NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuliah dan bekerja

Ujian Nasional kulalui dengan ketenangan seorang profesional yang sudah pernah melewati badai kehidupan. Ketika pengumuman kelulusan masih menggantung di cakrawala, aku tidak membiarkan satu detik pun terbuang percuma. Aku mendatangi Koh Jimi, pemilik toko kelontong tempat Bapak sering mengambil tarikan kurir.

​"Koh, saya mau jadi kurir sampai pengumuman lulus keluar," tawarku lugas.

​Koh Jimi, pria paruh baya yang menghargai kejujuran di atas segalanya, menerimaku dengan tangan terbuka. Maka, dimulailah hari-hariku menyusuri jalanan desa hingga pinggiran kota, mengantar karung beras dan peti telur demi mengumpulkan setiap keping rupiah yang bisa kudapatkan.

Sementara itu, Bapak dan Ibu mulai sibuk menggarap ladang sewaan dan merawat tanah kavling kami yang baru. Rumah kami kini benar-benar lapang; segala barang tak terpakai sudah ludes kujual demi tambahan modal "pelarian" ke kota besar.

​Koh Jimi rupanya sangat mendukung pendidikan. Setiap kali aku ada urusan administrasi sekolah, ia memberi izin tanpa ragu. Bahkan, suatu sore, ia menyodorkan sebuah kardus besar padaku.

​"Ini bonus, Ra. Supaya belajarmu makin giat. Isinya paket soal ujian masuk universitas yang kamu incar itu," selorohnya sambil tertawa. "Anggap saja upah tambahan karena kerjamu rajin."

​Aku terharu. Dukungan datang dari tempat yang tak terduga.

​Begitu Surat Keterangan Lulus (SKL) resmi di tangan, aku segera melancarkan "operasi presentasi" di depan orang tuaku. Aku memaparkan rencana masa depanku dengan sistematis, termasuk merengek dengan sedikit drama remaja yang meyakinkan, untuk meminjam biaya hidup bulan pertama.

Butuh tiga hari bagi Ibu untuk menimbang-nimbang sebelum akhirnya luluh, terutama setelah guruku menjamin bahwa aku akan tinggal di kost putri yang aman dan terpercaya.

​Sebelum berangkat, aku sempat bertukar SMS singkat dengan Rain. “Aku berangkat ke kota besok,” tulisku.

​Tak kusangka, saat bus yang kutumpangi berhenti di terminal kota besar yang bising itu, sosok Rain sudah berdiri di sana dengan sepeda motornya.

Ia menjemputku dan mengantarkanku hingga ke depan gerbang kost putri dengan aman. Sebelum berpamitan, ia menyodorkan selembar kertas berisi daftar tempat kerja paruh waktu, lengkap dengan lembaran hvs foto-foto hasil jepretannya pada poster lowongan kerja yang ia temui di jalan.

​"Anggap saja ini privilege," ucapnya dengan senyum tipis yang khas. "Sesama rekan kerja harus saling bantu, kan?"

​Aku mengucapkan terima kasih dengan tulus. Di tengah keterasingan kota ini, kehadiran Rain terasa seperti jangkar yang menguatkan.

​Nasib memang punya caranya sendiri. Tes beasiswa penuh yang kuikuti berakhir gagal, aku harus realistis, kecerdasanku tidak sehebat itu untuk bersaing dengan ribuan anak jenius lainnya.

Namun, memori masa depanku memberikan jalan keluar. Aku teringat Martin pernah menyebutkan tentang skema pinjaman pendidikan tanpa bunga untuk siswa kurang mampu yang bekerja sama dengan kampus ini. Setelah mengurus tumpukan berkas yang rumit, akhirnya semua berjalan lancar.

​Aku resmi menjadi mahasiswa. Di pagi hari, aku berkuliah menimba ilmu di kampus berbeda dengan kehidupan ku dulu dan di sore hari, aku bekerja paruh waktu untuk menyambung hidup. Hidupku di tahun 2012 ini bukan lagi sekadar pengulangan, melainkan sebuah perjuangan baru.

Sejarah baru ini sedang kutulis, lembar demi lembar. Meski ingatan masa depanku tetap melekat permanen seperti tato di jiwa, realitas yang kujalani sekarang terasa jauh lebih ringan.

Uang saku darurat yang dulu kupinjam dari Ibu berhasil kukumpulkan kembali dari hasil kerja paruh waktuku. Namun, saat aku berniat mengembalikannya, mereka menolak mentah-mentah.

​"Simpan saja, Ra. Pakai untuk makan yang sehat dan hidup yang layak di sana," ucap Ibu di ujung telepon.

​Jika dulu aku yang keras kepala akan memaksa mengembalikannya demi gengsi kemandirian, kali ini aku hanya tersenyum. Aku belajar membesarkan hati mereka. Aku paham sekarang bahwa orang yang mencintai itu selalu ingin memberi, bahkan terkadang melampaui batas kemampuannya sendiri. Menerima pemberian mereka adalah cara lain untuk membahagiakan mereka.

​Setahun lebih aku berkuliah dengan sokongan pinjaman mahasiswa. Perlahan tapi pasti, hasil kerja kerasku mulai menampakkan wujud: sebuah smartphone, sepeda untuk mobilitas, dan laptop untuk mengerjakan tugas. Aku tidak lagi menganut prinsip hemat yang menyiksa diri. Hidup harus seimbang. Kenyamanan adalah investasi, dan me-time seminggu sekali dengan secangkir kopi serta sepotong cake cokelat adalah ritual wajib untuk menjaga kewarasanku.

​Aku juga baru menyadari satu hal tentang Rain. Dulu, kupikir dia adalah anak kota yang hidupnya mulus tanpa hambatan. Ternyata aku salah. Rain juga berjuang dengan pinjaman mahasiswa yang sama denganku. Bedanya, ia tinggal bersama keluarga dan memiliki motor. Namun, beban yang dipikulnya tidak main-main; ia harus membagi waktu untuk merawat neneknya yang mengidap demensia di panti jompo.

​Memang benar, hidup tidak lantas bebas dari kesulitan hanya karena kita menjalaninya untuk kedua kali. Buktinya, gelar sarjana dari masa depanku tidak menolongku lolos beasiswa penuh. Skor tesku tertinggal jauh dari anak-anak jenius zaman ini. Aku harus puas dengan kemampuan rata-rata, berjuang keras mendapatkan nilai A dan B, bahkan sesekali harus mengulang kelas demi memperbaiki nilai.

Mentalitas "orang dewasa"-ku tidak membuatku jadi pahlawan super, hanya membuatku lebih tenang menghadapi tekanan.

​Aku belum sempat menunaikan janji mentraktir Rain kopi. Kami hanya sesekali bertukar kabar lewat pesan singkat, sekadar menyapa sebagai sesama "rekan kerja" yang terdampar di dimensi yang sama.

​Hingga suatu hari di musim libur semester, seorang teman memintaku menggantikannya di sebuah kid café—kafe khusus anak-anak yang sedang naik daun. Tak disangka, di balik keriuhan suara tawa dan tangis balita, aku menemukan Rain mengenakan apron yang sama. Kami sempat terpaku sejenak karena kebetulan yang absurd ini, sebelum akhirnya bahu-membahu dalam satu tim.

Bekerja di kafe anak menuntut kami mengubah nada bicara menjadi serba ceria dan sopan. Padahal jujur saja, aku bukan tipe penyuka anak-anak, apalagi yang suka berulah sementara orang tuanya asyik bermain ponsel.

Bos kami rupanya sudah paham risiko stres para karyawannya. Di belakang dapur, dekat loker, ia menyediakan samsak tinju sebagai pelampiasan emosi. Bahkan ada bilik khusus untuk berteriak. Aku curiga Pak Bos sudah lebih dulu stres dibanding kami semua.

​Terkadang, di tengah rasa lelah, aku dan Rain juga rekan lain tertawa terbahak-bahak melihat tingkah satu sama lain yang dipaksa menjadi "kakak peri" bagi anak-anak itu. Di saat-saat seperti itulah, ingatanku mendadak terbang ke masa depan—ke wajah si kembar dan si bungsu, anak-anak Bian.

​Aku rindu pada mereka. Dulu, Bian sering meneleponku bukan karena rindu, melainkan karena butuh asisten darurat untuk menjaga tiga jagoannya. Meski mengeluh lelah, aku selalu menyeret Martin untuk ikut mengasuh mereka. Kami bukan hanya menjadi pengasuh cadangan, tapi juga donatur tetap untuk mainan dan jajanan mereka.

​Mengingat itu, rasa lelah di kafe ini mendadak terasa manis. Aku sedang berjuang di sini, agar di masa depan nanti, keponakan-keponakanku itu lahir di dunia yang lebih baik, dengan bibi yang jauh lebih siap secara finansial dan mental.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!