NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Kebebasan Yang Sederhana

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah ventilasi sebuah kamar kos berukuran tiga kali empat meter di pinggiran kota yang bising.

Suara deru knalpot motor yang memekakkan telinga dan teriakan penjual sayur keliling menjadi alarm alami bagi Kinara.

Ia mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar yang sedikit berjamur di pojokannya—pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan plafon berukir emas dan lampu kristal mewah di mansion Arlan yang biasa ia lihat setiap kali membuka mata.

​Kinara bangkit, merenggangkan tubuhnya di atas kasur busa tipis yang terasa sedikit keras di punggungnya.

Anehnya, meski tubuhnya sedikit pegal karena tidak terbiasa tidur tanpa ranjang empuk, ia tidak merasakan beban sesak di dadanya.

Pagi ini, tidak ada lagi ketakutan akan wajah dingin Arlan yang akan menghakiminya di meja makan.

Tidak ada lagi rasa was-was apakah suaminya itu akan pulang dalam keadaan marah atau justru membawa aroma parfum wanita lain di jas mahalnya.

​"Selamat pagi, Kinara yang baru," bisiknya pada dirinya sendiri di depan cermin kecil yang baru ia beli dari pasar kaget kemarin sore.

​Ia melangkah menuju sudut ruangan yang ia sulap menjadi dapur darurat.

Hanya ada kompor gas satu tungku dan satu panci kecil yang ia bawa dari rumah lamanya—satu dari sedikit barang yang ia beli dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri sebelum menikah.

Kinara menyeduh mie instan rasa kaldu ayam makanan yang dulu sangat dilarang oleh Arlan karena dianggap tidak bergizi, murahan, dan "merusak citra" meja makan seorang CEO.

​Saat uap panas mie itu menerpa wajahnya, Kinara memejamkan mata.

Suapan pertama mie instan di pagi hari itu terasa jauh lebih mewah dan nikmat daripada steak wagyu dingin yang sering ia makan dalam kesunyian yang mencekik di meja makan Arlan.

Kebebasan ternyata memiliki rasa, dan bagi Kinara, rasanya sesederhana ini.

​Sementara itu, di sisi lain kota yang berkilauan dengan gedung-gedung pencakar langit, suasana di kantor pusat Arlan Group terasa seperti berada di dalam lemari es. Sangat dingin, kaku, dan mencekam.

​Arlan duduk di kursi kebesarannya, menatap tumpukan dokumen yang harus ia tandatangani sebelum rapat umum pemegang saham dimulai.

Namun, fokusnya buyar setiap beberapa menit.

Ia merasa ada yang salah dengan tubuhnya pagi ini. Kepalanya sedikit pening, dan perutnya terasa kembung karena semalam ia tidak bisa tidur dan melewatkan sarapan.

​Tok tok tok!

​"Masuk," jawab Arlan singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.

​Sekretarisnya, Maya, masuk dengan langkah ragu-ragu. Wajah wanita itu tampak pucat, seolah sedang bersiap untuk menghadapi badai.

Ia meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja kerja Arlan yang bersih mengkilap.

Arlan menyesap kopi itu satu kali, lalu langsung menyemburkannya kembali ke dalam cangkir dengan wajah merah padam.

​"Kopi apa ini?!" bentak Arlan hingga Maya berjengit ketakutan.

Suaranya menggelegar, membuat beberapa staf di luar ruangan mencuri dengar dengan ngeri.

​"I—itu kopi hitam tanpa gula seperti pesanan Bapak biasanya," jawab Maya dengan suara yang hampir hilang.

​"Rasanya menjijikkan! Terlalu pahit, aromanya gosong, dan teksturnya kasar! Di mana kopi yang biasanya ada di meja saya setiap jam delapan pagi?"

​Maya menelan ludah dengan susah payah.

"Maaf Pak, tapi saya baru tahu tadi pagi dari bagian pantry. Biasanya... selama tiga tahun ini, Ibu Kinara yang selalu mengantar kopi ke kantor secara diam-diam. Beliau lewat pintu belakang setiap jam delapan pagi kurang sepuluh menit. Ibu bilang Bapak tidak suka kopi buatan mesin kantor, jadi Ibu selalu membawakan kopi yang diracik sendiri dari rumah, lengkap dengan suhu yang Bapak sukai. Tapi pagi ini... Ibu tidak datang."

​Arlan tertegun.

Gelas kristal di tangannya terasa sangat berat.

Selama ini, ia pikir mesin kopi di kantornya telah ditingkatkan kualitasnya, atau Maya telah belajar cara meracik kopi dengan sempurna.

Ternyata, rasa nyaman yang ia rasakan selama tiga tahun ini bukan karena teknologi atau uang, melainkan karena tangan wanita yang baru saja ia buang seperti sampah kemarin malam.

​"Keluar," perintah Arlan dingin, suaranya kini terdengar rendah dan berbahaya.

​Setelah Maya pergi, Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mahalnya.

Ia merogoh ponselnya dari saku jas, secara refleks jarinya hendak menekan nomor Kinara untuk memarahinya karena tidak mengirim kopi.

Namun, jarinya berhenti tepat di atas kontak bernama 'Istriku'.

​Ia teringat kembali pada surat gugatan cerai yang ia remas semalam. Ia teringat pada lemari yang kosong melompong dan meja rias yang bersih tanpa sisa.

​Sial! maki Arlan dalam hati.

Ia membanting ponselnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan yang keras.

"Kamu pikir aku akan merangkak mencarimu hanya karena masalah kopi sepele ini? Jangan harap, Kinara! Kamu yang akan menyesal karena kehilangan kemewahan ini!"

​Arlan mencoba kembali bekerja, memaksa matanya membaca deretan angka yang kini tampak menari-nari di depannya.

Namun, matanya tidak sengaja melihat kalender duduk di sudut meja. Di sana, ada sebuah lingkaran merah kecil yang dibuat dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan feminin: 'Jadwal cek kesehatan lambung Arlan jam 10 pagi'.

​Tepat saat itu, jam dinding berdentang menunjukkan pukul sepuluh tepat.

Dan seperti dikomando, lambung Arlan terasa melilit hebat.

Ia lupa bahwa selama ini Kinara-lah yang selalu mengingatkannya untuk minum obat sebelum rapat besar.

Kinara-lah yang diam-diam memasukkan vitamin ke dalam tas kerjanya.

​"Kamu hanya ingin mencari perhatian, Kinara. Kamu ingin aku merasa kehilangan, kan?" gumam Arlan dengan seringai yang dipaksakan.

"Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan hidup di luar sana tanpa uang dariku. Wanita manja sepertimu tidak akan sanggup hidup susah bahkan untuk satu minggu."

​Di tempat lain, di dalam kamar kosnya yang gerah, Kinara justru sedang sibuk mencoret-coret buku catatannya dengan penuh semangat. Ia tidak memikirkan Arlan.

Ia sedang menghitung sisa uang tabungannya yang tidak seberapa dan mulai merencanakan masa depannya. Ia harus mencari pekerjaan secepat mungkin.

Apapun itu. Menjadi penulis lepas, pengajar les, atau bekerja di toko—ia tidak peduli.

​Kinara menatap jendela kecilnya. Hujan sudah reda, menyisakan aroma tanah yang segar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen yang terasa murni tanpa ada tekanan.

​"Aku tidak butuh uangmu, Arlan. Aku butuh diriku kembali," ucap Kinara tegas.

​Ia mengambil tas selempang usangnya, lalu keluar kamar untuk mulai membagikan lamaran kerja.

Di jalanan, ia harus berdesakan dengan orang-orang di dalam angkutan umum, hal yang tidak pernah ia lakukan selama tiga tahun terakhir. Tubuhnya berkeringat, kakinya terasa pegal, tapi setiap langkahnya terasa sangat ringan.

​Malam harinya, Arlan pulang ke mansion.

Untuk kedua kalinya, ia disambut oleh kegelapan.

Ia mencoba menyalakan lampu sendiri, mencoba mencari makanan di kulkas sendiri, dan berakhir dengan memecahkan piring karena ia tidak terbiasa melakukan hal-hal "kecil" seperti itu.

​Rumah itu kini tidak lagi terasa seperti istana, melainkan seperti penjara bawah tanah yang sunyi. Arlan melempar dirinya ke sofa, menatap bayangannya di TV yang mati. Ia baru menyadari satu hal: selama ini bukan Kinara yang butuh Arlan untuk hidup mewah, tapi Arlan-lah yang butuh Kinara agar hidupnya tetap berjalan normal.

​Namun, gengsi Arlan masih terlalu besar untuk mengakui bahwa ia mulai hancur tanpa wanita yang ia sebut "pengganggu" itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!