NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

POV: RIANI

Riani membaca balasan Wahyu itu empat kali sebelum benar-benar yakin bahwa dia tidak salah membacanya.

"Aku tidak tahu cara melakukan ini dengan baik. Mendekat ke orang lain. Membiarkan seseorang dekat. Tapi aku... tidak ingin kamu pergi."

Dia duduk di kasurnya, ponsel di tangan, ruangan di sekitarnya terasa seperti berhenti bergerak.

Wahyu mengirim itu.

Wahyu yang selama berbulan-bulan membangun tembok, mendorong orang pergi, menjawab sapaan dengan satu kata, dan menolak setiap bentuk kedekatan—mengirim pesan itu.

Riani memejamkan mata sebentar.

Lalu mengetik tiga kata yang sudah dia tahu sejak tadi adalah satu-satunya jawaban yang benar.

"Aku tidak kemana-mana, Wahyu."

Send.

Dia meletakkan ponsel di sampingnya, berbaring di kasur, menatap langit-langit.

Jantungnya berdegup dengan cara yang aneh—bukan kencang seperti panik, tapi dalam dan stabil, seperti sesuatu yang akhirnya menemukan temponya yang tepat.

Ini bukan momen dramatis seperti di film—tidak ada hujan yang tiba-tiba turun, tidak ada musik yang mengalun, tidak ada kata-kata puitis yang dilontarkan. Hanya dua orang yang bertukar pesan singkat di malam biasa setelah hari yang luar biasa.

Tapi justru itu yang membuatnya terasa nyata.

Riani tidak tidur sampai lewat tengah malam.

Bukan karena menunggu Wahyu membalas—setelah pesannya tadi, tidak ada lagi pesan yang masuk, dan itu tidak apa-apa. Riani tidak butuh lebih. Yang sudah terucap malam ini sudah cukup besar untuk satu hari.

Tapi karena pikirannya terlalu aktif untuk tidur.

Dia memikirkan perjalanan dua bulan lebih ini—dari sapaan pertama yang diabaikan di koridor kampus satu, sampai malam ini ketika Wahyu mengakui dengan caranya sendiri bahwa Riani berarti sesuatu untuknya.

Jauh. Perjalanannya jauh.

Dan Riani tahu mereka belum sampai.

Karena "aku tidak ingin kamu pergi" bukan "aku suka kamu". Karena Wahyu yang masih dalam proses membangun kembali kepercayaannya bukan Wahyu yang sudah siap untuk semuanya. Karena ada dua minggu lagi menuju sidang putusan yang bisa mengubah segalanya—atau tidak mengubah apa pun.

Ada banyak hal yang belum selesai.

Tapi untuk malam ini, Riani membiarkan satu hal yang sederhana itu cukup: Wahyu tidak ingin dia pergi.

Dan dia tidak akan kemana-mana.

Rabu pagi, Riani menghadiri kelas Manajemen Pemasaran dengan pikiran yang lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Seperti sebuah tegangan yang sudah sangat lama ada akhirnya menemukan resolusinya—bukan selesai, tapi setidaknya tidak lagi menggantung tanpa arah.

Setelah kelas, dia keluar bersama Amel yang langsung menangkap sesuatu.

"Ri, kamu dari tadi senyum-senyum sendiri."

Riani tidak menyangkal. "Apakah itu melanggar hukum?"

"Nggak. Tapi mencurigakan." Amel menatapnya dengan serius. "Ada apa?"

Riani berpikir sebentar. "Ada sesuatu yang... mulai jelas."

"Sesuatu atau seseorang?"

Riani hanya tersenyum dan tidak menjawab.

Amel mendengus tapi tidak mengejar—dia sudah cukup kenal Riani untuk tahu kapan untuk tidak push.

Di kantin siang harinya, Riani, Karin, dan Dinda makan bersama. Karin langsung tahu ada yang berbeda begitu melihat ekspresi Riani.

"Cerita," kata Karin tanpa basa-basi—persis seperti Senin lalu.

Riani mengusap wajahnya. "Kamu selalu bisa baca aku."

"Karena aku sudah kenal kamu lama. Cerita."

Riani menceritakan pesan Wahyu semalam—dengan hati-hati, tidak berlebihan, hanya garis besarnya.

Dinda menghentikan suapan di tengah jalan. "Wahyu bilang dia tidak mau kamu pergi?"

"Kurang lebih."

"WAHYU. Yang dua bulan lalu hampir bilang kamu stalker di minimarket?"

"Dia tidak bilang aku stalker—"

"Tapi hampir. Dan sekarang dia bilang tidak mau kamu pergi?" Dinda meletakkan sendoknya dengan dramatis. "Ri, ini character development terbaik yang pernah aku saksikan secara langsung."

Karin yang lebih tenang berkata, "Ri, bagaimana perasaanmu sekarang?"

Riani memikirkan pertanyaan itu dengan serius. "Lega. Senang. Tapi juga... sadar bahwa ini baru permulaan. Wahyu belum bilang apa yang sebenarnya dia rasakan secara eksplisit. Dan aku tidak akan assume."

"Bijak," Karin mengangguk.

"Tapi juga sedikit frustrasi," Riani menambahkan jujur. "Karena aku sudah tahu apa yang aku rasakan. Dan menunggu seseorang yang prosesnya selambat Wahyu itu... tidak selalu mudah."

"Tidak mudah tapi worth it?" tanya Karin.

Riani menatap sahabatnya.

"Tanya aku lagi nanti."

Kamis sore, Riani ada di perpustakaan ketika ponselnya bergetar.

Pesan dari Wahyu.

Wahyu: "Kamu di kampus?"

Riani: "Di perpus kampus 1. Kenapa?"

Wahyu: "Bisa ketemu sebentar setelah kamu selesai? Ada yang ingin aku bilang."

Riani menatap pesan itu.

Ada yang ingin aku bilang.

Jantungnya langsung tidak normal.

Riani: "Bisa. Aku selesai sekitar jam 5. Di mana?"

Wahyu: "Taman kampus. Bangku yang biasa."

Bangku yang biasa.

Mereka sudah punya bangku yang "biasa". Riani tidak sadar sampai Wahyu menyebutnya.

Riani: "Oke. Aku ke sana jam 5."

Wahyu tidak membalas lagi.

Riani meletakkan ponsel dan mencoba kembali fokus ke tugasnya.

Tidak berhasil sepenuhnya.

Pukul lima kurang sepuluh, Riani sudah mengemas barangnya di perpustakaan. Dia turun, keluar dari gedung, berjalan menuju taman kampus.

Hari itu cuacanya bagus—tidak terlalu panas, angin bertiup sedang, langit biru dengan beberapa awan tipis yang bergerak perlahan.

Wahyu sudah ada di sana.

Duduk di bangku yang sama dari minggu lalu—sudut taman, di bawah pohon rindang, menghadap ke jalur pedestrian yang tenang. Tasnya di lantai di sisi kakinya. Tangannya terletak di pahanya, postur tubuhnya lebih rileks dari yang biasanya Riani lihat.

Dia melihat Riani datang dari jauh dan tidak mengalihkan pandangan.

Riani berjalan mendekat, duduk di sampingnya dengan jarak yang sudah tidak perlu dipikirkan lagi—cukup dekat untuk berbicara pelan, cukup dekat untuk menjadi familiar.

"Hei," sapa Riani.

"Hei."

Hening sebentar. Tapi bukan hening yang tidak nyaman.

"Ada yang mau kamu bilang?" Riani memulai pelan.

Wahyu menatap ke depan—ke arah jalur pedestrian, ke pohon-pohon, ke langit yang mulai keemasan. Cara yang biasa dia lakukan ketika sedang mengumpulkan kata-kata.

Riani menunggu.

"Semalam setelah sidang," Wahyu mulai, suaranya pelan dan terukur, "aku duduk di kamar dan memikirkan banyak hal. Tentang ayahku. Tentang kasus ini. Tentang bagaimana rasanya setelah delapan tahun akhirnya ada titik terang."

Riani mendengarkan.

"Dan di tengah semua itu, hal yang paling jelas di pikiranku bukan tentang sidang." Wahyu berhenti sebentar. "Tapi tentang kamu."

Riani tidak bergerak.

"Aku tidak terbiasa dengan itu," lanjut Wahyu. "Memikirkan seseorang bukan karena mereka membutuhkan sesuatu dariku atau sebaliknya. Tapi hanya karena..." Dia berhenti lagi. Mencari kata yang tepat. "Hanya karena mereka ada. Dan keberadaan mereka itu terasa... penting."

Angin bertiup pelan, menggerakkan dedaunan di atas mereka.

Wahyu akhirnya menoleh, menatap Riani langsung.

"Aku tidak tahu apa artinya itu dengan pasti. Aku tidak terbiasa mengidentifikasi hal-hal seperti ini." Suaranya tetap pelan tapi ada sesuatu di sana yang tidak ada biasanya—kerentanan yang tidak dia sembunyikan. "Tapi aku tahu bahwa aku tidak ingin membiarkan sesuatu yang mungkin penting berlalu tanpa aku akui."

Riani menatap Wahyu.

Matanya tidak menghindar. Tidak waspada. Tidak menganalisis ancaman.

Hanya... menatap Riani. Dengan semua yang ada di baliknya.

"Wahyu," Riani berkata pelan.

"Apa?"

"Boleh aku bilang sesuatu yang sudah lama ingin aku bilang?"

Wahyu mengangguk.

Riani menarik napas.

"Aku suka kamu."

Tiga kata. Sederhana. Tapi beratnya terasa penuh di udara di antara mereka.

"Bukan karena aku kasihan. Bukan karena aku mau jadi pahlawan untuk seseorang yang terluka. Tapi karena aku kenal kamu, Wahyu. Dan orang yang aku kenal itu—yang serius dengan tujuan hidupnya, yang peduli sama keluarganya sampai melupakan dirinya sendiri, yang belajar percaya lagi meskipun setiap instingnya bilang jangan—orang itu adalah seseorang yang aku sukai dengan sepenuhnya."

Wahyu tidak berkata apa-apa.

Tapi dia tidak mengalihkan pandangan.

"Aku tidak butuh kamu langsung jawab sekarang," lanjut Riani. "Aku tidak butuh kamu bilang sesuatu yang belum siap kamu bilang. Tapi aku perlu kamu tahu, karena menyimpannya sendiri sudah terlalu lama."

Wahyu masih menatapnya.

Lalu, sangat pelan, dia berbicara.

"Aku juga menyukaimu."

Kalimat itu keluar bukan seperti pengakuan yang dramatis—lebih seperti seseorang yang akhirnya mengucapkan dengan keras sesuatu yang sudah lama ada tapi tidak pernah diberi nama.

"Tapi aku tidak tahu bagaimana melakukan ini dengan benar," lanjutnya, nadanya lebih pelan dari sebelumnya. "Aku tidak punya referensi. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi... apa yang seseorang butuhkan."

Riani menggeleng pelan. "Aku tidak butuh kamu sempurna. Aku tidak butuh kamu tahu semua jawabannya sekarang."

"Tapi kamu butuh sesuatu yang aku tidak yakin bisa aku berikan."

"Apa?"

Wahyu melihat ke samping—bukan menghindar, tapi seperti sedang mempertimbangkan seberapa jujur dia akan menjadi.

"Konsistensi," jawabnya akhirnya. "Aku tidak selalu bisa ada. Ada malam-malam ketika aku terlalu tenggelam dalam semuanya untuk bisa—"

"Wahyu." Riani memotong, tapi lembut. "Kamu sudah konsisten selama berbulan-bulan tanpa menyadarinya. Setiap kali kamu balas pesanku. Setiap kali kamu tidak pergi meskipun instingmu bilang pergi. Setiap kali kamu hadir—benar-benar hadir—itu sudah konsistensi."

Wahyu menatapnya lagi.

"Aku takut," ujarnya. Jujur. Tanpa lapisan.

"Aku tahu."

"Orang yang aku percaya selalu pergi."

"Aku tahu itu juga."

"Lalu kenapa kamu—"

"Karena aku bukan mereka." Riani menatap Wahyu dengan tatapan yang tidak goyah. "Dan karena satu-satunya cara untuk membuktikan itu adalah dengan waktu. Bukan dengan kata-kata. Jadi beri aku waktu itu."

Hening panjang.

Langit di atas mereka sudah benar-benar keemasan sekarang, matahari hampir menyentuh cakrawala di kejauhan.

Wahyu menarik napas panjang.

"Pelan-pelan," ujarnya akhirnya.

Riani tersenyum—senyum yang kecil tapi penuh.

"Pelan-pelan."

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!