Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISTEM SOPLAK
"Suka? Kalau suka, aku akan beli seluruh tokonya dan pindahkan ke mansion Belmont," ucap Aron, santai.
Uhuk
Uhuk
Rania tersedak, saat mendengar ucapan asbun Aron
"Jangan gila! Aku hanya bilang enak, bukan ingin jadi juragan permen!" seru Rania, kesal.
Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah stan yang menjual pernak-pernik kerajinan tangan, tiba-tiba Aron berhenti dan mengambil sebuah jepit rambut berbentuk bunga melati yang terbuat dari perak murni.
"Ini cocok untukmu," ucap Aron, pelan.
Tanpa meminta izin, Aron langsung memasangkannya di rambut Rania, di samping hiasan bulan sabitnya.
"Aron, aku bukan pajangan toko yang bisa kamu hias sesukamu," keluh Rania, membiarkan tangan Aron menyentuh rambutnya.
"Kamu bukan pajangan, kamu adalah pusat duniaku," jawab Aron dengan nada suara yang tiba-tiba serius, menatap tepat ke mata biru jernih Rania.
Deg
Jantung Rania berdegup kencang, dia segera membuang muka, pura-pura tertarik pada gantungan kunci di depannya.
"Gombalanmu sudah kadaluwarsa, Yang Mulia," ucap Rania, ketus.
"Tapi pipimu bilang sebaliknya, Rania," goda Aron, tertawa puas melihat telinga Rania yang memerah.
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari kencang dan tidak sengaja menabrak kaki Aron hingga es krim di tangan anak itu tumpah ke jubah hitam sang Kaisar.
Bruk
Suasana mendadak senyap, para pedagang yang melihat kejadian itu langsung pucat pasi, walaupun mereka tidak tahu pria berbaju hitam itu adalah Kaisar mereka, tapi mereka yakin dai bukan orang sembarangan dari caranya membawa diri.
"Hiks... m-maaf Tuan... aku tidak sengaja..." tangis anak kecil itu ketakutan.
Aron menatap jubahnya yang kotor, matanya sempat berkilat dingin, monster di dalamnya sedikit meronta karena rasa tidak nyaman. Namun, sebelum Aron sempat bicara, Rania sudah lebih dulu berjongkok di depan anak itu.
"Hey, jangan menangis. Bajunya bisa dicuci, kok," ucap Rania lembut, mengusap air mata anak itu.
"Aron, jangan berani-berani mengeluarkan aura menakutkan mu itu, dia hanya anak kecil," ucap Rania menoleh ke arah Aron dengan tatapan tajamnya.
"Baiklah, pawangku. Aku tidak akan marah," jawab Aron menghela napas panjang, berusaha menekan kembali egonya.
Aron kemudian merogoh sakunya dan memberikan lima koin emas kepada anak itu.
"Pergilah beli es krim yang baru, dan lain kali, lari ke arah yang benar, jangan ke arah ku," ucap Aron, datar.
"Terimakasih Tuan," ucap anak kecil itu, tidak menolak.
Anak itu langsung lari kegirangan setelah berterima kasih.
"Ternyata kamu tidak seburuk yang aku kira," ucap Rania menepuk-nepuk bahu Aron.
"Hanya jika kamu yang memintanya," jawab Aron, menarik tangan Rania dan menggenggamnya erat, tidak membiarkan gadis itu lepas lagi.
"Aron, orang-orang melihat-"
"Biarkan saja," ucap Aron tidak perduli, berjalan membelah keramaian pasar dengan tangan yang terpaut erat.
Ding
"Indikator Kiamat 8%."
"Dunia aman terkendali. Letnan, sepertinya misi balas dendammu akan sedikit terhambat oleh jadwal kencan yang padat."
"Tapi harus tetap waspada, suasana hati Kaisar sering berubah-ubah, apalagi kalau ada orang yang berani lancang kepada nya."
"Seperti biasa, cara nya hanya satu, selalu peluk dan cium kaisar sesering mungkin."
"Sistem diam! Atau aku akan benar-benar mencium pria ini di depan umum agar kamu puas!" batin Rania yang sudah benar-benar pasrah.
Ding
"Lakukan sekarang!"
"Hadiah infomasi tentang siapa Ayah kandung viola yang sebenarnya."
"Tidak tertarik, untuk apa aku mencari tahu tentang mantan suami si gundik itu," batin Rania tidak tertarik.
Rania mendengus, berusaha mengabaikan sistem yang semakin lama semakin tidak masuk akal itu, tangan nya ditarik oleh Aron menuju sebuah jembatan kecil yang melintasi sungai di ujung pasar.
Di sana, suasana sedikit lebih tenang karena jauh dari keramaian pedagang.
Aron berhenti di tengah jembatan, membiarkan tangannya tetap menggenggam jemari Rania, sambil menatap aliran air di bawah mereka dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Kenapa diam saja?" tanya Rania sambil menyikut pelan pinggang Aron.
Aron menoleh, sedikit menunduk agar bisa menatap wajah Rania dengan lebih jelas.
"Aku hanya sedang berpikir, bagaimana bisa gadis sekecil ini punya keberanian untuk memarahi Kaisar di depan umum gara-gara seorang anak kecil," ucap Aron, terkekeh geli.
"Karena status Kaisar tidak memberimu hak untuk menindas yang lemah, Aron," jawab Rania datar, melepaskan genggaman tangan Aron lalu bersandar pada pagar jembatan.
"Kamu benar, itulah kenapa aku butuh kamu di sampingku," ucap Aron ikut bersandar di samping Rania, membuat bahu mereka bersentuhan.
"Agar saat aku lupa cara menjadi manusia, ada tangan kecil yang menjewer telingaku," lanjut Aron, melirik Rania
Rania terkekeh pelan, membayangkan dirinya benar-benar menjewer telinga sang Kaisar Iblis di depan para petinggi istana.
"Kalau aku benar-benar melakukan itu, mungkin besok kepalaku sudah digantung di gerbang istana," ucap Rania, tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak akan ada yang berani menyentuh sehelai rambutmu pun selama aku masih bernapas," jawab Aron dengan nada yang sangat serius, membuat suasana santai itu mendadak berubah menjadi tegang.
Rania merasa dadanya bergejolak lagi, dia benci betapa mudahnya pria ini mengubah suasana hatinya.
Ding
"Peringatan, ada seseorang putri Raja yang sangat terobsesi dengan Kaisar Aron, dan saat ini sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak Kaisar Aron."
"Peristiwa ini akan memicu amarah Kaisar Aron dan indikator kiamat kemungkinan besar akan naik drastis."
"Cium pipi kaisar sekarang untuk mendapatkan nama Putri Raja yang ingin menjebak Aron nanti saat pesta yang akan di lakukan di kerajaan Bone."
"Sialan! Sistem ini benar-benar mak comblang terselubung!" maki Rania dalam hati, melirik Aron yang masih menunggunya bicara.
Rania dilema, antara mengikuti perintah sistem atau mengabaikan nya, tapi jujur dia merasa tidak rela kalau hal itu sampai terjadi pada Kaisar gila itu.
"Aron, tutup matamu sebentar," ucap Rania tiba-tiba, suaranya sedikit gemetar.
"Untuk apa? Kamu mau mendorongku ke sungai?" tanya Aron menaikkan satu alisnya, tampak curiga namun juga penasaran.
"Sudah tutup saja! Jangan banyak tanya!" sentak Rania, menyembunyikan rasa malunya di balik sifat galak nya.
Aron akhirnya menurut, pria itu memejamkan matanya, berdiri tegak dengan senyum miring yang tetap terlihat menyebalkan di mata Rania.
"Jangan lama-lama, Nona Melati, aku tidak sabar menunggu kejutan mu," ucap Aron, tersenyum miring.
Hah....
Rania menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang dia punya, lalu dia berjinjit perlahan, tangannya mencengkeram jubah hitam Aron agar tidak terjatuh.
Cup
Sebuah kecupan singkat namun hangat mendarat di pipi kanan Aron.
Rania segera menjauhkan wajahnya, namun sebelum dia bisa melarikan diri, tangan Aron dengan secepat kilat sudah melingkar di pinggangnya, menariknya kembali hingga tubuh mereka merapat.
suwun thor crazy upnya, matrehat thor