NovelToon NovelToon
Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sujie

Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?

Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.

Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.

Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?

Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku akan keluar kota

Hari terus bergulir, dan hari ini tepat satu minggu sejak kedatangan Sita dan pak Kasim. Semua berjalan begitu baik, dan biasa-biasa saja. Maira bahkan merasa senang karena seperti memiliki keluarga baru dirumahnya.

Sejak pujian Agam atas masakan pertama Sita malam itu, banyak pujian-pujian lain yang terlontar. Tapi yang membuat Maira lega adalah, ternyata Agam memang menilai dua orang yang bekerja pada mereka dengan adil. Tanpa ada maksud atau tujuan tertentu.

Dia tidak hanya memuji hasil kerja Sita, tapi juga pak Kasim. Agam sangat suka dengan pekerjaan pak Kasim. Berkat pak Kasim, halaman depan rumah dan belakang rumah menjadi sangat rapi. Begitu pula Sita, ia adalah orang yang cekatan dan bertanggung jawab serta bisa diandalkan. Seperti halnya pagi ini. Sebelum Maira turun, ia sudah merapikan rumah dan juga sudah membuat sarapan untuk kedua majikannya.

"Permisi, Mbak Maira. Ini sarapannya," ujar Sita sesaat setelah dua majikannya duduk di kursinya.

"Terimakasih ya, Sita."

Sita memang rajin dan cepat sekali menyesuaikan diri. Ia juga sopan dalam berpakaian dan bersikap. Bahkan kebanyakan pakaiannya adalah pakaian yang terlihat kebesaran. Ya, mungkin saja style nya memang seperti itu, atau mungkin juga keterbatasan ekonomi membuatnya tak punya pilihan lain.

Terkadang Maira berpikir untuk memberinya bonus, tapi setelah ditimbang-timbang rasanya terlalu cepat juga jika ia memberinya sekarang. Mengingat Sita baru bekerja padanya selama satu minggu. 

Maira memang orang yang baik dan tulus, tapi bukan hanya itu yang membuatnya respek pada Sita. Sebenarnya Sita mengingatkannya pada mendiang adiknya yang meninggal empat tahun lalu.

Jika Naura masih hidup, mungkin usianya saat ini akan sama persis dengan Sita. Tiba-tiba pikiran Maira melayang jauh mengingat adik perempuannya itu. Hingga membuat Agam tertegun memperhatikannya.

"Sayang, kau melamun?" tanya Agam yang melihat istrinya menatap kosong ke arah jendela.

"Nggak, Mas. Aku hanya teringat pada Naura. Oh iya, Mas, dua hari lagi adalah hari ulang tahun Mas Agam. Tapi ... Maira mungkin tidak bisa menemani Mas Agam," ujar Maira memulai pembicaraan. Ia nampak sedih.

"Kenapa, Sayang? Kau sibuk? Atau kau ada jadwal lembur?" Agam yang baru saja menyesap teh panasnya pun meletakkan kembali cangkirnya ke tempatnya semula. Menatap istrinya lekat-lekat. Membuat Maira tidak enak dan membuang pandangannya ke bawah. Ia menunduk.

"Mmm ... aku harus keluar kota, Mas." Meski berat, Maira harus tetap mengungkapkannya. Ini adalah pertama kalinya selama ia menjadi sekertaris pak Hardi, ia harus mengikuti perkembangan perusahaan hingga keluar kota.

Agam yang mendengar alasan Maira pun terlihat lesu, menunduk dan berpikir. Ingin sekali mencegah kepergiannya, tapi ini juga bagian dari pekerjaan Maira. Ia tahu istrinya adalah orang kepercayaan bosnya, tapi berat sekali rasanya melepas dan mengijinkan istrinya sampai ke luar kota seperti ini.

"Sayang, apa tidak ada orang lain yang bisa mewakili mu? Jujur aku tidak bisa tenang jika harus melepaskan mu hingga ke luar kota. Apalagi hanya berdua dengan pak Hardi." Raut wajah Agam nampak serius dan terlihat guratan rasa cemas. 

"Kamu ngomong apa sih, Mas? Tentu saja aku tidak hanya berdua dengan beliau. Kami kesana bersama tim, setiap divisi diambil satu orang. Lagi pula lebih banyak tim wanita dibanding dengan prianya. Jadi, Mas Agam tenang aja. Maira bisa menjaga diri dan kehormatan Maira. Ini hanyalah urusan pekerjaan, Mas. Jangan berpikir terlalu jauh!"

Ia tahu suaminya sangat pencemburu, tapi mau bagaimana lagi? Maira yakin dengan dirinya. Ia tahu betul jika ia adalah orang yang akan selalu profesional. Dan akan selalu seperti itu.

Andai saja aku sudah bisa membahagiakanmu, kau tidak perlu sampai harus keluar kota demi pekerjaanmu. Maafkan aku Maira, gumam Agam dalam hatinya.

Lebih dari rasa khawatir dan cemburu yang selalu menghantui, Agam justru merasa kasihan pada istrinya. Bahkan sudah satu minggu ini Maira selalu pulang sampai diatas jam sembilan malam setiap hari. Itu semua mungkin juga ada kaitannya dengan urusan Maira yang akan keluar kota.

"Maafkan aku, Sayang. Aku belum bisa membuatmu menjadi ratu sesungguhnya di rumah ini. Kau pasti sangat lelah," ujar Agam seraya menatap prihatin pada istrinya. Setiap melihat istrinya yang bekerja keras seperti ini, Agam selalu merasa bersalah.

"Nggak apa-apa, Mas. Sejak dulu kita sudah berkomitmen, bukan. Jadi kita syukuri dan nikmati saja semuanya. Mmm ... Mas Agam nggak apa-apa kan kalau Maira tinggal?" tanya Maira.

"Sebenarnya aku jelas tidak rela. Bagaimana mungkin aku bisa melewati hari-hariku tanpa melihat wajah istriku yang cantik ini?" goda Agam dengan manja, hingga membuat wajah istrinya bersemu merah.

"Apaan sih, Mas? Basi tau nggak?" Maira memonyongkan bibirnya. Ia lalu menunduk dan terbesit sesuatu.

Aku yang akan pergi keluar kota, tapi kenapa justru aku yang merasa tidak enak, ya?

"Omong-omong kau akan pergi keluar kota berapa hari, Sayang?" tanya Agam seraya menarik piring berisi nasi goreng yang baru saja disodorkan oleh istrinya.

"Aku belum tau pasti, Mas. Kemarin pak Hardi bilang sih cuma tiga hari. Tapi setelah itu beliau menambahkan, jika urusannya belum selesai ya sampai sekitar satu mingguan." Ada sedikit keraguan dalam diri Maira saat mengatakannya.

"Satu minggu?" Mata Agam melotot meletakkan kembali sendoknya seketika.

"Hanya perkiraan, Mas. Mas doakan saja urusan Maira disana cepat beres, agar Maira bisa cepat pulang kesini lagi." Maira mengusap lengan suaminya, seolah sedang meredakan rasa terkejut tadi.

"Aku tidak sanggup jika harus kau tinggal selama itu, Sayang. Apa aku ikut denganmu saja?" tawar Agam dengan wajah serius.

"Lalu pekerjaan Mas gimana, nanti? Aku sih mau saja, senang sekali malah kalau Mas Agam mau ikut aku keluar kota. Tapi kan Mas punya tanggung jawab juga di kantor."

Agam menarik nafas panjangnya. "Ya, kau benar. Aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku di kantor. Sebenarnya besok lusa juga ada acara kantor, aku ingin sekali mengajakmu datang kesana. Apa kau bisa? Kau belum akan berangkat, kan?" Agam sangat berharap bisa mengajak istrinya besok malam.

"Besok aku sudah berangkat, Mas. Mungkin pagi-pagi sekali karena pak Hardi langsung ada meeting di jam sepuluh." Ada guratan sesal di wajah Maira. Ia tahu suaminya pasti kecewa. Hal itu tergambar jelas diwajahnya.

"Maafin Maira ya, Mas?" lanjutnya lagi.

"Tidak apa, Sayang." Agam mencoba tetap tersenyum. "Ya udah kita lanjut sarapan. Nanti kita bisa terlambat."

Maira hanya mengangguk dan mulai menyendok nasi goreng yang sudah dingin di piringnya. Nasi yang sebenarnya enak, tapi karena suasana hati keduanya sedang tidak baik jadi terasa biasa saja di lidah mereka.

Agam bahkan hanya memakannya beberapa suapan saja sebelum istrinya pamit padanya. Taksi yang dipesan Maira sudah menunggu di depan. Jadi Maira pun tidak memakan sarapannya hingga habis. Mungkin hanya satu atau dua suap saja, selebihnya hanya air minum.

1
Reichan Muhammad
kapan bikin karya baru torr
Surati
bagus
Vindy swecut
keren👍🏻
Enung Samsiah
pokonya yg kasihn disini yg pling mnderita cuma sita,, agam pengecut
Enung Samsiah
endingnya nggk seru, sita ksihn ggk pernah bhgia, apalagi agam pengecut nggk punya hatii bngett
Enung Samsiah
tpi yg lbh kasihn itu sita, sakit hatinya tidk bisa marah pd siapapun, nyesekkk,,,
Enung Samsiah
kasim nggk punya hati,,,
Enung Samsiah
pk kasim ngebiarin dosa nggk punya hati bngett brengsekkkk,,
Enung Samsiah
susah hamil karena kecapean mungkin pada sibuk pagi pergi pulang mlm,,
Anonim
Ppp p0..00.0
Armi Armi
cari tu yg agak tuaan, ini mah si meira yg cari penyakit....
Hasian Marbun Ian ayurafanisa
bnyak yg coment masalah pembantu yg masih muda, menurut aq bkn masalah pembantu tua ato mudanya tapi agamnya yg salah karena gk teguh pendirian
Tut Eny
lanjut
i am wiyya
kasihan sita.. walaupun rela tp nyatanya maira agam dan orangtunya agam jahat dan egois... bukan kesalahan sita sepenuhnya...
~R@tryChayankNov4n~
blm rilis ya thor novel barunga....
gw intip koq gk ad🙃
~R@tryChayankNov4n~
otw ngintip...👍👍💛💛
Helsey Khalila
bikin sita ama reza thorr kasian sita
Keiza Alfaro
sebenarnya yg salah disini adalah Maira kalau dia sudah merelakan Agam untuk menikah dengan Sita seharusnya dia juga memberikan hak yg sama dengan Sita.tp nyatanya apa hanya ketidak adilan yg diterima oleh Sita hingga menyakiti hati Sita dan Agam lah yg menanggung dosa karena tidak bisa berbuat adil kepada kedua istrinya.kalau kita tidak rela berbagi ranjang dengan wanita lain jgn pernah meminta suami kita menikah lagi.kalau maira wanita yg terpilih pasti dia akan ridho untuk dimadu,pasti dia akan ridho membagi suaminya dengan istri keduanya.
Helsey Khalila
seorang istri yg berhati mulia
sari emilia
mk nya kl ga pernah minum ga usah so so an ikut kaim dajal jd double kn dosanya mabok n berzinah untunh ga sekalian spt kisah zurais
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!