Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Kalimat klasik itu. Kalimat yang bahkan tidak perlu dijelaskan lagi maknanya. Sekar tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
“Yang aku pikirkan itu apa, Ji?” tanyanya pelan, melangkah masuk sepenuhnya ke dalam kamar. “Kamu bisa jelaskan ke aku… supaya aku nggak salah paham.”
Aji membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar. Untuk pertama kalinya, lelaki yang selama ini selalu punya jawaban itu terlihat kehilangan arah.
Mila berdiri di belakangnya, merapikan pakaiannya dengan gerakan kecil yang justru terasa seperti tamparan bagi Sekar. Dan entah kenapa, itu yang akhirnya memicu segalanya.
“Sudah berapa lama?” Sekar tidak meninggikan suara. Tapi setiap kata yang keluar terasa berat.
Aji menghela napas. “Sekar, kita bisa bicarakan ini baik-baik,”
“Sudah berapa lama, Ji?” ulang Sekar, kali ini lebih tegas.
Hening sejenak. “Beberapa bulan.”
Jawaban itu jatuh begitu saja. Tanpa rasa bersalah. Tanpa ragu. Seolah itu bukan sesuatu yang besar.
Sekar tertawa kecil. Pelan. Rapuh. “Beberapa bulan…” ulangnya, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. “Jadi selama ini… aku yang sibuk bantu kamu, aku yang capek bolak-balik kerja, aku yang berusaha jaga semuanya tetap utuh…” Ia menatap Aji lurus-lurus. “Kamu sibuk hancurin semuanya di belakang aku?”
“Jangan dibesar-besarkan, Sekar,” potong Aji tiba-tiba, nada suaranya berubah, lebih dingin, lebih defensif. “Kamu juga jarang di rumah sekarang. Kamu terlalu fokus sama kerjaan kamu.”
Sekar terdiam. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada pemandangan di depan matanya. “Jadi ini salah aku?”
“Bukan salah,” jawab Aji cepat. “Tapi kamu juga harus sadar, sebagai istri kamu punya kewajiban. Kamu kurang ada buat aku. Kamu berubah.”
Sekar menatapnya lama. Mencoba mencari sesuatu. Empati. Rasa bersalah. Penyesalan. Tapi yang ia temukan hanya pembelaan diri. “Lucu ya…” gumam Sekar pelan. “Aku bantu kamu, itu jadi masalah. Aku nggak bantu, kamu bilang aku nggak peduli.”
Ia menggeleng pelan, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
“Aku harus jadi apa, Ji? Supaya kamu nggak selingkuh?”
“Jangan bawa-bawa kata itu,” sahut Aji tajam. “Aku cuma butuh seseorang yang ngerti aku. Yang ada buat aku. Yang… patuh.”
Kata terakhir itu menggantung di udara. Berat. Menusuk. Sekar terdiam cukup lama. Lalu perlahan, sangat perlahan, ia mengangguk. Seolah akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini ia abaikan. “Jadi ini bukan soal cinta ya,” ucapnya pelan. “Ini soal kamu pengen punya seseorang yang nurut… bukan pasangan.”
Aji tidak menjawab. Dan diamnya itu sudah cukup menjadi jawaban. Sekar menoleh ke arah Mila. Untuk pertama kalinya sejak perkenalan mereka dan bantuan-bantuan yang diberikan Sekar, ia menyesalinya. “Dan kamu…” ucap Sekar tenang. “Kamu tahu dia suamiku.”
Mila menatap Sekar, tidak mundur. “Saya tidak memaksa, Bu.” Jawaban itu sederhana.
Tapi cukup untuk membuat sesuatu dalam diri Sekar akhirnya pecah. “Keluar.” Suara Sekar berubah. Tidak lagi datar. Tidak lagi dingin. Tapi tajam. “Keluar dari kamar putri saya.” Kali ini lebih keras. Lebih jelas. Lebih nyata.
Mila sempat ragu, menoleh pada Aji, tetapi Sekar sudah tidak peduli lagi. Ia tidak ingin melihat mereka berdua di ruang yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati.
Aji menghela napas kasar. “Sekar, kamu berlebihan”
“Keluar, Ji.” Sekar menatapnya. Dan untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka, tidak ada lagi kelembutan di sana.
Hanya batas. Hening. Beberapa detik yang terasa panjang. Lalu akhirnya, mereka keluar. Meninggalkan Sekar sendiri di dalam kamar itu. Begitu pintu tertutup, tubuh Sekar melemas. Ia terduduk di tepi tempat tidur.
Tempat yang tadi masih menjadi saksi pengkhianatan itu. Tangannya gemetar. Napasnya tidak beraturan. Apalagi ia melihat sprei putrinya basah bersimbah keringat. Sekar benar-benar mual melihatnya.
Ia menunggu. Menunggu sesuatu yang selama ini selalu datang di saat seperti ini. Tangis. Ledakan. Rasa sakit yang tak tertahankan. Tapi tidak ada. Tidak ada air mata. Tidak ada teriakan. Tidak ada apa-apa. Hanya kosong. Kosong yang begitu luas hingga menelan semuanya.
Sekar menunduk, menatap tangannya sendiri. Pelan. Bingung. “Kenapa…” bisiknya lirih.
“Kenapa aku nggak ngerasain apa-apa?”
Di luar sana, mungkin hidupnya baru saja hancur. Tapi di dalam dirinya yang hancur justru kemampuannya untuk merasakan. Dan tanpa ia sadari, itulah awal dari luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar pengkhianatan.
***
Rumah orang tua Aji sore itu terasa berbeda. Bukan karena tempatnya, tapi karena suasananya.
Udara di ruang tamu terasa berat, seolah setiap orang yang duduk di sana membawa penilaian masing-masing. Sekar duduk di ujung sofa, punggungnya tegak, tangannya terlipat di pangkuan. Ia tidak menunduk, tapi juga tidak menantang. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan kepercayaan dalam pernikahannya.
Di seberangnya, Aji duduk bersama kedua orang tuanya. Sementara di sisi lain, ibu Sekar terlihat gelisah, sesekali melirik anaknya dengan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
Ini bukan percakapan keluarga. Ini persidangan. Dan Sekar akan bertempur sebagai penuntut umum..
“Kita di sini bukan untuk saling menyalahkan,” buka ayah Aji dengan suara berat yang berusaha terdengar bijak, meski sorot matanya jelas menunjukkan keberpihakan.
“Kita cari jalan terbaik.”
Sekar diam. Ia tahu, kalimat seperti itu seringkali hanya pembuka dari sesuatu yang tidak adil.
“Aji sudah cerita semuanya,” lanjut ibu Aji. “Kami juga kaget… tapi kami juga harus dengar dari dua sisi.”
Dua sisi. Sekar hampir tersenyum mendengarnya. Karena sejak ia masuk ke ruangan itu, ia belum diberi ruang untuk berbicara.
“Aji,” ujar ayahnya, “coba kamu jelaskan lagi.”
Dan di situlah semuanya dimulai. Aji menarik napas panjang, lalu menatap ke arah Sekar sekilas sebelum akhirnya berbicara.
“Masalahnya bukan cuma satu,” ucapnya tenang, seolah ia sudah menyiapkan semua ini dengan rapi. “Sekar sudah berubah sejak dia mulai kerja lagi. Dia jarang di rumah, jarang ngurus aku, dan… ya, kita jadi jauh.”
Sekar tidak bergerak. Tidak juga memotong. Ia hanya mendengar.
“Aku nggak bilang aku benar,” lanjut Aji, nada suaranya dibuat terdengar rendah hati, “tapi aku juga manusia. Aku butuh ditemani. Butuh diperhatikan.” Kalimat itu jatuh dengan rapi. Seperti pembelaan yang sudah dilatih.
“Jadi kamu cari perhatian dari perempuan lain?” tanya ibu Sekar tiba-tiba, tak mampu menahan diri.
Aji terdiam sejenak, lalu menjawab, “Saya tidak merencanakan itu, Bu. Itu terjadi begitu saja.”
Sekar menutup matanya sejenak. Terjadi begitu saja. Seolah pengkhianatan adalah sesuatu yang jatuh dari langit.
“Tapi tetap saja, ini tidak bisa dibenarkan,” sahut ibu Sekar, suaranya mulai bergetar.
Namun sebelum ia bisa melanjutkan, ibu Aji memotong dengan cepat.
“Kita tidak membenarkan,” ujarnya halus, tapi tegas. “Tapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa sebagai istri, Sekar punya peran.”
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗