ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Malam itu suasana di ruang kerja tertutup rapat. Tidak ada satu pun pelayan yang diizinkan masuk, pintu dikunci ganda, dan tirai jendela ditarik turun hingga menutupi seluruh kaca. Hanya Adam Yhosep dan Belinda Yhosep yang berdiri di tengah ruangan, wajah mereka pucat pasi seolah baru saja melihat mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Di atas meja kerja yang biasanya rapi, berhamburan tumpukan kertas, laporan keuangan merah, dan surat peringatan dari bank.
Adam menjatuhkan tubuhnya ke kursi besar, kedua tangannya mencengkeram kepala erat. Suaranya bergetar menahan amarah dan keputusasaan.
"Semua sudah hancur. Semua usaha kita puluhan tahun ini hampir lenyap begitu saja."
Belinda terduduk di kursi seberang, air matanya jatuh tanpa suara. Ia memegang selembar surat tebal dengan tangan gemetar. "Bank menyuruh melunasi seluruh utang dalam waktu tiga hari. Kalau tidak, mereka akan menyita aset utama kita—pabrik, gedung perkantoran, bahkan rumah ini."
Masalah besar yang selama ini mereka sembunyikan rapat-rapat, bahkan dari anak-anak mereka, kini meledak tepat di saat yang paling buruk.
Sebenarnya sudah berbulan-bulan bisnis keluarga Yhosep terancam bangkrut. Investasi besar yang mereka tanam di proyek luar negeri ternyata penipuan. Mitra bisnis yang mereka percaya kabur membawa uang miliaran rupiah. Sementara utang ke bank dan pemasok menumpuk setinggi gunung. Awalnya mereka berharap bisa menutup lubang dengan cara lain, tapi setiap jalan yang dicoba selalu tertutup rapat.
Satu-satunya harapan yang tersisa hanyalah pernikahan antara Adelin dan Gyantara Raharja.
Keluarga Raharja tahu sedikit soal kesulitan itu, tapi mereka percaya penyatuan dua perusahaan akan memperkuat keduanya. Sebagai bentuk dukungan, orang tua Gyantara sudah berjanji akan menyuntikkan dana besar ke perusahaan Yhosep tak lama setelah pernikahan sah berlangsung. Itu adalah satu-satunya jembatan penyelamat yang ada. Tanpa pernikahan itu, nama baik keluarga hancur, ekonomi ambruk, dan mereka bisa kehilangan segalanya.
"Kita tidak bisa membatalkan," kata Adam dengan suara parau. "Kalau pernikahan ini batal, tidak ada lagi yang mau membantu kita. Pesaing kita akan menindas kita sampai habis. Karyawan ribuan orang bisa kehilangan pekerjaan. Dan kita... kita akan jatuh dari puncak ke dasar yang paling dalam."
Belinda menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tapi Adelin... dia belakangan ini sangat aneh. Dia menghindar, dia sering menangis diam-diam. Aku takut dia berubah pikiran di hari terakhir."
Kalimat itu membuat Adam tersentak. Ia menatap istrinya dengan tatapan tajam namun penuh ketakutan. "Jangan bicara begitu. Dia harus tahu tanggung jawabnya. Dia adalah anak sulung, dia adalah wajah keluarga ini. Dia tidak boleh memikirkan perasaannya sendiri di saat nyawa keluarga ada di ujung tanduk."
Mereka tidak tahu bahwa di balik pintu ruang kerja yang tertutup itu, Adelin sedang berdiri kaku. Ia baru saja pulang diam-diam dari pertemuannya dengan Dimas, dan tanpa sengaja mendengar seluruh percakapan itu. Darah di tubuhnya terasa membeku. Ia tahu bisnis keluarganya sedang sulit, tapi ia tidak menyangka seburuk ini. Ia tidak menyangka bahwa pernikahan ini bukan sekadar penyatuan nama, melainkan satu-satunya penyangga yang menahan keluarganya agar tidak jatuh ke jurang.
Langkah kakinya mundur perlahan, lalu ia berlari cepat menuju kamarnya. Hatinya berperang hebat. Di satu sisi ada cinta yang ia pilih sendiri, di sisi lain ada nyawa dan masa depan orang-orang yang melahirkannya. Beban yang terlalu berat untuk dipikul seorang gadis yang baru berusia dua puluh satu tahun.
Di saat yang sama, Julian dan Tama yang sedang berpatroli di sekitar rumah melihat kecemasan yang semakin nyata. Mereka melihat Adam berjalan mondar-mandir di teras dengan wajah bingung, melihat Belinda memanggil-manggil asisten pribadi dengan nada panik.
"Ada sesuatu yang sangat salah," bisik Julian. "Bukan soal Adelin saja. Tapi soal keluarga Yhosep sendiri. Mereka terlihat seperti orang yang sedang dikejar waktu."
Tama mengangguk. "Aku dengar dari ayahku, ada kabar perusahaan Yhosep mengalami kerugian besar. Mungkin pernikahan ini bukan sekadar soal cinta atau status. Mungkin ini satu-satunya cara mereka bertahan."
Pikiran itu membuat mereka semakin takut. Jika pernikahan adalah satu-satunya jalan keluar, maka orang tua Adelin tidak akan ragu melakukan apa pun—termasuk memaksa siapa pun yang tersedia untuk menggantikan posisi Adelin.
Malam semakin larut, ketegangan di rumah itu semakin terasa menyesakkan. Tidak ada lampu yang dimatikan, telepon berdering terus-menerus, orang-orang berlarian dengan wajah tegang. Bahkan Adelia yang biasanya tidak dilibatkan dalam urusan dewasa pun bisa merasakan ada badai besar yang sedang mendekat.
Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya erat. Ia teringat pesan sahabatnya untuk menyiapkan barang penting. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan dokumen kelahiran, ijazah, kartu identitas, serta obat asma yang baru, lalu memasukkannya ke dalam tas kecil yang bisa digendong di badan. Ia tidak tahu untuk apa persiapan ini, tapi ia merasa harus siap menghadapi apa pun yang terjadi.
Di ruang kerja, Adam dan Belinda akhirnya mengambil keputusan yang membuat hati mereka sendiri sakit.
"Kalau sampai Adelin berani lari..." ucap Adam pelan namun tegas, "kita tidak boleh diam saja. Kita punya satu jalan lain. Satu-satunya jalan lain."
Belinda menatap suaminya, matanya membelalak mengerti. "Adelia?"
"Iya. Adelia. Wajah mereka sama persis. Tidak ada yang akan curiga kalau dia berdiri di tempat Adelin. Ini demi keselamatan keluarga. Demi masa depan kita semua."
Kata-kata itu terucap begitu dingin, seolah Adelia hanyalah benda yang bisa dipakai saat dibutuhkan, bukan manusia yang punya perasaan dan nasib sendiri.
Malam itu tak ada yang bisa tidur nyenyak. Adelin terjaga karena rasa bersalah dan ketakutan. Orang tua terjaga karena keputusasaan dan rencana nekat. Julian dan Tama terjaga karena waspada menjaga sahabat mereka. Dan Adelia terjaga karena firasat buruk yang semakin menjadi kenyataan—bahwa takdirnya akan segera diambil alih oleh orang lain, dan ia tidak punya kuasa untuk menolaknya.
Badai belum turun, tapi udara sudah terasa berat dan berbahaya. Semua orang tahu, waktu tinggal menghitung jam sebelum kebenaran dan keputusan menyakitkan itu meledak di depan mata mereka.