"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Cahaya Perak yang Meredup
Suara dentuman dari lantai atas perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih mencekam. Arini masih mendekap dada Baskara, telinganya menangkap detak jantung suaminya yang berpacu cepat—satu-satunya hal nyata yang membuatnya merasa tidak gila.
"Mika..." bisik Arini lirih.
Tiba-tiba, sesosok cahaya perak yang redup melayang jatuh dari arah tangga. Mika muncul dengan kondisi yang memprihatinkan. Cheongsam putihnya tampak compang-camping, dan tangannya yang transparan terlihat gemetar. Sari berhasil dipukul mundur, tapi energi Mika terkuras habis.
"Rin..." Mika tersenyum tipis, meski tubuhnya hampir tembus pandang. "Cewek gila itu... kuat banget kalau lagi bucin sama Jaksa kamu. Dia lari ke arah balkon."
"Mika! Kamu nggak apa-apa?" Arini hendak menghambur, tapi Baskara menahannya.
Baskara tidak melihat Mika, tapi dia melihat mata Arini yang menatap ke arah udara kosong dengan cemas. Baskara mengerti. Ia meraih tangan Arini, lalu menatap lurus ke arah yang ditunjuk Arini.
"Dia di sana, kan?" suara Baskara terdengar sangat dingin, jenis suara yang ia gunakan saat menjatuhkan tuntutan maksimal di pengadilan. "Sari! Keluar kau! Aku tahu kau mendengarku!"
Angin kencang mendadak bertiup di ruang tengah. Sosok Sari muncul di lantai dua, berdiri di atas pagar pembatas dengan rambut acak-adakan. Wajahnya yang hancur karena amarah menatap Baskara dengan penuh luka.
"Kenapa, Baskara? Kenapa kamu lebih memilih dia?! Aku sudah memberikan segalanya untuk keluarga ini! Aku hancur demi kenyamanan ayahmu!" teriak Sari.
Baskara melangkah maju satu langkah, menutupi tubuh Arini sepenuhnya. "Karena Arini mencintaiku dengan jiwanya, bukan dengan obsesi menjijikkan sepertimu. Kamu adalah korban, Sari, dan aku berjanji akan memberikan keadilan untukmu. Tapi jika kamu berani menyentuh Arini lagi, aku sendiri yang akan mengutuk namamu agar tidak pernah sampai ke pintu surga!"
Kalimat Baskara seperti petir yang menyambar. Sari menjerit pilu. Kesadaran bahwa ia ditolak mentah-mentah oleh satu-satunya cahaya di hidupnya membuat energinya tidak stabil.
"BASKARAA!"
Sari melesat turun dengan kecepatan tinggi, jarinya yang tajam mengincar mata Arini. Arini memejamkan mata, namun yang terdengar bukan rasa sakit, melainkan suara geraman rendah dari Baskara.
Tanpa sadar, Baskara mengayunkan lencana kejaksaan emasnya yang ia genggam erat. Entah karena kekuatan doa atau murninya niat untuk melindungi istri, lencana itu memancarkan aura panas yang membuat Sari terpental sebelum menyentuh mereka.
Mika tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan sisa energinya, ia terbang dan menarik Sari masuk kembali ke dalam kamar rahasia. "Masuk kamu! Selesaikan urusanmu dengan kenangan ayah monster itu!"
BRAK! Rak buku itu menutup dengan sendirinya, seolah-olah ruangan itu menolak keberadaan Sari.
Hening.
Baskara langsung berbalik dan memeluk Arini dengan tenaga yang hampir meremukkan tulang. Ia mencium bibir Arini berkali-kali, sebuah ciuman yang putus asa, penuh rasa takut akan kehilangan.
"Kamu aman... kamu aman..." gumam Baskara di sela ciumannya. "Aku tidak akan membiarkan pintu itu terbuka lagi sampai polisi dan tim forensik datang besok pagi."
Mika merosot di lantai, tubuhnya hampir hilang. "Duh... Rin... kayaknya aku harus hibernasi dulu di botol parfum kamu. Capek banget jadi satpam gaib gratisan."
Arini menangis haru, ia merangkul Baskara dan menatap Mika yang perlahan menghilang untuk beristirahat. "Terima kasih, Mika... terima kasih, Bas."
Baskara mengangkat wajah Arini, ibu jarinya menghapus air mata di pipi istrinya. "Malam ini, kita tidak akan tidur di rumah ini. Kita ke hotel. Aku tidak mau kamu menghabiskan malam pertama kita di rumah yang penuh monster ini."
Baskara menggendong Arini keluar rumah, meninggalkan kegelapan di belakang mereka. Di dalam SUV-nya, Baskara terus memegang tangan Arini, tidak membiarkannya lepas barang sedetik pun. Di balik kemudi, mata Baskara berkilat—besok pagi, sejarah keluarga Adhitama akan berakhir di tangannya sendiri.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣