NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Siang itu, area parkir kampus sudah padat. Luca turun dari mobil ibunya dengan perasaan yang masih nggak karuan. Tiga hari menghilang di luar kota ternyata belum cukup buat menghapus rasa sesak di dadanya.

​"Ma, Luca masuk ya," pamitnya singkat. Luca langsung jalan cepat, menunduk, berusaha jadi invisible biar nggak perlu ketemu siapa pun, terutama Brant. Tapi sial, baru juga beberapa langkah, salah suara yang paling dia benci saat ini terdengar.

"Hai, Luca!"

​Luca berhenti mendadak. Di depannya, Vania berdiri dengan senyum santai—senyum yang bikin Luca pengen teriak saat itu juga, 'Cewek gatel! Lu suka kan sama Kak Brant?! Dia itu pacar aku!'

​Namun, Luca tetaplah Luca. Amarah yang meletup-letup itu akhirnya kembali tertahan di dalam pikirannya saja, meninggalkan rasa nyeri yang kian nyata di hatinya

"Iya," jawab Luca seadanya, suaranya sedatar mungkin.

​"Kenalin, aku Vania. Aku yang gantiin kamu jadi flyer kemarin," ucap Vania dengan nada yang terdengar sangat ramah, tapi entah kenapa terasa menyengat di telinga Luca.

​Luca menarik napas panjang, menatap Vania dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Iya, aku tau," balasnya singkat.

​Vania baru saja mau membuka mulut lagi, mungkin ingin basa-basi lebih jauh, tapi Luca langsung memotong secepat kilat.

"Sori ya, gue beneran buru-buru. Duluan!"

​Tanpa menunggu balasan, Luca langsung ngeloyor pergi, meninggalkan Vania yang cuma mengangkat bahu tanpa merasa ada yang salah.

Begitu Luca masuk ke ruangan, suasana mendadak jadi mendung. Luca langsung duduk di kursinya dengan wajah bete tingkat dewa, diam seribu bahasa tanpa menyapa siapa pun. Vin yang sadar kalau sahabatnya lagi mode "meledak", memberi kode mata , Rose dan Elena langsung paham: Jangan ada yang bahas soal foto Vania.

​Rose dan Elena langsung pasang aksi buat mencairkan suasana. Mereka nggak mau Luca makin terpuruk.

​"Wih, akhirnya si Angel Cute kampus kita udah balik nih!" seru Rose heboh sambil menepuk meja pelan.

​"Gila ya, tiga hari nggak ada lo, ini kelas rasanya kayak kuburan, Ca. Sunyi banget nggak ada yang bisa gue palakin jajannya!" sambung Elena sambil menyenggol bahu Luca.

​Elena kemudian memasang wajah serius yang dibuat-buat. "Lo tahu nggak, Ca? Pas lo nggak ada, si Rose saking kangennya sama lo, dia hampir aja mau lapor ke satpam kampus bilang kalau bidadari kita diculik alien. Untung gue tahan, kalau nggak udah masuk berita portal kampus lo!"

​Mendengar joke receh bin ngasal dari Elena itu, pertahanan Luca runtuh juga. Dia nggak bisa nahan diri buat nggak ketawa kecil. Senyum manisnya yang sempat hilang akhirnya muncul lagi.

​"Apaan sih lo, Na! Ngaco banget!" balas Luca sambil cekikikan, bikin Vin, Rose, dan Elena bernapas lega.

Lagi asyik tertawa, tiba-tiba suasana kelas mendadak hening. Senyap. Ternyata Brant sudah berdiri tegak di depan pintu ruangan. Vin yang liat duluan cuma bisa diam, sementara Rose dan Elena langsung buang muka—nggak kuat liat aura "kulkas" Brant yang lagi mode serius. Bahkan para cewek yang biasanya ribut tiap liat Brant, sekarang mendadak ciut.

​Brant masuk, langkahnya mantap menuju meja Luca. Tatapannya datar, dingin, dan menusuk.

"Gue pengen bicara sama lo," ucap Brant singkat dengan suara rendahnya, "ikut gue" Brant berbalik berjalan keluar. Ia acuh tak acuh dengan semua tatapan dalam ruangan itu.

​Luca sebenarnya takut melihat wajah Brant yang seperti itu, tapi dia akhirnya berdiri dan jalan mengekor di belakang Brant dengan wajah menunduk kesal.

Brant membawa Luca ke area parkiran yang agak sunyi, tepat di samping mobil hitamnya yang terparkir angkuh.

​"Masuk. Kita ngobrol di dalam," perintah Brant.

"Nggak mau," balas Luca ketus tanpa menatap Brant.

Brant mengernyit. "Kenapa nggak mau?"

"Males. Vania pernah duduk di situ, kan? Nanti kursinya ketularan centil," jawab Luca asal, meluapkan kekesalannya.

​Brant membuang napas pendek, mencoba menekan egonya.

"Oke, kita bicara di sini," ucapnya dengan nada yang masih berusaha tenang.

"Kenapa nomor gue lo blokir?"

​Luca hanya diam, matanya terpaku pada ujung sepatunya sendiri.

"Kenapa menghindar, Ca?" tanya Brant lagi, suaranya masih rendah namun menuntut jawaban.

​Luca tetap bergeming, bibirnya rapat terkunci. Keheningan itu justru membuat kesabaran Brant mulai terkikis. Dia melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka.

​"Mulut lu masih bisa bicara, kan?" tanya Brant, kali ini nadanya terdengar agak kesal karena diabaikan.

​Bahu Luca mulai bergetar. Dengan suara terbata-bata sambil menahan tangis yang sudah di pelupuk mata, dia akhirnya bersuara. "Kak Brant yang duluan... nggak balas pesan aku! Kak Brant selingkuh!"

​Mendengar kata terakhir itu, raut wajah Brant langsung berubah keras. Dia paling tidak suka integritasnya dipertanyakan, apalagi soal kesetiaan.

​"Lu nuduh gue selingkuh?" Brant bertanya dengan suara yang mulai meninggi, tak lagi berusaha menahan emosinya. "Kalau ada sesuatu, tanya dulu! Jangan kek anak kecil begini, main hilang aja!"

​Bentakan itu jadi puncak segalanya. Tangis Luca pecah seketika. Melihat Luca yang mulai sesenggukan, Brant menarik napas panjang.Dia sadar dia sudah terlalu kasar.Brant mau meluk,tapi Luca menghindar.

Dengerin dulu," suara Brant melembut. "HP gue rusak hari itu. Soal Vania ikut di mobil, itu murni urusan tim yang harus diurus. Dari pagi sampe malam ,sumpah gue sibuk ,ca. Tanya Jack, dia juga kewalahan hari itu, nggak ada orang lain."

​Brant meraih tangan Luca, kali ini dia nggak mau dilepas. Dia menatap mata Luca dalam-dalam.

"Percaya sama gue. Vania cuma rekan satu tim,nggak lebih. Gue nggak mungkin selingkuhi lo."

​Mendengar penjelasan itu, Luca malah makin nangis kejer. Dia langsung nabrak dada Brant dan memeluknya erat banget—balas dendam karena rindu. Brant tersenyum tipis, membalas pelukan hangat itu dan mengusap kepala Luca lembut.

​"Janji ya nggak akan dekat sama Vania lagi? Terus janji HP-nya nggak boleh rusak lagi!" ucap Luca sesenggukan.

​Brant hampir saja ketawa dengar kalimat terakhir Luca. Emangnya HP bisa diatur rusaknya kapan? batinnya heran tapi bahagia. "Iya, janji. Lo juga cukup ya, jangan ngilang lagi. Gue bisa stres nggak dengar mulut cerewet lo sehari aja."

​Mereka nggak peduli lagi meski ada orang di parkiran. Pas Brant mau lepas pelukannya, Luca malah makin erat meluk. "Nggak mau lepas, masih rindu!"

​Brant terkekeh pelan sambil mengusap punggung Luca. "Ya sudah, kita duduk di mobil dulu. Panas di sini, nanti lo makin pusing."

​Luca akhirnya melepaskan pelukannya, tapi tangannya masih bergelayut di lengan Brant. "Ayo langsung pergi beli boba aja, tapi yang di dekat tempat baksonya Mas Kumis ya?"

​Brant sama sekali nggak kaget. Apapun keadaannya—mau sedih, marah, atau lagi jatuh cinta sekalipun—Luca tetaplah Luca yang selalu cari makan. Akhirnya, permintaan itu dituruti juga oleh Brant. "Iya, ayo."

​Hari itu, masalah mereka selesai dengan manis. Brant berhasil menjinakan emosinya sendiri menukar dengan rasa sayang yang utuh untuk Luca. Dan Luca,memilih untuk percaya sepenuhnya bahwa namanya telah terpatri mati di dalam hati Brant. Siang itu Mobil Brant pun melaju meninggalkan area kampus menuju kedai boba favorit Luca.

Suasana di depan gerbang kampus sore itu benar-benar riuh. Beberapa bus sudah terparkir rapi, siap mengangkut tim basket dan para pendukung untuk tanding sparing di universitas seberang.

Sebelum rombongan berangkat, suasana di parkiran sempat diwarnai drama kecil. Clay dan Rey terpaksa ditinggal di kampus dengan wajah kuyu. Mereka sengaja "dikorbankan" untuk menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Bisnis yang harus dikumpulkan besok pagi.

​Karena Brant dan Jack harus fokus bertanding, tugas berat itu otomatis dilimpahkan sepenuhnya pada dua sahabat mereka.

​"Awas lu berdua, ya! Kita di sini meras otak sampai tipis, lu berdua awas kalau nggak bawa pulang piala!" gerutu Rey dengan mulut sampahnya yang biasa, sementara Clay hanya bisa meratapi nasib sambil memeluk laptopnya pasrah.

Di sisi lain Luca dan ketiga sahabatnya sudah tampil maksimal dengan atribut suporter kebanggaan mereka.​ Setelah Luca, Vin, dan Elena sudah berhasil mengamankan kursi di tengah bus, mereka baru sadar, kalau Rose masih berdiri kebingungan.

​"Loh, Rose? Kok lo nggak duduk?" tanya Vin heran.

"Penuh, Vin! Gue nggak kebagian kursi di bus ini," gerutu Rose sambil celingukan, wajahnya mulai panik.

​"Yah, gimana dong? Masa kita pisah?" Luca langsung berdiri. "Ya udah, kita turun aja yuk. Cari bus lain yang masih kosong, biar kita bisa barengan."

​Baru saja mereka berempat hendak melangkah turun, Jack muncul di pintu bus. Dia masuk dengan aura pemimpinnya yang khas untuk mengecek perlengkapan tim

yang ditaruh di bus tersebut.

​"Mau ke mana? Duduk, bus sudah mau jalan," tanya Jack tegas saat berpapasan dengan mereka di lorong bus.

​"Ini Kak, Rose nggak dapet tempat duduk. Kita mau cari bus lain aja," jawab Luca cepat.

​Jack menatap Rose sejenak, membuat Rose mendadak salah tingkah dan menahan napas. Jack kemudian mengambil tas dan jaket timnya yang tergeletak di kursi depan.

​"Tunggu," ucap Jack pendek. Dia menoleh ke arah Rose. "Lo ikut gue aja kalau mau. Tapi gue naik motor."

​Mata Rose langsung berbinar. Tanpa perlu pikir dua kali, dia langsung mengangguk cepat. "Mau! Eh—maksudnya, iya Kak, boleh."

​Begitu sampai di samping motor sport besarnya, Jack menyodorkan jaket yang tadi dia ambil. "Nih, pakai. Anginnya kencang."

​Rose menerimanya dengan tangan gemetar saking senangnya. Saat dia naik ke jok belakang motor Jack, Rose sempat-sempatnya memberikan tatapan penuh kemenangan sekaligus bahagia ke arah jendela bus, di mana Luca, Vin, dan Elena sedang menonton dengan wajah heboh.

​"Ciee! Ada yang mimpinya terkabul hari ini!" teriak Elena dari balik jendela, sengaja menggoda.

​Luca yang polos malah ikut berteriak dengan suara cemprengnya, "Kak Jack! Rose itu fans berat Kak Jack, tauuu!"

​Sial ! batin Rose. Wajahnya langsung merah padam sampai ke telinga. Dia ingin rasa rasanya menghilang saat itu juga karena teriakan Elena, ditambah mulut bocor Luca yang jujur banget.

​Jack hanya melirik lewat spion tanpa ekspresi, tapi dia mulai menyalakan mesin motornya. Tak lama kemudian, rombongan bus mulai bergerak, dan motor Jack melaju kencang memimpin di depan menuju kampus seberang.

Sesampainya di sana, Rose langsung bergabung dengan ketiga sahabatnya dengan wajah yang masih berseri-seri. Luca, yang sejak tadi belum sempat bertemu Brant, hanya bisa membalas pesan singkat dari pacarnya itu.

​Brant: Nanti di sana tetap bareng Vin, Elena, dan Rose. Jangan jalan sendiri. Ini kampus orang.

Luca tahu maksud Brant; dia tidak boleh bertingkah seenaknya karena ini bukan "wilayah" mereka.

​"Ayo masuk! Cari tempat yang bagus biar spot fotonya juga oke buat di- upload," ajak Elena semangat.

​Vin langsung menarik lengan Luca yang masih saja celingukan mencari keberadaan Brant di kerumunan. "Ayo! Pemain udah di dalam semua, Ca. Cari siapa sih lo di sini?"

​Tiba-tiba, saat Vin sedang asyik menyeret Luca, seorang pria tinggi, tampan, mengenakan jersey basket universitas tuan rumah mendekat.

"Hei, pelan-pelan. Kasihan dia ditarik begitu," ucap cowok itu sambil tersenyum tipis, lalu melenggang masuk ke dalam gedung.

​Vin tertegun sejenak, menatap punggung cowok itu. " dia lawan tim kita, Ca." Vin lalu menoleh ke Luca yang masih bengong menatap ke arah yang sama. "Iya, dia emang ganteng. Tapi bakal lebih 'ganteng' lagi kalau Brant ngamuk liat lo begini."

​"Apaan sih, Vin! Gue cuma mengagumi ciptaan Tuhan," bela Luca sambil tetap diseret Vin masuk ke tribun. "Tapi tetep... Kak Brant yang paling ganteng!"

​Mereka duduk di bagian tengah atas, posisi paling pas untuk menonton. Saat pertandingan dimulai, suasana makin panas. Di pinggir lapangan, Vania terlihat sangat bersemangat memimpin tim pemandu sorak dengan seragam cheerleader-nya yang 'cukup berani'.

​"Rese, alay banget tuh cewek. Udah tahu pakai shell top pendek, sengaja banget angkat tangan tinggi-tinggi biar perutnya pamer," komentar Rose pedas sambil memutar bola mata. Elena sendiri tidak peduli, dia sibuk mengedit foto untuk caption media sosialnya.

​Luca yang juga malas melihat aksi caper Vania—apalagi saat cewek itu dengan centil memberikan handuk pada Brant—memutuskan untuk mengalihkan pandangan. Namun sial, matanya malah bertemu dengan cowok tinggi tadi di seberang lapangan. Cowok itu menyadari tatapan Luca dan kembali melemparkan senyum manis.​Luca yang polos tanpa sadar membalas senyum itu.

​Rose yang menyadari ada yang tidak beres segera menoleh ke arah lapangan. Dia melihat Brant sedang berdiri diam, menatap tajam ke arah tribun mereka—tepatnya ke arah Luca yang lagi asyik "balas senyum" dengan pemain lawan.

​Plak!

Rose memukul pundak Luca pelan dan memberi kode keras dengan matanya. "Liat ke depan, bego! Brant lagi natap tajam ke arah lo!" bisik Rose lewat isyarat mata.

Pukulan Rose di bahunya sukses membuat Luca jengah. Refleks karena kaget Luca langsung berdiri tegak secara spontan. Sebelum kesadarannya terkumpul utuh, mulutnya sudah lebih dulu berteriak lantang, "SEMANGAT KAK BRANT GANTENG! SEMANGAT SEMUANYAAA!"

​Rose langsung menepuk jidatnya melihat tingkah konyol Luca. Vin dengan sigap menarik Luca agar kembali duduk, sementara Elena sibuk meminta maaf pada penonton di sebelah mereka yang terganggu. "Maaf ya, Kak... maaf. Kami yang salah, bawa anak kecil jadi suporter memang repot," ucap Elena sambil meringis malu.

Di area lapangan, Brant langsung membuang muka ke arah lain. Bukan karena malu atas teriakan heboh Luca, tapi murni karena egonya sedang terbakar cemburu. Ia masih tidak rela mengingat tatapan dan senyuman manis yang sempat Luca layangkan pada cowok lawan mainnya tadi.

​Pertandingan berakhir dengan skor imbang, dan akan dilanjutkan lusa. Saat arus penonton mulai keluar, Luca berdesakan dan sedikit berlari untuk menghampiri Brant yang sedang berjalan menuju ruang ganti.

​"Kak Brant!" panggil Luca senang.

​Namun, Brant hanya menoleh dengan tatapan yang sangat dingin dan tajam. "Langsung pulang, nggak usah nunggu. Gue masih lama di sini," ucapnya singkat tanpa memberi kesempatan Luca untuk bicara.

​Brant langsung pergi begitu saja, meninggalkan Luca yang berdiri mematung di tengah kerumunan. Luca menggaruk kepalanya yang tidak gatal, benar-benar bingung.

"Kak Brant kenapa ya tadi? Kok kayak kesal begitu?" gumam Luca sedih sambil berjalan lunglai menuju bus pulang.

​Dia terdiam sejenak, mencoba mencari alasan di otaknya yang polos. "Ohh, pasti karena belum menang! Iya, pasti gara-gara skornya seri jadi dia bad mood," pikir Luca berusaha menghibur diri sendiri.

Luca mengira Brant kesal karena skornya seri, padahal aslinya Brant sudah mau meledak gara-gara "ciptaan Tuhan" dari kampus seberang itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!