NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Beberapa hari kemudian, suasana di rumah bibi Aira terasa lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Meski begitu, ketenangan itu bukan berarti luka yang ada benar-benar hilang. Aira masih banyak diam, lebih sering duduk di ruang tengah sambil menatap kosong ke halaman. Bibinya sesekali memperhatikannya, khawatir namun memilih tidak terlalu menekan.

Sore itu, suara ketukan pintu memecah keheningan.

“Assalamualaikum,” suara perempuan terdengar dari luar.

Aira yang sedang duduk menoleh. Bibinya berjalan ke pintu dan membukanya. Di sana berdiri Ayunda dengan wajah sedikit tegang namun tetap berusaha tersenyum.

“Waalaikumsalam. Ayunda, ya? Masuk,” kata bibi Aira, meski nada suaranya masih terasa dingin.

Ayunda mengangguk sopan dan masuk. Matanya langsung mencari Aira yang duduk di ruang tengah.

“Aira…” panggilnya pelan.

Aira menatapnya sekilas, lalu kembali menunduk. “Kamu ke sini ngapain?”

Nada suaranya datar, tanpa emosi, tapi justru itu yang membuat suasana terasa lebih berat.

Ayunda menarik napas sebentar, lalu duduk di kursi dekat Aira. “Aku ke sini karena ada yang mau aku sampaikan. Ini penting.”

Aira tidak menjawab.

Ayunda kemudian membuka tasnya, mengeluarkan sebuah amplop, dan menyerahkannya ke Aira. “Ini dari Pak Bima.”

Mendengar nama itu, Aira akhirnya menoleh. Tatapannya berubah, ada sedikit ketegangan yang muncul.

“Aku tidak mau baca,” katanya singkat.

“Aira, dengar dulu—”

“Aku tidak mau,” potong Aira, kali ini lebih tegas. “Aku sudah selesai dengan semuanya.”

Ayunda menatapnya, lalu membuka amplop itu sendiri dan mengeluarkan selembar kertas. “Ini surat pernyataan resmi. Dia menulis sendiri, ditandatangani, bahkan ada materainya.”

Aira mendengus kecil. “Lalu?”

“Dia berjanji akan menjaga kamu. Melindungi kamu di perusahaan. Tidak akan membiarkan hal seperti kemarin terjadi lagi.”

Aira tersenyum tipis. Bukan senyum senang, tapi lebih ke arah sinis. “Janji?”

Dia menggeleng pelan. “Aku tidak percaya.”

Ayunda terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Ini bukan sekadar janji biasa. Ini ada konsekuensi hukumnya. Kalau dia bohong, kamu bisa menuntut dia.”

Aira menatap lurus ke depan. “Masalahnya bukan itu.”

“Lalu apa?”

Aira menghela napas panjang. “Bibiku. Pamanku. Ibuku.” Dia menoleh ke arah Ayunda. “Mereka tidak akan setuju. Dan aku juga… sudah tidak ingin kembali ke sana.”

Ayunda tampak berpikir. Dia mengerti, tapi tetap merasa ada yang belum selesai.

“Tapi, Ra… bagaimana pun juga, Pak Bima yang menolong kamu waktu itu.”

Aira langsung menjawab, “Dan dia juga yang membiarkan semuanya terjadi sejak awal.”

Suasana kembali hening.

Ayunda menunduk sebentar, lalu berkata, “Kalau begitu… setidaknya bicara dulu.”

Aira mengernyit. “Untuk apa?”

“Untuk menyelesaikan semuanya. Supaya tidak ada yang kamu pendam sendiri.” Ayunda menatapnya serius. “Kamu bahkan belum bilang terima kasih.”

Aira langsung membalas, “Dia juga belum minta maaf dengan benar.”

“Kamu yakin?”

Aira terdiam. Dia tidak menjawab.

Ayunda melihat celah itu dan melanjutkan, “Makanya, ketemu dulu. Ngobrol baik-baik. Kalau setelah itu kamu tetap tidak mau kembali, ya sudah. Tapi jangan ambil keputusan tanpa benar-benar mendengar.”

Aira menggeleng pelan. “Aku bilang juga apa? Bibiku tidak akan mengizinkan.”

Ayunda berdiri. “Kalau begitu, aku bicara langsung sama beliau.”

Sebelum Aira sempat menghentikan, Ayunda sudah berjalan ke arah dapur tempat bibinya berada.

“Bu…” panggil Ayunda sopan.

Bibinya menoleh. “Ya?”

Ayunda berdiri dengan sikap hormat. “Saya mau bicara sebentar.”

Bibinya menatapnya, lalu mengangguk. “Apa?”

Ayunda menarik napas, mencoba menyusun kata-katanya dengan hati-hati. “Bos kami… Pak Bima… ingin Aira kembali bekerja.”

Wajah bibi Aira langsung berubah dingin.

“Tidak,” jawabnya tegas tanpa ragu.

Ayunda tidak mundur. “Atasan yang bermasalah dengan Aira sudah keluar dari perusahaan. Dan Pak Bima sudah membuat surat pernyataan resmi untuk melindungi Aira.”

“Tidak,” ulang bibinya, kali ini lebih keras.

Ayunda menggigit bibirnya sebentar, lalu berkata, “Bu… yang membawa Aira ke rumah sakit waktu itu… Pak Bima.”

Bibinya terdiam.

Kalimat itu seperti menahan langkah emosinya.

“Dia yang menyelamatkan Aira,” lanjut Ayunda pelan.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Akhirnya, bibinya menghela napas panjang. “Kalau begitu… saya mau bertemu dia.”

Ayunda langsung mengangkat kepala. “Benar, Bu?”

“Tapi hanya untuk bicara,” tegasnya.

Ayunda mengangguk cepat. “Terima kasih, Bu.”

Tanpa menunda, Ayunda langsung menghubungi Bima dan memberikan alamat rumah. Tidak butuh waktu lama, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Aira yang melihat dari dalam langsung menegang.

“Dia datang…” gumamnya pelan.

Pintu terbuka. Bima masuk dengan langkah tenang. Wajahnya terlihat serius, tidak seperti biasanya.

Dia langsung menghampiri bibi Aira.

“Selamat siang, Bu,” katanya sopan.

Bibinya hanya mengangguk sedikit, tetap dingin.

Aira berdiri di sudut ruangan, merasa canggung. Matanya sesekali melirik Bima, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Bima menarik napas, lalu mulai bicara.

“Saya minta maaf.”

Sederhana. Tapi jelas.

“Saya menyesal tidak segera bertindak waktu itu. Saya seharusnya bisa mencegah semuanya lebih cepat.”

Tidak ada yang menyela.

“Saat ini, orang yang bertanggung jawab sudah saya keluarkan dari perusahaan. Saya pastikan dia tidak akan bisa mengganggu Aira lagi.”

Bibinya menatapnya tajam. “Kami datang ke kantor waktu itu. Anda ada di sana. Tapi tidak melakukan apa-apa.”

Bima terdiam sejenak.

“Benar,” jawabnya jujur. “Dan itu kesalahan saya.”

“Jadi sekarang semuanya sudah terlambat.”

Bima menggeleng pelan. “Belum.”

Nada suaranya tetap tenang, tapi lebih tegas.

“Saya akan menjaga Aira. Apa pun yang terjadi.”

Aira yang mendengar itu langsung menoleh. Kalimat itu terasa berbeda. Bukan sekadar tanggung jawab pekerjaan.

Lebih… pribadi.

Dia langsung menunduk, merasa wajahnya mulai panas.

Bima melanjutkan, “Saya juga siap memberikan kompensasi apa pun yang Ibu minta.”

Bibinya terdiam. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang mempertimbangkan.

Beberapa saat kemudian, dia berkata, “Saya akan bicarakan ini dengan suami saya.”

Bima mengangguk. “Tidak masalah, Bu.”

Lalu, dia melirik ke arah Aira.

“Boleh saya bicara dengan Aira berdua?”

Bibinya menatap Aira sebentar, lalu kembali ke Bima. “Silakan.”

Ayunda yang sejak tadi berdiri langsung mendekat. “Aku di sini saja ya—”

“Bisa beri kami waktu?” potong Bima dengan sopan, tapi tegas.

Ayunda mengerucutkan bibirnya, jelas tidak puas. Tapi akhirnya dia mengangkat tangan menyerah. “Baiklah, baiklah. Aku pulang.”

Dia menepuk bahu Aira pelan sebelum keluar. “Jangan kabur.”

Setelah Ayunda pergi, bibinya juga ikut meninggalkan ruangan.

Kini hanya tersisa Aira dan Bima.

Sunyi.

Tidak ada yang bicara.

Aira berdiri dengan tangan saling menggenggam, menatap lantai. Bima berdiri beberapa langkah darinya, seolah menunggu.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Akhirnya, Bima membuka suara.

“Kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan sederhana. Tapi cukup untuk membuat Aira sedikit tersentak.

Dia mengangguk pelan. “Ya.”

Hening lagi.

Bima menghela napas kecil. “Kamu marah.”

Aira tersenyum tipis. “Baru sadar?”

Bima tidak membalas dengan candaan seperti biasanya. “Aku pantas dimarahi.”

Aira menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak dia datang, mata mereka bertemu.

“Kenapa sekarang?” tanya Aira pelan. “Kenapa baru sekarang kamu bergerak?”

Bima terdiam.

“Aku sudah ada di sana sejak awal,” lanjut Aira. “Aku menghadapi semuanya sendiri. Kamu ada… tapi tidak benar-benar ada.”

Bima menunduk sedikit. “Aku salah.”

Aira tertawa kecil, pahit. “Kamu selalu bilang itu sekarang.”

“Karena memang itu kenyataannya.”

Aira menggeleng. “Kamu tidak berubah.”

“Justru karena itu aku datang ke sini.”

Aira terdiam.

Bima melangkah sedikit lebih dekat. “Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama.”

Aira menatapnya lagi. Kali ini lebih lama.

“Apa yang kamu mau?” tanyanya.

“Kesempatan.”

Satu kata. Tapi jelas.

Aira menarik napas panjang. “Aku tidak tahu.”

Bima mengangguk pelan. “Tidak apa-apa.”

“Aku serius,” lanjut Aira. “Aku tidak yakin bisa kembali seperti dulu. Bahkan untuk sekadar bekerja di sana.”

“Aku tidak minta kamu langsung percaya.”

“Lalu?”

“Cukup beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”

Aira menunduk lagi.

Suasana kembali hening.

Kali ini bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tapi karena terlalu banyak yang belum selesai.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu, Aira tidak langsung menolak.

Dia hanya… diam.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!