Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanggil taksi
"Ini tidak akan ada habisnya," batin Myra muak.
Ia membuang muka, mencari celah untuk kabur hingga matanya menangkap sebuah mobil biru di ujung jalan. "Taksi!" teriak Myra sambil melambaikan tangan.
Rafan terlonjak. Untuk apa gadis ini memanggil taksi jika di depannya sudah ada supir tampan yang siap mengantar tanpa bayaran? "Tunggu! Apa yang kamu lakukan?"
"Apalagi? Tentu saja pulang. Kamu sudah mendapatkan ponselku, kan? Sekarang, kita impas. Kamu lewat jalanmu, aku lewat jalanku. Oke?" Myra mengangkat alis, menantang.
"Tidak. Aku yang akan mengantarmu," tegas Rafan, menahan tangan Myra yang hendak membuka pintu taksi yang baru saja menepi.
"Terima kasih, Pak Polisi. Tapi taksiku sudah sampai." Myra menyunggingkan senyum palsu.
Rafan tidak menyerah. Ia berdiri tegak menghalangi pintu taksi, mengabaikan sopir paruh baya yang mulai tampak bosan menunggu. Rafan sedikit membungkuk ke arah jendela supir. "Maaf, Pak. Kami tidak jadi naik."
"Jangan dengarkan dia, Pak!" timpal Myra sengit. Ia berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Rafan. "Lepaskan! Aku mau pulang!"
"Pak, tolong maklumi. Kami sedang bertengkar. Istri saya mengira saya selingkuh," dusta Rafan dengan wajah serius. "Saya harus membawanya pulang untuk menjelaskan semuanya."
Myra melotot, sementara supir taksi itu menatap mereka dengan kesal. Rafan segera merogoh dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang merah melalui jendela. "Ini untuk ganti rugi waktu Bapak."
"Jangan diterima, Pak! Saya bayar lebih!" seru Myra sambil mencubit lengan Rafan sekuat tenaga. Namun, pria itu bergeming bak memiliki ilmu kebal.
Hasrat supir itu goyah melihat lembaran merah di depan mata. Ia mengabaikan tatapan memohon Myra, mengangguk sopan, lalu menginjak gas. Rencana Rafan berhasil. Myra terdiam, menatap nanar taksi yang perlahan menghilang.
"Sialan! Aku akan membunuhmu!" Myra mengepalkan tinju.
"Jangan, Myra. Itu dosa besar membunuh suamimu sendiri," sahut Rafan dengan senyum kemenangan. "Ayo, kuantar pulang."
"Tidak! Kalau kamu memang ingin membantu, belikan saja bensin untuk mobilku!"
"Mana mungkin. Kamu ingin aku mendorongnya sampai ke pom bensin?"
"Kalau kamu tidak kuat, telepon orangmu!" cetus Myra geram.
"Iya, tenang saja. Orang-orangku akan mengurus mobilmu, dan kamu akan tetap pulang bersamaku," bujuk Rafan dengan suara rendah yang persuasif.
"Tidak! Aku tidak akan pergi tanpa mobilku!"
Rafan menghela napas panjang, wajahnya berubah datar. "Myra, jangan buat aku memaksa."
"Oh, jadi kamu mengancamku? Kamu sadar tidak, sejak tadi kamu terus memaksakan kehendakmu?"
"Benarkah?" Rafan memasang wajah polos tanpa dosa. "Kalau begitu, biarkan aku memaksa sekali lagi."
Tanpa peringatan, Rafan merengkuh pinggul ramping Myra dan menyampirkannya di atas bahu seperti kuli panggul. Myra menjerit, memukul-mukul punggung kekar itu dengan kalap.
"Turunkan aku! Rafan, turunkan tidak?!"
Rafan menutup telinga, terus melangkah menuju Jeep hitam miliknya. Ia membuka pintu depan dan mendudukkan Myra dengan paksa. "Penolakanmu yang membuatku harus bersikap begini," ujarnya sambil menarik sabuk pengaman.
"Aw!" Myra merintih saat jemari Rafan tak sengaja menyenggol luka memar di lengannya.
Rafan tersentak. Rasa bersalah langsung terpancar di wajahnya. "Maaf, aku tidak sengaja. Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Tidak! Aku tidak mau ke rumah sakit!" tolak Myra panik. Ia tidak boleh ke sana. Jika dokter mencium aroma racun belladona di tubuhnya, pihak berwenang pasti akan curiga. Racun itu ilegal dan sangat langka.
"Tapi kamu kesakitan, Myra."
"Sudah hilang! Pokoknya bawa aku ke mana pun, asal bukan rumah sakit," tegas Myra dengan mata membulat.
Rafan terpaku sejenak, lalu senyumnya kembali merekah. "Kalau begitu, aku akan membawamu keliling kota."
Ia segera memutar ke kursi pengemudi. Ada bunga yang mekar di hatinya, sebuah kesempatan lagi untuk menghabiskan waktu bersama gadis itu. Sementara di sisi lain, Myra merutuk dalam hati, Sial, aku baru saja membuka pintu neraka.
"Mau makan? Ada restoran bagus di Jalan Wijaya," tawar Rafan antusias.
Myra menatap Rafan dari ujung rambut ke ujung kaki. Pria itu memakai kaos santai dan sandal jepit. "Kamu yakin? Dengan penampilan seperti ini dan sandal jepit? Keamanan restoran pasti akan mengusirmu sebelum kamu sempat memesan."
Rafan melirik penampilannya sendiri dan tertawa canggung. "Ah, tadi aku terburu-buru. Kalau begitu, kita ke kafe saja."
Perjalanan berlanjut dalam keheningan yang menyesakkan bagi Myra. Ia menatap gedung-gedung yang berlalu lewat jendela yang terbuka, mencoba mengabaikan kehadiran Rafan.
Di kursi kemudi, Rafan berkali-kali melirik spion tengah. Ia baru menyadari rambutnya berantakan karena angin. Dengan panik, ia mencoba menyisir rambutnya menggunakan jari. "Kenapa aku tidak sadar gaya rambutku sekacau ini..." gerutunya dalam hati.
"Biarkan saja begitu," celetuk Myra datar tanpa menoleh.
"Hah?"
"Lupakan." Myra membuang muka, menyesali ucapannya.
"Kamu... suka gaya rambutku yang berantakan begini?" tanya Rafan antusias. "Aku juga berpikir ini membuatku terlihat lebih tampan, kan?"
Myra menoleh, menatapnya tajam. "Sebenarnya apa rencanamu? Kamu menyusup ke rumahku, mengintipku, bahkan tidur di kamarku. Sekarang kamu memaksaku jalan-jalan dan makan bersama. Untuk apa?"
"Tentu saja untuk mendapatkanmu," jawab Rafan tanpa ragu.
Myra mendengus sinis. "Mendapatkanku untuk dipenjara? Bukankah itu terlalu rumit? Biasanya polisi datang membawa surat penangkapan."
"Terlalu awal untuk itu. Aku belum punya banyak informasi tentang mereka."
"Mereka?" Myra mengernyit.
"Orang-orang yang mengurungmu di rumah itu. Aku ingin menyelamatkanmu agar kamu bebas. Jadi, jangan takut. Mulai sekarang, aku yang akan melindungimu."