Fey sedari lama masih belum ada yang menandinginya.
Hingga satu orang ada yang datang menantangnya. "30 ribu us Dollar gimana berani kalahin gue"
"Nantangin gue nih, siapa takut"
"Gimana guys deal"
"Oke deal"
Fey memakai helmnya dan memastikan motornya dalam kondisi baik. Ia pun mulai dengan posisi bersiap di garis start.
Bendera mulai dikibarkan "READY GO!"
Motor bergerak dengan lincahnya, dengan kecepatan sedang, ia membiarkan sang penantang mendahuluinya meski sudah jauh didepannya dan hampir tak terlihat. Seorang penantang sudah tersenyum merasa ia sudah menang dengan bangganya.
"Cih tadi elo sombong, sekarang baru ditantang segini aja udah ciyut"
Namun saat ia lengah, tiba tiba saja motor Fey muncul secepat kilat, membuat ia tersentak dan fokusnya mendadak hilang, motornya mendadak goyang entah kenapa. padahal sebelumnya sudah ia cek dengan teliti.
"Brengsek kenapa lagi ini motor"
Dan tak lama motor Fey sampai digaris puncak, lagi lagi Fey menang telak. Dan membawa 30 dollar yang saat ini ada ditangannya.
Senyum kemenangan pun terbit diwajah Fey yang menarik nafas lega, "Jo, ikut gue"
"Kemana?"
"Cairin ini duitlah"
"Oke"
"Terus kemana lagi?"
"Yayasan tuna daksa"
"Hah, seriusan"
"Iya"
"Sebanyak ini?"
"Enggak semua juga, elo kalo butuh ambil, dan sisakan buat panti asuhan, panti jompo dan orang orang yang butuh"
"Lah terus elo"
"Enggak gue enggak akan ambil"
"Gila, seriusan Fey,"
"Hmm"
"Yaudah kalo gitu, berhubung sekarang hari Jum'at, gue sekalian order menu Jum'at berkah aja kali ya"
"Ide bagus, kasih tau lainnya biar bisa bantu elo juga kalo gitu gue balik, gue serahin tanggung jawab ini ke elo ya"
"Siap"
Josef tidak menyangka, dibalik gayanya yang cuek dan tomboy tapi Feryal benar benar berhati mulia, acapkali ia menerima tantangan dengan mendulang pundi pundi rejeki. Tidak pernah sampai ia pakai sedikit pun.
Bukan hanya saat ini saja bahkan sejak lama, ia selalu menyumbangkan sebagian rezekinya dari hasil kerjanya menjadi seorang editor ia menyumbangkannya untuk pembangunan rumah rumah ibadah.
Meskipun ia seorang non-muslim tapi dirinya tak jarang banyak terlibat dalam pembangunan masjid masjid disekitarnya. Hanya saja Bilal tidak pernah tau akan hal itu.