Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Pagi hari di Long Island selalu disambut dengan aroma laut yang khas dan suara deburan ombak yang tenang.
Di dalam rumah aman klan Abbey yang megah namun terisolasi, sinar matahari musim panas mulai menerobos masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar Adiba. Udara di dalam ruangan itu hangat, jauh dari hiruk-pikuk Manhattan yang bising.
Adiba terbangun dengan perasaan ganjil yang mendera perutnya. Bukan lagi rasa mual yang menyiksa seperti hari-hari sebelumnya, melainkan sebuah kekosongan yang menuntut untuk dipenuhi.
Dia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, termenung menatap jemari kakinya sendiri.
Ada sesuatu yang aneh yang sedang terjadi pada tubuhnya pagi ini. Lidahnya mendadak terasa hambar, namun di saat yang sama, indra penciumannya menjadi teramat sensitif.
"Mami..." panggil Adiba lirih saat pintu kamarnya terbuka perlahan, menampilkan sosok Eleanor Abbey yang masuk dengan senyuman hangat khas seorang ibu.
"Kau sudah bangun, Sayang? Bagaimana perasaanmu pagi ini? Apakah bayinya membuatmu mual lagi?" tanya Eleanor lembut sembari duduk di samping putrinya dan mengusap rambut Adiba yang sedikit berantakan.
Adiba menggelengkan kepala. "Tidak mual, Mami. Tapi... aku ingin sesuatu."
Eleanor langsung berbinar. Ini adalah pertama kalinya Adiba meminta sesuatu sejak mereka tiba di Long Island. Selama beberapa hari terakhir, Adiba hanya makan karena kewajiban demi janin di rahimnya, tanpa gairah sama sekali.
"Katakan, Nak. Kau ingin makan apa? Papi bisa menyuruh koki terbaik kita untuk memasakkannya sekarang juga. Apakah kau ingin buah-buahan segar? Atau makanan manis?"
Adiba terdiam sejenak, mencoba menerjemahkan keinginan aneh yang mendadak muncul di kepalanya.
"Aku ingin... pangsit basah hangat yang dijual di kedai kecil pinggir jalan. Yang dibungkus dengan kotak kertas tebal, Mami. Bukan yang dibuat oleh koki kita."
Eleanor tertegun, lalu tertawa kecil dengan haru. Dia mengusap pipi Adiba dengan penuh kasih.
"Ah, putriku sedang mengidam ternyata. Baik, Sayang. Mami akan menyuruh pengawal untuk mencari kedai pinggir jalan terbaik yang menjual pangsit seperti itu. Ada lagi yang kau inginkan?"
Adiba meraba perutnya yang masih rata. Ada letupan-letupan kecil di dalam dadanya, sebuah rasa rindu yang ganjil. Namun, saat dia mencoba mencari tahu siapakah atau apakah yang sebenarnya dia rindukan, pikirannya mendadak buntu.
Dia merasa merindukan sesuatu yang sangat spesifik, sebuah kenyamanan yang rasanya pernah dia rasakan, namun egonya yang telah membeku menolak untuk memunculkan satu nama pun di kepalanya.
****************
Satu jam kemudian, beberapa kotak kertas berisi pangsit basah hangat sudah tersaji di meja makan. Aroma kaldu ayam yang gurih berpadu dengan minyak wijen langsung memenuhi ruangan.
Adiba duduk di hadapan papinya, George Abbey, yang menatapnya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa sayang. George sengaja menunda semua urusannya hanya untuk melihat putrinya makan dengan lahap pagi ini.
"Bagaimana, sayang? Apakah rasanya sesuai dengan yang kau inginkan?" tanya George lembut.
Adiba mengangguk kecil, menyuapkan satu pangsit utuh ke dalam mulutnya. Rasa hangat dan gurih itu seketika memanjakan lidahnya, memberikan rasa nyaman yang aneh yang sejak kemarin dia cari. Namun, baru saja dia menghabiskan setengah kotak, gerakan tangannya mendadak terhenti.
Rasa lapar yang tadinya begitu menggebu mendadak surut begitu saja. Dia meletakkan sumpitnya perlahan di atas meja, membuat George dan Eleanor saling berpandangan dengan cemas.
"Ada apa, Nak? Kenapa berhenti? Rasanya tidak enak?" tanya Eleanor khawatir.
"Bukan, Mami. Rasanya sangat enak," jawab Adiba, suaranya mendadak berubah agak lirih. "Hanya saja... aku merasa kenyang secara tiba-tiba."
Sebenarnya, Adiba berbohong. Perutnya tidak kenyang, melainkan batinnya yang mendadak diserang oleh rasa rindu yang teramat dalam dan asing.
Dia merindukan sebuah pelukan yang dingin namun protektif.
Dia merindukan aroma tubuh seseorang yang seharusnya sudah dia benci setengah mati.
Janin di dalam rahimnya seolah sedang menuntut kehadiran sosok yang diyakini Adiba sebagai sang ayah, menciptakan sebuah tarikan emosional yang membuat Adiba merasa frustrasi.
"Aku merindukan apa...?" gumam Adiba tanpa sadar, nyaris tak terdengar.
George yang menyadari perubahan raut wajah putrinya segera menggenggam tangan Adiba.
"Adiba, dengar Papi. Mengidam dan merasa emosional adalah hal yang wajar bagi wanita hamil. Jangan menahan dirimu. Jika kau merasa ingin menangis, menangislah. Jika kau merindukan sesuatu yang tidak bisa kau jelaskan, biarkan saja perasaan itu mengalir. Kau aman di sini bersama Papi dan Mami."
Adiba menatap papinya dengan mata yang perlahan berkaca-kaca. Dia tidak ingin mengakui bahwa di balik sumpah bendamnya, ada bagian dari dirinya yang masih terasa rapuh.
Perubahan hormon kehamilan ini benar-benar mempermainkan logikanya yang sudah dia susun dengan rapi.
Sementara itu, di sebuah sudut lain di New York yang terisolasi, Giorgio Chiellini duduk di sofa kulit ruang kerjanya sembari memandangi sebuah laporan harian dari Clark.
Di atas meja, sebuah mangkuk porselen berisi pangsit basah hangat yang sama persis dengan yang dimakan Adiba beberapa saat lalu, tampak masih mengepulkan uap.
Giorgio mengambil garpunya, menyesap sedikit kaldu dari pangsit tersebut dengan ekspresi wajah yang teramat tenang dan puas.
"Jadi, dia mengidam pangsit pinggir jalan hari ini?" tanya Giorgio tanpa mengalihkan pandangannya dari foto Adiba yang diambil oleh orang-orangnya dari jarak jauh.
Di dalam foto itu, Adiba tampak sedang duduk di balkon, memandangi laut dengan wajah sendu.
"Benar, Tuan Giorgio," jawab Clark yang berdiri setenang patung di dekat pintu.
"Orang-orang kita memastikan bahwa kedai yang dipilih oleh pengawal klan Abbey adalah kedai yang bersih, dan kami juga memastikan semua bahan yang digunakan aman untuk kesehatan Nyonya Adiba."
Giorgio tersenyum, sebuah senyuman lembut yang hanya dia miliki jika menyangkut tentang Adiba. "Bagus. Pastikan dia mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Jika besok dia menginginkan buah yang tidak tumbuh di musim ini, terbangkan jet pribadi kita untuk mencarinya ke belahan bumi lain. Anakku di dalam rahimnya tidak boleh kekurangan satu hal pun."
Giorgio meletakkan garpunya, lalu bersandar pada sofa. Sepasang mata sehitam jelaga miliknya menerawang menatap langit-langit ruangan.
Giorgio tidak pernah merasa cemburu pada rasa Cinta Adiba yang tersisa untuk Louis.
Baginya, itu hanyalah sebuah fase sementara, sebuah efek samping dari permainan takdir yang sedang dia sutradarai dari balik layar hitam.
Kebenaran bahwa benih di rahim Adiba adalah miliknya sudah cukup menjadi jaminan mutlak bahwa pada akhirnya, Adiba akan menjadi miliknya seutuhnya.