NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 26: Reruntuhan Menara Kaca

Suasana di dalam kafe waralaba tempatku menunggu terasa sangat kontras dengan badai puting beliung yang sedang memorak-porandakan kepalaku.

​Musik bossa nova yang diputar pelan dari speaker di langit-langit kafe justru terdengar seperti ejekan sinis yang menyiksa telingaku. Aroma biji kopi panggang yang biasanya selalu berhasil menenangkanku, hari ini malah membuat asam lambungku naik.

​Tanganku yang sedingin es terus-menerus meremas tisu di bawah meja hingga hancur menjadi serpihan. Di seberang mejaku, Revan duduk kaku. Pria yang biasanya tidak pernah kehabisan lelucon itu kini membisu, sesekali menyeruput kopi hitamnya dengan tatapan tegang, sementara jarinya terus menggeser layar ponsel, memantau grup WhatsApp internal perusahaannya.

​"Gimana, Van? Ada kabar?" tanyaku. Suaraku bergetar, nyaris hilang tertelan suara mesin kopi dari arah meja kasir.

​Revan tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Ia meletakkan ponselnya perlahan ke atas meja, lalu menatapku dengan wajah pucat pasi.

​"Kacau, Nja. Rapatnya meledak. Arka beneran nekat," bisik Revan ngeri.

​Aku menelan ludah dengan susah payah. "Nekat gimana maksud lo?"

​"Dia buka semua data penggelapan dana proyek yang dilakukan Pak Hendra tangan kanan bokapnya tepat di depan muka semua investor dan dewan direksi," jelas Revan dengan suara tertahan. "Arka niatnya mau bersih-bersih perusahaan supaya bisa dapet dukungan penuh dari investor buat nyingkirin bokapnya dan pertahanin kedai lo. Tapi masalahnya... Pak Hendra itu kartu as bokapnya Arka. Dengan nyerang Pak Hendra secara terbuka, Arka sama aja kayak nyerang bokapnya sendiri di depan publik."

​Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Oksigen di sekitarku rasanya lenyap seketika. Aku bisa membayangkan betapa murka dan dinginnya tatapan Handoko Danadyaksa saat putranya sendiri menabuh genderang perang di ruang rapat itu.

​"Terus... hasilnya gimana?" tanyaku dengan napas tersengal.

​Revan menghela napas panjang, menatapku dengan tatapan iba yang membuat dadaku semakin sesak.

​"Pak Handoko nggak tinggal diam. Dia langsung ngeluarin mosi tidak percaya," lanjut Revan getir. "Bokapnya putar balik fakta. Dia bilang ke forum kalau Arka lagi dalam kondisi mental yang nggak stabil, dan ngambil keputusan irasional gara-gara 'pengaruh luar'."

​Revan menunduk sejenak sebelum menjatuhkan bom terakhirnya. "Dan yang paling parah... Clara juga ikut main kotor di dalam sana, Nja. Dia bawa setumpuk bukti fiktif yang seolah-olah nunjukin kalau Arka pakai dana pribadi perusahaan secara diam-diam buat biaya rencana renovasi kedai lo. Di mata dewan direksi, itu dianggap korupsi internal."

​Deg. Duniaku seolah runtuh, pecah berkeping-keping menimpa kepalaku saat itu juga.

​Arka mencoba menyelamatkanku, tapi aku dan kedaiku justru dijadikan senjata oleh Clara untuk menikam punggung pria itu. Aku telah ditarik masuk, dan kini menjadi alasan utama Arka dilempar ke dalam jurang kehancuran.

​Tak lama kemudian, layar ponsel Revan menyala. Ada sebuah pesan masuk. Cowok itu langsung melompat berdiri, wajahnya tegang.

​"Ayo, Nja. Arka udah keluar. Dia minta kita jemput di lorong pintu samping arah tempat pembuangan, bukan lobi utama."

​Kakiku rasanya seperti jeli, tapi aku memaksanya berlari mengikuti Revan keluar dari kafe.

​Kami menyusuri jalanan, berbelok ke sebuah lorong gelap dan sempit di samping gedung pencakar langit Cipta Megah. Di antara bayang-bayang gedung raksasa itu, aku melihatnya.

​Arka berdiri bersandar di dinding beton yang dingin. Setelan jas mahalnya masih melekat, tapi dasinya sudah hilang. Kemeja putihnya yang tadinya licin kini tampak sangat kusut, dengan kerah terbuka. Namun, yang paling merobek hatiku adalah matanya. Mata kelam yang biasanya menatapku dengan tajam, penuh wibawa, dan sedikit arogan itu... kini tampak luar biasa kosong dan mati.

​Di tangannya, ia memegang sebuah kardus kecil berwarna cokelat yang berisi beberapa pajangan meja dan barang pribadinya.

​Simbol universal kekalahan. Arka Danadyaksa, sang direktur mahkota, baru saja ditendang keluar dari kerajaannya sendiri bagaikan sampah.

​"Ka...!"

​Aku berlari menghampirinya, air mataku tumpah begitu saja tak terbendung. Aku membuka lenganku, ingin memeluk tubuhnya yang rapuh, ingin menyerap rasa sakitnya.

​Namun, hanya beberapa sentimeter sebelum aku menyentuhnya, Arka justru mundur selangkah. Ia mengangkat tangan kanannya yang bebas, menahan dadaku dengan telapak tangannya. Mendorongku menjauh.

​"Jangan deket-deket dulu, Nja," tegur Arka. Suaranya terdengar sangat parau, nyaris berbisik. "Ada banyak wartawan di lobi depan. Orang-orang suruhan bokap gue dan mata-mata Clara pasti masih ngawasin area ini. Jangan sampai lo kena foto."

​"Gue nggak peduli sama wartawan, Ka! Gue nggak peduli!" tangisku pecah, suaraku menggema di lorong sempit itu. "Lo kehilangan semuanya gara-gara belain gue! Ini semua salah gue!"

​Arka tersenyum getir. Sebuah senyuman yang sangat tipis, letih, dan menyedihkan.

​Ia mendongak, menatap dinding kaca gedung pencakar langit setinggi lima puluh lantai di belakangnya, lalu kembali menatapku.

​"Gue nggak kehilangan semuanya, Senja. Gue cuma kehilangan kursi jabatan sialan gue," ucapnya pelan. "Tapi masalahnya... bokap gue nggak bakal berhenti cuma dengan mecat gue. Dia udah nyabut semua akses gue per siang ini. Rekening bank gue dibekukan. Jip gue ditahan."

​Arka menarik napas panjang, memejamkan mata menahan rasa sesak yang luar biasa di dadanya.

​"Dan yang paling parah..." suara Arka mulai bergetar, pertahanannya nyaris jebol. "Surat perintah pembongkaran paksa kedai lo bakal diterbitin besok pagi, Nja. Dan kali ini... tangan gue udah diikat. Gue udah nggak punya kuasa apa-apa lagi buat nahan bulldozer itu."

​Kakiku lemas. Kalimat itu adalah vonis mati bagi Kedai Kala Senja. Tapi saat melihat wajah hancur Arka, kedai itu mendadak tidak lagi terasa penting.

​"Kita lari aja, Ka," isakku, memohon dengan sisa-sisa harapanku. "Kita cari bantuan hukum. Kita sewa pengacara pakai uang gue—"

​Arka menggeleng pelan. Ia melangkah maju, melanggar batasannya sendiri. Ia memberanikan diri mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya yang dingin.

​"Nja, dengerin gue," tatapan Arka mengunci mataku, penuh dengan keputusasaan yang menyiksa. "Selama gue masih ada di samping lo, lo bakal terus jadi sasaran empuk mereka. Clara bakal makin gila ngerusak hidup lo dan nyelakain lo kalau dia tahu gue masih berhubungan sama lo. Dia pengen gue sujud di kaki dia buat minta maaf."

​Aku mematung. Dingin seketika merayap ke seluruh aliran darahku. "Maksud lo... lo mau ninggalin gue?" tanyaku, suaraku mencicit hancur.

​Arka tidak menjawab secara langsung. Ia merogoh saku celananya, lalu menyelipkan sebuah benda logam kecil yang dingin ke telapak tanganku. Aku menunduk. Itu sebuah kunci.

​"Itu kunci kotak deposit di bank swasta," jelas Arka cepat. "Ada sedikit dana darurat pakai nama lo yang udah gue siapin sejak minggu lalu. Pakai uang itu buat sewa pengacara, atau buat buka kedai di tempat baru besok kalau kedai lo beneran diratain sama bokap gue."

​"Gue nggak butuh duit ini, Arka! Gue butuh lo!" teriakku histeris, mencoba mengembalikan kunci itu ke tangannya, tapi Arka mengepalkan tanganku dengan paksa.

​"Gue butuh waktu buat beresin kekacauan ini dari bawah, Nja. Gue harus menghilang supaya bokap gue dan Clara mikir gue udah hancur dan menyerah sama keadaan," bisik Arka tepat di telingaku.

​Ia menarik tubuhku dengan kasar, mendekapku ke dalam sebuah pelukan terakhir yang sangat kuat, sangat putus asa, namun luar biasa singkat. Wangi sandalwood-nya menempel di hidungku, bercampur dengan bau debu jalanan.

​"Jangan cari gue," bisiknya parau di rambutku. "Tetaplah kuat buat kedai lo, atau buat diri lo sendiri. Kalau waktunya udah tepat, gue janji... gue yang bakal nemuin lo."

​Arka melepaskan pelukannya secara sepihak. Tanpa menoleh lagi, ia menyerahkan kardus barangnya pada Revan yang sedari tadi membisu. Arka membalikkan badannya, lalu berjalan cepat menuju sebuah taksi kuning pudar yang rupanya sudah ia pesan dan menunggu di ujung jalan.

​Aku ingin mengejarnya. Aku ingin berteriak menahannya. Tapi Revan menahan kedua lenganku dari belakang dengan cengkeraman yang sangat kuat.

​"Biarin dia pergi, Nja," kata Revan dengan nada bergetar menahan tangis. "Ini satu-satunya cara supaya bokapnya berhenti nekan lo. Dia ngelakuin ini buat nyelamatin lo."

​Aku berhenti memberontak. Lututku merosot, hanya ditopang oleh tangan Revan. Aku berdiri mematung di pinggir jalan yang berdebu dan penuh polusi, menatap lampu merah taksi kuning itu yang perlahan menjauh, lalu benar-benar menghilang ditelan kemacetan ibu kota.

​Di telapak tanganku, kunci deposit itu terasa seperti besi panas yang sangat berat. Air mataku terus mengalir tanpa suara.

​Sore ini, langit Jakarta mendung tanpa hujan. Dan aku akhirnya menyadari satu hal. Rasa kopiku sore ini takkan pernah lagi terasa pahit karena kafein atau salah teknik seduhan... melainkan pahit karena kenyataan bahwa cinta... terkadang menuntut kita Untuk memilih jalan yang paling menyakitkan: saling melepaskan, agar bisa saling menyelamatkan.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!