Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: DINDING KACA YANG RETAK
Pagi itu, apartemen di lantai teratas tersebut terasa seperti sebuah peti es yang membeku.
Tidak ada suara denting spatula, tidak ada aroma kopi yang biasanya menjadi penanda kehidupan dimulai.
Laluna terbangun dengan mata sembab dan kepala yang berdenyut hebat. Ia tidak keluar dari kamar hingga ia yakin suara lift pribadi yang membawa Reihan ke kantor sudah terdengar menjauh.
Ia melangkah ke ruang tengah dan menemukan sebuah pemandangan yang tak terduga.
Di atas meja makan, ada sebuah map cokelat besar dan sebuah kotak perhiasan kecil yang terbuka. Di dalamnya bukan berlian atau emas, melainkan sebuah kunci perak dengan gantungan berbentuk donat kecil yang sangat sederhana, kontras dengan kemewahan tempat itu.
Laluna mendekat dan membuka map tersebut. Isinya adalah dokumen kepemilikan sebuah ruko kecil di kawasan strategis yang tidak jauh dari apartemen.
Di atas dokumen itu, ada secarik memo dengan tulisan tangan Reihan yang tajam dan tegas:
"Jika kau berpikir aku hanya menginginkan ahli waris, aku tidak akan repot-repot memberimu tempat untuk membangun duniamu sendiri. Ruko ini atas namamu, bukan atas nama Arta Wiguna. Ini bukan bagian dari kontrak. Gunakan untuk 'Khay'."
Laluna terduduk lemas di kursi.
Dadanya sesak oleh campuran rasa bersalah dan kebingungan. Di satu sisi, Reihan memperlakukannya seperti aset yang harus dijaga, namun di sisi lain, pria itu memberinya sayap untuk terbang.
Apakah ini cara Reihan meminta maaf? Ataukah ini cara lain untuk "membelinya" agar tetap bungkam tentang rahasia keluarga?
Ponsel Laluna bergetar. Sebuah panggilan dari nomor kantor Reihan. Ia mengira itu Reihan, namun suara di seberang sana adalah Dimas, asistennya, yang terdengar panik.
"Nyonya Laluna, mohon maaf mengganggu. Tuan Reihan... beliau mengalami kecelakaan kecil di lobi kantor. Seorang pengunjuk rasa dari aliansi buruh yang kecewa dengan kebijakan merger perusahaan melempar sesuatu. Tuan Reihan terluka di bagian lengan, tapi beliau menolak dibawa ke rumah sakit dan malah mengunci diri di ruang kerja."
Laluna merasakan jantungnya mencelos. Tanpa pikir panjang, ia menyambar tasnya.
"Aku akan ke sana sekarang, Dimas. Pastikan tidak ada media yang melihat."
Selama perjalanan menuju kantor pusat Arta Wiguna, pikiran Laluna berkecamuk. Ia menyadari satu hal yang menakutkan, meskipun ia marah, meskipun ia curiga, ia tidak tahan membayangkan Reihan terluka.
Gedung Arta Wiguna menjulang tinggi seperti menara gading. Laluna masuk melalui pintu belakang yang sudah dijaga oleh Dimas. Lift membawanya langsung ke lantai eksekutif.
Suasana di sana sangat tegang, para sekretaris tampak berbisik-bisik dan beberapa petugas keamanan berdiri sigap.
"Di dalam, Nyonya," bisik Dimas sambil membukakan pintu kayu jati yang besar.
Di dalam ruangan yang sangat luas itu, Reihan duduk di balik meja kerjanya yang masif. Kemeja putihnya ternoda darah di bagian lengan kiri, dan pecahan kaca berserakan di lantai dekat jendela besar yang retak.
Pria itu tampak sangat pucat, namun matanya tetap menatap layar monitor dengan intensitas yang mengerikan.
"Keluar, Dimas. Aku sudah bilang aku tidak butuh dokter," bentak Reihan tanpa menoleh.
"Ini bukan dokter, Reihan," suara Laluna bergetar.
Reihan tersentak.
Ia menoleh dan ekspresi kerasnya sedikit melunak saat melihat Laluna berdiri di sana dengan kotak P3K yang ia bawa dari rumah.
"Kenapa kau di sini? Ini bukan tempatmu," ucap Reihan, mencoba kembali ke mode "Ice King"-nya.
Laluna tidak menjawab. Ia melangkah maju, melewati pecahan kaca, dan berdiri tepat di samping kursi Reihan.
Dengan gerakan lembut namun tak terbantahkan, ia meraih lengan kiri Reihan yang terluka. Sebuah robekan cukup dalam akibat lemparan botol kaca terlihat di sana.
"Ruko itu..." Laluna berbisik sambil mulai membersihkan luka Reihan dengan alkohol.
"Kenapa kau memberikannya padaku setelah kita bertengkar hebat semalam?"
Reihan membuang muka, rahangnya mengeras menahan perih.
"Karena aku benci melihatmu menangis di depan pria lain atau merasa terhimpit oleh keadaan. Jika kau punya tempat sendiri, kau punya pilihan. Dan aku ingin kau tetap di sini karena kau memilih, bukan karena kau terpaksa."
Laluna tertegun.
Kapas di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap Reihan, mencari kebohongan di mata elang itu, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang menyakitkan.
"Kau memberikan pilihan padaku, sementara kakekmu memberikan tuntutan padamu," ucap Laluna.
"Reihan, soal ahli waris itu... apakah itu benar-benar syaratnya?"
Reihan menghela napas panjang, kepalanya bersandar pada sandaran kursi.
"Ya. Kakek ingin memastikan stabilitas dinasti. Dan Danu, sepupuku, sedang menunggu aku melakukan satu kesalahan saja agar dia bisa mengambil alih."
"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Karena aku tidak ingin kau merasa seperti mesin penghasil anak!" suara Reihan meninggi, namun segera merendah.
"Aku ingin pernikahan ini meskipun diawali dengan kontrak, menjadi sesuatu yang nyata di matamu. Tapi ibuku benar tentang satu hal, duniaku kotor, Laluna. Dan aku sedang mencoba menjagamu agar tidak ikut kotor."
Laluna menyelesaikan perban di lengan Reihan. Ia tidak melepaskan tangan pria itu, melainkan menggenggamnya erat. "Dunia ini memang kotor, Reihan. Tapi di dapur kita, aromanya selalu manis. Jangan biarkan mereka menang."
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Clarissa melangkah masuk dengan wajah cemas yang dibuat-buat, namun ia langsung membeku saat melihat Laluna sedang memegang tangan Reihan dengan mesra.
"Reihan! Oh tuhan, kau terluka!" Clarissa berlari mendekat, mengabaikan keberadaan Laluna.
"Aku sudah bilang padamu untuk meningkatkan pengamanan. Dan kau... kenapa kau ada di sini?" Clarissa menatap Laluna dengan hinaan.
Reihan berdiri, menarik Laluna ke belakang punggungnya. "Dia adalah istriku, Clarissa. Dia ada di sini karena ini adalah tempatnya. Sekarang, silakan keluar. Aku punya urusan pribadi yang harus diselesaikan dengan istriku."
Clarissa ternganga.
"Tapi Reihan, rapat dengan investor-"
"Batalkan. Atau biarkan Danu yang menanganinya jika dia merasa mampu," potong Reihan dingin.
Setelah Clarissa pergi dengan kekalahan telak, Reihan berbalik menghadap Laluna. Ia menatap wajah istrinya lama, seolah sedang menghafal setiap inci ekspresinya.
"Ruko itu... kau akan menerimanya?" tanya Reihan pelan.
Laluna tersenyum kecil, senyuman yang kali ini mencapai matanya. "Aku akan menerimanya. Tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Jangan pernah lagi mengha
dapi badai sendirian. Aku mungkin hanya seorang baker, tapi aku tahu cara menangani panasnya api," jawab Laluna.
Reihan menarik Laluna ke dalam pelukannya, kali ini tanpa kekerasan, tanpa nafsu yang terburu-buru. Hanya sebuah pelukan hangat di tengah kantor yang dingin dan retak. Namun, di balik pintu, mereka tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengambil foto mereka, seorang kaki tangan Danu yang siap menggunakan kedekatan mereka untuk menghancurkan kontrak rahasia itu di depan dewan komisaris.