Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: SISA ABU DI ATAS TAHTA
Pagi pertama di kantor sebagai CEO Hardianto Group yang sah tidak terasa semanis yang Larasati bayangkan dalam mimpinya selama sepuluh tahun ini. Ia duduk di kursi kulit yang dingin, menatap papan nama kayu jati yang baru saja diganti: Larasati Hardianto. Di depannya, segelas kopi hitam tanpa gula mengepulkan uap tipis, aromanya pahit, persis seperti suasana hatinya.
Gedung ini kini miliknya. Seluruh aset yang dulu dirampas keluarga Pratama telah kembali ke pangkuannya. Namun, saat ia melihat ke sekeliling ruangan yang luas dan mewah ini, yang ia rasakan hanyalah kesunyian yang mencekam.
"Selamat pagi, Bu Larasati," suara Aditama memecah lamunannya. Pria itu masuk dengan setumpuk berkas baru. "Jajaran direksi sudah menunggu di ruang rapat. Mereka ingin mendengar visi Anda untuk memulihkan citra perusahaan setelah skandal penangkapan Tuan Pratama."
Larasati memperbaiki letak blazernya, menarik napas panjang untuk menguatkan mentalnya. "Biarkan mereka menunggu lima menit lagi, Adit. Aku perlu menenangkan debaran jantungku."
Aditama mengangguk, ia bersandar di pintu sambil menatap sahabat masa kecilnya itu dengan prihatin. "Kamu sudah menang, Laras. Kenapa wajahmu terlihat seolah baru saja kalah perang?"
Larasati tersenyum getir. "Menang secara hukum itu mudah, Adit. Tapi memenangkan kedamaian di dalam sini..." ia menunjuk dadanya, "...ternyata jauh lebih sulit. Aku terus terbayang wajah Ibu Rahayu saat aku menyita rumah itu. Beliau tidak bersalah, tapi beliau harus ikut menanggung malu karena ulah menantunya."
"Itu konsekuensi, Laras. Jangan biarkan rasa bersalah menghambat langkahmu," tegur Aditama tegas.
Rapat direksi berlangsung selama tiga jam. Larasati menunjukkan taringnya. Ia tidak hanya memecat orang-orang kepercayaan Tuan Pratama yang terbukti membantu penggelapan dana, tetapi ia juga mengumumkan program pemulihan bagi karyawan-karyawan lama yang dulu dipecat secara sepihak oleh keluarga Maya.
"Perusahaan ini dibangun dengan kejujuran ayah saya, Tuan Hardianto. Siapa pun yang tidak bisa menjunjung tinggi integritas, silakan tinggalkan ruangan ini sekarang juga," ucap Larasati dengan suara yang tenang namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan.
Setelah rapat selesai, Larasati memutuskan untuk pergi sejenak. Ia menyetir mobilnya sendiri tanpa pengawalan. Ia ingin mengunjungi sebuah tempat yang selama ini ia hindari: unit apartemen kecil di pinggiran kota, tempat Baskara dan Ibu Rahayu kini tinggal.
Ia tidak ingin masuk, ia hanya ingin memastikan dari jauh bahwa pria yang pernah ia cintai itu baik-baik saja.
Dari dalam mobil yang terparkir di seberang jalan, Larasati melihat Baskara keluar dari gedung apartemen. Pria itu tidak lagi mengenakan setelan jas mewah seharga puluhan juta. Ia hanya memakai kemeja flanel sederhana dan celana jins. Di tangannya, ia membawa tas belanjaan plastik dan tampak sedang menuntun Ibu Rahayu yang berjalan pelan menggunakan tongkat.
Melihat pemandangan itu, dada Larasati terasa sesak. Baskara, pria yang dulu begitu berkuasa, kini harus mengantre di pasar swalayan murah dan hidup di ruang sempit. Namun, ada sesuatu yang berbeda di wajah Baskara. Ia tampak lebih tenang. Tidak ada lagi beban rahasia atau amarah yang meledak-ledak.
Tiba-tiba, Ibu Rahayu berhenti melangkah. Beliau tampak kelelahan. Baskara dengan sigap berlutut di depan ibunya, memijat kaki wanita tua itu dengan lembut di pinggir trotoar. Pemandangan itu membuat air mata Larasati jatuh tanpa permisi.
"Dia pria yang baik, Ayah... hanya saja dia lahir di keluarga yang salah," bisik Larasati pedih.
Larasati hendak menyalakan mesin mobilnya untuk pergi, namun tiba-tiba matanya menangkap sosok lain di ujung jalan. Seorang wanita dengan pakaian yang kumal dan rambut yang acak-acakkan tampak sedang mengintai Baskara dari balik pohon.
Itu Maya.
Wajah Maya tampak tirus, matanya cekung, dan perutnya yang sedikit membuncit terlihat jelas di balik kaos tipisnya. Ia tampak memegang sebilah pisau kecil di tangannya, matanya menatap Baskara dengan tatapan kebencian yang murni.
"Tidak..." jantung Larasati berdegup kencang.
Larasati segera keluar dari mobilnya. Ia berlari sekuat tenaga menuju arah Baskara. "Baskara! Awas!" teriaknya.
Suara teriakan Larasati membuat Baskara menoleh. Di saat yang sama, Maya berlari kencang menuju Baskara dengan pisau terhunus. "Kamu menghancurkanku, Baskara! Kamu membiarkan jalang itu mengambil segalanya! Mati kalian semua!" teriak Maya seperti orang kesurupan.
Baskara yang sedang berlutut di depan ibunya tidak sempat menghindar. Namun, sebelum pisau itu mengenai punggung Baskara, Larasati sudah sampai di sana. Ia mendorong Baskara hingga jatuh tersungkur, dan pisau itu justru menyayat lengan Larasati.
"Aakh!" Larasati mengerang kesakitan saat darah segar mulai mengalir membasahi blazer mahalnya.
"Laras!" teriak Baskara panik. Ia segera bangkit dan memiting tangan Maya hingga pisau itu terjatuh ke aspal.
Warga sekitar segera berdatangan dan mengamankan Maya yang terus meronta-ronta sambil menjerit histeris. "Lepaskan aku! Dia harus mati! Larasati harus mati!"
Polisi segera datang dan membawa Maya. Wanita itu benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Ia akan dibawa ke rumah sakit jiwa untuk observasi sebelum menjalani proses hukum lebih lanjut.
Baskara memegang lengan Larasati yang terluka dengan tangan yang gemetar. "Laras... kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu mempertaruhkan nyawamu untukku?"
Larasati menahan perih di lengannya, matanya menatap Baskara dengan sayu. "Karena aku tidak ingin melihatmu terluka, Baskara. Kebencianku pada keluargamu tidak pernah cukup untuk menghapus rasa peduliku padamu."
Ibu Rahayu mendekat, beliau memeluk Larasati sambil menangis. "Maafkan keluarga kami, Laras... Maafkan kami yang sudah memberikan begitu banyak luka untukmu."
Malam harinya, Larasati duduk di unit gawat darurat rumah sakit dengan lengan yang sudah diperban. Baskara duduk di sampingnya, memegang segelas air mineral untuknya.
"Terima kasih, Laras," ucap Baskara lirih. "Tadi aku benar-benar tidak siap. Jika bukan karena kamu..."
"Sudahlah, Baskara. Semuanya sudah berakhir sekarang. Maya sudah diamankan, dan dia tidak akan mengganggumu lagi," potong Larasati.
Baskara menunduk, ia menatap lantai rumah sakit yang dingin. "Laras... aku sudah menandatangani surat cerai itu tadi sore di kantor pengacaramu. Kamu bebas sekarang. Kamu tidak lagi terikat dengan pria pecundang sepertiku."
Larasati tertegun. Ia meraih tangan Baskara yang kasar. "Kamu bukan pecundang, Baskara. Kamu adalah korban dari keadaan. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu lebih memilih integritas daripada kekayaan haram."
Baskara menatap Larasati, ada secercah harapan di matanya. "Apakah masih ada jalan kembali bagi kita, Laras? Bukan sebagai Gendis dan Baskara yang penuh rahasia, tapi sebagai Larasati dan Baskara yang baru?"
Larasati menarik napas panjang. Ia menatap lengannya yang diperban. Luka fisik ini akan sembuh dalam hitungan minggu, namun luka di hati mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun.
"Aku tidak tahu, Baskara," jawab Larasati jujur. "Saat ini, aku ingin fokus membangun kembali warisan ayahku. Dan kamu... kamu harus mengurus anak yang dikandung Maya, bagaimanapun juga, bayi itu butuh bantuan untuk masa depannya, meskipun bukan anakmu, kamu punya hati yang besar untuk menolongnya."
Baskara mengangguk mengerti. "Aku akan membantu biaya persalinannya lewat lembaga sosial, agar aku tidak perlu bertemu dengannya lagi. Aku ingin memulai hidup baru yang bersih."
Larasati berdiri, ia menatap Baskara untuk terakhir kalinya malam itu. "Buktikan padaku bahwa kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri, Baskara. Jika suatu saat nanti takdir mempertemukan kita kembali saat semua luka ini sudah menjadi parut yang tidak lagi nyeri... mungkin kita bisa mencoba lagi."
Larasati berjalan keluar dari rumah sakit dengan langkah yang perlahan. Di luar, hujan rintik-rintik mulai turun, membasahi bumi yang lelah. Ia masuk ke mobilnya dan melihat bayangannya di spion.
Ia telah membalaskan dendamnya. Ia telah mengambil hartanya. Ia telah memaafkan musuhnya. Dan sekarang, ia harus belajar untuk mencintai dirinya sendiri kembali.
"Ayah... tugasku selesai," bisik Larasati.
Ia menyalakan mesin mobilnya dan berkendara menembus malam. Perjalanan hidupnya sebagai "Istri Kedua" yang penuh siasat telah berakhir. Kini, babak barunya sebagai seorang wanita mandiri yang berkuasa atas takdirnya sendiri baru saja dimulai.