cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
...
...
Tiga Hari Jelita Mendekam Di Kamar Bukan Cuma Karena Urusan Tugas, Tapi Karena Hatinya Lagi Crash Se-crash-crash-nya. Langit Yang Bucinnya Nggak Ketulungan Itu Untungnya Lagi "Dikunci" Haikel Di Perpustakaan Buat Nyelesein Skripsi Yang Mereka Garap, Jadi Dia Percaya-percaya Aja Pas Jelita Bilang: "Sayang, Aku Drop, Mau Bed Rest Total Tanpa Gadget."
Tapi, Kalau Langit Bisa Dibohongin, Windi Beda Cerita. Windi Itu Punya Radar Yang Lebih Tajam Dari Intel. Dia Yang Dulu Ngenalin Langit Ke Jelita, Dia Juga Yang Jadi Saksi Sejarah Betapa "Matinya" Jelita Pas Jaman Yayan Dulu.
Brakk!
Pintu Kamar Jelita Digedor Pake Kekuatan Penuh. "Jelita Anna Tasya! Buka Nggak! Gue Tau Lo Nggak Sakit Ya! Lo Nggak Usah Akting Jadi Zombi Di Dalem!"
Jelita Dengan Langkah Gontai Akhirnya Buka Pintu. Windi Langsung Nyelonong Masuk, Tangannya Bawa Kresek Berisi Martabak—tapi Mukanya Lebih Galak Dari Ibu Kost Yang Mau Nagih Tunggakan.
"Lo Kenapa Sih? Langit Telpon Gue Tiap Jam, Nanyain Keadaan Lo Sampe Gue Bosen Denger Suara Cemasnya Dia. Lo Tau Kan Langit Itu Percaya-percaya Aja Sama Lo Karena Dia Sayang Banget? Tapi Gue... Gue Nggak Sebego Langit, Jee," Cerocos Windi Sambil Naruh Martabak Di Meja Dengan Kasar.
Jelita Duduk Di Kasur, Wajahnya Kuyu. Dia Menatap Windi Lama, Sampe Akhirnya Air Matanya Netes Satu-satu. "Win... Gue Ketemu Dia."
Windi Yang Tadinya Mau Ngomel Lagi, Mendadak Diem. Dia Nggak Perlu Nanya Siapa Itu "Dia". Windi Tau Persis Siapa Satu-satunya Orang Yang Bisa Bikin Jelita Yang Udah "Di-upgrade" Langit Jadi Balik Lagi Ke Versi "Beton Kaku".
"Yayan?" Bisik Windi Pelan, Suaranya Mendadak Serius.
Jelita Cuma Bisa Ngangguk Lemes. "Gue Ketemu Dia Di Kantin. Dia Natap Gue, Win... Tatapannya Haus Banget, Kayak Orang Yang Nggak Punya Harapan Tapi Maksa Pengen Nemu Jalan. Gue Takut, Win. Gue Nggak Mau Langit Tau."
Windi Langsung Berdiri, Jalannya Mondar-mandir Di Kamar Jelita. "Duh, Jee! Gue Kan Tim Langit Garis Keras! Lo Tau Sendiri Perjuangan Gue Ngenalin Lo Sama Dia Biar Lo Nggak Lumutan Sama Kenangan Brengsek Itu! Langit Itu Tulus Banget, Dia Nggak Curiga Sama Sekali Karena Dia Mikir Lo Emang Kecapean."
Windi Berhenti, Natap Jelita Tajem. "Terus Sekarang Gimana? Lo Mau Sembunyi Terus? Inget Ya, Langit Sama Yayan Itu Mukanya Sama! Kalau Lo Nggak Biasa-biasain Mental Lo Sekarang, Pas Lo Liat Langit Nanti, Lo Malah Bakal Liat Yayan. Lo Mau Nyakitin Langit?"
"Gue Justru Nggak Mau Nyakitin Dia, Makanya Gue Bohong!" Seru Jelita Frustrasi. "Gue Nggak Mau Dia Denger Suara Gue Yang Lagi Berantakan Gini. Dia Lagi Sibuk, Win. Gue Cuma Butuh Waktu Biar Tembok Gue Berdiri Lagi Sebelum Ketemu Langit."
Windi Ngehela Napas, Dia Akhirnya Duduk Di Sebelah Jelita. "Jee, Dengerin Gue. Gue Dukung Lo Sama Langit Sampe Titik Darah Penghabisan. Tapi Lo Jangan Lama-lama Self-healing Yang Malah Jadi Self-killing. Kasihan Langit, Dia Di Perpus Nyari Referensi Tapi Pikirannya Di Kamar Lo."
Windi Ngebuka Kotak Martabaknya. "Nih Makan. Biar Ada Tenaga Buat Bohongin Langit Lagi Kalau Dia Telpon Nanti Malam. Tapi Besok, Lo Harus Keluar! Gue Nggak Mau 'investasi' Gue Si Langit Nangis Gara-gara Lo Balik Jadi Patung!"
Jelita Senyum Tipis, Tipikal Windi Yang Sengklek Tapi Sebenernya Sayang Banget. "Makasih Ya, Win."
"Nggak Usah Makasih! Bayar Martabaknya Pake Senyum Lo Buat Langit Besok! Awas Ya Kalau Lo Kecolongan Si Yayan Lagi!" Ancam Windi Sambil Nyuapin Martabak Ke Mulut Jelita Paksa.
Langit Sudah Mencapai Batas Kesabarannya. Tiga Hari Cuma Dikasih Asupan Chat Singkat Bertajuk "Aku Pusing Mau Tidur" Benar-benar Bikin Sarafnya Putus. Persetan Dengan Tugas Skripsi Yang Belum Beres Di Perpus Pusat. Bagi Langit, Jelita Yang Sakit Dan Nggak Pegang Gadget Itu Adalah Keadaan Darurat Nasional.
Sore Itu, Dengan Mata Panda Karena Kurang Tidur Tapi Gaya Tetap Sok Keren, Langit Memarkir Porsche Hitamnya Di Depan Kosan Jelita Dengan Suara Raungan Mesin Yang Seolah Meneriakkan: "Bodyguard Lo Dateng!"
"Misi Pak, Pacar Saya Yang Kamarnya Paling Pojok Masih Hidup Kan?" Tanya Langit Pada Penjaga Kos Dengan Wajah Panik Yang Dibuat-buat, Tapi Tetap Saja Tangannya Sudah Menenteng Bubur Ayam Dan Sekotak Vitamin Mahal.
Tanpa Nunggu Jawaban, Langit Langsung Melesat Ke Lantai Dua.
Di Dalam Kamar, Jelita Yang Baru Saja Selesai Dibilas Motivasi Sama Windi, Sedang Duduk Termenung Di Tepi Kasur. Dia Baru Saja Mau Mencoba Mematikan Lampu Biar Kelihatan Sudah Tidur, Tapi Terlambat.
Brakk! Brakk! Brakk!
"Jelita Anna Tasya! Buka Pintunya Sekarang! Gue Tau Lo Di Dalem Dan Gue Tau Lo Nggak Lagi Jadi Batu!" Suara Bariton Langit Yang Posesif Nan Sengklek Itu Menggema Di Lorong.
Jantung Jelita Rasanya Mau Melompat Keluar. "Mampus... Langit Beneran Ke Sini," Bisiknya Panik.
Jelita Nggak Punya Pilihan. Dengan Tangan Gemetar, Dia Membuka Pintu. Begitu Pintu Terbuka, Langit Nggak Pakai Permisi Langsung Masuk Dan Menutup Pintu Dengan Kakinya. Dia Menatap Jelita Dari Atas Ke Bawah Dengan Tatapan Mengintimidasi Sekaligus Khawatir Setengah Mati.
"Katanya Sakit? Katanya Nggak Pegang Gadget? Tapi Kok Lo Kelihatan Segeran Dikit... Walau Mata Lo Kuyu Kayak Habis Liat Hantu?" Cecar Langit Sambil Menempelkan Punggung Tangannya Ke Dahi Jelita.
Jelita Membeku. Sentuhan Tangan Langit, Aroma Langit... Semuanya Sangat Beda Dengan Sosok Yang Dia Temui Di Kantin Tiga Hari Lalu, Pria Di Depannya Ini Menatapnya Dengan Rasa Memiliki Yang Mutlak, Bukan Cuma Kerinduan Pasif. Yang Sama Cuma Wajah Nya Doang.
"Lang... Kan Gue Bilang Mau Istirahat, Kenapa Lo Nekat Ke Sini?" Suara Jelita Sedikit Serak, Benar-benar Terdengar Seperti Orang Yang Hatinya Baru Saja Crash.
Mendengar Suara Jelita Yang Bergetar, Pertahanan Langit Runtuh. Dia Menarik Jelita Ke Dalam Pelukannya, Mendekapnya Sangat Erat Sampai Jelita Bisa Mendengar Detak Jantung Langit Yang Nggak Beraturan.
"Gue Nggak Bisa, Jee. Gue Nggak Bisa Fokus Nugas Kalau Lo-nya Ngilang Kayak Gini. Gue Mikir Yang Macem-macem, Tau Nggak? Gue Takut Lo Kenapa-kenapa, Gue Takut Lo Sakit Sendirian..." Langit Membisikkan Itu Tepat Di Telinga Jelita, Suaranya Melunak, Penuh Ketulusan.
Jelita Terdiam Di Pelukan Langit. Air Matanya Hampir Tumpah Lagi. Di Satu Sisi Dia Merasa Sangat Aman, Tapi Di Sisi Lain, Dia Merasa Sangat Berdosa Karena Sedang Memeluk Pria Yang Wajahnya Adalah Kembaran Dari Orang Yang Sedang Dia Tangisi Secara Diam-diam.
"Lo... Lo Udah Makan?" Tanya Jelita, Mencoba Mengalihkan Suasana Agar Dia Tidak Menangis Di Dada Langit.
Langit Melepas Pelukannya, Lalu Mengangkat Bubur Ayam Yang Dia Bawa. "Gue Bawa Bubur. Tapi Gue Nggak Mau Lo Makan Sendiri. Sesuai Kontrak 'tutor Sesat', Lo Harus Disuapin Sama Gue. Nggak Ada Bantahan!"
Langit Duduk Di Lantai Beralaskan Karpet, Menarik Jelita Untuk Duduk Di Depannya. Dia Mulai Meniup Bubur Itu Dengan Telaten, Seolah Jelita Adalah Porselen Rapuh Yang Harus Dijaga.
"Jee," Panggil Langit Tiba-tiba Sambil Menyodorkan Sendok.
"Ya?"
"Lo Nggak Lagi Bohongin Gue Kan? Lo Beneran Cuma Kecapean Kan? Bukan Karena Ada Cowok Lain Yang Gangguin Lo?" Langit Menatap Jelita Tajam, Insting Posesifnya Mulai Bekerja Lagi. "Karena Kalau Ada, Gue Bakal Pastiin Dia Nggak Bakal Bisa Jalan Masuk Ke Kampus Besok Pagi."
Jelita Menelan Ludah, Dadanya Sesak. Dia Tersenyum Paksa, Senyum Yang Paling Sulit Yang Pernah Dia Lakukan. "Cuma Tugas, Lang. Kan Lo Tau Asistensi Lab Gue Lagi Gila-gilaan."
Langit Mengamati Wajah Jelita Lama, Seolah Mencari Celah Kebohongan Di Sana. Tapi Akhirnya Dia Mengacak Rambut Jelita. "Ya Udah. Buruan Sembuh. Gue Nggak Suka Liat Tembok Beton Gue Letoy Begini. Gue Butuh Jelita Yang Bisa Gue Jahilin, Bukan Jelita Yang Pengen Jadi Zombi Kamar."
Malam Itu, Di Kamar Kos Sempit Itu, Langit Benar-benar Menemani Jelita Sampai Gadis Itu Tertidur.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣