Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Pengkhianatan
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja itu. Stella masih terengah-engah, ujung tajam pembuka surat perak itu masih menekan kulit lehernya yang putih hingga memunculkan rona merah. Antonio Leone tampak seperti pria yang baru saja kehilangan jiwanya, matanya yang basah menatap nanar pada putri kesayangannya, seolah dunianya akan berakhir jika setetes darah Stella jatuh ke lantai.
Nora Leone berdiri mematung. Di tangannya, foto Adrian Thorne—pria yang selama lima tahun ini menghuni setiap sudut hatinya—terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya.
Lima tahun. Lima tahun Nora memberikan segalanya: tubuhnya, kesetiaannya, dan setiap rahasia yang ia miliki untuk menjaga Adrian tetap aman. Namun, kata-kata yang ia dengar di balik pintu ruang kerja Adrian sebulan lalu kembali terngiang, menghantam dadanya seperti palu godam.
“Nora hanyalah tameng, Adrian. Musuhmu mencarimu lewat titik lemahmu. Kau yakin dia tidak dalam bahaya?” suara orang kepercayaan Adrian saat itu terdengar khawatir.
Dan jawaban Adrian telah membunuh Nora seketika: “Biarkan mereka mengira Nora adalah segalanya bagiku. Dengan begitu, mereka tidak akan pernah melirik Stella. Stella terlalu rapuh untuk dunia ini, sedangkan Nora... dia terbuat dari baja. Dia bisa menahannya.”
Nora memejamkan mata sejenak, menghalau rasa perih yang menyerang matanya. Saat dia membukanya kembali, hanya ada kedinginan yang tersisa.
"Letakkan benda itu, Stella," suara Nora terdengar datar, tanpa emosi. "Kau tidak perlu mati hanya karena tidak bisa mendapatkan apa yang kau mau."
Stella menurunkan sedikit tangannya, namun matanya tetap waspada. "Apa maksudmu? Kau ingin memamerkan kemenanganmu?"
Nora mengalihkan pandangannya pada Antonio. Ayahnya menatapnya dengan harapan yang begitu besar—harapan agar Nora kembali menjadi si "kakak yang pengertian," si "anak yang berkorban." Nora selalu melakukannya sejak kecil. Saat mainannya diambil Stella, saat perhatian ayahnya terbagi, saat ibunya meninggal dalam kesedihan.
"Aku akan bertukar," ucap Nora singkat.
Antonio menghembuskan napas lega yang begitu keras hingga tubuhnya merosot kembali ke kursi kebesarannya. "Nora... kau... kau memang anak yang berbakti. Terima kasih, Nak. Papa tahu kau bisa diandalkan."
Nora mengangkat tangan, menghentikan kalimat syukur ayahnya yang terasa munafik. "Jangan berterima kasih dulu, Papa. Aku tidak melakukan ini secara gratis. Aku memiliki dua syarat yang tidak bisa dinegosiasikan."
Stella menurunkan pembuka surat itu sepenuhnya ke meja, wajahnya yang tadi penuh air mata kini berubah menjadi penuh rasa ingin tahu yang serakah.
"Sebutkan," ujar Antonio cepat. "Apapun, asal Stella aman."
Nora berjalan mendekati meja, meletakkan foto Adrian Thorne yang masih utuh di depan ayahnya, tepat di samping sobekan foto Declan Sullivan yang hancur.
"Pertama," Nora memulai, suaranya tenang namun tajam. "Rahasiakan pertukaran ini sampai hari pernikahan. Tidak boleh ada orang luar yang tahu, termasuk pihak Thorne maupun Sullivan. Biarkan berkas resminya tetap atas namaku untuk Adrian, dan nama Stella untuk Declan. Kita akan melakukan swap di menit terakhir sebelum janji suci diucapkan. Aku ingin transisi ini terjadi saat tidak ada lagi jalan untuk kembali."
Antonio mengerutkan kening. "Itu berisiko, Nora. Jika Adrian tahu—"
"Adrian tidak akan tahu jika kau menutup mulutmu rapat-rapat, Papa," potong Nora dingin. "Lagipula, bukankah ini yang kau inginkan? Menempatkan Stella di posisi yang dia dambakan?"
Stella mengangguk cepat. "Aku setuju! Aku bisa menyamar. Aku akan melakukan apapun agar bisa bersama Adrian."
"Dan syarat kedua?" tanya Antonio, suaranya mengecil, seolah dia takut dengan apa yang akan datang.
Nora menatap lurus ke dalam mata ayahnya, mata yang tidak pernah benar-benar menatapnya dengan rasa bangga yang tulus. "Aku minta seratus juta dolar. Tunai. Masukkan ke dalam rekening luar negeriku sebelum matahari terbenam besok."
Antonio tersentak kaget, wajahnya memucat. "Seratus juta? Nora, kau tahu perusahaan sedang di ambang kebangkrutan! Itu hampir seluruh sisa aset cair yang aku miliki untuk mencoba menyelamatkan Leone Tower!"
"Maka pilihlah," tantang Nora. "Selamatkan perusahaanmu yang sudah sekarat itu, atau selamatkan nyawa putri kesayanganmu. Bagiku, seratus juta dolar adalah harga yang murah untuk menjual masa depanku kepada seorang pria koma di New York. Aku akan masuk ke dalam keluarga Sullivan tanpa membawa apa-apa selain namaku. Aku butuh jaminan hidup jika suatu saat 'mayat hidup' itu benar-benar mati atau keluarganya memutuskan untuk menyingkirkanku."
Nora tahu betapa ironisnya permintaannya. Dia meminta uang yang mungkin bisa menyelamatkan bisnis ayahnya, namun dia tidak peduli lagi.
Antonio menatap Stella yang kembali mulai terisak kecil—sebuah taktik manipulasi yang sudah Nora hafal di luar kepala.
"Baik," bisik Antonio akhirnya. "Seratus juta dolar. Aku akan mengaturnya lewat jalur gelap agar tidak terdeteksi auditor. Tapi kau harus berjanji, Nora. Kau tidak akan membatalkan ini."
"Aku adalah wanita yang memegang kata-kataku, Papa. Tidak seperti kau," balas Nora pedas.
Nora berbalik untuk pergi, namun langkahnya terhenti di depan Stella. Dia menatap adiknya yang kini tersenyum tipis di balik sisa air matanya—senyum kemenangan seorang predator kecil yang mendapatkan mangsanya.
"Kau sangat menginginkannya, bukan?" tanya Nora pelan, hanya bisa didengar oleh Stella.
"Adrian mencintaiku, Nora. Kau hanya tempat persinggahannya yang membosankan," bisik Stella dengan nada mengejek yang kental.
Nora tersenyum, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Ambillah dia, Stella. Ambillah pria yang menjadikanku tameng untuk melindungimu. Ambillah pria yang rela membiarkan aku mati agar kau tidak tergores. Tapi ingat satu hal..." Nora mendekatkan bibirnya ke telinga Stella. "...saat kau berada di pelukannya, kau akan selalu tahu bahwa setiap inci tubuh yang dia sentuh padamu, telah lebih dulu dia jelajahi padaku selama lima tahun. Kau hanya mendapatkan sisa-sisaku."
Wajah Stella mengeras, namun Nora tidak memberinya kesempatan untuk membalas. Dia melangkah keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak.
Saat pintu jati besar itu tertutup di belakangnya, Nora bersandar di dinding koridor yang dingin. Jantungnya berdegup kencang. Seratus juta dolar dan sebuah tiket menuju New York untuk menikahi pria koma.
Bagi orang lain, ini adalah hukuman mati. Bagi Nora, ini adalah escape plan.
Menikahi Declan Sullivan berarti dia akan pergi dari California, pergi dari bayang-bayang ayahnya, dan yang terpenting, pergi dari Adrian Thorne. Di New York, dengan suami yang tidak bisa bicara atau bergerak, Nora akan memiliki kekuatan penuh atas nama Sullivan. Dia akan memiliki uangnya, kekuasaannya, dan dia tidak perlu berpura-pura dicintai lagi.
Dia merogoh ponselnya, melihat sebuah pesan masuk dari Adrian.
“Aku merindukanmu, Nora. Datanglah ke penthouse malam ini. Ada yang ingin aku bicarakan tentang masa depan kita.”
Nora menghapus pesan itu tanpa membalasnya. Masa depan yang dimaksud Adrian adalah menjadikan Nora sebagai pengantin tumbal sementara dia terus memuja Stella dalam gelap.
"Selamat bersenang-senang dengan adikku, Adrian," gumam Nora pada koridor yang sepi. "Kau pikir kau sedang menggunakan aku? Tidak. Mulai hari ini, akulah yang menggunakan kalian semua untuk kebebasanku sendiri."
Nora berjalan menuju lift, jarinya menekan tombol lobi. Dia punya waktu kurang dari sebulan untuk mempersiapkan "pernikahan abad ini." Pernikahan di mana semua orang akan terkejut saat pengantin wanita membuka kerudungnya, namun saat itu terjadi, Nora sudah akan berada jauh di atas awan, menuju kehidupan barunya sebagai Nyonya Besar Sullivan.