Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26: Bulan Madu di Surga, Kabar Bahagia yang Dinanti
Seminggu berlalu sejak hari pernikahan yang megah itu. Kabar kebahagiaan Arkan dan Nara masih menjadi pembicaraan hangat di mana-mana, namun bagi mereka berdua, sorotan dunia tidak lagi penting. Yang terpenting hanyalah kebersamaan mereka, rasa damai yang akhirnya mereka genggam erat setelah melewati begitu banyak badai.
Pagi itu, sinar matahari masuk menyelinap lewat celah tirai jendela, menyinari ranjang besar tempat mereka berdua berbaring berpelukan. Arkan terbangun lebih dulu. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan tangan, menatap wajah istrinya yang sedang tidur lelap dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Ia menyisir rambut hitam panjang Nara perlahan dengan jari-jarinya, lalu mengecup kening wanita itu lembut, tak ingin membangunkannya terlalu cepat.
Namun, sentuhan lembut itu ternyata cukup untuk membuat Nara bergerak pelan. Kelopak matanya berkedip perlahan, lalu terbuka, menatap sepasang mata cokelat yang selalu menjadi rumah baginya.
"Pagi, Nyonya Adhitama," bisik Arkan dengan suara serak khas bangun tidur, lalu tersenyum lebar.
Wajah Nara memerah indah mendengar panggilan itu. Meski sudah seminggu berlalu, dipanggil demikian oleh Arkan selalu membuat jantungnya berdebar senang. Ia menggeser tubuhnya mendekat, memeluk pinggang suaminya erat, menyandarkan pipinya di dada bidang itu.
"Pagi, Suamiku..." jawabnya pelan dan manis. "Jam berapa ini? Aku rasanya belum mau bangun, enak sekali tidur di pelukanmu."
Arkan tertawa kecil, suara beratnya bergetar di dada. Ia mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Tidur saja lagi kalau mau. Hari ini kita bebas, tidak ada jadwal, tidak ada urusan kantor. Semua sudah aku serahkan ke Pak Wijaya. Ingat tidak? Hari ini kita berangkat."
Nara langsung mengangkat kepalanya, matanya membelalak cerah. "Berangkat? Ke mana?"
Arkan menggeleng sambil tersenyum misterius. "Rahasia. Aku sudah siapkan semuanya. Cukup kamu siap-siap, pakai baju yang nyaman dan santai. Percayakan semuanya padaku."
Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil mewah yang melaju menuju bandara. Nara masih bertanya-tanya ke mana mereka akan pergi, tapi Arkan hanya diam sambil sesekali menggenggam tangan istrinya dan mengecup punggungnya.
Ternyata, tujuan Arkan adalah sebuah pulau pribadi yang indah dan eksklusif di timur Indonesia—tempat yang sering disebut sebagai potongan surga yang jatuh ke bumi. Pulau itu memiliki pantai berpasir putih bersih, air laut yang berwarna biru gradasi hijau jernih, dan dikelilingi oleh tebing-tebing hijau yang asri. Tidak banyak orang yang boleh masuk ke sana, hanya tamu-tamu istimewa, dan tentu saja pemiliknya—yang ternyata adalah Arkan sendiri, hadiah yang ia beli setahun lalu namun baru sempat ia kunjungi sekarang.
Saat kapal kecil yang membawa mereka merapat ke dermaga kayu, Nara terpaku tak percaya. Pemandangan di depannya begitu indah, jauh lebih indah dari apa pun yang pernah ia lihat di televisi atau buku. Udara segar dan bersih langsung menyapa hidungnya, bercampur dengan aroma laut dan bunga-bunga tropis yang tumbuh liar di pinggir jalan setapak.
"Arkan... ini... ini tempat yang sangat indah..." bisik Nara terpesona, matanya berkeliling menatap setiap sudut dengan kagum.
Arkan tersenyum bangga melihat reaksi istrinya. Ia langsung menggendong tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, membuat Nara memekik kaget tapi langsung tertawa senang.
"Ini tempat kita, Sayang. Selama dua minggu ke depan, tidak ada telepon kantor, tidak ada berita, tidak ada orang yang mengganggu. Hanya ada aku, kamu, dan kebahagiaan kita. Di sini, aku bukan pengusaha besar, kamu bukan Nyonya Adhitama yang dihormati. Di sini, aku cuma pria yang sangat mencintaimu, dan kamu cuma wanita yang paling aku puja."
Mereka berdua menghabiskan hari-hari berikutnya dengan kebebasan yang penuh cinta. Mereka berjalan beriringan di pinggir pantai saat matahari terbit, berpegangan tangan seolah tak ingin terpisah sedetik pun. Mereka berenang bersama di air yang jernih, tertawa lepas saat ombak kecil membasahi tubuh mereka. Seringkali Arkan akan memetik kelapa muda, membelah sendiri dengan pisau, lalu menyodorkan air segar itu ke bibir Nara dengan senyum manja.
Malam-malam mereka di pulau itu bahkan lebih indah lagi. Vila tempat mereka menginap dibangun di atas tiang-tiang kayu tepat di atas permukaan air laut, dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke samudra luas. Di bawah cahaya bulan purnama yang terang benderang, diiringi suara deburan ombak yang menenangkan, cinta mereka bersatu kembali dalam kelembutan dan gairah yang tak pernah habis.
Arkan selalu memanjakan istrinya dengan perhatian penuh. Setiap sentuhannya penuh rasa syukur, setiap ciumannya penuh rasa memiliki. Ia akan membaringkan Nara di atas kasur empuk, menatapnya lekat-lekat seolah ingin menghafal setiap lekuk wajah dan tubuh itu selamanya.
"Kamu tahu?" bisik Arkan di sela-sela ciuman yang turun dari leher hingga ke dada, tangannya bergerak lembut menyusuri kulit halus yang membuatnya selalu gila rindu. "Dulu aku berpikir kekayaan dan kekuasaan adalah segalanya. Tapi sekarang, aku sadar... melihatmu tersenyum, mendengar tawamu, dan merasakanmu ada di pelukanku seperti ini... inilah kekayaan sesungguhnya."
Nara memeluk leher suaminya erat, kakinya melingkar di pinggang Arkan, menyambut setiap gerakan yang menyatukan mereka menjadi satu. "Aku juga begitu, Arkan. Dulu aku cuma gadis desa yang takut dan rendah diri. Tapi kamu mengubah segalanya. Kamu mengajarkanku arti berharga, arti dicintai. Aku tidak butuh apa-apa lagi selain kamu."
Di pulau itu, di tengah surga dunia yang sunyi itu, mereka merajut benang-benang kasih yang semakin kuat, semakin dalam, dan semakin tak terputuskan.
Dua minggu berlalu begitu cepat, seolah waktu berlari lebih cepat karena kebahagiaan yang meluap-luap. Saat hari kepulangan tiba, hati mereka berat untuk meninggalkan tempat indah itu, tapi mereka tahu, rumah sejati mereka bukanlah tempat, melainkan kebersamaan mereka.
Sesampainya kembali di rumah besar di kota, suasana terasa berbeda. Nara merasa tubuhnya sedikit lebih lelah dari biasanya, mudah mengantuk, dan kadang-kadang merasa mual di pagi hari. Awalnya ia mengira itu hanya kelelahan akibat perjalanan, tapi hari demi hari gejala itu semakin jelas.
Arkan yang selalu teliti dan perhatian, mulai mencurigai sesuatu. Ia melihat Nara yang sering memegang perutnya, yang nafsu makannya berubah-ubah, dan payudaranya yang terasa lebih sensitif.
Suatu pagi, saat Arkan baru saja selesai mandi dan hendak berpakaian, ia melihat Nara duduk di tepi tempat tidur, wajahnya pucat sedikit tapi matanya berbinar aneh. Di tangannya, ada sebuah kotak kecil berisi alat tes kehamilan yang baru saja ia beli pagi-pagi sekali.
Arkan langsung berlutut di depan istrinya, tangannya gemetar memegang tangan Nara.
"Sayang... sudah... sudah ada hasilnya?" tanyanya pelan, suaranya terdengar cemas namun penuh harap.
Nara mengangguk pelan, air mata bahagia mulai menggenang di matanya. Ia mengangkat benda kecil itu, memperlihatkan dua garis merah yang terlihat jelas dan tegas.
"Arkan... lihat ini..." suaranya bergetar dan parau karena menahan tangis bahagia. "Kita... kita akan punya anak..."
Hening sejenak. Arkan menatap garis merah itu, lalu menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata. Detik berikutnya, raut wajah pria itu berubah drastis. Matanya membelalak lebar, mulutnya terbuka sedikit, lalu senyum terbesar, paling lebar, dan paling bahagia yang pernah ada tersungging di bibirnya. Tanpa kata, ia langsung menarik tubuh Nara ke dalam pelukan paling erat, paling kuat, dan paling hangat yang pernah ia berikan. Ia memeluknya seolah tak ingin melepaskan, mencium seluruh wajah, kening, mata, dan bibir istrinya bertubi-tubi dengan penuh kegembiraan.
"Ya Tuhan... terima kasih... terima kasih banyak..." gumam Arkan berulang kali, suaranya terdengar serak dan penuh emosi. "Anak kita... ada di dalam sana... ada buah cinta kita... Nara... kamu hebat sekali... kamu luar biasa..."
Arkan melepaskan pelukannya sedikit, lalu berlutut kembali, kali ini ia menundukkan kepalanya ke arah perut istrinya yang masih rata dan belum terlihat berubah. Ia menempelkan telinganya di sana, seolah sudah bisa mendengar detak jantung kecil di dalamnya.
"Halo, Nak... ini Ayah..." bisik Arkan lembut, matanya berkaca-kaca. "Ayah janji... Ayah akan jadi ayah terbaik sedunia. Ayah akan melindungimu, melindungi Ibumu. Kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan buat kami. Kami sangat mencintaimu, sebelum kamu lahir pun kami sudah sangat mencintaimu."
Nara mengusap rambut suaminya dengan lembut, hatinya terasa penuh dan bahagia tak terlukiskan. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan seindah ini. Dari gadis desa yang kesepian, kini ia menjadi istri yang dicintai luar biasa, dan sebentar lagi menjadi ibu dari anak pria yang paling ia cintai di dunia.
Arkan berdiri kembali, lalu mengangkat tubuh Nara dan memutarnya berputar-putar di udara karena kegembiraannya yang meluap.
"Kita harus kabari semua orang! Kita harus siapkan segalanya! Aku akan panggil dokter terbaik, aku akan ubah kamar sebelah jadi kamar bayi yang paling indah dan aman! Aku akan belikan baju-baju kecil, mainan, semuanya! Apapun yang kamu mau, apapun yang kamu pengen makan, sebut saja, Sayang! Aku akan cari sampai dapat, meski harus ke ujung dunia!"
Nara tertawa bahagia sambil memeluk leher suaminya. "Pelan-pelan dulu, Suamiku... bayinya baru seumur jagung, belum besar begini. Tapi terima kasih... terima kasih sudah sebahagia ini karena aku dan anak kita."
Arkan menurunkan Nara perlahan, lalu menatapnya lekat-lekat dengan tatapan yang penuh rasa syukur dan tanggung jawab besar. Ia mengecup bibir istrinya lama dan dalam, penuh rasa hormat dan cinta.
"Kamu adalah nyawaku, Nara. Kamu berikan aku kebahagiaan yang tak pernah aku mimpikan. Dulu aku pikir puncak kebahagiaanku saat kamu mau jadi istriku. Tapi ternyata... ini baru permulaan. Keluarga kita baru saja dimulai."
Hari itu, rumah besar itu berubah menjadi pesta kebahagiaan yang sederhana namun luar biasa hangat. Arkan memberi tahu berita ini kepada Pak Wijaya, kepada orang tua Nara, dan semua orang terdekat, suaranya selalu bergetar penuh bangga setiap kali mengucapkan kalimat: "Sebentar lagi aku akan punya anak."
Malam itu, Arkan membaringkan Nara dengan sangat hati-hati dan lembut di atas kasur. Ia berbaring di sampingnya, memeluknya dengan posisi yang aman agar tidak menekan perut istrinya. Tangannya tidak pernah lelas mengusap perut itu dengan lembut, seolah sedang menyentuh harta paling berharga.
"Istirahatlah, Ibu Kecilku..." bisik Arkan lembut sambil mengecup pipi Nara yang mulai terlihat lebih bersinar. "Tidurlah yang nyenyak. Aku akan jaga kalian berdua. Selamanya."
Nara memejamkan matanya dengan senyum damai di bibirnya. Di dalam pelukan suaminya, mendengar detak jantung yang selalu menenangkannya, ia tahu bahwa masa depan mereka akan cerah, indah, dan penuh berkah. Badai sudah lewat, ujian sudah terlewati, dan kini tinggal kebahagiaan abadi yang menanti mereka berdua, dan kelak bertiga.
Bersambung...