"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Badai di Jantung Kalimantan
Jet pribadi Andra yang berwarna hitam dop meluncur rendah di atas kanopi hutan Kalimantan yang rapat. Di bawah sana, pepohonan raksasa berusia ratusan tahun tampak seperti hamparan karpet hijau yang tak berujung. Namun, pemandangan alam yang asri itu tidak sedikit pun mengalihkan perhatian Andra. Ia berdiri di tengah ruang komando jetnya, menatap layar hologram yang menampilkan pemindaian termal area di bawah mereka.
[Ding! Inang mendekati koordinat Sektor 0.] [Peringatan: Gangguan elektromagnetik terdeteksi. Sistem navigasi konvensional tidak berfungsi.] [Status: Mengaktifkan Mata Quantum Sistem untuk menembus kamuflase.]
"Tuan, radar pesawat mulai kacau. Kita terbang buta jika hanya mengandalkan instrumen standar," lapor Sang Jagal yang sudah mengenakan baju zirah taktis berbahan kevlar-titanium. Di tangannya, ia memegang senapan elektromagnetik terbaru hasil pengembangan laboratorium pribadi Andra.
"Gunakan frekuensi Sistem," perintah Andra pendek. "Aktifkan Protokol Pendaratan Siluman. Aku tidak ingin kedatangan kita disambut oleh rudal pencari panas."
Seketika, seluruh lampu di dalam jet itu berubah menjadi merah redup. Bagian luar pesawat mulai membiaskan cahaya di sekitarnya, membuatnya hampir tidak terlihat oleh mata telanjang maupun radar. Jet itu mendarat secara vertikal di sebuah celah sempit di tengah hutan, di mana sebuah pangkalan rahasia—yang tidak tercatat di peta dunia mana pun—berada.
Begitu pintu pesawat terbuka, udara lembap dan aroma tanah basah langsung menyergap. Suara serangga hutan yang bising mendadak berhenti, seolah-olah alam pun tahu bahwa predator paling berbahaya baru saja menginjakkan kaki di sana.
Andra melangkah turun, mengenakan jubah hitam panjang yang dilengkapi dengan serat sensorik cerdas. Di belakangnya, dua belas pengawal elit bergerak dalam formasi berlian, senjata mereka siap menyalak kapan saja.
"Sistem, petakan area ini sejauh lima kilometer," bisik Andra.
[Pemindaian Selesai. Struktur Bawah Tanah Ditemukan.] [Kedalaman: 500 Meter di bawah akar pohon.] [Tanda Kehidupan: Seratus personel manusia... dan satu entitas non-manusia dengan energi ungu.]
"Erwin..." gumam Andra. Ia bisa merasakan getaran energi yang sangat ia kenal, namun kini getaran itu terasa jauh lebih liar, penuh amarah, dan haus darah.
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Burung-burung beterbangan dengan panik. Dari balik pepohonan raksasa, sesosok bayangan melesat dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal.
BOOM!
Salah satu pengawal elit Andra terpental hingga menabrak pohon besar hingga hancur berkeping-keping. Sebelum yang lain sempat bereaksi, bayangan itu berhenti tepat di tengah lingkaran mereka.
Itu adalah Erwin. Tapi tidak ada lagi jejak Erwin yang pengecut dan lemah. Tubuhnya kini setinggi dua meter lebih, kulitnya pucat kebiruan dengan urat-urat ungu yang bercahaya di bawah kulit. Tangannya telah berubah menjadi cakar tajam yang meneteskan cairan korosif. Matanya merah menyala, menatap Andra dengan kebencian yang sudah mendarah daging.
"An... dra..." suara Erwin terdengar seperti gesekan logam yang berkarat. "Lihat... apa yang kau... perbuat... padaku..."
Andra menatap mantan sahabatnya itu tanpa ekspresi. Tidak ada rasa kasihan, tidak ada rasa takut. "Aku tidak memberimu kekuatan itu, Erwin. Kamu yang memilih untuk menjadi monster demi dendammu yang tidak berguna."
"Dendam ini... adalah hidupku!" raung Erwin.
Dengan satu lompatan dahsyat, Erwin melesat ke arah Andra. Kecepatannya melampaui batas penglihatan manusia. Sang Jagal mencoba menembakkan senapan elektromagnetiknya, namun Erwin menghindar di udara dengan lincah, lalu menendang Sang Jagal hingga terlempar puluhan meter.
Erwin mendarat tepat di depan Andra, cakarnya siap merobek leher sang miliarder. Namun, tepat sebelum cakar itu menyentuh kulitnya, sebuah perisai energi transparan muncul, memercikkan bunga api listrik saat berbenturan dengan cakar Erwin.
[Ding! Mode Pertahanan Aktif.] [Analisis Musuh: Unit Pemangsa Tipe-A.] [Kelemahan: Inti Energi di dada kiri. Efektivitas Serangan Fisik: 12%.]
"Hanya segini kekuatan yang diberikan organisasi itu padamu?" tanya Andra. Ia mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, sebuah perangkat kecil mulai berputar cepat, mengumpulkan energi biru dari Sistem. "Izinkan aku menunjukkan padamu apa perbedaan antara monster eksperimen dan pemilik takdir."
Andra melepaskan tembakan energi kinetik murni. Ledakan itu begitu kuat hingga menciptakan gelombang kejut yang meratakan pepohonan di sekitar mereka. Erwin terlempar ke belakang, menabrak tebing batu hingga retak. Namun, karena regenerasi selnya yang gila, Erwin bangkit kembali dalam hitungan detik. Luka di dadanya menutup secara otomatis dengan asap ungu yang mengepul.
"Lagi! Berikan aku lagi!" Erwin tertawa gila. Ia tidak lagi merasakan sakit, hanya rasa lapar akan kehancuran.
"Jagal, bawa timmu masuk ke pangkalan bawah tanah itu. Cari siapa yang bertanggung jawab atas eksperimen ini," perintah Andra tanpa menoleh. "Monster ini adalah urusanku."
"Tapi Tuan, dia terlalu berbahaya!" teriak Sang Jagal sambil terbatuk, mencoba bangkit.
"Pergilah. Kalian hanya akan menjadi penghambat di sini," ucap Andra dingin.
Saat pengawalnya bergerak menuju pintu masuk rahasia, Erwin mencoba mengejar mereka, namun Andra dengan cepat muncul di depan Erwin menggunakan Blink Drive—teknologi teleportasi jarak pendek dari Sistem. Andra menghantamkan tinjunya yang telah diperkuat energi ke rahang Erwin.
KRAKK!
Rahang Erwin hancur, namun ia justru membalas dengan mencengkeram bahu Andra dan melemparkannya ke udara. Di ketinggian, Erwin melompat dan menghujani Andra dengan pukulan bertubi-tubi. Keduanya bertarung di udara, berpindah-pindah dari satu dahan pohon ke dahan lainnya dengan kecepatan yang hanya bisa ditangkap oleh kamera high-speed.
Setiap benturan mereka menciptakan suara ledakan yang menggelegar di tengah hutan Kalimantan. Andra menyadari bahwa Erwin tidak bertarung sendirian; ada seseorang yang mengendalikan gerakan Erwin dari jauh, mengoptimalkan setiap gerak refleksnya.
"Sistem, lakukan hacking pada sinyal kontrol musuh!" perintah Andra saat ia terdesak di bawah himpitan Erwin.
[Memulai Interupsi Sinyal... 10%... 35%...] [Peringatan! Enkripsi Musuh Sangat Kuat. Membutuhkan Waktu 60 Detik!]
"60 detik? Itu terlalu lama," gumam Andra. Ia merasakan cakar Erwin mulai menembus perisai energinya. Cairan ungu dari tubuh Erwin mulai membakar jubah mahalnya.
Tiba-tiba, dari kegelapan hutan, suara tawa digital yang pernah didengar Andra di telepon kembali terdengar. Suara itu dipancarkan melalui speaker-speaker tersembunyi di pepohonan.
"Nikmati hadiahmu, Andra. Ini adalah hasil dari Benih yang kau miliki. Jika kau tidak bisa mengalahkan bayanganmu sendiri, kau tidak layak memiliki Sistem itu," ucap suara pria bertopeng perak itu.
Erwin semakin beringas. Ia memegang kepala Andra dan menghantamkannya ke tanah dengan kekuatan berton-ton. Tanah amblas sedalam dua meter. Erwin mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mengumpulkan seluruh energi ungu di cakarnya untuk serangan penghabisan.
"Mati... mati... MATI!" teriak Erwin.
Tepat saat cakar itu akan menghujam jantung Andra, mata Andra berubah menjadi emas murni. Seluruh saldonya yang tak terbatas seolah terbakar menjadi energi yang memuakkan.
[Ding! Mode 'Overdrive' Diaktifkan!] [Mengonsumsi Rp 10 Triliun Saldo untuk Menghasilkan Serangan Skala 'Divine'.]
"Cukup permainannya, Erwin," bisik Andra.
Sebuah ledakan cahaya putih keluar dari tubuh Andra, menyelimuti seluruh area hutan itu. Suara raungan Erwin mendadak hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Cahaya itu begitu terang hingga satelit-satelit di luar angkasa pun menangkap kilatannya di tengah pulau Kalimantan.
Saat cahaya itu meredup, Andra berdiri di tengah kawah besar yang tercipta. Erwin terbaring di depannya, tubuh monsternya hancur sebagian, dan ia kembali ke wujud manusianya yang kurus kering dan mengenaskan, namun masih bernapas tersengal-sengal.
Andra mendekat, menatap Erwin yang sekarat. "Kamu bahkan tidak berguna sebagai monster, Erwin."
Tiba-tiba, tanah di tengah kawah itu terbuka, menelan Erwin ke bawah sebelum Andra sempat menghabisinya. Sebuah lift cepat membawanya masuk ke kedalaman bumi.
"Tuan! Kami menemukan jalan masuk!" suara Sang Jagal terdengar dari alat komunikasi.
Andra menatap lubang yang baru saja tertutup itu. "Aku datang. Dan kali ini, aku akan meratakan seluruh tempat ini."
Andra melompat masuk ke dalam lubang gelap itu, mengejar musuhnya ke jantung konspirasi yang sesungguhnya. Ia tahu, di bawah sana, bukan hanya Erwin yang menunggunya, tapi jawaban atas segala rahasia Sistem yang ada di kepalanya.