Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Serangan Ibu-Ibu Pengajian
Pagi itu, rumah keluarga Subroto tampak lebih ramai dari biasanya. Ruang tamu dialasi karpet hijau panjang, dan aroma gorengan serta teh manis menyeruak hingga ke teras. Hari ini adalah giliran Bu Subroto menjadi tuan rumah pengajian rutin dwi-mingguan. Bagi Dinara, ini bukan sekadar acara ibadah, melainkan ujian terbuka di depan "dewan juri" lingkungan setempat.
Dinara baru saja selesai meletakkan nampan berisi gelas-gelas teh ketika serangan itu dimulai. Selesai pembacaan yasin dan doa, sesi ramah tamah berubah menjadi sesi interogasi massal.
"Lho, Mbak Dinara ini kok masih sering bawa buku tebal-tebal toh? Apa nggak capek kuliah terus?" tanya Bu RT sembari mencomot mendoan. "Lihat itu Mbak Arum, anaknya Pak Haji depan rumah. Nikah barengan kalian, sekarang sudah kelihatan perutnya. Lemu, seger. Katanya kalau sudah nikah itu ya mending fokus 'isi', Mbak. Kuliah itu nggak ada habisnya, umur manusia ada batasnya."
Dinara memaksakan senyum, tangannya sedikit gemetar saat merapikan toples kerupuk. "Nggih, Bu. Insya Allah tinggal sedikit lagi selesai kuliahnya."
"Halah, eman-emane (sayang sekali)," timpal seorang ibu lain dengan nada yang seolah-olah prihatin namun tajam. "Nanti kalau keasyikan kuliah, rahimnya capek lho. Apalagi sekarang jamannya banyak orang susah hamil. Mumpung suaminya masih muda, Mbak. Jangan ditunda-tunda. Apa Mas Dimas nggak pengen segera nimang?"
Pertanyaan itu seperti peluru yang menghujam telak. Dinara merasa seluruh pasang mata di ruangan itu menghakiminya. Ia merasa kecil, merasa bahwa pencapaian akademisnya selama ini tidak ada harganya dibandingkan dengan urusan reproduksi. Di pojok ruangan, ia melihat ibu mertuanya hanya diam, tidak membela, bahkan tampak mengangguk-angguk kecil setuju dengan ucapan tetangga-tetangganya.
Mata Dinara mulai memanas. Ia menunduk, pura-pura sibuk merapikan serbet. Tepat saat setetes air mata hampir jatuh, sebuah suara bariton yang akrab terdengar dari arah pintu samping.
"Lho, lho... ini lagi bahas soal rahim atau lagi bahas soal kedaulatan negara, Bu? Kok kelihatannya serius tenan," celetuk Dimas.
Dimas masuk dengan gaya santainya, mengenakan sarung dan kaus oblong. Ia langsung duduk lesehan di dekat pintu, tidak jauh dari kerumunan ibu-ibu itu.
"Eh, Mas Dimas. Ini lho, kami lagi kasih saran buat Mbak Dinara biar segera kasih cucu buat ibumu. Mosok kalah sama Mbak Arum yang sudah hamil duluan—eh, maksudnya sudah hamil duluan daripada kalian," ujar Bu RT dengan lidah yang hampir terpeleset.
Dimas tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar tulus namun sebenarnya berisi sarkasme yang halus. Ia melirik Dinara, memberikan kode lewat kedipan mata agar istrinya tetap tenang.
"Wah, kalau soal Mbak Arum mah Mas Dimas nggak berani saingan, Bu. Beliau itu kan 'akselerasi'. Mas ini penganut paham pelan tapi pasti," sahut Dimas sambil meraih segelas teh sisa di meja. "Lagian Bu, Dinara ini lagi Mas suruh fokus kuliah dulu. Ibu-ibu tahu nggak kenapa?"
"Kenapa, Dim?" tanya mereka serempak.
"Sebab di Surabaya itu, pendaftaran masuk PAUD atau TK sekarang syaratnya susah, Bu. Kalau ibunya nggak pinter hukum kayak Dinara, nanti kalau anak kami mau daftar sekolah terus ditolak, kami nggak bisa gugat sekolahnya," gurau Dimas dengan logika yang sangat tidak masuk akal namun diucapkan dengan nada serius.
Ibu-ibu itu saling berpandangan, bingung.
"Terus soal 'isi' itu," lanjut Dimas sembari menaruh gelasnya kembali. "Mas sama Dinara ini lagi pakai sistem pre-order, Bu. Sekarang kami lagi nabung doa sama tabungan masa depan. Biar nanti kalau anaknya lahir, dia nggak cuma dapat kasih sayang, tapi juga dapat jaminan kalau bapak ibunya nggak bakal pusing mikir biaya kuliah dia dua puluh tahun lagi."
Dimas bergeser mendekat ke arah Dinara, lalu merangkul bahu istrinya di depan semua orang. Sebuah tindakan yang cukup berani untuk ukuran lingkungan Blitar yang konservatif.
"Lagian Bu, kasihan toh kalau Dinara hamil sekarang. Nanti pas dia sidang skripsi, terus bayinya ikut nendang-nendang di dalam perut, dosen pengujinya bisa kena pasal 'intervensi pihak ketiga'. Kan berabe urusannya," tambah Dimas lagi.
Tawa pecah di ruangan itu. Ketegangan yang tadinya menyudutkan Dinara mendadak luruh menjadi suasana guyon. Dimas berhasil mengubah narasi dari "kasihan belum hamil" menjadi "keren punya rencana masa depan".
"Mas Dimas ini ada-ada saja kalau jawab," ucap Bu RT sambil terkekeh.
"Lho, beneran Bu. Jadi Ibu-ibu jangan khawatir ya. Mas sama Dinara ini ibarat lagi bangun gedung bertingkat di Surabaya. Fondasinya harus kuat dulu—ya kuliahnya, ya ekonominya, ya mentalnya. Nanti kalau fondasinya sudah oke, mau bikin sepuluh anak juga ayo saja. Nggih toh, Sayang?" goda Dimas sambil menyenggol lengan Dinara.
Wajah Dinara memerah, namun kali ini bukan karena malu tersudut, melainkan karena rasa lega dan sedikit gemas pada suaminya. "Mas ini ngomong apa toh..." bisiknya pelan.
Setelah ibu-ibu pengajian pulang, suasana rumah kembali tenang. Dimas membantu Dinara membereskan piring kotor di ruang tamu. Saat mereka hanya berdua, Dinara menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Mas... makasih ya. Tadi Dinara beneran mau nangis. Mereka ngomongnya gitu banget," ucap Dinara lirih.
Dimas meletakkan tumpukan piring di meja kayu. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam dan hangat. "Dek, dengerin Mas. Di dunia ini, orang bakal selalu cari celah buat komentar. Kalau kamu sudah hamil, nanti ditanya kapan punya anak kedua. Sudah punya dua, ditanya kok nggak punya anak laki-laki. Nggak akan ada habisnya kalau kita dengerin mereka."
Dimas menarik napas panjang. "Apalagi soal Mbak Arum. Mas tahu mereka banding-bandingin kamu. Tapi ingat satu hal, Sayang. Kita menempuh jalan yang benar. Kita shalat, kita ibadah, kita nikah sah secara hukum dan agama tanpa ada 'insiden' sebelumnya. Jadi, nggak perlu merasa kalah sama orang yang jalannya 'nyalip' lewat jalur yang nggak seharusnya."
Dinara menatap suaminya, merasa begitu terlindungi. Kritik sosial tentang pernikahan dini dan stigma "telat" yang sering ia dengar di lingkungan ini seolah luruh setiap kali Dimas pasang badan.
"Mas nggak menyesal kan nikah sama Dinara yang banyak kurangnya ini?"
Dimas tertawa kecil, ia mencubit pipi Dinara gemas. "Menyesal? Lho, Mas justru bersyukur. Kalau Mas nikah sama orang lain, mungkin Mas nggak bakal punya alasan buat latihan jadi 'pengacara' dadakan tiap ada pengajian. Sudah, nggak usah dipikirkan. Sekarang kamu mandi, ganti baju yang cantik, kita shalat Dhuhur berjamaah. Habis itu Mas temani baca buku hukummu yang membosankan itu. Mas mau dengerin kamu jelasin pasal-pasal, biar Mas merasa punya asisten ahli hukum pribadi."
Dinara tersenyum lebar, beban di hatinya benar-benar hilang. "Nggih, Mas. Tapi Mas jangan tidur ya kalau Dinara jelasin."
"Wah, kalau itu Mas nggak janji. Suara kamu itu terlalu merdu, mirip nina bobo buat Mas," seloroh Dimas sambil berlalu menuju kamar mandi.
Siang itu, di rumah Blitar yang penuh tekanan sosial, Dinara menyadari bahwa kebahagiaan rumah tangga bukan tentang seberapa cepat memenuhi ekspektasi tetangga, melainkan tentang seberapa kuat suami istri saling menggenggam saat dunia mencoba memisahkan. Dimas telah menunjukkan padanya bahwa humor dan logika sederhana bisa menjadi senjata paling ampuh untuk menjaga kewarasan dan kehormatan mereka.