NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

One Night Stand?

Satura berdiri di dekat wastafel, berdampingan dengan ibunya. Lengan bajunya digulung, kedua tangannya sibuk mencuci piring di air hangat yang berbusa.

Suara tawa dan obrolan terdengar samar dari ruang tengah. Vandini sedang sama anak-anak, yang sibuk menunjukan gambar mereka pada Dannur.

Suara denting piring dan peralatan makan memenuhi keheningan di antara ia dan Marria saat mereka bekerja sama, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.

Akhirnya, Satura memecah kebisuan. "Bu," mulainya, suaranya pelan dan ragu. "Aku tahu... aku udah ngaco semua hal. Sama Vandini, sama anak-anak. Aku lagi berusaha berubah, tapi kadang aku merasa apa yang aku lakuin ini masih kurang."

Marria menoleh. Ada ketenangan dan kasih sayang di sorot matanya saat menyerahkan piring yang sudah dibilas.

"Butuh proses, Nak," jawabnya lembut menenangkan. "Dan kamu udah ada di sini, mau berusaha. Itu udah langkah ke arah yang bener."

Satura mengangguk, mengelap piring itu dengan kain. Matanya terpaku pada gerakan tangannya sambil menyusun kata-kata.

"Cuma... aku nggak mau dia merasa nggak bisa percaya lagi sama aku, Bu. Aku udah pernah ngecewain dia dulu, dan aku pengen dia liat kalau aku... udah beda sekarang."

Ia berhenti sejenak. Rasanya ada yang menyumbat di tenggorokan saat berusaha meluapkan apa yang terpendam. Mereka memang jarang bahas hal ini secara gamblang, tapi Satura tahu ibunya pasti mengerti makna di balik ucapannya.

Marria pun pernah merasakan hal serupa, melihat ayahnya datang dan pergi, selalu tampil percaya diri dan memikat, namun menyimpan banyak rahasia. Pengkhianatan yang tersembunyi, kekecewaan yang numpuk bertahun-tahun di rumah itu, ternyata turut membentuk diri Satura.

Bayang-bayang yang selama ini ia coba hindari, tapi justru kini ia takut terjerumus ke dalamnya. Dan sekarang, lebih dari apa pun, ia ingin keluar dari lingkaran itu.

Marria terdiam sejenak, tangannya tetap lihai membasuh piring satu per satu. Akhirnya ia bicara, suaranya lembut namun tegas.

"Satura, perubahan itu bukan sesuatu yang bisa dibuktiin dalam sehari atau beberapa bulan aja. Ini soal konsistensi, soal kehadiran, dan perhatian sama hal-hal kecil buat orang yang kamu sayang."

Ia menyerahkan piring lain, menatap lurus ke mata anaknya. "Ayahmu... dia nggak pernah belajar hal itu. Tapi kamu bisa."

Kata-kata itu menggantung di udara, sarat akan makna yang tak terucapkan. Satura merasakan dadanya kembali sesak. Namun dari tatapan ibunya, ia menemukan kekuatan yang mengingatkan kalau ia bisa jadi sosok yang beda.

Satura menelan ludah, mengangguk pelan saat menerima piring itu. Tekadnya perlahan menguat.

"Makasih, Bu. Aku tahu butuh waktu, tapi... aku pengen Vandini tahu aku ada di sini buat dia. Buat anak-anak. Bukan cuma sesaat, tapi... buat jangka panjang."

Wajah Marria pun melunak. Senyum tipis terukir di bibirnya saat ia mengulurkan tangan, menepuk bahu anak laki-lakinya itu.

"Ibu yakin kamu bisa, Satura. Dan Ibu rasa, lama-lama Vandini juga bakal sadar kok. Cukup ada di sana, tunjukin kalau dia nggak sendirian, dia nggak harus pikul semuanya sendirian."

Mereka menyelesaikan cucian itu dalam diam. Suara tawa keluarga di ruang tengah berpadu dengan tekad yang kian bulat di hati Satura.

Saat mengelap piring terakhir dan menaruhnya di rak, Satura merasa jauh lebih mantap.

Ia berjanji pada diri sendiri untuk membangun lagi apa yang pernah hancur, menjadi sosok pria yang dibutuhkan Vandini, dan ayah yang pantas didapatkan oleh anak-anaknya.

...***...

Keesokan harinya, di kediaman Vandini.

Vandini bersandar di meja dapur sambil memegang gelas anggur. Mereka menikmati sisa makan malam karena anak-anak sudah tidur. Suasana menjadi hening dan kehadiran Dahlia membuatnya merasa tenang.

Dahlia menyesap minumannya lalu menatap Vandini lekat-lekat.

"Terus, kamu sebenarnya gimana kabarnya? Maksud aku, semuanya," tanya Dahlia pelan tapi tajam.

Vandini terdiam. Jarinya memutar gelasnya. Mereka sudah berteman terlalu lama untuk saling membohongi. Kali ini Vandini membiarkan perasaannya keluar.

"Aneh banget," jawab Vandini pelan. "Aku sama Satura udah sepuluh tahun, Lia. Selama ini aku nggak pernah ngelirik atau nyentuh orang lain. Tapi sekarang... udah berbulan-bulan kita nggak... kamu tahu lah."

Dahlia mengangguk mengerti. "Sejak terakhir kali kalian masih ada keintiman?"

Vandini menghela napas panjang lalu tertawa getir. "Iya. Dan yang paling parah, kadang malam-malam aku kangen banget. Kangen kedekatan dan sentuhan itu. Tubuhku rasanya masih butuh banget, tapi hatiku nggak sanggup lagi kalau dia nyentuh aku."

Dahlia menyentuh bahu sahabatnya itu. "Wajar kok, Van. Kamu boleh kok kangen bagian itu dari dia meskipun sisanya udah hancur. Itu manusiawi."

Vandini menahan air mata. "Aku bingung cara pisahin perasaan ini. Kadang aku mikir mau luluh aja, biarin dia deket lagi. Tapi pas ingat apa yang dia lakuin sama cewek itu ... rasanya kita nggak ada artinya sama sekali." Suaranya pecah menahan frustrasi.

Dahlia mengusap bahunya erat. "Dia nyakitin kamu, keterlaluan. Luka itu sembuhnya butuh waktu. Nggak apa-apa kok kalau sekarang kamu belum tahu harus ngerasa apa."

Vandini mengangguk lemas. "Aku nggak tahu masih bisa percaya atau nggak biar dia sedekat dulu. Tapi kadang... aku masih pengen. Rasanya aku terbelah jadi dua, bagian yang butuh dia, sama bagian yang tahu kalau aku nggak boleh."

Dahlia meneguk habis anggur-nya lalu menatap Vandini dengan senyum usil. Ia mencondongkan badan.

"Van, tahu nggak menurut aku? Menurut aku, kamu perlu cari selingan atau one night stand aja deh."

Vandini terbelalak kaget lalu tertawa tak percaya. "Dahlia! Aku nggak bisa gitu dong... Mana mungkin?"

Dahlia mengangkat bahu. "Kenapa enggak? Dengerin, kamu berhak marah atau sedih. Tapi bukan berarti kamu harus terpuruk terus kan? Kamu berhak bahagia dan ingat kalau kamu itu wanita yang masih menarik dan cantik."

Wajah Vandini memerah. Ide itu terdengar gila tapi juga menggiurkan. Sudah lama ia tak merasa diinginkan selain sebagai ibu atau istri.

"Aku bahkan nggak tahu mulai dari mana. Soalnya udah sepuluh tahun lamanya. Kayaknya udah lupa caranya," celetuk Vandini.

"Ah, masa sih?" Dahlia melambaikan tangan santai. "Kamu cantik dan percaya dirimu besar banget. Anggap aja kalau kamu itu kamu, bukan cuma 'istrinya Satura'. Kamu pantes merasa diinginkan. Kalau Satura nggak bisa, ya cari orang lain yang bisa."

Vandini menggigit bibir memikirkan tawaran itu. Terlihat berisiko tapi juga terasa bebas.

"Entahlah..." ucapnya pelan, masih ragu, tapi ada percikan harapan di sana.

Setelah Dahlia pulang, Vandini menuangkan anggurnya lagi. Pikirannya terus berputar mengingat ucapan sahabatnya.

Ide itu terdengar asing tapi menggoda. Satura kan sudah melakukannya duluan. Dia mencari pelarian di pelukan orang lain tanpa rasa bersalah. Dia bisa memisahkan seks dari cinta.

Pipi Vandini memanas. Ada tarik-ulur aneh di dadanya, rindu sentuhan tapi juga marah besar. Ia merindukan kedekatan dengan pria, tapi juga murka karena Satura telah menghancurkan sesuatu yang sakral itu.

Bisakah ia melakukan hal yang sama?

Mengambil apa yang ia butuhkan tanpa harus membuka hati?

Atau ... mungkin pakai Satura saja?

Satura sering bilang, 'Telepon aku kalau butuh apa-apa, Van. Aku ada buat kamu.' Mungkin itu jawabannya. Sekadar hubungan badan singkat supaya ia bisa merasa hidup lagi. Bukankah itu adil membalasnya dengan cara yang sama?

Tangannya sudah menggenggam ponsel, tapi akhirnya ia menggeleng. Ia tak sanggup menelepon untuk hal itu. Terlalu rumit dan menyakitkan. Berada di ranjang yang sama dengannya sekarang terasa aneh.

Vandini menegak habis anggur-nya. Rasa hangat menjalar tapi perih masih tertinggal. Ia meletakkan ponsel, mematikan lampu, lalu naik ke kamar.

Ia berbaring sendirian. Seprai terasa dingin dan kamar sangat sunyi. Vandini bertanya-tanya, adakah cara memisahkan hasrat dari luka yang masih menganga?

Rindu dan amarah bercampur jadi satu hingga membuatnya sesak.

1
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!