Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Waktu seperti berhenti untuk beberapa saat.
Di dalam mushola, di balik pembatas saf, Shaka menahan napasnya. Matanya terpejam.
Tangannya mencengkeram tas itu kuat-kuat sembari menunggu. Menunggu jawaban yang akan menentukan segalanya. Di luar, ustadz Haidar tetap berdiri dengan tenang.
“Saya tadi berada di dalam,” ujarnya pelan. “Sedang melaksanakan sholat malam.” Polisi itu memperhatikan mimik wajah ustadz Haidar dengan serius, mencoba membaca apa yang disampaikan oleh ustadz Haidar.
“Dan saya tidak melihat siapa pun masuk ke sini,” lanjut Ustadz Haidar tanpa ragu.
Kalimat itu keluar begitu saja dengan lancar dan meyakinkan, seolah itu memang kebenarannya. Polisi itu terdiam sejenak. Menoleh ke arah dalam mushola. Cahaya senter ditangannya kembali menyapu ke dalam mushola, tapi tidak terlalu jauh. Hanya sekilas. Tidak sampai ke sudut tempat Shaka bersembunyi.
“Baik,” ucapnya akhirnya. Ia mengangguk pelan. “Maaf sudah mengganggu, Pak.”
“Tidak apa-apa.”
Polisi itu mundur satu langkah, lalu menoleh
ke arah rekan-rekannya.
“Tidak ada di sini!” teriaknya.
Beberapa polisi lain yang berada di sekitar langsung berkumpul.
“Lanjut ke area luar!” perintahnya lagi.
“Siap!”
Langkah kaki mereka mulai menjauh. Namun sebelum benar-benar pergi, polisi itu kembali menatap Ustadz Haidar.
“Pak,” panggilnya yang membuat ustadz Haidar mengangkat wajahnya sedikit.
“Kalau Bapak melihat seseorang yang mencurigakan masuk ke sini, mohon segera hubungi kami,” ujarnya serius. Ia merogoh sakunya, lalu memberikan sebuah kartu kecil.
“Orang yang kami cari itu seorang pengedar narkoba. Cukup berbahaya.”
Ustadz Haidar menerima kartu itu, menatapnya sekilas lalu mengangguk.
“Baik. InsyaAllah.”
Polisi itu mengangguk kembali.
“Terima kasih, Pak.”
Setelah itu polisi berbalik dan bersama rekan-rekannya, perlahan meninggalkan area pondok pesantren. Malam kembali tenggelam dalam keheningannya. Angin dingin berhembus pelan dari luar mushola, membuat tirai tipis di dekat jendela bergerak perlahan. Lampu redup di langit-langit mushola masih menyala, menciptakan bayangan samar di sudut-sudut ruangan. Di balik pembatas saf, Shaka masih diam mematung. Napasnya berat. Tangannya masih mencengkeram tas itu erat erat seolah hidupnya bergantung pada benda tersebut.
Beberapa detik berlalu. Shaka mencoba mendengarkan situasi di luar mushola dari tempatnya. Tidak ada lagi suara polisi. Tidak ada lagi ancaman yang mengejarnya. Mereka telah pergi. Mereka benar-benar pergi. Shaka membuka matanya perlahan, dadanya naik turun tidak beraturan. Ia selamat. Untuk kali ini ia benar-benar selamat. Dan semua itu terjadi karena laki-laki yang tadi ia todong dengan pisau.
"Sial."
Shaka mengusap wajahnya dengan kasar, kepalanya terasa penuh. Ia tidak suka perasaan ini, ia tidak suka berutang, terlebih kepada orang asing. Pelan-pelan, Shaka berdiri dari persembunyiannya. Kakinya masih terasa lemas karena tegang yang belum sepenuhnya hilang. Kedua matanya langsung mencari sosok Ustadz Haidar. Pria itu masih berdiri tidak jauh dari pintu mushola dengan ekspresi tenang dan diam, seolah kejadian beberapa menit lalu bukan sesuatu yang besar. Padahal tadi nyawanya benar-benar terancam.
Shaka menatap pria itu untuk beberapa saat. Ia merasa bingung.
"Kenapa dia mau nolong gue?"
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Kalau jadi orang lain, mungkin dari tadi dirinya sudah diserahkan ke polisi. Apalagi setelah tahu dirinya seorang pengedar narkoba. Tapi pria ini malah berbohong demi melindunginya. Kenapa? Shaka menggertakkan rahangnya pelan. Ia tidak mau memikirkan itu. Semakin cepat pergi dari tempat ini, semakin baik. Tanpa mengatakan apa pun, Shaka langsung melangkah cepat menuju pintu mushola. Tas itu kembali disampirkan nya ke bahu. Ia hanya ingin pergi menjauh sebelum semuanya berubah buruk lagi. Namun baru beberapa langkah—
“Berhenti nak.”
Suara itu membuat langkah Shaka tertahan. Ia memejamkan matanya sebentar sementara rahangnya mengeras.
"Sial." Umpat Shaka di dalam hatinya.
Pelan-pelan ia menoleh ke belakang. Ustadz Haidar masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tampak tenang seperti sebelumnya.
“Apa lagi?” tanya Shaka dengan dingin. Nada suaranya terdengar lelah.
Ustadz Haidar melangkah pelan mendekat, tapi tetap menjaga jarak agar tidak membuat Shaka merasa terancam.
“Kamu mau pergi ke mana malam-malam begini nak?” tanya ustadz Haidar yang membuat Shaka tertawa pendek dan sinis.
“Itu bukan urusan lo.”
Shaka kembali melangkah, tapi lagi-lagi suara Ustadz Haidar menghentikannya.
“Kamu baru saja dikejar polisi.”
Shaka memalingkan wajah dengan cepat.
“Dan lo baru aja nolong gue. Jadi anggap urusan kita selesai.” Nada suaranya terdengar tajam seolah sedang membangun tembok setinggi mungkin agar tidak ada orang lain masuk ke hidupnya. “Jangan cegah gue untuk pergi dari sini,” lanjutnya lagi sambil menatap Ustadz Haidar dengan tajam. “Dan jangan ikut campur urusan gue.”
Ustadz Haidar tidak langsung menjawab. Tatapannya jatuh pada wajah pemuda di depannya yang terlihat kacau, lelah dan penuh amarah. Namun jauh di balik semua itu ada ketakutan yang begitu besar.
“Kamu datang ke mushola sambil membawa ketakutan sebesar itu,” ucap Ustadz Haidar pelan dan membuat Shaka mendecak kesal.
“Gue gak butuh nasihat.”
Namun Ustadz Haidar tetap melanjutkan.
“Tahu tidak…” suaranya rendah dan tenang, “Aneh rasanya melihat seseorang yang disebut penjahat justru masuk ke rumah Allah.”
Shaka mengernyit. Alisnya langsung bertaut.
“Apa maksud lo?”
Ustadz Haidar menatap sekeliling mushola sebentar sebelum kembali menatap Shaka.
“Mushola ini tempat orang bersujud,” kata ustadz Haidar dengan pelan. “Tempat orang datang membawa doa, membawa penyesalan, membawa harapan.” Shaka terdiam. “Maka bagaimana mungkin aku menganggap orang yang datang ke sini hanya sebagai penjahat?”
Kalimat itu membuat Shaka menatapnya dengan tajam sementara ustadz Haidar melanjutkan perkataannya,
“Orang yang datang ke rumah Allah adalah tamu-Nya.”
Angin malam kembali berhembus pelan dan membuat suasana mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
“Dan tamu yang datang ke rumah Allah seharusnya datang untuk beribadah kepada-Nya,” lanjut Ustadz Haidar yang membuat Shaka langsung tertawa kecil namun tawanya terdengar hambar dan pahit.
“Lo pikir gue datang ke sini buat ibadah?” tanya Shaka dengan sinis.
“Tidak.” jawab ustadz Haidar. Jawaban itu keluar begitu cepat, jujur dan entah kenapa justru membuat Shaka sedikit terdiam. “Kamu datang karena ketakutan,” lanjut Ustadz Haidar. “Karena kamu tidak punya tempat lain untuk melarikan diri.”
Kalimat itu menghantam tepat di hati Shaka dan membuatnya langsung menegang. Matanya berubah tajam.
“Udah cukup.”
Ustadz Haidar terdiam namun Shaka kembali bicara, kali ini dengan suaranya yang lebih keras. “Gue bilang cukup!” Napasnya mulai memburu. Emosi yang sejak tadi ia tahan perlahan naik ke permukaan. “Apa lo pikir lo tahu semuanya cuma karena lo nolong gue sekali?” bentak Shaka dengan tatapan matanya yang penuh perlawanan. “Lo gak tahu apa-apa tentang gue.” Tangannya mengepal kuat.
pengkhianatan dari temanya sendiri, hidupnya yang kacau dan bagaimana dunia memaksanya jadi seperti sekarang.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.