"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zaskia Kesurupan
“Astaghfirullahaladzim!”
Zaskia memekik pelan sambil menoleh cepat ke belakang. Namun, tak ada siapa-siapa di sana.
Napasnya tercekat.
Kosong.
Hanya kamar mandi dengan cahaya lampu redup dan suara tetesan air dari keran.
Zaskia mengucek matanya berkali-kali lalu menepuk pelan kedua pipinya.
“Kayaknya aku halusinasi...” gumamnya lirih dengan napas tidak beraturan. “Astaghfirullah... kenapa mimpinya aneh banget sih? Kenapa harus Diki coba?”
Ia menelan ludah susah payah.
Setelah beberapa detik berusaha menenangkan diri, Zaskia kembali membasuh wajahnya lalu buru-buru keluar dari kamar mandi.
Namun baru saja membuka pintu—deg!
Tubuhnya langsung membeku.
Di sofa kamarnya, sosok yang duduk di sana bukan Zaid.
Melainkan Diki.
Sosok yang sama seperti di dalam mimpinya.
Masih mengenakan kain jarik. Masih menatapnya sambil tersenyum tipis menyeramkan.
Zaskia spontan mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur pintu kamar mandi.
Sementara di kenyataan—Zaid yang sejak tadi duduk di sofa langsung panik melihat ekspresi kakaknya berubah pucat.
“Kak?”
“Jangan mendekat!” teriak Zaskia gemetar.
Zaid langsung berdiri. Jantungnya ikut berdebar melihat kondisi kakaknya yang tampak ketakutan setengah mati.
“Kak... ini aku, Zaid.”
Namun di mata Zaskia, yang mendekat justru sosok Diki.
Makin dekat. Makin menyeramkan.
Tubuh Zaskia melemas hingga akhirnya ia terduduk di depan pintu kamar mandi sambil menangis. Napasnya memburu kacau.
“Tolong jangan ganggu aku... pergi... pergi!”
“Kak, kakak kenapa sih?” suara Zaid mulai panik. “Ini Zaid!”
“Tolong jangan ke sini! Aku bukan pengantinmu!”
Ucapan itu membuat bulu kuduk Zaid meremang.
Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Kak... sadar, Kak!” Meski takut, Zaid tetap memberanikan diri mendekat. Ia berjongkok di depan Zaskia lalu mengguncang pelan lengan kakaknya.
“Kak, ini Zaid. Kakak lihat apa sih? Sadar, Kak!”
Zaskia tercengang.
Suara itu... Suara Zaid terdengar begitu jelas di telinganya. Padahal tadi ia tidak melihat adiknya sama sekali.
“Kak... ya Allah...” suara Zaid mulai bergetar. “Kakak kenapa?”
Dengan tangan gemetar, Zaskia perlahan menurunkan kedua telapak tangannya dari wajah.
Tatapannya bergerak liar ke seluruh kamar.
Kosong.
Tak ada Diki. Tak ada siapa-siapa selain Zaid yang kini menatapnya penuh khawatir.
“Z-Zaid...?”
“Iya, Kak. Ini Zaid.”
Seolah menemukan cahaya di tengah gelap, Zaskia langsung memeluk adiknya erat.
“Kamu kenapa tinggalin kakak?” tangisnya pecah. “Kakak takut banget...”
Zaid membalas pelukan itu canggung namun hati-hati.
“Zaid gak ke mana-mana, Kak. Dari tadi juga di sini.”
“Enggak...” suara Zaskia melemah. “Kakak tadi gak lihat kamu...”
“Terus kakak lihat siapa?”
Zaskia menggigit bibir bawahnya.
Ia tak tau harus menjelaskan bagaimana.
Semua terasa terlalu nyata.
Mimpi itu. Sentuhan dingin itu. Tatapan menyeramkan itu.
Sampai sekarang pun bayangannya masih membuat tubuhnya gemetar.
“Kak?”
“Kakak gapapa...” Zaskia mengusap cepat air matanya lalu memaksakan senyum tipis. “Kayaknya cuma kecapean.”
Zaid jelas tidak percaya. Ia memperhatikan wajah pucat kakaknya dengan cemas. “Cerita aja sama Zaid, Kak.”
Zaskia menggeleng pelan.
Ia malu.
Bagaimana cara menjelaskan kalau dirinya bermimpi menikah dengan Diki lalu hampir kehilangan kewarasan karena merasa sosok itu muncul di dunia nyata?
“Yaudah...” Zaid akhirnya mengalah. “Tapi Zaid temenin kakak malam ini.”
Zaskia menatap adiknya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Zaid membantu kakaknya berdiri lalu menuntunnya menuju ranjang.
“Kamu tidur sini aja, Za.”
“Kakak yakin?”
“Iya.”
“Kakak udah mendingan?”
Zaskia mengangguk kecil. “Iya... makasih ya.”
“Zaid khawatir banget tau. Gak biasanya kakak kayak gini.”
Zaskia tertawa kecil meski hambar. “Cie... biasanya ngajak ribut mulu.”
“Ya Allah, mulai lagi dah,” gerutu Zaid membuat suasana sedikit mencair.
Namun setelah itu kamar kembali hening.
Zaskia merebahkan tubuhnya perlahan.
Sementara Zaid duduk bersandar di sisi ranjang dengan posisi tetap menjaga batas sebagai adik laki-laki.
Lampu kamar diredupkan.
Tetapi mata Zaskia belum bisa terpejam.
Pikirannya masih dipenuhi sosok Diki. Kenapa ia bisa bermimpi seperti itu? Padahal ia sama sekali tidak pernah memikirkan laki-laki itu sebelumnya.
Dan yang paling membuatnya takut— kenapa semuanya terasa begitu nyata?
***
Keesokan harinya, suasana kelas berjalan seperti biasa.
Zaskia duduk di bangkunya sambil memperhatikan dosen yang tengah menjelaskan materi. Jemarinya bergerak lincah mencatat beberapa poin penting di buku tulis.
Meski wajahnya tampak tenang, sebenarnya kepalanya masih terasa berat akibat kejadian tadi malam.
“Zaskia...”
Mendengar namanya dipanggil, Zaskia menoleh ke samping.
“Ren, lo manggil gue ya?” tanyanya pada Rena yang duduk di sebelahnya.
Rena mengernyit bingung. “Nggak, Ki.”
“Oh...” Zaskia tersenyum tipis canggung. “Kayaknya gue salah denger.”
“Lo kurang tidur ya?”
“Dikit.”
Rena mengangguk santai lalu kembali fokus pada dosen.
Sementara Zaskia kembali menatap ke depan.
Namun—“Zaskia... pengantinku.”
Kali ini suara itu terdengar sangat jelas. Tepat di belakang telinganya.
Bulu kuduk Zaskia langsung berdiri.
Dengan jantung berdegup cepat, ia perlahan menoleh ke belakang.
Di sana tatapannya tidak sengaja bertemu dengan Diki, laki-laki yang sudah tidak memakai kacamata itu lalu tersenyum ramah pada Zaskia. Zaskia tak membalas senyumannya. Melihat Diki, ingatannya langsung kembali pada mimpi yang ia alami tadi malam.
Gadis itu langsung ilfeel begitu melihat wajah Diki.
Kembali menatap ke depan. Zaskia dikejutkan dengan sosok Diki yang tadi malam ia temui.
"Kamu mencariku, ya?"
Zaskia terbelalak tubuhnya membeku seketika. Sosok yang mencondongkan wajahnya tepat itu depan wajah Zaskia itu lalu tersenyum manis. Hembusan nafas yang keluar dari rongga hidung sosok tersebut sangat dingin.
"Jangan ganggu dia, dia milikku." Datang sosok lain yang juga mirip dengan Diki berada di sampingnya.
Zaskia kian terguncang. Mengapa Diki ada di mana-mana?
"Aku yang lebih dulu menemukannya."
"Tapi aku juga menyukai gadis ini." Sosok yang baru saja datang itu tiba-tiba memeluk Zaskia, membuat gadis itu mendadak kesulitan bernafas.
“Kia?” Suara Rena terdengar samar.
Namun Zaskia sudah kehilangan fokus.
Sosok-sosok itu kini seperti berada di mana-mana.
Mengelilinginya. Menyentuhnya.
“Aaaa! Pergi!” Zaskia menjerit sambil menutup telinga. “Pergi dari sini! Jangan ganggu aku!”
Seketika seisi kelas gempar.
“Kia?!”
“Ya Allah, kenapa dia?”
“Pak, kayaknya Zaskia kesurupan!”
Mahasiswa yang lain langsung bangkit panik menjauh dari tempat duduk mereka.
Rena mencoba memegang bahu Zaskia. “Kia, sadar, Kia!”
Namun Zaskia malah mengusap-usap lengannya sendiri seolah ada sesuatu yang menempel di kulitnya.
“Jangan sentuh aku! Pergi!”
Dosen yang sejak tadi terdiam akhirnya mendekat dengan wajah panik.
“Zaskia, coba tenang—”
Brak!
Zaskia memukul meja keras hingga semua orang tersentak.
“Aaaa! Tolong!”
Air matanya jatuh deras.
Lalu tiba-tiba—bugh.
Tubuhnya limbung dan jatuh pingsan di meja.
Suasana kelas langsung hening beberapa detik.
“Udah keluar jinnya?”
“Beneran pingsan?”
“Kia?” Dosen itu mengguncang pelan lengan Zaskia.
Namun tiba-tiba—Zaskia menegakkan kepalanya perlahan.
Matanya kosong.
Tatapannya lurus ke depan tanpa fokus. Semua orang refleks mundur.
Bahkan Diki ikut menelan ludah gugup.
Tanpa mengatakan apa pun, Zaskia berdiri. Lalu berjalan perlahan menuju Diki.
“Kia...?” Rena memanggil takut.
Namun Zaskia tak merespons.
Sesampainya di depan Diki—bruk!
Ia mendorong laki-laki itu keras ke tembok.
“WOY!”
“Tarik, tarik!”
“Ya Allah!”
Diki melotot kaget.
Namun di balik keterkejutannya, ada sesuatu di matanya yang justru tampak antusias.
Zaskia menatap bibir Diki tanpa berkedip. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya.
“Eh, eh, eh!”
“Jangan sampai dicium!”
"Tarik woy!"
Saat bibir Zaskia hampir menyentuh Diki—seseorang tiba-tiba menarik tubuh gadis itu kuat ke belakang.
“ZASKIA!” Suara berat penuh emosi itu menggema di kelas.
Aryan.
Zaskia diam saja. Tatapannya kosong mengarah pada aryan yang menatapnya khawatir.
"Kamu kenapa? Hei, Kia!"
Zaskia tiba-tiba melepas kerudungnya. Ia melempar kain penutup kepalanya ke sembarang tempat. Hal itu membuat semua orang melotot kaget..
"Astaghfirullah, Kia!" Lantaran panik aurat gadis itu jadi tontonan, Aryan pun terpaksa memeluk kepala zaskia guna menutupi rambutnya.
"Pak, itu gimana? Bapak malah nontonin!"
"Ya saya juga gak tau! Saya gak ngerti masalah ginian!"
“Tolong ambilin kerudungnya!” seru Aryan.
Seorang mahasiswi buru-buru mengambil kerudung Zaskia yang jatuh di lantai lalu memberikannya pada Aryan.
Namun baru saja ingin dipasangkan—Zaskia memberontak.
Ia melepaskan diri dari Aryan lalu kembali mendekati Diki.
Sama seperti tadi.
Ia kembali ingin mencium laki-laki itu.
Aryan membeku sesaat. Rahangnya mengeras.
Dan detik berikutnya—plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Zaskia.
Semua orang terkejut. “Ya Allah!”
Aryan sendiri tampak menyesal sesaat setelah melakukannya. “Maafin kakak, Kia...”
Namun tamparan itu berhasil membuat tubuh Zaskia lemas tak sadarkan diri.
Beruntung Aryan sigap menangkap tubuh gadis itu sebelum jatuh ke lantai.
“Tolong pasangin kerudungnya,” ucap Aryan pelan dengan napas berat.
Mahasiswi tadi kembali membantu memasangkan kerudung Zaskia dengan tangan gemetar.
Sementara Aryan—tatapannya perlahan beralih pada Diki.
Tajam. Dingin. Penuh kecurigaan.
Apa pun yang terjadi pada Zaskia... Aryan yakin semuanya pasti ada hubungannya dengan laki-laki itu.
Dan Diki yang menyadari tatapan tersebut langsung membuang muka sebelum buru-buru keluar dari kelas.
***
Kelopak mata Zaskia bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka.
Pandangannya masih buram. Namun samar-samar ia melihat sosok seorang gadis yang tengah menatapnya penuh khawatir sekaligus lega.
“Kia...”
Zaskia mengembuskan napas panjang. Kepalanya terasa berat.
Matanya bergerak pelan ke samping, mendapati Rena berdiri di sisi brankar.
Kini ia sadar dirinya berada di ruang kesehatan kampus. Tubuhnya terbaring di ranjang dekat jendela dengan aroma obat-obatan yang samar tercium.
“Gimana keadaan lo?” tanya Rena pelan.
Zaskia mengernyit bingung. “Memangnya gue kenapa?” suaranya masih serak. “Kok gue ada di sini?”
Rena menghela napas pelan. Ia sudah menebak bahwa Zaskia tidak menyadari apa-apa.
“Lo tadi kesurupan... terus pingsan.”
Mata Zaskia langsung melebar. “Ha?”
Ia spontan bangkit setengah duduk sebelum kepalanya kembali terasa pening.
Kesurupan?
Bagaimana mungkin?
Pikirannya langsung riuh.
Sedikit demi sedikit ingatannya kembali pada kejadian di kelas tadi.
Suara-suara itu.
Sosok menyerupai Diki.
Tatapan dingin.
Pelukan yang membuatnya sesak.
“Astaghfirullahaladzim...” Zaskia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Rena makin khawatir melihat reaksinya. “Lo gapapa kan?”
Zaskia menarik napas panjang lalu memaksakan diri mengangguk. “Iya... gue gapapa.”
Meski sebenarnya ia sendiri tidak yakin.
“Tadi ada kakak tingkat yang bawa lo ke sini,” lanjut Rena. “Dia khawatir banget sama lo.”
Zaskia menoleh cepat. “Kakak tingkat?”
“Iya.” Rena mengangguk semangat. “Sebelum gue datang, dia yang nungguin lo terus dia nitipin lo ke gue sampai dia balik.”
“Siapa emang?”
“Gue gak kenal.” Rena berpikir sejenak. “Tapi dia ganteng banget. Tinggi, rambut lurus, pake kaos sama kemeja gitu... terus punya lesung pipi.”
Zaskia langsung terdiam.
Lesung pipi.
Aryan.
“Gak mungkin Kak Aryan...” gumamnya dalam hati.
Sementara itu—di tempat lain.
Aryan kembali memasuki kelas Zaskia dengan langkah cepat dan wajah dingin.
Sejak pagi tadi ia memang sudah berniat mengawasi keadaan Zaskia setelah melihat gelagat aneh Diki kemarin.
Namun siapa sangka, saat ia datang ke gedung fakultas, justru ia mendapati Zaskia dalam kondisi seperti tadi.
Dan semakin dipikirkan—semuanya terasa janggal.
Tatapan Diki. Ekspresinya.
Reaksinya saat Zaskia bertingkah aneh.
Aryan yakin laki-laki itu menyembunyikan sesuatu.
Tanpa banyak bicara, Aryan langsung menghampiri Diki lalu menarik kerah bajunya kasar.
“Heh—!” Diki terkejut bukan main.
“Eh, eh! Itu Diki mau diapain?”
“Itu kakak tingkat yang nolongin Zaskia tadi kan?”
“Lah iya! Kayaknya marah banget.”
“Kok bisa segitunya sih?”
“Pacarnya Zaskia kali.”
“Eh tapi sumpah, dia ganteng banget anjir...”
“Woy fokus! Diki dibawa ke mana tuh?”
Suara gaduh mahasiswa mengiringi langkah Aryan yang menyeret Diki keluar kelas tanpa peduli apa pun.
“Lepasin gue!” bentak Diki sambil memberontak.
Namun Aryan tetap diam.
Rahangnya mengeras. Tatapannya tajam penuh amarah.
Ia membawa Diki menuju belakang gedung fakultas—tempat yang jarang dilewati mahasiswa karena dekat danau buatan kampus.
Sesampainya di sana—bruk!
Aryan menghempaskan tubuh Diki kasar ke tanah.
“Ulah lo kan?” suaranya rendah namun penuh tekanan.
Diki langsung panik.
Tangannya gemetar meremas tanah di sampingnya.
“Lo apain dia?!” bentak Aryan lagi sambil menarik kerah baju Diki.
“Gue udah bilang sama lo...” napas Aryan memburu emosi, “jangan pernah ganggu dia, bangsat!”
Tubuh Diki terguncang saat Aryan mencengkeramnya kuat.
Namun diam-diam, tangan Diki bergerak menggenggam tanah halus.
Lalu—bruk!
Ia melempar tanah itu ke wajah Aryan.
“Sialan lo!” Aryan refleks melepaskan cengkeramannya saat debu masuk ke mata.
Diki tak menyia-nyiakan kesempatan.
Ia menendang kaki Aryan hingga laki-laki itu jatuh tersungkur.
Kemudian buru-buru bangkit hendak kabur.
Namun baru beberapa langkah—“ARGH!”
Kakinya tiba-tiba ditarik kuat dari belakang.
Aryan.
Meski matanya perih, laki-laki itu masih mencengkeram pergelangan kaki Diki erat.
“Lepasin gue, anjing!” Diki panik sambil menghentak-hentakkan kaki.
“Gue gak salah apa-apa!” teriaknya.
“Lo bohong!” bentak Aryan. “Zaskia gak pernah kayak gitu sebelumnya!”
Aryan menarik kaki Diki semakin kuat hingga laki-laki itu kembali jatuh.
“Apa yang terjadi sama dia pasti ada hubungannya sama lo!”
“ARRGGH!”
Diki kembali menggenggam tanah lalu melemparkannya lagi ke wajah Aryan.
Kali ini cengkeraman Aryan benar-benar lepas.
Dengan napas memburu, Diki langsung bangkit dan berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat itu.
Ia bahkan tak berani kembali ke kelas.
Sementara Aryan terduduk sambil meringis menahan perih di matanya.
Setelah beberapa detik, ia bangkit lalu berjalan tergesa menuju pinggir danau.
Ia berjongkok dan membasuh wajahnya berkali-kali menggunakan air danau.
Matanya memerah. Rambut depannya ikut basah. Namun pikirannya jauh lebih kacau dibanding rasa sakit di matanya.
Diki jelas mencurigakan. Dan Aryan tidak akan tinggal diam.
Kalau sampai kejadian tadi terulang lagi— dia sendiri yang akan menghajar laki-laki itu.
Setelah memastikan penglihatannya sedikit membaik, Aryan akhirnya berjalan menuju ruang kesehatan.
Pintu ruangan terbuka pelan.
Rena dan Zaskia spontan menoleh bersamaan.
Melihat Zaskia sudah sadar membuat napas Aryan terasa jauh lebih lega.
Namun sebelum ia sempat bicara—mata Zaskia langsung melebar.
“Kak Aryan?”