Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Kebenaran di Malam Kebakaran
Malam di Seoul terasa dingin.
Lampu kota terlihat terang dari jendela kamar hotel mewah tempat Damar menginap selama berada di Korea. Namun suasana di dalam ruangan itu justru terasa sangat berat.
Damar berdiri membelakangi pintu sambil menatap keluar jendela dengan rahang mengeras.
Sementara di belakangnya, Raka baru saja masuk ke kamar hotel setelah menerima pesan mendadak dari tuan mudanya itu.
“Tutup pintunya, Om.”
Suara Damar terdengar dingin namun penuh tekanan.
Raka menghela napas pelan lalu menutup pintu kamar hotel tersebut.
Ia sudah tahu… pembicaraan malam ini tidak akan mudah.
Beberapa detik berlalu dalam diam sebelum akhirnya Damar berbalik perlahan.
Tatapan pria itu penuh emosi yang selama ini ia tahan sendiri.
“Kenapa Om nyembunyiin Kak Ela?”
Pertanyaan itu langsung membuat suasana membeku.
Raka memejamkan mata sesaat.
“Jawab, Om.”
Damar mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Lima belas tahun…”
“Lima belas tahun kita semua percaya Kak Ela meninggal.”
“Dan Om tau dia hidup.”
Nada suara Damar mulai bergetar.
“Kenapa?”
Raka menatap laki-laki di depannya lama sebelum akhirnya duduk perlahan di sofa hotel.
“Karena itu permintaan Ela sendiri.”
Damar langsung terdiam.
Raka mengusap wajahnya lelah sebelum mulai bicara pelan.
“Malam kebakaran itu…”
“Mbak Ela hampir meninggal.”
Damar langsung menegang mendengar kalimat itu.
Malam itu masih sangat jelas di kepala Raka.
Rumah tua milik oma Raespati terbakar hebat akibat korsleting listrik. Semua orang panik menyelamatkan diri masing-masing.
Namun saat semua keluar rumah… Lavanya masih ada di dalam kamar lantai dua dalam keadaan pingsan karena asap.
Tidak ada yang berani masuk lagi karena api sudah terlalu besar.
Dan di saat semua orang ketakutan…
Ela masuk kembali ke dalam rumah.
“Dia bahkan nggak mikirin dirinya sendiri,” lanjut Raka lirih. “Yang dia pikirin cuma Nyonya Lavanya.”
Damar membeku di tempat.
“Ela berhasil nyelametin Bunda…”
“Tapi…”
Raka menunduk.
“Dia sendiri kena reruntuhan kayu yang kebakar.”
Damar langsung menahan napas.
“Mita yang nolongin Ela malam itu.”
“Mereka bawa Ela diam-diam ke rumah sakit kecil milik kenalan Tante Mita.”
Raka menatap Damar penuh rasa bersalah.
“Kondisi Ela parah.”
“Luka bakarnya cukup banyak…”
“Dan mentalnya hancur.”
Damar langsung duduk perlahan dengan wajah kosong.
Dadanya terasa sesak.
“Pas sadar…” lanjut Raka pelan, “hal pertama yang Ela tanyain bukan tentang dirinya.”
“Tapi…”
‘Bunda selamat nggak, Om?’
Suara Raka mulai serak menirukan ucapan Ana waktu itu.
Damar langsung menundukkan kepalanya kuat-kuat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya… ia merasa benar-benar tidak pantas disebut keluarga Dariela.
“Terus kenapa Kak Ela nggak pulang?” suara Damar melemah.
Raka tersenyum pahit.
“Karena waktu itu…”
“Dia denger sendiri apa yang keluarga kalian bilang.”
Damar langsung mengangkat kepala cepat.
Raka mengepalkan tangannya perlahan.
“Omamu bilang…”
‘Anak itu pembawa sial. Harusnya dia aja yang mati.’
Tubuh Damar langsung membeku total.
Raka menatap lurus ke arah laki-laki itu.
“Ela dengar semuanya.”
“Dan setelah itu…”
“Dia minta satu hal ke Om dan Tante Mita.”
Jangan kasih tau siapa pun kalau aku masih hidup.
Suasana kamar hotel langsung sunyi.
Damar memejamkan mata kuat-kuat menahan emosinya.
Namun kebenaran berikutnya jauh lebih menghancurkan.
“Beberapa minggu setelah kebakaran…” suara Raka kembali terdengar pelan, “Mita periksa kondisi Ela.”
“Dan ternyata…”
Raka berhenti beberapa detik.
“Ela hamil.”
Deg.
Damar langsung membelalakkan mata.
“Hamil?” suaranya nyaris berbisik.
Raka mengangguk pelan.
“Ela bahkan baru tau setelah kejadian kebakaran.”
“Mentalnya makin hancur waktu itu.”
Raka masih ingat bagaimana Ana menangis semalaman di ruang rawat sambil memeluk dirinya sendiri.
Gadis tujuh belas tahun itu bahkan berkali-kali meminta maaf karena merasa dirinya kotor.
Dan yang paling menyakitkan…
Ia sama sekali tidak ingin keluarganya tahu tentang kehamilan itu.
“Ela takut…” lanjut Raka lirih. “Dia takut anaknya dibenci kayak dia.”
Damar langsung menunduk sambil menutup wajahnya sendiri.
Dadanya terasa sakit sampai sulit bernapas.
Selama lima belas tahun…
Kakaknya hidup sendirian.
Hamil sendirian.
Melahirkan sendirian.
Tanpa keluarga.
Tanpa siapa pun.
Dan lebih parahnya lagi… semua penderitaan itu dimulai karena keluarga mereka sendiri gagal melindunginya.
“Om…” suara Damar pecah untuk pertama kalinya.
Raka menatapnya diam.
“Aku jahat banget ya…”
Kalimat itu terdengar begitu kecil dari seorang Damar Ragnala Raespati yang selama ini selalu terlihat kuat.
Namun malam itu…
Untuk pertama kalinya sejak dewasa, Damar menangis karena rasa bersalah terhadap kakak yang terlalu lama ia abaikan.