NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel Bayang: Reno VS Kael

Episode 24 - Bagian 1

Udara di dalam Benteng Lumpur mendadak terasa dingin dan berat, seolah olah oksigen telah tersedot keluar oleh kehadiran Kael. Pemuda senior itu berdiri dengan santai, namun aura yang dipancarkannya memberikan tekanan yang jauh lebih besar daripada seluruh kelompok Bagas digabungkan. Di sampingnya, Macan Kumbang Bayangan itu tidak menggeram; ia hanya diam, namun matanya yang berwarna kuning pekat terus mengikuti setiap gerakan terkecil dari Reno.

Reno mengatur napasnya melalui teknik Arus Bumi. Ia bisa merasakan getaran dari Macan Kumbang itu binatang itu tidak benar-benar menapak di tanah, melainkan seolah olah mengambang di atas bayangan lantai kayu benteng.

"Seorang murid baru yang bisa mengalahkan sepuluh orang dalam hitungan menit... kau benar-benar aneh, Reno," ucap Kael, suaranya halus namun mengandung nada ancaman yang tajam. "Tapi, sombong di depan anggota Gerhana Hitam adalah kesalahan terakhir yang akan kau buat. Shadow, habisi dia."

Tanpa suara, Macan Kumbang itu menghilang ke dalam bayangan lantai.

"Reno, di atas!" teriak Elara dari atap benteng.

Reno tidak mendongak. Menggunakan getaran tanah, ia tahu bahwa serangan itu bukan dari atas, melainkan dari samping kiri bawah sebuah ilusi optik yang diciptakan oleh manipulasi cahaya bayangan.

"Nidhogg, sayap!"

Nidhogg mengepakkan sayap kecil transparannya, memberikan dorongan energi pada Reno sehingga Reno bisa melompat mundur tepat saat sebuah cakar hitam muncul dari kegelapan di tempat ia berdiri tadi.

SRET!

Lantai kayu benteng yang tebal itu terbelah seperti kertas.

"Reno, kecepatan kucing itu bukan masalah fisik, dia berpindah antar bayangan!" Nidhogg memperingatkan. "Aku harus mengonsumsi bayangan di area ini agar dia tidak punya tempat bersembunyi!"

"Jangan sekarang, Nidhogg. Simpan energi itu. Kita harus memancing majikannya keluar," balas Reno.

Reno melesat maju ke arah Kael. Ia tahu bahwa dalam dunia penjinak, menyerang sang majikan seringkali lebih efektif daripada meladeni binatang kontraknya. Ia menggunakan teknik Vibrasi Tanah untuk meningkatkan kecepatan larinya hingga ia terlihat seperti kilatan hijau.

"Berani sekali kau mendekatiku!" Kael menyeringai. Ia mengangkat tangannya, dan bayangan di bawah kakinya bangkit membentuk tiga bilah pedang hitam yang meluncur ke arah Reno.

Reno tidak berhenti. Ia justru melakukan gerakan seluncur di bawah bilah-bilah pedang tersebut. Begitu jaraknya tinggal dua meter, ia melayangkan sebuah pukulan yang telah dialiri energi Arus Bumi yang dipadatkan.

"Tinjau Arus, Penghancur Batu!"

BAM!

Kael menangkis pukulan Reno dengan sebuah perisai bayangan yang muncul secara instan. Suara benturannya sangat keras, menciptakan gelombang tekanan yang menerbangkan debu-debu di sekitar mereka.

Kael sedikit terkejut. "Tenaga fisikmu... ini bukan level murid tingkat pertama. Apa kau mengonsumsi obat peningkat otot?"

"Aku hanya rajin mencangkul di sawah, Senior," jawab Reno dingin.

Di saat yang sama, Macan Kumbang Bayangan itu muncul kembali dari belakang Reno. Kael tersenyum puas. "Sudah terlambat. Shadow, Terkam!"

Macan itu melompat dengan mulut terbuka lebar, siap mengoyak punggung Reno. Elara yang berada di atap tidak tinggal diam.

"Elang Sayap Perak, Peluru Angin!"

WUSH! WUSH!

Dua peluru angin menghantam wajah macan tersebut, membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan di udara. Gangguan kecil itu memberi Reno waktu yang cukup untuk memerintah Nidhogg.

"Nidhogg, Armor Melingkar!"

Nidhogg memanjang dan melilit tubuh Reno dalam sekejap, membentuk zirah hitam yang menutupi seluruh punggung dan bahunya. Saat cakar macan itu menghantam punggung Reno...

CLANG!

Suara benturan logam kembali terdengar. Reno terdorong maju beberapa langkah, namun ia tidak terluka. Sisik Cacing Armor Hitam milik Nidhogg berhasil meredam seluruh kekuatan fisik macan tersebut.

"APA?!" Kael benar-benar kehilangan ketenangannya kali ini. "Macan Kumbang Bayangan tingkat Perak tidak bisa menembus kulit seekor cacing?!"

Reno berbalik dengan cepat. "Sekarang giliranku."

Reno meraih ekor macan yang masih berada dekat dengannya. Dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, ia membanting macan seberat dua ratus kilogram itu ke arah Kael.

Kael terpaksa membatalkan sihir bayangannya untuk menangkap binatang kontraknya. Saat itulah Reno melihat celah.

"Nidhogg, gunakan Pekikan Jiwa!"

Nidhogg membuka mulutnya dan mengeluarkan gelombang suara frekuensi rendah yang hanya ditujukan pada jiwa lawan. Kael dan macannya seketika memegangi kepala mereka, merasa otak mereka seperti ditusuk oleh ribuan jarum.

"Arghhh! Berhenti!" teriak Kael.

Reno tidak membuang waktu. Ia melesat dan mengambil peti berisi lencana itu. "Elara, sekarang! Hancurkan atapnya!"

Elara merapal kan mantra terkuatnya. "Badai Penghancur!"

Atap rumbia benteng itu meledak karena tekanan angin, menciptakan lubang besar. Elara menjatuhkan seutas tali akar dari atas. Reno menangkap tali itu, dan dengan satu sentakan, ia ditarik ke atas tepat saat Kael mulai pulih dari serangan mental Nidhogg.

"KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA LARI, RENO!" raung Kael dari bawah. Ia memerintahkan macannya untuk mengejar ke atas, namun Reno sudah menyiapkan kejutan terakhir.

Reno melemparkan beberapa botol minyak yang ia ambil dari gudang bawah tanah sebelumnya ke lantai benteng. "Nidhogg, sedikit api naga."

Nidhogg menyemburkan percikan api ungu kecil. Begitu menyentuh minyak tersebut, api besar langsung berkobar, membakar struktur benteng lumpur yang kering itu dalam hitungan detik. Asap hitam pekat memenuhi ruangan, menghalangi pandangan Kael.

Reno dan Elara mendarat di luar parit lumpur, jauh dari jangkauan para penjaga yang baru saja tersadar dari kebingungan mereka.

"Ayo lari! Sebentar lagi instruktur akan datang karena asap ini!" ajak Elara.

Mereka berlari menembus hutan rawa dengan kecepatan penuh. Setelah merasa cukup jauh dan aman, mereka berhenti di bawah sebuah pohon raksasa yang akarnya membentuk gua alami.

Reno meletakkan peti itu di tanah. Ia terduduk, napasnya memburu. Keringat membanjiri tubuhnya. Pertarungan singkat melawan Kael tadi menguras hampir seluruh energi mentalnya.

"Kau... kau benar-benar gila, Reno," Elara mengatur napasnya, wajahnya masih pucat karena adrenalin. "Kau baru saja memicu perang dengan Gerhana Hitam. Kael tidak akan membiarkanmu hidup tenang setelah ini."

Reno membuka peti itu. Di dalamnya terdapat lebih dari tiga puluh lencana kristal. "Biarkan saja. Di dunia bisnis, musuh adalah tanda bahwa kau melakukan sesuatu yang benar. Jika tidak ada yang membencimu, berarti kau tidak punya nilai."

Reno mengambil sepuluh lencana dan memberikannya pada Elara. "Ini bagianmu. Dengan ini, kau sudah pasti masuk peringkat sepuluh besar."

Elara menatap lencana-lencana itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih... tapi Reno, kenapa kau melakukan semua ini? Kau bisa saja lulus dengan tenang tanpa harus mencari masalah dengan mereka."

Reno menatap Nidhogg yang kini sudah kembali ke ukuran kecil dan tampak kelelahan. "Karena aku tidak suka diatur oleh orang lain. Entah itu instruktur akademi, atau organisasi gelap seperti Gerhana Hitam. Aku ingin memegang kendali atas hidupku sendiri."

"Reno, lencana-lencana ini... aku bisa merasakan energi di dalamnya," Nidhogg berbisik pelan. "Jika kau mengizinkanku, aku bisa menyerap sedikit sisa energi dari lencana ini tanpa merusak bentuk fisiknya. Itu akan membantuku memulihkan tenaga."

"Lakukanlah," jawab Reno.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah belakang mereka. Reno segera berdiri dan bersiaga dengan sabitnya. Namun, yang muncul dari balik pepohonan bukanlah Kael atau anggota Gerhana Hitam.

Itu adalah Instruktur Raka.

Pria itu berdiri dengan jubah peraknya yang sedikit kotor, tangannya memegang sebuah kompas sihir. Ia menatap Reno dan peti lencana itu dengan ekspresi datar yang sulit ditebak.

"Luar biasa," ucap Raka. "Menghancurkan benteng aliansi Bagas, mengalahkan murid senior Gerhana Hitam, dan mencuri seluruh poin babak penyisihan. Reno, kau benar-benar tahu cara membuat kekacauan."

Lani dan Dito muncul dari belakang Raka, wajah mereka lega saat melihat Reno selamat. "Reno! Kami menemukan Instruktur Raka dan memintanya mencari mu!" seru Dito.

Reno menatap Raka dengan tatapan penuh selidik. Apakah Raka datang untuk melindungi ku, atau untuk mengambil hasil rampasan ku?

"Instruktur, saya hanya membela diri," ucap Reno tenang.

"Membela diri sampai membakar sebuah fasilitas simulasi?" Raka mendekat. "Berikan aku lencana-lencana itu. Aku akan menyimpannya sebagai barang bukti dan memastikan poin kalian tercatat. Jika kalian membawanya sendiri, kalian akan diserang oleh sisa-sisa kelompok Bagas yang dendam."

Reno terdiam sejenak. Ia melihat ke arah Nidhogg. Nidhogg memberikan tanda bahwa Raka tidak memiliki niat membunuh saat ini.

"Baiklah," Reno menyerahkan peti itu. "Tapi saya ingin poin saya dan Elara dipastikan tidak hilang."

"Jangan khawatir. Dengan apa yang kau lakukan hari ini, kau bukan hanya peringkat satu, Reno. Kau telah menjadi orang yang paling diawasi di seluruh akademi," Raka memberikan senyum tipis yang penuh misteri. "Sekarang, kembalilah ke titik kumpul. Babak penyisihan telah berakhir lebih awal karena kekacauan yang kau buat."

Reno berjalan pulang bersama teman temannya. Ia merasa lelah, namun puas. Ia telah membuktikan satu hal, di dunia penjinak binatang ini, seekor cacing bisa saja memakan macan kumbang jika sang penjinak nya tahu cara memainkan pion di papan catur.

Namun, di dalam hatinya, Reno tahu bahwa ini hanyalah akhir dari sebuah prolog kecil. Pertunjukan yang sesungguhnya duel arena satu lawan satu di depan seluruh pejabat kerajaan baru saja akan dimulai besok. Dan di sana, ia tidak akan bisa lagi bersembunyi di balik kabut atau asap.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!