Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teknik Pernafasan Arus Bumi
Episode 11
Pagi itu, suasana perpustakaan Akademi Elang Hijau masih sangat sepi. Hanya ada beberapa murid yang terlihat terkantuk kantuk di meja pojok, mencoba menyelesaikan tugas teori mereka. Reno sengaja datang lebih awal, bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Di dadanya, ia bisa merasakan kehangatan dari kepompong hitam Nidhogg yang tersembunyi di balik seragamnya. Kepompong itu berdenyut pelan, seperti sebuah jantung kedua bagi Reno.
Aku punya waktu tiga hari, batin Reno sambil menyusuri rak buku bagian Pengembangan Diri Penjinak. Selama tiga hari ini, aku benar-benar sendirian. Jika seseorang menyerang ku sekarang, aku tidak punya apa-apa untuk membela diri selain sabit kecil di tas ini.
Reno teringat kejadian semalam saat ia melawan pria berjubah hitam. Meskipun Nidhogg berhasil melindunginya, Reno merasa sangat tidak berdaya saat dirinya terlempar hanya karena gelombang energi. Di kehidupan lamanya sebagai Arka, ia selalu memiliki pengawal pribadi yang siap mati untuknya. Namun di dunia ini, ia harus menjadi pengawal bagi dirinya sendiri.
Tangannya berhenti di sebuah buku tua dengan sampul kulit berwarna cokelat kusam. Judulnya sederhana: Dasar-Dasar Arus Bumi: Teknik Pernapasan untuk Fisik Manusia.
Reno mengambil buku itu dan duduk di kursi kayu yang tersembunyi di balik rak besar. Ia mulai membaca kata demi kata dengan sangat teliti.
"Teknik Pernapasan Arus Bumi," gumam Reno. "Sebuah metode untuk menyerap energi alam melalui telapak kaki dan mengalirkannya ke seluruh pusat saraf, memperkuat kepadatan tulang dan otot tanpa bantuan binatang kontrak."
Di dunia ini, kebanyakan penjinak hanya fokus melatih binatang mereka dan mengabaikan latihan fisik sendiri. Itulah sebabnya banyak penjinak yang mati karena serangan langsung saat binatang mereka sedang sibuk bertarung. Teknik ini dianggap ketinggalan zaman atau teknik orang miskin karena perkembangannya yang lambat dan menyakitkan.
Lambat bukan masalah bagiku, pikir Reno. Aku punya jiwa yang sudah dewasa. Aku punya kesabaran yang tidak dimiliki remaja-remaja di sini.
Reno mulai mengikuti instruksi dalam buku tersebut. Ia duduk tegak, meletakkan kedua telapak kakinya rata di lantai batu perpustakaan. Ia memejamkan mata dan mulai mengatur napasnya.
Tarik napas dalam empat hitungan... tahan selama dua hitungan... buang perlahan dalam delapan hitungan...
Pada awalnya, ia tidak merasakan apa-apa. Namun setelah melakukan putaran kesepuluh, Reno mulai merasakan sensasi dingin yang merayap naik dari lantai, masuk melalui pori-pori kulit di telapak kakinya. Rasa dingin itu bukan seperti es, melainkan seperti aliran air yang tenang namun memiliki berat yang luar biasa.
Tetap fokus. Jangan biarkan pikiranmu melayang, perintah Reno pada dirinya sendiri.
Setiap kali ia menarik napas, ia membayangkan energi bumi itu mengalir naik ke betisnya, pahanya, lalu berkumpul di perut bawah (dantian). Rasa pegal dan nyeri di punggungnya akibat ledakan semalam perlahan mulai berkurang.
"Siapa yang sangka, teknik yang dianggap remeh ini justru terasa sangat kuat," bisik Reno setelah tiga puluh menit berlatih. Ia merasa tubuhnya sedikit lebih berat, namun di saat yang sama, langkah kakinya terasa jauh lebih kokoh.
Reno keluar dari perpustakaan saat jam pelajaran pertama hampir dimulai. Ia berjalan menuju aula latihan fisik dengan langkah mantap. Namun, di tengah jalan menuju aula, langkahnya terhenti.
Di koridor terbuka yang dikelilingi taman, Bagas sudah menunggunya. Kali ini ia tidak sendirian. Ada empat orang murid lain yang berdiri di belakangnya, semuanya tampak siap untuk membuat keributan.
"Wah, wah, lihat siapa yang baru saja keluar dari perpustakaan," ucap Bagas dengan nada yang sengaja dibuat keras. Ia menyilangkan tangan di dada, sementara Serigala Berduri nya menggeram rendah di sampingnya. "Reno, kudengar cacing mu mati karena kelelahan ya? Tadi pagi kulihat dia lemas sekali saat pemeriksaan."
Reno berhenti sekitar tiga meter di depan Bagas. "Cacing ku hanya sedang beristirahat, Bagas. Sama seperti otakmu yang sepertinya sedang beristirahat selamanya."
Teman-teman Bagas terkesiap mendengar balasan Reno. Wajah Bagas memerah padam karena amarah. "Kau... kau benar-benar tidak tahu malu! Tanpa cacing keberuntungan mu itu, kau hanya sampah desa yang tidak berharga!"
Bagas melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke Reno. "Bagaimana kalau kita buktikan sekarang? Duel tanpa binatang kontrak. Hanya aku dan kau. Beranikah kau?"
Reno menyipitkan mata. Ia tahu Bagas ingin memancingnya. Jika Reno menolak, ia akan dipermalukan di depan umum. Jika ia menerima, ia harus bertarung tanpa Nidhogg.
Tiga hari kepompong. Ini baru hari pertama, batin Reno. Tapi teknik Arus Bumi tadi memberi aku sedikit kepercayaan diri.
"Hanya fisik? Baiklah. Tapi jangan menangis kalau seragam mahal mu itu kotor karena tanah," jawab Reno tenang.
"Sombong sekali!" teriak Bagas. Tanpa aba-aba, Bagas melayangkan sebuah pukulan lurus ke arah wajah Reno.
Di kehidupan lamanya, Reno bukan seorang petarung. Tapi ia sering menonton pertandingan bela diri dan memiliki insting bertahan hidup yang tajam. Ditambah dengan efek teknik pernapasan yang baru saja ia pelatih, waktu seolah melambat di mata Reno.
Reno memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. Pukulan Bagas hanya melewati angin di samping telinganya. Sebelum Bagas sempat menarik tangannya, Reno melangkah masuk ke area pertahanan Bagas dan memberikan sebuah dorongan kuat dengan telapak tangannya tepat di dada Bagas.
DUAK!
Bagas terdorong mundur lima langkah hingga hampir jatuh tersungkur. Ia terbelalak. "Bagaimana mungkin... tenagamu..."
"Bagas, kau terlalu mengandalkan binatang mu sampai kau lupa cara menggunakan tanganmu sendiri," ucap Reno dingin.
Teman-teman Bagas mulai merasa gelisah. "Bagas, ayo gunakan serigala mu! Hancurkan dia!" teriak Rian dari belakang.
"Diam kalian! Aku bisa mengurusnya sendiri!" Bagas kembali menyerang, kali ini dengan tendangan memutar.
Reno tidak menghindar. Ia justru menggunakan teknik Arus Bumi yang baru dipelajarinya. Ia memfokuskan energi ke kaki kirinya, membuatnya sekeras batu pondasi.
BAM!
Tendangan Bagas mengenai paha Reno, namun Reno tidak bergeming sedikit pun. Justru Bagas yang meringis kesakitan karena merasa kakinya baru saja menghantam pilar besi.
"Sekarang giliranku," ucap Reno.
Reno bergerak maju dengan cepat. Ia tidak menggunakan gerakan yang rumit. Ia hanya menggunakan sebuah pukulan cepat ke arah ulu hati Bagas. Bagas mencoba menangkis, namun pukulan Reno terlalu lurus dan tajam.
UGH!
Bagas terbungkuk, seluruh udara di paru parunya seolah keluar seketika. Ia jatuh berlutut sambil memegangi perutnya.
"Bagas!" teman-temannya segera berlari mendekat untuk membantunya.
Reno berdiri tegak, napasnya tetap teratur. Ia merasa energi Arus Bumi itu masih mengalir di dalam tubuhnya, memberinya rasa stabil yang luar biasa. "Lain kali, kalau mau cari masalah, pastikan lawanmu memang selemah yang kau bayangkan."
Reno baru saja hendak berjalan pergi saat ia merasakan sebuah aura yang sangat kuat dari arah belakang. Ia menoleh dan melihat Instruktur Raka sedang berdiri di balkon lantai dua, memperhatikan kejadian itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Raka tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mengangguk sedikit sebelum berbalik masuk ke dalam gedung.
Gawat, dia melihatnya, batin Reno. Sepertinya aku tidak bisa lagi berpura pura menjadi murid desa yang lemah.
Sisa hari itu berjalan dengan penuh ketegangan. Berita tentang Reno yang mengalahkan Bagas dalam duel fisik menyebar cepat ke seluruh akademi. Reno menjadi pembicaraan hangat di kantin saat jam makan siang.
"Reno! Benarkah kau menghajar Bagas?" tanya Dito dengan mata melotot saat mereka duduk makan bersama. "Orang-orang bilang kau menggunakan teknik rahasia!"
"Cuma dorongan biasa, Dito. Dia terlalu sombong jadi dia lengah," jawab Reno sambil memakan rotinya.
Namun, fokus Reno sebenarnya ada pada kepompong di dadanya. Kepompong itu terasa semakin panas. Reno sadar, ia harus mencari tempat yang benar-benar aman malam ini. Kepompong Nidhogg sedang dalam fase kritis.
Malam harinya, Reno tidak kembali ke kamar asrama. Ia berbohong pada Dito bahwa ia ingin berlatih di taman meditasi semalaman. Padahal, Reno menyelinap keluar menuju hutan kecil di pinggiran area akademi yang jarang dipantau.
Ia menemukan sebuah gua kecil yang tertutup semak-semak lebat. Di sana, Reno mengeluarkan kepompong Nidhogg dan meletakkannya di atas sebongkah batu datar.
"Nidhogg, kau sudah berjuang. Sekarang giliranku menjagamu," bisik Reno.
Ia duduk bersila di depan kepompong itu dan mulai melakukan Teknik Pernapasan Arus Bumi lagi. Kali ini bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menciptakan semacam kubah energi yang menyamarkan suhu panas dan aura Nidhogg agar tidak tercium oleh binatang buas di hutan atau sensor penjaga.
Setiap jam yang berlalu terasa sangat berat. Keringat mengucur deras di dahi Reno. Kepompong itu mulai mengeluarkan cahaya ungu tua yang berdenyut-denyut.
Krak... krak...
Sebuah retakan kecil muncul di permukaan kepompong.
"Reno... bantu aku... berikan sedikit lagi... energi mentalmu..." suara Nidhogg terdengar sangat sayu dan menyedihkan di kepala Reno.
Reno mengatupkan rahangnya. Ia memaksakan pikirannya untuk masuk ke dalam kepompong tersebut. Rasa panas yang luar biasa menyengat jiwanya, namun Reno tidak melepaskannya. Ia menggunakan daya tahan mentalnya yang luar biasa hasil dari kesabarannya selama puluhan tahun di kehidupan sebelumnya untuk menstabilkan energi Nidhogg yang sedang mengamuk.
"Aku tidak akan membiarkanmu gagal, Nidhogg! Kita baru saja memulai!" teriak Reno dalam hati.
Cahaya ungu itu semakin terang, menerangi seluruh isi gua kecil itu. Tekanan udara di dalam gua meningkat drastis. Reno merasa dadanya seperti mau meledak, namun ia terus bertahan.
Duar!
Sebuah ledakan cahaya kecil terjadi. Asap hitam berbau belerang memenuhi ruangan. Reno terbatuk batuk, pandangannya buram.
Begitu asap menipis, Reno melihat sesuatu yang bergerak di atas batu.
Bukan lagi seekor cacing merah yang lemas. Bukan juga kepompong hitam.
Makhluk yang ada di depannya sekarang memiliki panjang sekitar tiga puluh sentimeter. Tubuhnya ramping namun terlihat sangat kuat, tertutup oleh sisik hitam obsidian yang mengkilap. Di punggungnya terdapat deretan duri kecil yang tajam, dan di kepalanya, dua tanduk kecil yang sebelumnya hanya berupa benjolan, kini sudah berbentuk tanduk yang jelas. Matanya yang berwarna merah darah menatap Reno dengan kecerdasan yang jauh lebih dalam.
[Evolusi Berhasil: Cacing Sisik Hitam (Tingkat Perunggu Tahap Puncak)]
"Hah... akhirnya... aku merasa seperti dilahirkan kembali," ucap Nidhogg. Suaranya kini terdengar lebih jernih dan berwibawa. ia melayang perlahan di udara, lalu mendarat di bahu Reno.
Reno menyentuh sisik Nidhogg yang terasa dingin seperti baja. "Kau berhasil, kawan."
"Bukan hanya aku, Reno. Lihat tanganmu," perintah Nidhogg.
Reno melihat telapak tangannya. Di sana, muncul sebuah tanda tato kecil berbentuk naga yang melingkar. Lewat kontrak jiwa, Reno menyadari bahwa sebagian kekuatan fisik Nidhogg kini secara otomatis mengalir ke tubuhnya secara permanen.
"Ini baru hari pertama kepompong... kenapa kau sudah keluar?" tanya Reno heran.
"Fragmen jiwa itu jauh lebih murni dari yang kukira. Prosesnya dipercepat karena bantuan teknik Arus Bumi-mu tadi. Tapi ingat, Reno. Bentukku ini masih jauh dari bentuk asliku. Namun sekarang, jika pria berjubah hitam itu kembali, aku akan memastikan dia tidak akan bisa lari dengan kaki yang utuh."
Reno tersenyum tipis. "Bagus. Karena besok adalah ujian praktik lapangan pertama di Hutan Elang. Kita akan butuh kekuatan ini."
Di kegelapan gua, sepasang mata merah dan sepasang mata tajam milik Reno bersinar bersamaan. Permainan baru saja akan menjadi jauh lebih menarik.