"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Pagi itu, sinar matahari yang masuk menembus jendela kaca raksasa di ruang keluarga kediaman Satrya terasa lebih menyengat dan gersang dari biasanya. Aroma kopi Arabika mahal dan roti gandum panggang yang biasanya memberikan kesan homey, kini tertutup sepenuhnya oleh hawa ketegangan yang pekat dan menyesakkan. Denis sudah tampil rapi dengan kemeja kerja slim-fit berwarna biru gelap yang mempertegas bahu kokohnya, namun ia tidak segera beranjak menuju lift pribadi. Ia berdiri mematung di tengah ruangan, tepat di jalur utama yang harus dilewati oleh siapa pun yang hendak menuju ruang makan atau dapur.
Calista berdiri tepat di hadapannya, mengenakan gaun rumah berbahan sutra tipis yang jatuh lembut di tubuhnya. Kerah gaun itu sedikit melonggar, memperlihatkan dengan sangat jelas deretan jejak kemerahan baru yang masih segar di tulang selangkanya sebuah stempel kepemilikan hasil dari keagresifan Denis yang tak kenal ampun semalam. Calista merasa lemas, namun ia dipaksa untuk tetap berdiri tegak oleh tatapan Denis yang seolah menguliti jiwanya.
"Aku berangkat ke kantor sekarang," ucap Denis dengan suara bariton yang berat dan dalam, menggema di ruangan yang sunyi itu.
Namun, alih-alih memberikan kecupan singkat di kening atau pipi seperti biasanya, Denis justru melakukan sesuatu yang jauh lebih provokatif. Ia menarik pinggang Calista dengan satu sentakan posesif yang kuat, memaksa tubuh mungil gadis itu menempel sempurna pada dada bidangnya. Ia menunduk, meraup bibir Calista dalam sebuah ciuman yang dalam, panas, dan sangat intim. Calista terbelalak, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit, namun ia terjebak dalam cengkeraman Denis yang menuntutnya untuk mengimbangi permainan gila ini di ruang terbuka.
Tepat saat lidah Denis mulai menjajah lebih dalam, suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Susi dan Puput muncul dari arah koridor kamar dengan gaya angkuh mereka, diikuti oleh dua pelayan baru yang sedang membawa nampan perak berisi sarapan. Mereka semua seketika membeku di tempat, layaknya patung garam yang tersambar petir. Pemandangan intim yang seharusnya terkunci rapat di balik pintu kamar itu kini terpampang nyata, vulgar, dan tanpa sensor di depan mata mereka.
Susi mematung dengan mulut setengah terbuka, wajahnya berubah drastis dari pucat menjadi merah padam dalam hitungan detik. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan ledakan emosi yang sudah di ubun-ubun.
"Denis! Apa-apaan ini?! Di depan pelayan, di depan adikmu sendiri... kalian melakukan perbuatan tidak senonoh seperti ini di ruang keluarga?!" teriak Susi dengan suara melengking tinggi yang memekakkan telinga, memecah kesunyian pagi.
Denis melepaskan ciumannya perlahan, sangat perlahan seolah sengaja ingin memamerkan sisa saliva yang tertinggal di bibir Calista. Tangannya tetap melingkar erat dan posesif di pinggang istrinya. Ia menoleh ke arah Ibu tirinya dengan tatapan yang sangat datar, dingin, dan benar-benar tidak peduli.
Puput menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya berkilat penuh kejijikan yang sengaja didramatisir. "Benar-benar murahan! Tidak tahu tempat! Rumah ini adalah tempat terhormat yang dibangun dengan reputasi besar, bukan hotel melati murahan untuk kalian mengumbar nafsu!"
Susi melangkah maju beberapa tindak, telunjuknya yang dihiasi cincin berlian mahal mengarah tepat ke wajah Calista. "Kau! Dasar jalang kecil tidak tahu malu! Kau sengaja memamerkan kemurahanmu agar kami merasa tidak nyaman di rumah kami sendiri, kan?! Kau benar-benar sampah yang merusak martabat dan kesucian keluarga Satrya!"
Calista, tersenyum kecil, kali ini merasakan lonjakan adrenalin yang membakar seluruh rasa takutnya. Ia tidak lagi ingin menjadi korban yang hanya bisa menangis. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia melepaskan diri dari rangkulan Denis, lalu melangkah maju mendekati Susi hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa senti. Ia mengusap bibirnya yang sedikit membengkak dengan ibu jari, menatap Susi dengan pandangan yang sangat menghina, seolah sedang melihat kotoran di sepatu mahalnya.
"Martabat?" Calista tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat sarkas, kering, dan menyakitkan di telinga. "Nyonya Susi, lucu sekali mendengarkan kata 'martabat' keluar dari mulut seseorang yang menghabiskan seumur hidupnya hanya untuk menjilat dan merangkak demi harta yang sejak awal memang bukan miliknya."
Susi terbelalak, matanya nyaris keluar dari kelopak. "Kau... apa kau bilang?! Berani sekali kau..."
"Dengar baik-baik, Nyonya Tua," Calista mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah namun tajam bak sembilu yang menyayat saraf. "Rumah ini adalah milik suamiku, dan karena aku adalah istri sahnya, maka secara otomatis rumah ini adalah milikku juga. Jika kami ingin berciuman di setiap jengkal sudut ruangan ini, bahkan jika kami ingin melakukannya di atas meja makan tempat Anda menyuap nasi sekalipun, itu adalah hak mutlak kami. Anda di sini hanyalah... tamu yang menumpang hidup karena belas kasihan. Jadi, berhentilah bersikap seolah Anda adalah penjaga moral atau pemilik sah di sini. Anda terlihat sangat menyedihkan."
"Calista! Jaga bicaramu! Aku ini ibu mertuamu, orang tuamu di rumah ini!" teriak Susi histeris, suaranya mulai serak karena amarah yang memuncak.
"Mertua?" Calista menatap Susi dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang sangat tajam. "Mertua itu biasanya dihormati karena kebijaksanaan dan keanggunannya, bukan karena kelicikannya yang murahan. Di mataku, Anda hanyalah parasit elegan yang sedang ketakutan setengah mati karena inangnya sudah menemukan pemilik baru yang lebih kuat. Benar kan, Mas?"
Calista menoleh ke arah Denis yang hanya berdiri diam menonton drama itu dengan senyum tipis yang mengerikan dan mematikan. Denis sama sekali tidak menunjukkan niat untuk membela Ibu tirinya; ia justru tampak sangat menikmati bagaimana istri mudanya itu menguliti harga diri Susi hingga ke tulang-tulangnya.
Susi merasa dunianya runtuh seketika. Para pelayan di belakangnya menunduk sangat dalam, mencoba menyembunyikan wajah mereka agar tidak terkena imbas, namun Susi tahu mereka semua sedang menyaksikan kehancuran total martabatnya. Harga dirinya sebagai nyonya besar diinjak-injak hingga lumat oleh seorang gadis yang usianya bahkan belum genap dua puluh tahun.
"Kurang ajar! Denis, kau hanya diam saja melihat istrimu menghinaku secara membabi buta seperti ini?!" jerit Susi beralih pada anak tirinya, berharap ada sisa-sisa rasa hormat di sana.
"Dia tidak menghina, Mama," jawab Denis dingin sambil merapikan jam tangan Rolex di pergelangan tangannya. "Dia hanya menyatakan fakta yang selama ini Mama coba sembunyikan di balik bedak tebal Mama. Dan fakta memang seringkali terdengar kasar bagi orang-orang yang sudah terlalu lama hidup dalam kebohongan yang nyaman. Jika Mama merasa tidak sopan atau merasa 'terganggu' berada di sini saat kami bermesraan, silakan kunci diri Mama di kamar, atau lebih baik lagi... carilah rumah lain di mana Mama tidak perlu melihat wajah kami."
Puput gemetar hebat, ia ingin membalas dengan cacian namun tatapan tajam dan dingin dari Calista seolah membungkam lidahnya seketika.
"Pergilah sarapan, Nyonya Susi," sambung Calista dengan nada yang sangat manis, dibuat-buat, namun penuh dengan racun yang mematikan. "Siapkan energi Anda yang sudah renta itu untuk sisa hari yang panjang. Karena mulai sekarang, setiap jengkal udara yang Anda hirup di rumah ini adalah atas izin saya. Dan saran saya, jangan terlalu banyak berteriak atau marah-marah, keriput di wajah Anda jadi terlihat semakin jelas, dalam, dan sangat menyedihkan untuk dipandang."
Calista berbalik dengan anggun, meninggalkan Susi yang berdiri mematung dengan napas yang memburu dan air mata kemarahan yang mulai mengalir membasahi pipinya. Pagi itu, suasana di kediaman Satrya benar-benar keruh, beracun, dan penuh dengan aroma permusuhan yang mutlak. Susi menyadari dengan sangat perih bahwa ia bukan lagi tandingan bagi Calista yang telah mendapatkan perlindungan dan kuasa penuh dari Denis. Harga diri Susi telah hancur sepenuhnya pagi itu, tertinggal di lantai ruang keluarga bersama sisa-sisa otoritasnya yang kini telah berpindah tangan secara kejam.
Please komen dan like 🥰🥰🙏❤